---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk SURAT KE NEGRI KINCIR ANGIN (III) untuk anakku Ken Setiawan Hari ini aku tidak akan terlalu panjang menulis. Kemarin petang aku ke Oom Larto - St Sularto "Kompas" yang dulu pernah tinggal di Tebet, di belakang lapangan sepakbola PSPT itu. Sekarang Keluarga Oom Larto, dengan tiga anak: Moko-Yoko-Palupi, tinggal di daerah Condet. Satu kawasan dekat TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Dulu, di masa paroh kedua tahun 60-an, daerah Condet dan Pasar Rebo ini aku kenal sebagai - selain daerah lokalisasi pekerja seks - daerah buah-buahan, daerah orang Betawi, dan karenanya tentu "daerah lenong" - sandiwara rakyat Betawi. Lenong Mang Bokir sangat terkenal ketika itu, ketika kesenian rakyat yang semula diisi seniman-seniman Lekra tiba-tiba menjadi absen, menyusul sesudah tragedi G30S itu! Tidak keliru jika Gubenrur Bang Ali, Ali Sadikin, pernah memproyeksikan daerah Condet menjadi daerah "cagar budaya Betawi". Tapi, kemarin ketika aku ke sana, tanda-tanda ke-betawi-an itu sudah tidak ada sama sekali. Gedung-gedung baru dengan gaya arsitektur baru. Konon, orang Betawi di Condet sudah terdesak entah ke mana. Perbanidingan antara pendatang dan "asli", barangkali masih bagus kalau 80:20. Mungkin malah kurang dari 20% penduduk Betawi yang masih ada, kata Mas Larto. Ya, sekali lagi, itulah hasil orde baru Suharto! Dua gejala sosial sederhana lain yang perlu kusebut di sini, agar menjadi perhatian Gus Dur dan Menteri Agama, para peminta-minta yang mengatasnamakan Tuhan dan Masjid, yang merajalela sejak jaman Suharto. Mereka itu beroperasi di kendaraan-kendaraan umum (bis dan mikrolet), serta di jalan-jalan raya - tentu saja bukan jalan protokol! Jalan raya diblokir di satu titik, diberi tanda rambu lalu lintas agar kendaraan perlahan, lalu disodorkan kotak-kotak dana bantuan. Juga, di bis atau mikrolet, anak atau orang dewasa, naik dengan pakaian santri, berpidato tentang amal jariah dan membaca doa-doa, lalu menyodorkan kotak dana. Katanya untuk pembangunan masjid atau santuan anak yatim-piatu ... Sekarang jaman Suharto sudah liwat. Barangkali patut kalau tindak-tanduk sosial yang mengatasnamai agama itu sekarang mulai ditertibkan. Bukankah ulah "pengemisan" itu bukannya berdampak mengagungkan agama, tapi sebaliknya malah menodai citra agama? *** Lalu masih dua hal yang ingin aku kemukakan, hal yang menyangkut soal sikap dan tindakan politik pemerintah -khususnya Gus Dur sebagai kepala negara. Hal pertama, di koran-koran dikabarkan tentang keterangan Gus Dur sehubungan dsengan "Peristiwa Aceh". Konon, kata Gus Dur, penindasan HAM di sana bukan oleh tentara, tapi oleh oknum (entah siapa) yang beratribut tentara. Aku kira ini pernyataan ini ibarat orang hendak menutup matahari dengan lebar telapak tangan! Sebaiknya Gus Dur jangan bicara dulu, melainkan menugasi aparatnya yang berwenang untuk menyidik: apa sejatinya di sana yang sudah dan sedang terjadi. Bukankah sekarang sudah ada Menteri urusan HAM?! Hal kedua tentang tuntutan rakyat agar Suharto dan kroninya ditindak secara hukum. Gus Dur terlalu pagi rasanya dengan pendapatnya untuk memberi ampunan pada Suharto dan Wakilnya (Habibie). Barangkali akan lebih bisa diterima pendapat umum jika Gus Dur "memulangkan" perkara Suharto itu pada lembaga-lembaga yang berwenang. Bukan tergesa-gesa menghibur Suharto dan kroninya dengan "pengampunan"! Yang perlu dihibur bukan Suharto, Habibi dan kroninya yang kalah dalam pemilu kemarin, tapi rakyat banyak yang sudah terlalu lama menderita ini! Hersri ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Nov 1999 jam 04:04:11 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
