----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 9 Nopember 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MASIH SEKULARISME SUBUR DI DAULAH PANCASILA
Ahmad Sudirman
XaarJet Stockholm - SWEDIA.

Jawaban untuk saudara A Simanjuntak (Indonesia).

Tanggal 7 Nopember Saudara A Simanjuntak seorang penganut Kristen, yang
sering menanggapi tulisan-tulisan saya, kembali menyampaikan
tanggapannya terhadap tulisan "Sekularisme subur di Daulah Pancasila" (
http://www.dataphone.se/~ahmad/991105a.htm )

Baiklah, saudara A Simanjuntak, saya akan menjawab tanggapan-tanggapan
saudara.

A Simanjuntak:
Salam persatuan, Buat Pak Ahmad di Swedia. Ijinkan saya menanggapi
tulisan Bapak

Ahmad S:
Salam persatuan kembali.

Ahmad S:
Islam menghormati agama lain, agama kamu untuk kamu, agama kami untuk
kami, dan tidak ada paksaan dalam Islam.

A Simanjuntak:
Saya juga yakin, bahwa dalam ajaran Islam banyak nilai-nilai yang
menjunjung tinggi hak asasi manusia dan toleransi hidup beragama. Begitu
jga dalam ajaran agama lain. Saya yakin pula bahwa semua agama
mengajarkan kebaikan untuk seluruh umat manusia di dunia.

Ahmad S:
Semua agama yang berasal dari Allah SWT, pencipta alam semesta dengan
segala isinya mengajarkan nilai-nila yang telah ditetapkan oleh Allah
SWT dalam kitab-kitab suci-Nya melalui para Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Ahmad S:
Semua pupuk yang berisikan nilai-nilai, kaedah-kaedah yang bukan
bersumberkan dari apa yang telah diturunkan Tuhan, artinya bukan
bersumberkan dari agama, atau kalau menurut Islam bukan bersumberkan
dari apa yang ada dalam Al Quran dan Sunnah bisa menyuburkan pertumbuhan
sekularisme.

A Simanjuntak:
Saya ingin tanyakan kepada Pak Ahmad, adakah di dunia ini yang tidak
berasal dari Tuhan, KECUALI DOSA ?. Berbicara masalah NILAI saya akan
menjelaskan sebagai berikut:

1. Sumber nilai yang pertama dan utama ialah ALLAH (dimensi hubungan
antara manusia dengan Allah yang tertulis dalam Kitab Suci)

2. Sumber nilai yang kedua ialah dimensi hubungan antara manusia dengan
dirinya sendiri (melalui kesadaran hidupnya ia merenungkan apa yang
bernilai bagi dirinya, baik nilai rohani maupun nilai jasmaniah)

3. Sumber nilai yang ketiga ialah dimensi hubungan antara manusia dengan
sesamanya manusia (dengan segala keberagaman/perbedaannya, manusia
menemukan nilai-nilai bersama yang dipakai bersama).

4. Sumber nilai yang keempat ialah dimensi hubungan antara manusia
dengan lingkungannya (dengan kesadarannya pula manusia itu mencari yang
berguna/bernilai bagi hidupnya, terutama nilai materiil, termasuk nilai
rohaniah, seperti nilai seni dan estetika).

Dari seluruh dimensi sumber nilai tersebut perlu catat bahwa semuanya
itu adalah CIPTAAN TUHAN (BERASAL DARI TUHAN).

Allah memberikan FirmanNya kepada manusia melalui Kitab Suci, yang
memberi pedoman hidup bagi manusia, sekaligus sebagai sumber nilai
rohaniah (memenuhi kebutuhan rohani manusia). Allah juga yang
menciptakan seluruh manusia, dimana di antara mereka terdapat jalinan
saling membutuhkan satu sama lain. Dan Allah pula yang menciptakan
anusia dengan keistimewaan yang luar biasa dibanding dengan ciptaan
lainnya (dengan maksud supaya berkuasa atas ciptaan lainnya), yaitu
diberi kesadaran hidup untuk menemukan/menentukan nilai-nilai yang baik
bagi dirinya. Allah pula yang menciptakan lingkungan untuk dinikmati dan
dikelola oleh manusia, yaitu sebagai sumber nilai materiil dan
sipirituil bagi manusia. Dengan demikian, ADAKAH YANG TIDAK BERSUMBER
DARI ALLAH, KECUALI DOSA ?. Bukankah orang-orang yang merumuskan
Pancasila dan UUD 1945 itu CIPTAAN TUHAN (BERASAL DARI TUHAN) ?. Tidak
yakinkah kita, bahwa tokoh-tokoh nasional di Thn 1945 itu berada dalam
bimbingan Tuhan dalam memikirkan ideologi/dasar negara kita ?. Bukankah
Soekarno,Hatta, Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Agus Salim, Kahar
Muzakkir, Wahid Hasyim,Ahmad Subardjo, Mohammad Yamin dilandasi oleh
SIFAT-SIFAT MANUSIAWI HASIL KARYA ALLAH ?. Bukankah mereka juga mempuyai
PARADIGMA yang telah dipengaruhi oleh ajaran Agama mereka ?.

Perlu Pak Ahmad ketahui bahwa semua manusia di dunia ini diciptakan
Allah DENGAN HAKEKAT YANG SAMA (mempunyai hati nurani dan ratio). Jadi,
sekalipun manusia itu, misalnya, BELUM beragama, ia tetap mempunyai
sifat-sifat rohaniah/hati nurani yang merupakan hasil karya Tuhan.
Setiap manusia mempunyai penilaian benar/tidaknya sesuatu. Oleh karena
itu, di manakah BATASAN SEKULER yang dimaksud Pak Ahmad ?.

Menurut saya, di luar konteks dosa, berbicara masalah SEKULER bukan
berangkat dari pola pikir bahwa segala yang tidak bersumber dari Kitab
Suci adalah sekuler. Kalau demikian yang terjadi, berarti ADA yang tidak
bersumber dari Kitab Suci, atau dengan kata lain ADA yang tidak
bersumber dari Allah. Tetapi, SEGALA SESUATU BERASAL DARI ALLAH, dimana
PROSES PENCIPTAANNYA, PENGATURANNYA, PROSES PENCIPTAAN MANUSIA DAN
PERINTAH/LARANGAN KEPADA MANUSIA, DAN tentang HARI KIAMAT DIATUR dalam
KITAB SUCI. Salah satu perintah kepada manusia ialah: beranak cucu,
memenuhi bumi, dan mengelola alam semesta dengan baik, tentu dalam
bimbingan Allah. Perintah yang penting lagi ialah: "JANGAN ADA ILLAH
LAIN DIHADAPAN-KU." Itu berarti bahwa HANYA ALLAH YANG PATUT DISEMBAH
(ALLAH-lah YANG UTAMA).

Jadi, SEKULERISME ialah MENGGANTIKAN POSISI ALLAH/FirmanNya DENGAN
HAL-HAL DUNIAWI, atau dengan kata lain, ALLAH TIDAK LAGI DIPANDANG
SEBAGAI OKNUM YANG TERUTAMA, melainkan mengutamakan sesuatu dari CIPTAAN
ALLAH SENDIRI. Misalnya; pola pikir UANG adalah segalanya, penyembahan
berhala, memperlakukan harta benda sebagai yang utama dalam hidupnya,
memuja-muja seseorang melebihi pujaan terhadap Allah, dan sebagainya.

Ahmad S:
Sekuler artinya adalah bersifat dunia atau kebendaan yaitu bukan
bersifat keagamaan atau kerohanian. Orang yang sekularis adalah orang
yang menganut aliran filsafat yang menghendaki agar kesusilaan atau budi
pekerti tidak didasarkan pada ajaran agama. Sedangkan sekularisme adalah
paham atau pandangan filsafat yang berpendirian bahwa moralitas tidak
perlu didasarkan pada ajaran agama. Itulah yang telah disimpulkan oleh
tokoh-tokoh Indonesia yang menyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia yang
diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
pada tahun 1988.

Nah, disinilah, yang membedakan sekularisme dengan ajaran agama, yaitu
menurut paham sekularisme moralitas, etika, patokan-patokan,
ukuran-ukuran, nilai-nilai tidak didasarkan pada ajaran agama, melainkan
kepada apa yang menurut pemikiran manusia baik berdasarkan ilmunya,
pengalamannya, hasil penelitiannya, hasil percobaannya, yang kesemuanya
bersifat relatif dan nisbi.

Jadi apapun nilai, moral, etika, patokan, ukuran yang dihasilkan dari
hubungan manusia dengan dirinya, manusia dengan sesamanya, manusia
dengan lingkungannya (sosial, politik, ekonomi, oraganisasi, pendidikan,
pemerintahan, negara) yang tidak mendasarkan kepada ajaran agama, maka
itulah yang disebut dengan nilai, moral, etika, patokan, ukuran yang
dipakai paham sekularisme.

Nah sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah apakah ilmunya,
pengalamannya, hasil penelitiannya, hasil percobaannya telah dipengaruhi
oleh ajaran agamanya atau tidak?, sehingga hasil dari pemikiran dan
perumusannya menjadi nilai, ukuran, patokan yang menggambarkan ajaran
agamanya.

Atau dengan kata lain, apakah Soekarno, Hatta, Maramis, Abikusno
Cokrosuyoso, Agus Salim, Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, Ahmad Subardjo,
Mohammad Yamin ketika merumuskan pancasila telah menggunakan pikirannya
yang telah dipengaruhi oleh ajaran agamanya masing-masing atau tidak?

Nah untuk menjawabnya adalah bisa dilihat dari hasil pemikiran dan
perumusan mereka itu, yaitu pancasila. Kemudian kita bertanya lagi lebih
jauh, apakah pancasila itu merupakan suatu agama atau bukan? Jawabnya
adalah pancasila merupakan falsafah negara, bukan agama. Artinya, nilai,
moral, etika, patokan, ukuran bukan didasarkan kepada agama.

Jadi, karena nilai, moral, etika, patokan, ukuran bukan didasarkan
kepada agama, maka itu adalah nilai, moral, etika, patokan, ukuran
sekularisme.

Memang semuanya adalah berasal dari Allah dan kembali kepada Allah.
Karena manusia telah diberikan akal, maka akal itulah yang harus
dipergunakan. Tentu saja kalau hanya mengandalkan akal saja, itu tidak
cukup, sehingga Allah SWT memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya dengan
firman-firman-Nya melalui Rasul-Rasul dan Nabi-Nabi-Nya.

Karena itu, semua nilai, moral, etika, patokan, ukuran yang berasal dari
firman-firman Allah SWT, maka itulah yang BUKAN nilai, moral, etika,
patokan, ukuran sekularisme, melainkan nilai, moral, etika, patokan,
ukuran Allah SWT.

Ahmad S:
Jadi, selama apa yang dikandung dalam sila-sila pancasila bukan
merupakan nilai-nilai yang berdasarkan dari sumber agama (misalnya Islam
bersumberkan dari aqidah Islam), maka pancasila tetap merupakan suatu
paham atau falsafah yang justru sebenarnya merupakan pupuk yang subur
bagi pertumbuhan sekularisme.

A Simanjuntak:
Pak Ahmad mengatakan bahwa nilai-nilai Pancasila berasal dari
nilai-nilai umum saja. Pertanyaan saya ialah, dari manakah sumber dari
nilai-nilai umum tersebut ?. Bukankah itu juga hasil karya manusia, yang
merupakan ciptaan Tuhan juga ?. Itu berarti (berdasarkan penjelasan saya
di atas) nilai-nilai umum itu juga BERASAL DARI ALLAH. Dan nilai itu
dipandang baik, karena ada STANDAR KEBAIKAN DAN KEBENARAN bagi manusia
yang menemukannya, yaitu KITAB SUCI dan HATI NURANI (bagi yang meyakini
suatu Agama) dan HATI NURANI karya Allah (bagi BELUM beragama).

Ahmad S:

Nilai-nilai umum yang merupakan hasil karya pikiran manusia, yang
manusia itu sendiri merupakan ciptaan Allah, tidak berarti bahwa hasil
pikiran dan karya manusia itu merupakan nilai, moral, etika, patokan,
ukuran yang tingkatnya sama dengan apa yang telah ditetapkan Allah SWT.

Kecuali, hasil pikiran dan karya manusia itu merupakan nilai, moral,
etika, patokan, ukuran yang didasarkan kepada ajaran-ajaran agama yang
telah diturunkan Allah melalui Rasul dan Nabi-Nya.

Sedangkan hati nurani bukanlah suatu patokan dan ukuran untuk membedakan
mana baik, mana buruk. Misalnya, kalau ada seseorang yang hidupnya
terus-menerus dihutan dan bergaul dengan binatang-binatang, maka jelas
hati nurani orang tersebut tidak bisa membedakan mana itu baik dan
buruk, menurut pergaulan antar manusia. Karena memang selama hidupnya
tinggal di hutan dan bergaul dengan binatang-binatang. Misalnya karena
bergaul dengan binatang, maka tidak ada istilah mencuri. Jadi hati
nurani orang tersebut tidak tahu apa itu mencuri dan apa akibatnya.

Ahmad S:
Karena sekularisme akan tumbuh dengan pesat dan subur, apabila pupuknya
adalah paham-paham, ideologi-ideologi yang tidak bersumberkan dari
nilai-nilai, kaedah-kaedah agama.

A Simanjuntak:
Nilai-nilai yang dianggap baik, dan bisa mensejahterakan manusia tentu
akan terus bertahan, bahkan terus berkembang dengan pesat sesuai dengan
tuntutan jaman dan tuntutan kebutuhan manusia, dengan tidak lepas dari
STANDAR KEBAIKAN DAN KEBENARAN MANUSIA. Misalnya; nilai-nilai
feodalisme, otoriterisme dan sosialisme kian lama akan hilang karena
nilai-nilai DEMOKRASI menjadi pilihan yang terbaik.

Ahmad S:
Selama itu hasil pikiran dan karya manusia yang tidak berdasarkan
ajaran-ajaran agama yang datangnya dari Allah SWT, maka selama itu hasil
pikiran dan karya manusia, itu relatif dan nisbi sifatnya. Misalnya
nilai-nilai demokrasi, yang arti sebenarnya adalah kedaulatan rakyat.

Dimana setiap negara mempunyai penafsirannya masing-masing mengenai
demokrasi ini. Jadi, standar kebaikan dan kebenaran manusia yang lahir
dari hasil pemikiran manusia yang tidak didasarkan kepada ajaran-ajaran
agama, maka tidak bisa dijadikan sebagai standar dan kebenaran yang
tidak relatif dan tidak nisbi sifatnya.

A Simanjuntak:
Demikian sedikit tanggapan saya untuk Pak Ahmad Sudirman. Maafkan bila
ada yang kurang berkenan. Salam persatuan, A. Simanjuntak

Ahmad S:
Inilah sedikit jawaban saya untuk saudara A Simanjuntak (Indonesia).

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada
waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang
menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan
lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Nov 1999 jam 11:44:09 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke