----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Ada penyakit serius yang selama ini mengendap di
kepala manusia yang kelihatannya enteng tapi sebetulnya
berbahaya, yaitu kita gampang melupakan sejarah,
atau yang lebih tepat barangkali, kita membaca sejarah
tapi tidak mengerti dan punya keinginan untuk mengerti
pada sejarah.

Sifat permisif ini bukan saja terdapat di batok beberapa
netter yang kelewat gampang memaklumi " cacat-catat
kebiadaban manusia  dalam sejarah " bahkan Presiden
tunanetra kita sekarang , yang dianggap setengah dewa
juga ikut melupakan dosa Suharto dengan niatnya mem
berikan grasi pada dajal Jawa satu ini.

Alasan yang paling gampang dari manusia apologis
jelas " standar ukuran moral yang berbeda antara
dua jaman yang berbeda " dengan alibi ini kita di ajak
untuk memaklumi kejahatan manusia di suatu jaman
berada diluar konteks standar moral jaman sekarang.
Jadi bila kita membaca  fakta sejarah misalnya seperti:

1. Kejahatan Muhammad yang memerintahkan
serdadu Islam untuk memotong kepala ratusan
tawanan Yahudi dari bani Qurazyah adalah
hal yang biasa ( alasan: Kultur ,peradaban dan
jaman peperangan )

Nah ini adalah contoh paling easy. Dari sini barangkali
kita bisa menarik beberapa contoh baru seperti yang
akan saya tambahkan di bawah ini

2. Kejahatan pendeta Katolik dalam inkuisisi
di Eropa yang membakar, membunuh, memenggal
orang Protestant atau orang yang di anggap kafir
heresy adalah lumrah ( alasan : Jaman itu Eropa
berada dalam kegelapan )

3.Kekejaman serdadu Nazi yang membantai
sekian juta Yahudi, Poland, Russia dll, yang
menggas  mereka  hidup hidup di Treblinka, Auschwitz,
dan ratusan kamp kosentrasi adalah hal yang wajar
( alasan: Perang dunia kedua )

4.Kekejaman Banser NU yang membantai simpatisan
PKI dan Gerwani tahun 60 an adalah normal
( alasan: Komunis memang musuh Islam, dan
jaman itu , keadaan dalam keadaan darurat )

5.Kebiadaban Suharto yang menindas ratusan
ribu PKI yang mati  diekskusi , dan mengirim
ribuan manusia yang belum tentu bersalah ke
penjara terpencil tanpa pengadilan,menfitnah AURI,
membantai saingan karir , memperkaya keluarga
dan kerabat, memperbudak petani cengkeh,
merampas tanah petani di Tapos, adalah hal yang
mesti di mengerti ( alasan: Suharto bertindak demikian
karena Indonesia  di jaman revolusi ,)

Kalau begini model begini model kita mempelajari sejarah,
gampang termaklum-maklum, jelas tidak heran kenapa
Sejarah selalu berulang kembali , kesalahan dan kebrutalan
seperti didaur ulang untuk muncul lagi pada kita semua,
khususnya manusia di Indonesia.Karena orang yang apologis
adalah tidak lebih adalah seorang tolol , yang sense untuk
belajarnya sudah rebah dan punah.

Alasan geblek yang sangat permisif pada tindakan Muhammad
misalnya yang menganggap kondisi jaman nabi memang
membuat pemenggalan Yahudi adalah wajar, adalah alasan
yang tidak masuk akal, pertama " Membunuh" bagaimanapun
adalah tindakan biadab , apalagi membunuh tawanan perang,
kedua , alasan bahwa 1400 tahun yang lalu "pembantaian"
adalah hal yang lumrah adalah sangat kampungan karena
larangan "membunuh" karena itu  sudah Tuhan  keluarkan kira -
kira 2500 tahun sebelum Muhammad lahir, ketika Musa berhadapan
dengan Tuhan di Sinai.

Bahkan dalam Al Quran atau Bible saja ( konon ) Tuhan
telah memberikan contoh bahwa tindakan brutal mencabut
nyawa manusia adalah salah dengan cerita Kabil dan Habel.
(Caen and Abel ), jadi sungguh tidak masuk di akal bila
Muhammad sebagai rasul tidak mengerti bahwa memotong
leher manusia adalah dosa besar...( kecuali bila dia memang
seorang nabi sinting betuhankan Tuhan abnormal )

Bayangkan, apa yang terjadi bila sifat apologis ini kita
bawa dan tanamkan pada puluhan atau generasi beriikutnya,
Kebiadaban Nazi, Stalin, Suharto, Polpot, di kelas SMP , SMA
atau ruang kuliah almamater 2050 atau 2200, sang Dosen akan
bilang kepada muridnya

" 6 Juta Yahudi,2 Juta Polish,ratusan ribu simpatisan PKI,
2 juta Armenia , 1 Juta lebih orang Kamboja,
dibunuh oleh Hitler,Tentara Turki, Banser NU,
Stalin dan Polpot adalah hal yang lumrah .."

Ketika seorang murid protes
" Lho bukannya pembunuhan itu adalah tindakan
yang tidak bermoral walaupun terjadi di jaman apa saja ?"

Sang Dosen langsung mendamprat
" Jaman samakan abad 21 dengan tahun
abad 20 an dong. Konsidi kan sudah berbeda jauh,
cerita itu kan sudah menjadi sejarah !! "

Trus buat apa kita belajar sejarah ? Bukannya
belajar sejarah itu salah satunya bertujuan
agar kita belajar dari pengalaman? agar sesuatu
yang buruk tidak kita ulang?

Hasan Basri
Nov 9,1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Nov 1999 jam 00:05:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke