---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] Stockholm, 16 Nopember 1999 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr. DIR MENCONTOH JEJAK MUHAMMAD SAW Ahmad Sudirman XaarJet Stockholm - SWEDIA. Tanggapan untuk saudara H.Soehartojo (Malaysia), saudara Muchson Ischak (Indonesia) dan saudara Muhammad Dafiq Saib. GALIAN PERTANYAAN MUCHSON ISCHAK Assalaamu'alaikum wr wb. Bapak Ahmad Sudirman. Sering saya membaca artikel Bapak yang begitu kritis terhadap segala permasalahan yang timbul di Daulah Pancasila yang sekuler. Menyangkut tentang DIR yang Bapak ungkapkan, pada prinsipnya saya sangat sependapat, hanya saja ada sedikit pertanyaan yang sampai saat ini belum saya dapatkan jawabannya, yaitu, sejauhmana pengertian Rasulullah memberikan kebebasan bagi umat lain (Kristiani dan Yahudi) untuk melaksanakan agamanya? Mengingat setiap agama mempunyai ketentuan hukum (baik individu dan publik) sendiri-sendiri - meskipun ada beberapa hal yang ada persamaannya - apakah berarti bagi mereka berlaku hukum masing-masing menurut agamanya? Jika demikian, apakah berarti pula di Daulah Pancasila yang sekuler ini akan berlaku berbagai macam hukum (baik perdata maupun pidana) sesuai dengan keanekaragaman agama yang ada?. Saya menunggu penjelasan dan pemikiran dari Bapak, tentu dalam kerangka Kitabullah dan Sunnah Rasul? Wassalaamu'alaikum wr wb. (Muchson Ischak, kejelasan tentang DIR, 15 Nopember 1999) GALIAN JAWABAN AHMAD Wa 'alaikumsalam. Saudara Muchson Ischak. Hukum yang tertinggi dalam DIR adalah hukum Islam. Adapun bagi para pemeluk agama lain yang mempunyai hukum menurut agamanya masing-masing dan sesuai dengan yang telah dicontohkan Rasulullah dalam Undang Undang Madinah-nya yang menyangkut kebebasan memeluk agama-nya masing dalam DIR (UUM Bab V pasal 25 ayat 2), maka peraturan dan hukum yang telah biasa dilaksanakan dalam kelompok penganutnya tetap dihargai, dan ini sesuai dengan UUM BAB II pasal 5 ayat 1, pasal 6 ayat 1, pasal 7 ayat 1, pasal 8 ayat 1, pasal 9 ayat 1, pasal 10 ayat 1. Artinya dihargai disini adalah, misalnya, apabila ada mempelai Kristen atau Yahudi yang tidak ingin melakukan pernikahan menurut hukum Islam, tetapi ingin melakukannya berdasarkan hukum agama mereka, maka pelaksanaan hukum pernikahan itu dihargai oleh Islam dan berlaku dalam DIR. Juga apabila ingin bercerai dan mengikuti aturan dan hukum cerai agamanya, maka pelaksanaan hukum cerai itu dihargai oleh Islam dan berlaku dalam DIR Begitu juga dengan hukum waris, apabila keluarga penganut agama lain menentukan hukum warisnya berdasarkan peraturan dan hukum agamanya, maka pelaksanaan hukum waris itu dihargai oleh Islam dan berlaku dalam DIR. Adapun hukum pidana, seperti hukum untuk pembunuhan (jinayat), perampokan (korupsi) dan pencurian yang berlaku hukum Islam. Juga hukuman untuk yang berzina, minuman keras, riba, semuanya dikenakan hukum Islam. Hukum perang, memelihara tawanan perang, jihad, siapa yang diperangi, yang boleh ditangkap dan ditawan, orang murtad, semuanya berdasarkan hukum Islam. Semua permasalahan yang ada baik yang menyangkut masalah ekonomi, perdagangan, perpajakan, perusahaan, industri, administrasi, peradilan, sosial, hubungan antar negara, pendidikan, kemasyarakatan, hak-hak kemanusiaan, politik, pemerintahan, negara, semuanya harus berlandaskan kepada Al Quran dan Sunnah. Selanjutnya, pertanyaan saudara Muchson Ischak: "apakah berarti pula di Daulah Pancasila yang sekuler ini akan berlaku berbagai macam hukum (baik perdata maupun pidana) sesuai dengan keanekaragaman agama yang ada?". Jawaban saya adalah, daulah pancasila telah mempunyai dasar hukum, yaitu pancasila dan UUD 1945-nya dengan Tap-tap MPR-nya. Dalam hukum pancasila tidak ada istilah menghormati, menghargai dan menerima hukum yang ada dalam agama. Selama daulah pancasila masih ada selama itu hukum yang berdasarkan pancasila terus berlaku, kecuali apabila DIR kembali berdiri. HASIL PERTANYAAN MUHAMMAD DAFIQ SAIB Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu, Saya 100% mengagumi dan mengimani pengaturan yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagai satu contoh yang sangat baik dan nyaris sempurna. Dua khalifah Rasulullah yang pertama mampu meniru dan melaksanakan seperti contoh tersebut namun dua khalifah yang terakhir menghadapi banyak masalah. Seandainya kita, bangsa Indonesia sekarang, dengan 210 juta manusia yang mempunyai latar belakang sangat berbeda-beda, baik dari segi sosial, agama, budaya dan sebagainya ingin mencoba menerapkan pola yang Beliau SAW contohkan itu, kesulitan pertama yang akan muncul saya kira adalah menentukan seorang figur pemimpin. Bagaimana caranya bermusyawarah untuk menentukan pemimpin ini menurut anda dan bagaimana pula kira-kira hasil yang akan dapat dicapai dengan kondisi kita ini? Saya cukupkan pertanyaan sederhana ini sebagai salam perkenalan. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu (Muhammad Dafiq Saib, 12 Nopember 1999). HASIL JAWABAN AHMAD Wa 'alaikumsalam. Saudara Muhammad Dafiq Saib. Sebenarnya kalau kaum muslimin sudah mencontoh pola Rasulullah dalam pembinaan akidah Islam, dalam pembinaan masyarakat muslim dan non muslim, dalam pembangunan pemerintahan Islam dan Daulah Islam Rasulullah, maka kesulitan untuk menentukan seorang figur pemimpin akan mudah dicari jalan keluarnya. Mengapa? karena seorang figur dan calon Khalifah adalah harus benar-benar orang yang memegang amanah, adil, bijaksana dan muslim. Dengan empat kriteria yang juga merupakan sebagian dari persyaratan umum untuk menjadi calon Khalifah, kalau memang benar-benar seorang calon Khalifah memahami, memikirkan, menghayati dan merenungkan keempat kriteria tersebut, maka betapa sulit dan besarnya tanggung jawab seorang Khalifah, bukan hanya tanggung jawab dihadapan rakyat yang telah memilihnya tetapi juga tanggungjawab dihadapan Allah swt. Jadi, tentu saja, tidak banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi calon Khalifah, karena memang untuk menjadi Khalifah adalah sangat berat. Tetapi, kalau calon pemimpin lebih banyak menitik beratkan kepada kedudukan, politik, kekuasaan dan golongannya, bukan menitik beratkan kepada visi membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT, dengan misi membangun kembali satu masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil, berdasarkan akidah Islam dengan menghormati agama lain, dengan konstitusi yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah, yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras, maka calon pemimpin yang demikian akan banyak membawa kepada kesulitan dan bencana. Lihat saja, Gus Dur dan Amien Rais, walaupun keduanya adalah muslim, tetapi karena yang menjadi visi dan misinya bukan seperti yang digambarkan DIR, maka sistem apapun yang dipakai, kalau itu bukan sistem Islam, maka akan dipertahankannya. Misalnya Amien menyatakan bahwa ia tidak ditugaskan untuk membangun negara yang berdasarkan syariah. Begitu juga Gus Dur, ia tetap akan mempertahankan Daulah Pancasila yang sekuler, daripada membangun kembali Daulah Islam Rasulullah. Pemimpin-pemimpin model begini banyak. PERTANYAAN H.SOEHARTOJO DAN JAWABAN AHMAD SOEHARTOJO: Assalamualaikum wr.wb. Sdr Ahmad. Memandangkan bahwa usaha Penerapan DIR di Indonesia maupun di Malaysia ini adalah suatu perjuangan di arena politik, maka tidak kah wajar bahwa perjuangan itu dilaksanakan melalui bidang politik? Kalau tidak demikian bagaimana perjuangan ini akan mendapat legitimasi dimata masyarakat? Masa harus dibuat secara clandestine? Dizaman Rasulullah dulu, persoalannya tidak timbul karena corak pemerintahannya yang berbeda pada masa itu. AHMAD: Wa 'alaikumsalam. Saudara H. Soehartojo. Sebenarnya kaum muslimin dimanapun berada harus mencontoh metode Rasulullah saw yaitu, metode yang dijabarkan kedalam akidah, hijrah dan jihad. Untuk menghancurkan pengaruh politik dan kekuasaan Walid bin Mughirah dari Daulah Quraisy itu bukan dengan cara menghancurkan dari dalam, melainkan melalui jalan konfrontasi politik langsung, yaitu melalui konfrontasi ideologi yang terbuka yang ditunjang oleh alat dan sarana daulah sebagai alat dan tempat untuk memberikan perlindungan ummat dan untuk mempertahankan aqidah. Secara paralel Rasulullah, disamping dengan gencarnya menyampaikan perlawanan melalui konfrontasi politik Islam menghadapi ideologi Walid yang anti dan memusuhi Islam, juga Rasulullah terus menerus tanpa berhenti membina aqidah kaum Muslimin. Sekarang penjabarannya dalam pembinaan akidah di Daulah Pancasila dan di Malaysia adalah melalui pendidikan formal dan informal untuk diri, keluarga (istri, anak), tetangga, masyarakat sekitar, organisasi, lembaga kemasyarakatan, partai, pemerintahan. Dilanjutkan dari hasil pembinaan aqidah ini dengan memberikan contoh kepada anak, istri, tetangga, masyarakat sekitar dan lingkungan yang lebih luas. Berusaha untuk berdiri diatas kaki sendiri dengan bekerja semampunya untuk memberikan penghidupan kepada diri dan keluarga. Menjaga dan berusaha semampunya untuk bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah. Kemudian dalam memberikan penerangan mengenai Islam harus secara terang-terangan baik melalui cara diskusi, ceramah, tukar pikiran, seminar, perdebatan dan apabila tidak menemukan jalan penyelsesaiannya dan kesamaan dalam berpijak, maka diharuskan untuk berpisah dan berpaling, silahkan kalian jalan menurut keyakinan kalian, kami jalan menurut keyakinan kami. Yang paling penting dalam pemberian penerangan mengenai Islam ini, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah adalah tidak melibatkan diri dalam lingkungan kekuasaan penguasa yang menentang kepada Islam. Nah, yang jadi persoalan sekarang adalah bagaimana dengan Penguasa Gus Dur di Daulah Pancasila dan Penguasa Mahathir di Malaysia sekarang yang memang mereka adalah muslim tetapi tidak langsung menentang Islam dan memusuhi kaum muslimin? Tentu saja, yang ditentang disini adalah idea, pemikiran, konsepsi yang dipakai oleh Penguasa Gus Dur dan Penguasa Mahathir sekarang. Misalnya idea, faham, pemikiran, konsepsi nasionalisme, kebangsaan, sekularisme, itu yang perlu ditentang dan diluruskan, kalau memang Gus Dur dan Mahathir tetap bertahan dengan faham nasionalisme-kebangsaan-nya, silahkan kita ajak berdebat secara terbuka, biar kita mengetahui siapa yang kuat hujah dan dasarnya. Selanjutnya idea hijrah adalah diambil dari contoh Rasulullah setelah kekuatan kaum muslimin di bawah Rasulullah telah matang dan solid, sehingga datanglah perintah hijrah. Dimana hijrah ini merupakan suatu langkah politik untuk menghadapi kekuatan politik Daulah Quraisy. Karena tidaklah mungkin kekuatan politik dan kekuasaan Walid bin Mughirah dari Daulah Quraisy dihancurkan dari dalam melalui perjuangan politik yang melibatkan Rasulullah kedalam kekuatan dan kekuasaan politik Walid bin Mughirah di Daulah Quraisy. Setelah hijrah inilah Rasulullah membangun Daulah Islam Rasulullah yang merupakan alat dan sarana dalam rangka menerapkan, melaksanakan dan mengawasi hukum-hukum Allah SWT yang telah difirmankan melalui Rasul-Nya Muhammad saw, yang juga sekaligus merupakan suatu alat dan sarana kekuatan politik Islam untuk menghadapi kekuatan politik yang dilancarkan oleh Walid bin Mughirah dari Daulah Quraisy yang anti Tuhan. Adapun tujuan kaum muslimin adalah untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT. Ternyata, memang benar bahwa, perjuangan politk Rasulullah yang konfrontasi melawan pengaruh kekuasaan politik Walid akhirnya berhasil. Inilah sebenarnya langkah-langkah Rasulullah saw yang telah dicontohkan kepada ummatnya untuk membina aqidah dan persatuan ummah seluruhnya. Perjuangan melawan suatu ideologi, faham, aliran yang ada dalam suatu daulah, tidak bisa dilakukan dengan melalui perjuangan dari dalam, melainkan harus langsung berhadapan dari luar. Nah sekarang, kalau kita hanya sekedar memperjuangkan Islam melalui jalan politik yang parlementer, misalnya melalui partai politik untuk bisa masuk dan memperoleh kursi di parlemen yang bersistim demokrasi barat yang sekuler dengan trias politikanya, maka jelas itu bertentangan dengan apa yang dicontohkan Rasulullah. SOEHARTOJO: Bagaimana cara memilih Khalifah dan perwakilan2 Majlis/Dewan Syura-nya, agar supaya segenap lapisan masyarakat mendapat kesempatan memilih wakil/pemimpinnya? Sistim mana yang bisa dijadikan contoh, Iran, Iraq, Afghanistan atau mana. Di zaman Rasulullah dulu, bagaimana prosedurnya? Bagaimana representasi dari wakil2 golongan yang bukan Muslim di Majlis/Dewan Syura tsb? Dibeberapa daerah di Malaysia misalnya, masyarakat Muslim adalah minority. Bagaimana pula corak pemerintahan di daerah2 seperti itu? Dizaman Rasulullah di Madinah dulu bagaimana, apakah ada wakil2 orang Yahudi dan Nasrani di Majlis Syura itu? AHMAD: DIR bukanlah seperti Daulah Pancasila dengan falsafah Pancasilanya dan UUD 1945-nya yang sekuler dan sistim trias politika dengan sistem demokrasi baratnya yang berkedaulatan rakyat. Juga DIR bukan seperti Malaysia yang merupakan suatu negara federasi yang terdiri dari negara-negara bagian dengan sistem trias politika dan sistem demokrasi baratnya yang berkedaulatan rakyat. Dalam DIR tidak dikenal nama lembaga legislatif yaitu lembaga pembuat undang undang dengan melalui pengambilan suara mayoritas seperti yang ada dalam sistem trias politika. Karena dalam DIR adalah Allah yang berdaulat. Artinya segala sesuatu harus didasarkan kepada hukum-hukum Allah (Al Qur'an) dan Rasul-Nya (Sunnah). Majlis Syura yang ada dalam DIR adalah suatu badan musyawarah tempat membicarakan segala urusan baik yang disampaikan oleh rakyat maupun yang timbul dari para anggota majlis syuro yang nantinya dikonsultasikan dengan Khalifah. Yang anggota-anggotanya adalah wakil-wakil dari setiap golongan, masyarakat, yang mempunyai keakhlian dalam bidang masing-masing dan mempunyai pengetahuan mengenai Islam yang dipilih langsung oleh rakyat. Di Majlis Syura ini bukan suara mayoritas yang dipakai melainkan musyawarah yang diterapkan, apabila mencapai jalan buntu maka Khalifah yang menentukan keputusannya. Kemudian Khalifah sebagai kepala tertinggi dalam Khilafah Islam (DIR) hanyalah mengangkat, menerapkan dan melaksanakan hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah. Dimana Khalifah dipilih langsung oleh rakyat, dan rakyat memberikan bai'atnya. SOEHARTOJO: Dari sekian banyak golongan Islam yang ambil bagian dalam pemilu baru2 ini, tiada terdengar pendukung DIR. Mengapa demikian? Banyak partai2 Islam yang dulunya terpendam seperti PSII, PSI, Masyumi dll, (walaupun dengan menggunakan wadah baru) berani bangkit kembali. Kenapa tidak Darul Islam (DI) ? Something is wrong somewhere dan saya kira jawabannya mudah saja. Tiada pemimpinnya yang berani tampil kedepan. AHMAD: Seperti yang sudah saya jawab diatas, DIR adalah bukan Darul Islam-nya SM Kartosoewirdjo. Perjuangan DIR adalah mencontoh perjuangan yang telah dicontohkan Rasulullah. Membangun DIR bukan melalui pemilu dengan bermacam ragam partai politik yang parlementer. DIR dibangun dengan jalan akidah, hijrah dan jihad. SOEHARTOJO: Pada pendapat saya berjayanya pemerintahan DIR di Madinah adalah karena semata-mata keunggulan Rasulullah s.a.w sebagai pemimpin. Tidak semua sahabat2 beliau yang meneruskan perjuangan beliau dapat menyaingi kepemimpinan beliau. Justru karena itu pemerintahan Islam mulai menurun dan menjunam kearah kehancuran. Masyarakat Islam di Indonesia khususnya dan diseluruh dunia umumnya masih menantikan kedatangan manusia yang sanggup/mampu membangkitkan semangat Rasulullah untuk mengulangi peradaban Islam yang telah pupus dilanda zaman. Di Malaysia khususnya paling tidak masih ada seorang pemimpin Islam bernama Nik Aziz yang masih percaya bahwa pemerintahan Islam bisa berdiri di Malaysia. Dalam tempoh beberapa minggu lagi rakyat Malaysia akan tahu sejauh mana kemampuannya dan berapa banyak pendukungnya Hanya Allah swt yang bisa menentukan apakah dia akan berhasil atau tidak. Sekianlah dulu mohon pandangan sdr, terima kasih. Wassalamu'alaikum wr wb. (H.Soehartojo, Penerapan DIR, 15 Nopember 1999). AHMAD: Memang Rasulullah adalah disamping seorang Rasul dan Nabi, juga seorang pemimpin dan negarawan yang agung. Sampai dunia kiamatpun tidak akan dijumpai orang yang serupa, sehebat dan seagung Rasulullah. Tetapi tentu saja, Rasulullah telah meninggalkan dua hal untuk dasar perjuangan kaum muslimin di seluruh dunia, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul. Selama kaum muslimin memegang keduanya, selama itu kaum muslimin tidak akan tersesat. Pemimpin kaum muslimin banyak, tetapi yang konsisten kepada apa yang telah diperintahkan Allah swt dan dicontohkan Rasulullah adalah sedikit. Salah satunya memiliki visi membangun persatuan dengan berlandaskan keadilan, amanah dan perdamaian yang bertujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mengharap ridha Allah SWT, dengan misi membangun kembali satu masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil, berdasarkan akidah Islam dengan menghormati agama lain, dengan konstitusi yang bersumberkan dari Al Quran dan Sunnah, yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras. Inilah sedikit tanggapan saya untuk saudara H.Soehartojo (Malaysia), saudara Muchson Ischak (Indonesia) dan saudara Muhammad Dafiq Saib. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Nov 1999 jam 23:25:07 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
