----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

TIGA MENTERI DI SUMPAH DI ACEH

Banda Aceh, Radio Nikoya-FM (Minggu 14/11).
Desakan agar di Aceh segera dilaksanakan referendum di Aceh makin
menguat. Bahkan, kalau pemerintah referendum pusat tidak memberikan
referendum bagi rakyat Aceh, maka rakyat Aceh memilih untuk berperang.
Dan hal itu, sudah menjadi kesepakatan dalam Sidang Umum Majelasi
Pejuang Referendum Aceh tanggal 8 November yang lalu. Selain itu,
tanpa adanya referendum itu, seluruh persoalan di Aceh tidak akan bisa
diselesaikan lagi, demikian sejumlah pernyataan yang kembali
ditegaskan oleh berbagai beberapa komponen mahasiswa, LSM, taliban dan
tokoh-tokoh masyarakat Aceh di hadapan tiga menteri yang datang ke
Banda Aceh, kemarin. Ketiga menteri yang datang itu adalah, Menteri
Negara Urusan HAM Hasballah M Saad, Menteri Negara Pemukiman Erna
Witoelar dan Menteri Negara Pemberdayaan Wanita, Khofifah Indar
Parawansa.

Suasana menarik sempat terjadi ketika rombongan menteri itu melintasi
beberapa daerah menuju Pendopo Gubernuran. Di sepanjang jalan, tampak
beberapa warga menyambut mereka dengan menggelar spanduk referendum.
Bahkan, diantara warga itu sempat berteriak-teriak "merdeka" yang
dibalas dengan lambaian tangan ketiga menteri itu. Kelihatannya,
ketiga menteri itu, tak mau menyia-nyiakan waktu yang ada. Bahkan,
penyambutan secara resmi yang sedianya dilakukan di pendopo
Gubernuran, tidak sempat terlaksana. Karena, masing-masing menteri
langsung mengadakan pertemuan informal dengan beberapa tokoh. Meneg
HAM, Hasballah M Saad, langsung melakukan ziarah dan sholat di makam
pahlawan Aceh, Syiah Kuala.

Sementara, Meneg Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansa
langsung mengunjungi 6 korban pawai referendum di Aceh selatan, yang
sampai kemarin masih dirawat di RS Zainal Abidin, Banda Aceh.
Sedangkan Meneg Pemukiman Erna Witoelar, langsung menemui beberapa
aktifis LSM.
Dalam kunjungannya, ketiga menteri itu mengadakan dua kali pertemuan.
Pertemuan pertama dilakukan di Anjong Monmata yang dihadiri oleh Meneg
Pemberdayaan Perempuan, Khofifah Indar Parawansa. Dalam pertemuan ini,
hadir sekitar 61 organisasi perempuan di Aceh yang secara umum
menyatakan bahwa tuntutan referendum tidak bisa ditawar lagi.

Salah seorang tokoh wanita Aceh, Cut Nur Asikin, dengan tegas
menyatakan bahwa rakyat Aceh sudah terlalu lama menderita akibat
perlakuan pemerintah pusat. Ironisnya, setiap dituntut tanggung
jawabnya, pemerintah pusat selalu berkilah. 'Kami rakyat Aceh selalu
ditipu. Mulai regime Soekarno, Soeharto sampai Habibie. Setiap kami
minta keadilan, yang diberikan cuma peluru,' tandasnya. Hal yang sama
juga disampaikan oleh beberapa tokoh wanita Aceh. Sekitar sepuluh
tokoh Aceh dengan tegas menyatakan bahwa tuntutan referendum bagi Aceh
tak bisa ditawar lagi. Kebiadan dan kedzaliman pemerintah pusat
terhadap rakyat Aceh, sudah sulit untuk dimaafkan.

Menanggapi hal ini, Khofifah menandaskan bahwa penderitaan rakyat Aceh
sudah banyak didengar dunia luar. Karena itu, kedatangannya ke Aceh
ini, untuk mendengarkan lagi tuntutan rakyat Aceh. Khofifah
mengatakan, ia datang untuk mendengarkan saja. Kalau memang referendum
itu menjadi tuntutan, itu yang akan kami sampaikan pada Presiden Gus
Dur.

Pertemuan kedua, dilakukan di Hotel Cakradonya Banda Aceh. Hadir dalam
pertemuan itu sekitar 300 orang yang terdiri dari LSM, komponen
mahasiswa, taliban dan tokoh masyarakat dengan tiga menteri yang
datang ke Aceh. Suasana pertemuan itu sendiri, diwarnai dengan
berbagai keharuan. Terutama, ketika beberapa tokoh masyarakat, LSM dan
mahasiswa, menuntut agar Hasballah menyatakan ketegasannya untuk
memperjuangkan referendum. Beberapa aktifis LSM, bahkan dengan tegas
menyatakan bahwa batas akhir sikap pemerintah terhadap tuntutan
referendum adalah tanggal 4 Desember 1999. Seorang peserta
menandaskan, 'kalau sampai pada tanggal itu pemerintah belum
memberikan jawaban, maka yang menjadi pilihan rakyat adalah perang'.

Menanggapi berbagai tuntutan ini, ketiga menteri menyatakan sepakat.
'Bahwa, jika referendum itu menjadi pilihan, kami tidak akan berusaha
untuk menipu. hal ini akan sampaikan pada Presiden Gus Dur. Hanya
saja, yang perlu menjadi pembahasan kita adalah, bagaimana menyiapkan
langkah-langkah ke arah itu,' tutur Hasballah M Saad. Karena itu,
lanjutnya, seluruh komponen yang ada di dalam masyarakat Aceh, perlu
menyiapkan suatu infrastruktur untuk berdialog. 'Kami datang ke sini,
sekaligus untuk meminta kepada seluruh rakyat Aceh menentukan
wakil-wakilnya untuk berdialog dengan presiden. Sebab, tidak mungkin
bagi presiden melakukan dialog dengan seluruh rakyat Aceh,'' tegasnya.

Menanggapi hal ini, secara serempak peserta yang hadir menjawab bahwa
penentuan wakil rakyat Aceh itu tidak perlu dibahas. Sebab, hal itu
akan dibicarakan oleh komponen yang ada di dalam masyarakat. Yang
penting sekarang adalah sikap pemerintah pusat. Setuju atau tidak
dengan referendum itu. Dan yang lebih penting lagi, di dalam
referendum itu harus ada opsi merdeka. Kalau tidak, sulit bagi kita
untuk menerima referendum itu sendiri, kata salah seorang peserta,
wakil dari Sentra Informasi Referendum Aceh (SIRA). Suasana dialog
makin memanas ketika salah seorang tokoh masyarakat Aceh, Tengku
Zulkifli Bahar berdiri di dekat tiga menteri. Dihadapan peserta,
Tengku Zulkifli menyatakan bahwa ketiga menteri itu harus disumpah.
Allah akan menjadi saksi. Jika ketiga menteri ini tidak memperjuangkan
referendum, ketiganya akan mendapat azab dari Tuhan, tegasnya.

Disertai dengan bacaan sumpah referendum, satu per satu menteri itu
diminta meneriakkan tiga kali kata "referendum." Secara bergiliran,
Hasballah, Erna Witoelar dan Khofifah secara bergantian mengucapkan
kata itu tiga kali berturut-turut, mereka mengatakan, Kalau ini adalah
aspirasi rakyat Aceh, kami tak akan menutup-nutupinya. Ini akan kami
sampaikan.(NKY/IMS).

News Division
RADIO NIKOYA 106.15 FM
Banda Aceh Hit Radio Station
http://come.to/nikoyafm
http://www.nikoyafm.dk3.com

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Nov 1999 jam 09:26:43 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke