---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- ORANG PUSAT JANGAN BANYAK OMONG SUASANA POLITIK DI ACEH JADI TEGANG BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Selasa 16/11). Hingga kini rakyat Aceh terus menantikan keputusan pemerintah pusat untuk mengizinkan pelaksanaan referendum yang dituntut oleh hampir 2 juta massa pada Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum Aceh (SU-MPR Aceh), Senin 8 November lalu, di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Batas waktu 4 Desember yang di ultimatumkan oleh rakyat Aceh kepada pemerintah untuk mengambil keputusan akhir, apakah referendum damai tersebut dapat dilaksanakan atau tidak pada tahun 2000 mendatang, menjadi perbincangan dimana-mana di Banda Aceh, pantauan Radio Nikoya FM di dua warung kopi di kawasan Merduati dan Ulee Kareng, Banda Aceh pagi tadi, tampak warga disana sibuk berdiskusi tentang perkiraan akan terjadi perang di Aceh, jika pemerintah tidak berhasil memberikan keputusan akan memberikan izin untuk melaksanakan referendum hingga tanggal tersebut. Hingga kini dirasakan suasana di Aceh mulai sedikit menegang, berbagai isu yang memerintahkan warga non-Aceh untuk segera meninggalkan Daerah Istimewa Aceh yang katanya dikeluarkan oleh pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM), begitu santer di masyarakat, sementara itu Panglima Tertinggi GAM Teungku Abdullah Safei, Sabtu lalu di Pidie, melalui juru bicaranya, membantah isu bahwa GAM telah mengusir warga non-Aceh, bahkan Abdullah Safei menghimbau, "supaya masyarakat non-Aceh tak perlu takut dan tetap tinggal di Aceh, warga non-Aceh tak perlu khawatir, selama mereka dapat berprilaku baik di Aceh", kata juru bicaranya Teungku Ibrahim. Selain itu, tokoh HAM Aceh, Maimul Fidar, Direktur Ekskutif, Koalisi NGO HAM Aceh, pagi tadi kepada Radio Nikoya-FM Banda Aceh, mengatakan, "semakin banyak orang-orang pusat asal ngomong tentang Aceh, maka akan semakin membuat suasana politik di Aceh semeraut dan memanas, karena orang-orang pusat itu melihat Aceh hanya berdasarkan kacamata kepentingan pusat saja, seperti kepentingan penyelamatan aset-aset dan sumber daya alam yang melimpah di Aceh, tetapi mereka tidak pernah melihat dari kacamata kepentingan rakyat Aceh secara keseluruhan, ketika bagaimana rakyat Aceh menuntut agar diadilinya pelaku pelanggar HAM di Aceh semasa DOM dan pasca DOM, malah orang-orang pusat itu hanya mengatakan sedih dan prihatin serta janji-janji saja tanpa memberikan solusi penyelesaian yang kongkrit dan cepat, bahkan ada pakar-pakar yang tidak mengerti masalah di Aceh yang sebenarnya, malah ikut juga ngomong, sehingga menimbulkan problem dan suasana politik di Aceh makin memanas". Melihat itu semua, Maimul menambahkan, " sebaiknya orang-orang pusat saat ini melihat tuntutan referendum Aceh itu dari sudut kepentingan rakyat Aceh, bukan dari sisi kacamata pusat terhadap kepentingan ekonomi yang ada di Aceh, kalaupun tidak merelakan Aceh itu lepas dari RI, cobalah berfikir yang jernih dengan mencari solusi-solusi yang tepat, jadi jangan asal ngomong aja, seperti adanya komentar-komentar bahwa format negara kesatuan itu sudah final, mana ada aturannya yang mengatakan hal itu sudah final, malah ada lagi yang sangat alergi dengan format negara federasi dan lain sebagainya". kata Maimul dalam menanggapi "kepanikan nasional" terhadap tuntutan referendum rakyat Aceh. Menghadapi suasana politik yang mulai meningkat di Aceh saat ini, Maimul juga mengharapkan, "pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM), agar bisa bersabar dahulu untuk menunggu proses gerakan rakyat sipil Aceh dalam mewujudkan tuntutannya kepada pemerintah pusat, karena gerakan sipil non-violence/tanpa kekerasan ini masih dalam koridor 'demokrasi' sesuai dengan hukum-hukum internasional, jika gerakan sipil Aceh itu diambil alih oleh GAM dengan gerakan bersenjata, maka situasi ini akan dimanfaatkan oleh banyak provokator yang telah disebarkan keseluruh Aceh, sehingga akan dapat membenarkan militer untuk melakukan tindakan represif, sehingga dapat dipastikan rakyat sipil akan menjadi korban", katanya. Ditempat yang terpisah, tokoh Aceh, Dr. Humam Hamid, mengatakan kembal i, bahwa ia tidak melihat akan terjadi peperangan itu, karena rakyat Aceh dan mahasiswa sudah berkomitmen akan melakukan gerakan protes sipil non-violence. Tampaknya prediski Humam dapat dibenarkan apabila kita kembali melihat kebelakang terhadap gerakan sipil di Aceh memang tak terjadi kekerasan, hal itu setidaknya telah dibuktikan pada keberhasilan pengontrolan jutaan massa yang dikomandoi oleh Mahasiswa, LSM dan Taliban pada pelaksanaan Aksi Mogok Massal 4-5 Agustus diseluruh Aceh dan SU-MPR Aceh 8 November lalu di Banda Aceh. Perkiraan Humam Hamid, "jika pemerintah pusat tak memenuhi tuntutan referendum rakyat Aceh itu nantinya, maka rakyat akan melakukan gerakan protes kepada pemerintah dalam bentuk pembangkangan sipil, seperti tak membayar pajak, tidak membayar rekening listrik dan rekening telepon, tidak mentaati peraturan lalulintas, jadi semacam gerakan protes non-violence, untuk tetap meneriakan bahwa belum adanya keadilan di Aceh", katanya. Sementara itu hingga Selasa siang tadi tampak ribuan nasabah bank di Banda Aceh menarik dananya secara besar-besaran, hal itu dilakukan berkaitan dengan adanya isu akan terjadi perang tanggal 4 Desember yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Deklarasi Aceh Merdeka ke 23. Banyaknya warga masyarakat yang termakan dengan isu perang pada tanggal tersebut, juga terpancing terhadap isu-isu tentang adanya pengusiran orang-orang non Aceh. Dari beberapa bank di Banda Aceh yang diamanti, seperti Bank BNI, Bank Rakyat Indonesia (BRI) maupun Bank Central Asia (BCA), terlihat sejak pagi masyarakat mulai antri dengan sabar untuk menarik dananya, seorang karyawan bank setempat mengatakan, penarikan dana secara besar-besaran itu dilakukan oleh warga yang akan eksodus ke luar Aceh, akibat kondisi Aceh yang tidak kondusif selama ini. Selain dari itu diperoleh kabar pagi tadi, pihak Garuda Indonesia Banda Aceh, merencanakan akan melakukan pergantian jenis pesawat yang sekarang melayani rute penerbangan Banda Aceh-Medan itu, dengan jenis pesawat berbadan lebar, agar mampu menampung seluruh calon penumpang yang tidak keba gian tempat atau masuk dalam 'waiting list' / daftar tunggu saat ini, rencana pergantian pesawat dengan pesawat berbadan lebar itu sangat memungkinkan, karena beberapa waktu lalu telah dilakukan pembangunan pelebaran landasan pacu Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, untuk persiapan pemberangkatan jama'ah haji Aceh ke Arab Saudi langsung dari Embarkasi Iskandar Muda tersebut pada tahun 2000 dengan jenis pesawat carter asing berbadan lebar oleh pemerintah. (Tim). News Division RADIO NIKOYA 106.15 FM Banda Aceh Hit Radio Station Jaringan Radio UNESCO PBB http://come.to/nikoyafm http://www.nikoyafm.dk3.com ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Nov 1999 jam 09:26:50 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
