---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- PERCIKAN BUDAYA 93/III/1999 LAHIRNYA DEMOKRASI "GENDHENG" DI INDONESIA Oleh: Ki Gareng Pamungkas Sesungguhnya saya belum mau turun dari pertapaan saya di Gunung Gandhul. Tapi keributan di seantero tanah air membuat semedi saya terganggu dan badhar. Tidak apalah memang saya sudah kangen dengan adik saya si Petruk yang selalu prihatin dan peduli terhadap segala yang terjadi di seantero tanah air, di mana terjadi segala kesimpang-siuran. Kali ini yang ditanyakan adinda Petruk mengenai demokrasi yang sedang berlaku di Indonesia dewasa ini: Demokrasi macam apa itu? Sesungguhnya kata demokrasi sukar didefinisikan, tergantung dari siapa yang mendefinisikan. Maka timbul istilah Demokrasi Liberal, Demokrasi Rakyat, Demokrasi Parlementer, Demokrasi Terpimpin, Demokrasi Pancasila dan masih akan muncul lagi yang lain. Bukankah sekarang zamannya reformasi, di mana tiap orang bebas berpendapat? Jadi, sia-sialah itu definisi yang tercantum dalam banyak Dictionary atau Encyclopedia yang tebal dan mahal. Meskipun demikian, kriteria umum mengacu pada adanya suara terbanyak. Memang sistim ketatanegraan kita belum sempurna, masih banyak bolong-bolongnya. Bolong-bolong inilah akan selalu digunakan pihak-pihak tertentu yang haus kekuasaan dan kekayaan untuk memanfaatkannya. Dan ini sudah dimanfaatkan oleh rezim Orde Baru selama 32 tahun (plus belasan bulan). Sekarang sudah dimulai usaha untuk menutup bolong-bolong itu, misalnya a.l. dengan Amandemen UUD 45. Bravo!!! Dalam pemilu Juni 1999 yang lalu PDIP telah muncul sebagai partai terbesar. Tentu saja dia partai pemenang, artinya menang mendapatkan dukungannya terbanyak dari rakyat. Bolongan yang masih mlompong dalam kehidupan bernegara kita ialah belum hadirnya etika/moral demokrasi. Dari pucuk Gunung Gandhul bisa diteropong pengalaman/praktek ketatanegaraan Negeri Belanda: Partai pemenang pemilu selalu diberi kesempatan untuk membentuk pemerintahan. Inilah etika/moral demokrasi. Ini tidak harus tergantung kepada sistim pemerintahan parlementer atau presidensial, dan pelaksanaannya bisa punya bentuk yang lain-lain. Karena etika/moral demokrasi semacam itu tidak ada di Indonesia maka tentu saja masalahnya jadi jungkir-balik. Partai Pemenang (PDIP) terpinggirkan dari semua posisi lembaga kenegaraan. Sedang partai-partai yang berada di urutan bawah bersatu ramai-ramai kroyok si pemenang. Main keroyok, tidak kasi ampun. Di mana etika/moral demokrasi yang waras? Tidak ada, sudah hilang amblas! Tapi memang kejadian itu bisa dimaklumi, sebab bolong-bolong yang masih mlompong dalam ketatanegaraan Indonesia itu bisa menjadi saluran untuk memanfaatkan tujuan politik golongan-golongan tertentu. Jadi secara yuridis tidak salah, tapi secara moral - kosong blong! Gendheng sekali, bukan? Kekosongan moral dikalangan atas itu sangat terasa oleh rakyat akar bawah yang moralnya masih murni. Maka terjadinya kerusuhan-kerusuhan di beberpa daerah setelah PDIP tersisihkan (Megawati tidak terpilih jadi presiden) haruslah dapat dimengerti. Tentu saja itu emosi, yang sangat disayangkan. Tapi jangan hanya menyalah-nyalahkan rakyat. Lebih baik elite politik di atas itu membenahi moral dan etikanya. Itulah kenyataan yang ada pada demokrasi kita dewasa ini. Jadi tidak usah mencari-cari nama untuk memulas kenyataan demokrasi kita. Sudah jelas macam apa demokrasi kita. Namakan saja apa adanya - Demokrasi Gendheng! Untunglah Mbak Mega dengan hatinurani yang peduli kepada kesatuaan dan persatuan bangsa, tidak menghendaki terjadinya kerusuhan besar di tanah air yang sedang kacau balau, bersedia dicalonkan sebagai wakil presiden. Di pihak lain, golongan-golongan tertentu telah menyadari bahwa kerakusan yang berlebih-lebihan adalah sama sekali a-moral dan biadab. Maka terpilihlah Mbak Mega sebagai Wakil Presiden. Bisa dibayangkan apa yang terjadi di tanah air kita bila dia tetap disisihkan. Gunung Gandhul, 10 Nopember 1999 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 16 Nov 1999 jam 09:31:06 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
