---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] Stockholm, 19 Nopember 1999 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu'alaikum wr wbr. SEBARKAN PERSATUAN, KEADILAN, AMANAH DAN PERDAMAIAN Ahmad Sudirman XaarJet Stockholm - SWEDIA. Jawaban untuk saudara Rais Perdana (Indonesia). KRITIK RAIS TERHADAP PIKIRAN AHMAD Assalamu'alaikum Wr. Wb. Saya sudah cukup lama mengenal Bapak (melalui tulisan Bapak) sepertinya anda cukup punya waktu untuk membaca, menulis dan menjawab begitu banyak orang. Tapi ternyata apa yang anda lakukan tidak lebih adalah sekedar me-paste-kan jawaban-jawaban anda yang lalu (maaf, ini sekedar kritik membangun dari saya). Saya kagum dengan semangat anda melakukan itu semua, saya rasa tidak banyak orang dengan kemauan dan kemampuan seperti anda. Tapi sekali lagi amat disayangkan anda tidak mencoba menambah khazanah wawasan keislaman anda (tsaqofah islamiyah) dan apa yang anda sampaikan adalah monoton itu-itu saja (maaf sekali lagi ini adalah kritik membangun dari saya). Mungkin sesekali perlu anda sampaikan telaah-telaah dan analisis dari sisi qalbu/hati/ruhiyah betapa keringnya hidup ini tanpa Islam sehingga anda tidak hanya berbicara di tataran fikih saja. (Rais Perdana, 18 Nopember 1999). TANGGAPAN AHMAD TERHADAP KRITIK RAIS Wa 'alaikum salam, saudara Rais. Waktu itu relatif, tergantung kepada kita menggunakannya. Waktu sedikit bisa bermanfaat apabila pandai memanfaatkannya, waktu banyak hanya terbuang percuma, karena kurang pandai menggunakannya. Memang, karena pertanyaan-pertanyaan yang datang itu kadang-kadang bunyinya sama, walaupun berlainan penanyanya, maka tentu saja jawabannya adalah serupa, sehingga kelihataan dan terbaca seperti "sekedar me-paste-kan jawaban-jawaban anda yang lalu" seperti yang dikatakan saudara Rais diatas. Rasulullah saw memerlukan waktu hampir 13 tahun untuk pembinaan akidah kepada masyarakat muslim di Mekah, sebelum datang perintah hijrah. Kalau manusia biasa yang ingin atau sedang melakukan hal-hal yang mencontoh Rasulullah saw kemungkinan besar waktunya bisa memakan tiga atau empat kali lamanya, atau mungkin seumur hidupnya. Jadi soal waktu adalah relatif. Tentu saja, sebagaimana yang terdapat dalam Al Quran bahwa Allah telah menunjukkan bagaimana sesuatu ada yang selalu diulang-ulang, itu menunjukkan bahwa betapa pentingnya masalah tersebut, sehingga kaum muslimin akan mendapatkan gambaran yang terang dan jelas, walaupun oleh sebagian dianggap dan dirasa monoton. Padahal dibalik kemonotonan itu terkandung isi yang sangat hebat. Karena itu saya mengajak kepada sesama muslim untuk bersama-sama membina aqidah kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat muslim lainnya. Karena setiap muslim diwajibkan untuk menyampaikan kebenaran yang datangnya dari Allah dan selalu memberikan nasehat dalam kebenaran yang datang dari Allah dan selalu memberikan nasehat dalam kesabaran. Jadi, marilah kita pergunakan umur kita sekarang ini dengan menyampaikan yang haq dan melarang yang bathil. Penyampaian dalam bentuk ucapan, perbuatan, tulisan, yang sifatnya mengandung permasalahan yang menyangkut akidah, hukum, sosial, ekonomi, politik, pemerintahan dan negara yang telah diajarkan Islam. Apabila memang masih ada kekurangan dari pihak saya, silahkan tampilkan tambahannya dari kaum muslimin lainnya. Kita sama-sama untuk membangun dan membina akidah Islam dengan menghormati agama lain dan menjalin ukhuwah Islam sebagi tali pengikat persatuan. KRITIK RAIS TERHADAP CARA PENYAMPAIAN DIR Sebagai da'i (setiap muslim dituntut menyampaikan apa yang dia tahu) tentu saja kita harus mengakomodir seluruh pertanyaan dan keinginan orang sesuai kadar kemampuannya menerima dan menyerap kata-kata kita, tapi kelihatannya bapak hanya menyampaikan hal-hal secara 'brainstorming' saja. Terutama akhir-akhir ini anda menjawab begitu banyak pertanyaan dengan satu tema sentral adalah DIR, tanpa memperhatikan bahwa begitu banyak orang yang begitu anti terhadap ide-ide Islam apalagi DIR dalam memecahkan masalah kehidupan, merekalah orang-orang yang sudah ditutup mata hatinya oleh Allah, merekalah orang-orang munafik, sekuler, atheis dan agnostik, sama saja kita berdakwah atau tidak kepada mereka karena Allah sudah menutup hatinya, kebetulan merekalah orang-orang yang kebanyakan memiliki akses cukup banyak di dunia Maya ini, dan Alhamdulillah. Allahu Akbar. (Rais Perdana, 18 Nopember 1999). JALAN TERUS UNTUK TUJUAN BERIBADAH, BERTAQWA DAN MENCARI RIDHA ALLAH SWT Memang sudah menjadi Sunnatullah dalam menyampaikan permasalahan-permasalahan yang berisikan hasil pemikiran yang berdasarkan kepada apa yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasul-Nya, selalu berhadapan dengan benteng-benteng pemikiran yang dibangun oleh hasil-hasil pemikiran yang didasarkan kepada paham-paham yang gersang dengan nilai-nilai, aturan-aturan, kaedah-kaedah, norma-norma yang datang dari Tuhan. Jadi, sebagai orang yang tetap berpegang teguh kepada tali Allah dan tali Rasul, apa yang timbul dari sikap reaksi yang negatif dari orang-orang yang menentang terhadap tali ikatan Allah dan Rasul-Nya, janganlah menjadikan mundur, melainkan berjalan terus, sambil tetap memohon bimbingan, petunjuk dan ilmu dari Allah swt. Dalam rangka beribadah, bertaqwa dan mencari ridha Allah swt jangan sampai lari kebelakang, karena adanya benturan-benturan benteng yang tinggi yang menghambat, melainkan berusaha untuk melewatinya dan mengatasinya berdasarkan pemecahan yang telah diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya, dengan mengajukan jalan pemecahan yang mengarah kepada persatuan ummat dengan berlandaskan kepada keadilan, amanah dan perdamaian dengan tujuan untuk beribadah, bertaqwa dan mencari ridha Allah swt. PANDANGAN RAIS TERHADAP SYAHID DAN PERANG PEMIKIRAN Insya Allah melalui tangan-tangan merekalah nanti kita akan menemui syahid yang menjadi cita-cita tertinggi seorang mukmin, menemui Sang Kekasih kita dengan tubuh berlumuran darah syuhada yang harum semerbak dengan penuh kebanggaan karena telah memberikan kepada Sang Kekasih hal yang paling berharga di dalam hidup ini. Begitulah mereka yang amat sangat mencintai hidup lebih dari apapun (walau sementara), sebagaimana kita mencintai kematian yang akan membuka pintu kehidupan kekal abadi di akhirat kelak. Mereka ini tidak beriman terhadap Hari Akhir apalagi mau hidup berdampingan dengan kaum mukminin di dalam DIR. Adapula diantara mereka yang memang belum terlalu dalam terperosok dan masih mau hidup bersama kaum mukminin tapi hanya melihat dari kacamata keuntungan hubungan itu bagi mereka. Sayangnya mereka ini begitu mempercayai segala apa yang mereka baca di Internet tentang keburukan orang-orang Islam dan Rasulullah (seperti biasa kuman di seberang lautan tampak tetapi gajah di pelupuk mata tidak tampak). Itulah Al Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran) yang memang harus kita hadapi bersama. Akhirul kalam terima kasih atas kesediaan anda membaca email ini dengan sungguh-sungguh. Semoga Allah menolong Bapak Ahmad dan keluarga di Swedia, membukakan pintu hikmah dan ilmu tentang Islam yang syamil dan mutakamil (universal dan menyeluruh) ini. Wassalam (Rais Perdana, 18 Nopember 1999). SEBARKAN PERMIKIRAN UNTUK PERSATUAN, KEADILAN, AMANAH DAN PERDAMAIAN Masalah hidup dan mati itu adalah urusan Allah bukan urusan manusia. Kita selaku kaum muslimin berkewajiban menegakkan akidah islam, peraturan, hukum, kaedah, norma, yang telah digariskan oleh Allah dan dicontohkan Rasul-Nya. Jadi soal syahid adalah bukan tujuan, karena tujuan adalah untuk beribadah, bertaqwa dan mencari keridhaan Allah. Syahid adalah konsekuensi logis dari usaha menerapkan, melaksanakan dan mengawasi hukum-hukum Allah di muka bumi ini. Kalau ada pihak-pihak yang tidak setuju untuk hidup bersama dengan kaum muslimin dalam DIR, maka itu bukanlah suatu persoalan yang patut dibesar-besarkan, karena Islam telah menawarkan toleransi agama yang tinggi kepada penganut agama lain. Jadi kalau ada yang tidak tertarik, ragu dan tidak percaya kepada toleransi Islam yang tinggi terhadap agama lain, maka bukanlah tanggung jawab kaum muslimin untuk tetap memaksakan mereka untuk menerima Islam. Islam memberikan kebebasan dan tidak memaksa kepada penganut agama lain untuk masuk kedalam wilayah Islam dan DIR. Silahkan mereka mempergunakan akal dan hatinya. Inilah sedikit jawaban untuk saudara Rais Perdana (Indonesia). Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada [EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman http://www.dataphone.se/~ahmad [EMAIL PROTECTED] ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Nov 1999 jam 20:38:58 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
