----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

HABIBIE GAGAL,  DAERAH - DAERAH  TUNTUT MERDEKA,   NEGARA SISTEM
FEDERASI &
PRESIDEN WAHID YANG MODERAT KOMPROMISTIS   Bagian ke III ( tiga )
tamat.

Oleh : Roman Celnado

Negara Kesatuan atau Negara Federasi Tidak Berdosa Penyelenggara
negara yang
tidak jujur & tidak adil yang berbuat dosa.
Kalau gitu terus sistem pemerintahan yang didambakan oleh para elite
politik
yang duduk di lembaga Legislatif, Eksekutif ataupun Yudikatif dapat
dipastikan Masyarakat Indonesia Adil & Makmur yang jadi main goal
bangsa
Indonesia tidak akan terwujud, makin samar dari pandangan. Karena para
elite
politik hanya berusaha, memperjuangkan diri sendiri dan kelompoknya
untuk
mencari kedudukan, nama terhormat dan kekayaan, dengan melupakan tugas
dan
tanggung jawab mereka sebagai utusan atau wakil rakyat. Ada kata-kata
mutiara
mengatakan, Berdiam diri itu emas, kalau motto ini yang jadi acuan
untuk
diutus sebagai anggota DPR/MPR, berarti masyarakat adil & makmur hanya
jadi
slogan uap atau awan, bisa terlihat, tak terasa dan tak bisa dipegang,
apalagi
 dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Para intelektual bangsa, pers dan masyarakat luas, harus turut
memperhatikan
soal loyalitas menteri kabinet yang diangkat Presiden Wahid dari hasil
kompromi, kolektif dari berbagai aliran partai politik dan militer,
bisa
terjadi, mudah-mudahan tidak, masing-masing Menteri lebih loyal
berorintasi
melapor kepada Ketua Partai politik yang mendudukkannya di kursi
Menteri,
dari pada melapor kepada Presiden Wahid sebagai Kepala Negara.
Konstitusi RI
mengakui Menteri sebagai pembantu presiden, bukan pembantu Ketua
Partai.
Tanggung jawab administratif harus kepada Presiden. Pihak pimpinan
Partai
yang berpartisipasi membentuk kabinet hanya bertanggung jawab secara
moral.
Jangan timbul kesan masyarakat luas, Menteri dan Departemen yang
dipimpinnya
sebagai milik partai politik tertentu, dan bisa digunakan sebagai
tempat
bermanuver berbagai jalur bisnis golongan. Kalau sistem ini yang
terjadi,
dampaknya sangat luas bisa hilang kepercayaan masyarakat kepada
pemerintahan
baru pimpinan presiden Wahid.
Saat ini rakyat Indonesia sedang menunggu bukti hasil kerja
pemerintahan
presiden Wahid.  Yang mendesak dan ditunggu-tunggu rakyat adalah:
pemerataan
pendapatan & hidup wajar, mampu bayar biaya kost dan biaya pendidikan
dari TK
sampai selesai PT, adil & makmur dalam arti mempunyai lapangan kerja,
punya
income yang memadai, sembako di pasar ber AC dan tidak ber AC tersedia
cukup
dalam 24 jam service dengan harga yang seimbang dengan minimum gaji
yang
diterima, pelayanan kesehatan yang murah yang terjangkau masyarakat
kebanyakan, hidup dengan keluarga rukun dan damai, dan beribadah
kepada Tuhan
dengan sungguh-sungguh sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Paling mulia dan terhormat jika, DPR/MPR masa bakti 1999-2004 harus
memulai
memainkan peran utamanya untuk kontrol pelaksanaan tugas pemerintah,
sesuai
dengan job descriptionnya, kasus dugaan KKN mantan presiden atau KKN
yang
lain, belum sempat ditangani berdasarkan proses yuridis, sudah di
katakan
patut diampuni, cara ini harus dipertanyakan. Malah faktor politis
yang
didahulukan dari pada faktor Yuridis yang menjadi kekuatan dasar
Negara
Hukum. Jika dari awal Presiden Wahid kompromistis, sulit untuk
menegakkan
Supremasi hukum. Jika dibuka file serem-serem selama pemerintahan
Soeharto
berkuasa, dan masa pemerintahan Habibie, banyak kasus SARA,
pembantaian
etnis, suku, golongan hampir seluruh Indonesia, kasus HAM, penembakan
mahasiswa Tri Sakti, penembakan Semanggi I, II, dan rakyat, kasus
perkosaan
13-14 Mei 1998 sekitar 160 an wanita keturunan Cina yang sampai hari
ini
tercatat 2 wanita telah melahirkan bayi, kasus pengrusakan
infrastruktur +
pembakaran ratusan rumah-rumah ibadah, ditambah pembakaran gereja di
Beji-Depok lima hari lalu, kasus-kasus KKN Bank Bali ratusan milyar,
KKN 12
departemen ratusan milyar bahkan kasus DR ( dana reboisasi ) capai 15
triliun, kasus mark-up Pertamina, kasus proyek exor Balongan. Semua
kasus-kasus nasional yang memalukan Bangsa tersebut diatas tak ada
yang
sempat dituntaskan pemerintah Habibie, dan menjadi PR berat untuk
pemerintah
presiden Wahid, dan semua harus dibuka di pengadilan agar rakyat yakin
dan
percaya dengan pemerintah baru.

Budaya Malu & sifat Ksatria, Jika Terbukti Melanggar Hukum, Mundurlah
!
Dengan dasar penilaian objektif diatas membuat seluruh mahasiswa dan
masyarakat Indonesia terutama di daerah-daerah gerah dan nyut-nyut
kepalanya
mendengar, membaca, menyaksikan penyakit kronis Pejabat-pejabat bangsa
sendiri yang hampir semua sudah tertular virus KKN, herannya mereka
tidak
merasa malu. Total utang RI mencapai 154 milyar US dollar, belum
dihitung
bunganya, tapi kebocoran KKN yang sudah terbuka dihadapan masyarakat
belum
juga dituntaskan, dan para koruptor enak-enak hidup, tambah utang baru
lagi,
dan semua daerah harus ikut bertanggung jawab untuk melunasinya,
sampai tahun
2025 mendatang belum tentu utang bisa lunas, anak cucu rakyat
Indonesia yang
jadi perahan. Sistem dan cara inilah yang benar-benar tidak adil.

Jangan salahkan kalau masyarakat dan rakyat daerah-daerah menuntut
Merdeka,
atau menuntut merobah ke negara sistem Federasi yang lebih jujur dan
fair.
Rakyat Indonesia menaruh harapan & keyakinan besar pemerintahan
Wahid-Megawati bisa menyelesaikan semua kasus KKN termasuk kasus
BaliGate,
dan kasus-kasus pidana lain di seluruh Indonesia, dari kelas berat
sampai
kelas  terbang, dan mengumpulkan semua Uang Negara yang bocor
berhamburan
sampai  ke Manca Negara, agar bisa menutupi APBN tahun berjalan, dan
mencukupi kebutuhan sembako masyarakat, dan kemungkinan pinjaman dari
IMF
bisa ditunda sampai tahun-tahun mendatang atau belum diperlukan,
semoga
demikian adanya. Untuk partai politik yang terbukti terlibat kasus
Baligate
sebaiknya didiskualifikasi dalam hubungannya dengan pemilu 7 Juni lalu
demi
tegaknya hukum. Dan anggota DPR / bekas anggota atau pejabat / bekas
pejabat
negara yang terlibat menerima dana Bank Bali, atau dana dari sumber
lain,
mulai dari kelas berat sampai kelas terbang, harusnya segera
diperiksa,
diproses berdasarkan hukum positif. Jika tidak ditindak dari sekarang,
akan
model begini terus system pemerintahan RI, toleransi terus, karena
alasan
mereka berjasa besar untuk Bangsa & Negara. Dinegara hukum, tidak ada
rumus
hanya pejabat kebal hukum,  merasa aman dan damai tanpa tersentu
hukum,
karena beranggapan pejabat tinggi dan mantan pejabat tinggi, dan KUHP
diinterpretasi sama dengan, Kalau punya Uang Habislah Perkara,
bukannya Kitab
Undang-undang Hukum Pidana yang harus ditegakkan.
Mahasiswa dan rakyat Indonesia menyoroti instruksi Presiden Gus Dur
kepada
Jagung Pak Marzuki Darusman, Periksalah Semua, siapa saja Jangan
tanggung-tanggung, jika kedapatan, terbukti ada Menteri terlibat akan
di non
aktifkan, jika pengadilan putuskan bersalah pasti diberhentikan,
diganti
orang baru yang bersih. Terlalu banyak kasus KKN, Pidana yang pending
sejak
tahun lalu-lalu. Stop berdiplomasi publik relation, yang terpenting
implimenta
si hukum secara transparan, agar mahasiswa dan rakyat Indonesia tidak
kecewa
yang berakibat daerah-daerah menuntut kemerdekaan.
Kalau pemerintahan presiden Habibie mengatakan, semua kasus KKN,
kriminil
pelanggaran HAM pending Orde Baru adalah bukan tanggung jawabnya, dan
pemerintahan presiden Wahid, juga mengatakan kasus-kasus KKN dan
kriminil
pelanggaran HAM pemerintah Orde Baru dan Transisi adalah bukan
tanggung jawab
pemerintahan baru, hah ini dia yang memperuncing keadaan sehingga
rakyat
daerah-daerah berusaha melepaskan diri dari pemerintahan pusat.

Ibu Pertiwi selalu berkata, pelihara terus persatuan & kesatuan, demi
kelangsungan pembangunan nasional, demi keamanan & ketertiban, harus
berjiwa
nasional, punya wawasan kebangsaan, tidak terperangkap dalam pemikiran
wawasan yang sempit, tapi mahasiswa dan rakyat sebagai anak-anaknya
sendiri di
injak-injak, ditendang, dipopor, dibedil bahkan dibunuh, mayatnya pun
sebagian tidak tau dikubur dimana, demi melanggengkan kekuasaan
otoriter
sentralistik dominan. Jangan marah jika anak-anak bangsa mau
memisahkan diri
untuk mendirikan rumah sendiri menjauh dari Ibu Pertiwi yang bengis.
Prioritas utama yang harus dilakukan pemerintah presiden Wahid-wakil
presiden
Megawati secepatnya, adalah pulihkan kepercayaan rakyat, korban jiwa
sudah
banyak, dilukai cukup lama, baik fisik maupun mental, luka fisik cepat
sembuh, tapi luka mental memakan waktu bertahun-tahun.

Zaman telah berobah,  Peradaban Manusia Harus di Resetting
Hentikan pendekatan keamanan menggunakan sangkur, bedil dan tank,
mahasiswa &
rakyat bukanlah musuh Ibu pertiwi, tetapi dimusuhi penguasa otoriter
sentralistik dominan dan semua pendukungnya yang takut kehilangan
kekuasaan.
40 an hari lagi peradaban umat manusia memasuki millennium abad 21,
mulailah
dengan pendekatan kemanusiaan berdialog secara terbuka, bermusyawarah
dengan
baik, untuk mencapai mufakat yang  adil  dan jujur terhadap rakyat
disemua
daerah.

Pengalaman membuktikan, Kebenaran, keadilan dan demokrasi murni harus
dikejar, dituntut dengan unjuk rasa dan demonstrasi besar-besaran oleh
seluruh mahasiswa, dosen dan masyarakat Indonesia, dengan penuh risiko
korban
jiwa. Tanpa cara ini, yang namanya kebenaran, keadilan & demokrasi
hanya
menjadi kenangan diatas kertas dalam buku reference ajaran agama &
dunia
pendidikan yang, diinjak terus oleh penguasa dan aparat keamanan yang
jadi
kendaraan tunggangan untuk mempertahankan kekuasaan.

Untuk merespon tuntutan mayoritas rakyat daerah-daerah yang makin
solid dan
konsisten, untuk Merdeka atau negara sistem Federasi, jalan tengah
yang adil,
jujur & demokratis yang harus dilakukan DPR/MPR dan Pemerintah adalah
merobah
system pemerintahan menjadi Negara sistem Federasi.

Negara Kesatuan atau Negara Federasi tidaklah  berdosa dihadapan
Tuhan, yang
berdosa adalah penyelenggara Negara yang tidak Jujur & tidak Adil.

Roman Celnado
P. O. Box 11834
San Bernardino, CA 92423
U.S.A
E-Mail : [EMAIL PROTECTED]

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Nov 1999 jam 06:40:46 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke