----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------
MAHASISWA ACEH DESAK PRESIDEN GUS DUR LAKSANAKAN REFERENDUM
GAM : WARGA TIDAK WAJIB KIBARKAN BENDERA ACEH
BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Kamis 18/11).
Siapapun yang menjadi Presiden RI saat ini, tentulah akan sangat sulit
menangani bom waktu yang ditinggalkan oleh rezim Soeharto serta rezim
Habibie saat mereka berkuasa, bom waktu itu kini sedang meletup
dimana-mana,
hanya Allah sajalah yang dapat menolong menyelesaikan semua persoalan
bangsa
yang demikian kompleksnya itu, oleh karena itu Presiden Gus Dur yang
seorang
ulama NU itu, hanya atas izin Tuhan-lah, ia akan mampu menyelesaikan
semua
persoalan umat yang berada diambang jurang perpecahan tersebut. Krisis
kepercayaan terhadap pemerintahan Gus Dur oleh daerah-daerah, adalah
akibatkan dari krisis kepercayaan yang sudah tercipta sebelumnya saat
Soeharto dan Habibie berkuasa dengan cara yang tidak adil dan
cenderung
menggunakan kekuatan senjata untuk menekan rakyat agar dapat patuh
kepada
system yang dibuatnya. Berbagai tuntutan keinginan untuk lepas dari
Jakarta
karena sudah tidak tahan lagi menderita di zalimi oleh Orde Baru dan
Orde
Reformasi puluhan tahun, kini menggema mulai dari Aceh, Riau,
Kalimatan
Timur, Sulawesi Selatan hingga ke Irian Jaya.
Khusus persoalan tuntutan referendum oleh rakyat Aceh, Aguswandi. BR,
Juru
Bicara Politik dari Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) Aceh di
Washington.DC, AS, kepada Radio Nikoya-FM melalui suratnya
menyebutkan,
"upaya lain yang ditempuh oleh pemerintahan baru untuk menyelesaikan
permasalahan Aceh dengan mengirimkan berbagai delegasi pemerintah
pusat guna
mengadakan dialog dengan berbagai komponen rakyat Aceh untuk mencari
solusi
penyelesaian kasus Aceh, adalah cara Gus Dur yang tidak demokratis dan
tidak
menjawab/mengalihkan dari persoalan yang sesungguhnya di Aceh, dimana
berbagai komponen rakyat Aceh sudah sepakat bahwa solusi penyelesaian
kasus
Aceh hanya dilaksanakan dengan referendum damai, hal itu sudah jelas
merupakan aspirasi dan suara rakyat Aceh yang muncul selama ini", kata
Agus
yang sedang dalam perjalanan kampanye internasional ke beberapa negara
eropah terhadap kasus Aceh.
Selain itu mantan Sekjen SMUR ini menuliskan, " berkaitan dengan
realitas
itu maka mahasiswa Aceh dengan ini menuntut pemerintah untuk segera
diadakan
pelaksanaan Referendum Aceh dengan mengandung 2 (dua) opsi, yaitu opsi
tetap
mau bergabung dengan RI atau berpisah dengan RI (merdeka) seperti yang
dituntut oleh mayoritas rakyat Aceh dalam SU-MPR Aceh 8 November lalu
di
Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh". tuturnya.
Kamis siang tadi, masih dilakukan berbagai pertemuan dan dialog di
Kampus
Univesitas Syiah Kuala (Unsyiah) oleh mahasiswa dalam rangka menepis
isu-isu
pengusiran warga non-Aceh dari Serambi Mekkah yang disebarkan oleh
para
provokator yang tidak ingin Aceh itu aman, mahasiswa terus berkampanye
mencegah warga agar tidak eksodus, karena pada tanggal 4 Desember
nanti
tidak akan terjadi peristiwa apapun, sebab pihak Panglima Tinggi GAM
sendiri
telah mengeluarkan pernyataannya bahwa perayaan HUT Deklarasi Aceh
Merdeka
itu nanti akan dilakukan disuatu tempat di Aceh dengan hanya
melibatkan
tentara mereka saja, sedangkan rakyat Aceh maupun non-Aceh diminta
untuk
berdiam diri dirumah masing-masing, sambil membaca Al-Quran dan surah
Yasin.
Sementara dikesempatan lain, Abu Marwan juru bicara Teungku Darwis
Djeunieb,
Panglima AGAM Wilayah Batee Iliek, kepada pers, menyampaikan perintah
dari
pimpinan tertinggi GAM di Eropah, yang isinya " masyarakat di Aceh
tidak
diwajibkan untuk mengibarkan 'bendera Aceh' ketika menyambut tanggal 4
Desember mendatang. Pada hari itu, masyarakat hanya diminta berkumpul
semua
di masjid atau meunasah/surau di seluruh Aceh sejak waktu shalat subuh
serta
melaksanakan shalat rawatib, shalat hajat, membaca Al-Quran dan
berdo'a
bersama agar negeri Aceh segera terhindar dari kezaliman", katanya.
Sebelumnya juga Danrem 012/Teuku Umar, Kolonel CZI Syarifuddin Tippe.
Msi,
juga telah mengatakan, " pada tanggal 2-4 Desember nanti, ia dan
jajaran TNI
akan menjamin semua warga masyarakat untuk dapat melakukan aktivitas
rutinnya, dalam menghadapi 4 Desember, pihaknya akan bersikap defensif
selama tiga hari itu, kecuali jika pihak GAM menyerang TNI ".
Selanjutnya
kata Tippe, karena pihaknya sudah banyak melakukan perubahan di tubuh
TNI,
dia berharap para tokoh GAM yang saat ini berada di seberang, agar
juga mau
merubah sikapnya untuk melakukan upaya kompromi dengan arif dan
bijaksana.
''Kami berharap mereka juga mau diajak untuk berdialog," lanjut Danrem
012/Teuku Umar.
Hari Rabu (17/11) kemarin, Musanna Tengku Abdul Wahab, Ketua Biro
Penerangan
Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) yang berkedudukan di
Amerika
Serikat, mengeluarkan Siaran Pers-nya yang dikirimkan kesejumlah media
massa
cetak dan elektronik di Indonesia, yang isinya, menghimbau semua pihak
di
Aceh untuk dapat menyelidiki benar-benar tentang adanya pihak yang
menjual
bendera Aceh Merdeka untuk kepentingan pribadinya, menurut Musana, "
Sejauh
yang kami ketahui, kegiatan menjual bendera tersebut sangat
memudharatkan
masyarakat, apa lagi masyarakat kita yang miskin, sehingga sangat
tidak
mampu mengeluarkan Rp. 25.000 hanya untuk membeli bendera. Apa lagi
kita
bangsa Acheh akan menyambut bulan ramadhan yang memerlukan biaya
ekstra.
Yang kami khawatirkan, penjualan bendera tersebut dilakukan oleh
pihak-pihak
tertentu untuk memburuk-burukkan AGAM. Ini harus kita waspadai, ada
sesetengah orang ingin mengadu domba kita sesama bangsa Acheh. Bendera
Acheh
Merdeka adalah bukan tempat mencari keuntungan. Bangsa Acheh sekarang
sudah
menyimpan bendera Acheh Merdeka itu di dalam hati masing-masing, sudah
menunjukkan sikap yang berani dan telah menunjukkan kekuatan rakyat
dengan
berkumpul di depan Mesjid Baiturrahman di Kuta Radja (Banda Acheh)
beberapa
minggu lalu. Ini bermakna bangsa Acheh sudah Merdeka" tulis surat dari
ASNLF
itu.
Himbauan Mahasiswa dari BEM Unsyiah agar warga non-Aceh tak perlu
meninggalkan Aceh karena ulah provokator yang menyebarkan isu
pengusiran
warga non-Aceh, tampaknya dapat dipahami oleh sebahagian warga
non-Aceh yang
mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Aceh, namun hingga Kamis siang
tadi,
di terminal bus antar propinsi di Setui-Banda Aceh, masih tampak warga
yang
eksodus meninggalkan Tanah Rencong, seorang warga non-Aceh yang baru
tiba
dari Aceh Barat, bernama Soekirman, kepada Radio Nikoya-FM menuturkan,
ia
meninggalkan Aceh karena was-was saja dengan kondisi Aceh, bukan
karena
adanya ancaman atau intimidasi, setelah situasi kembali kondusif ia
merencanakan akan kembali lagi ke Aceh, karena menurutnya orang Aceh
itu
baik dan ramah selama kita tak menyinggung adat dan budaya Islam-nya.
(Tim).
News Division
RADIO NIKOYA 106.15 FM
Banda Aceh Hit Radio Station
Jaringan Radio UNESCO-PBB
http://come.to/nikoyafm
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Nov 1999 jam 10:54:35 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++