----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 17 Nopember 1999

Amien Salip Gus Dur

Oleh Ratyono, MSc

Hasil pertemuan tiga menteri yang diutus Presiden Gus Dur, yakni:
Meneg Urusan HAM Hasballah M. Saad, Meneg Urusan Pernan Wanita
Khofifah Indar Parawansa dan Meneg Permukiman Erna Witoelar dengan
rakyat Aceh baru-baru ini,ternyata cukup menyedihkan. Bagaimana
tidak, hasil pertemuan itu antara lain pemaksaan kepada menteri
untuk menyerukan referendum, sambutan di jalan dengan pekik
"merdeka" dan yang paling seru adalah pernyataan bahwa bila
referendum ditolak, maka rakyat Aceh "siap perang".

Usaha para menteri untuk megidentifikasi siapa saja perwakilan
rakyat Aceh yang akan berdialog dengan Gus Dur pun tidak
sepenuhnya berhasil. Mereka akan menentukan sendiri siapa yang
bakal jadi mitra dialog Gus Dur dan Mega. "Namun siapa mereka,
tidak perlu dibahas," begitu kurang lebih pernyataan dari salah
satu tokoh rakyat Aceh. Begitulah potret rakyat Aceh setelah Ketua
MPR  Amien Rais "mencuri start"" mendahului pemerintah berkunjung
ke Aceh. Mengapa terjadi "salip-menyalip" antara pemerintah di
bahawh Presiden Gus Dur dan Amien pribadi yang juga Ketua MPR
serta penggagas Poros Tengah itu?

Ketika kampanye Pemilu berjalan, Amien Rais yang waktu itu sangat
aktif bicara dan begitu yakin bahwa PAN yang dipimpinnya
menang dalam Pemilu, pernah mengatakan, "Wajar jika rakyat Aceh
pegang senjata, karena ditindas oleh pemerintah." Dengan
pernyataan ini, Amien Rais secara terang-terangan mendukung
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau paling tidak memberi "pembenaran"
terhadap upaya GAM untuk melepas Aceh dari republik tercinta.
Pernyataan ini diutarakan Amien Rais ketika menghadapi peristiwa
penyerangan rakyat Aceh terhadap Den Rudal TNI di Aceh.

Amien Rais juga orang pertama yang melontarkan gagasan negara
federal bagi Indonesia. Gagasan ini mungkin diilhami pengalamannya
selama dia berada di negeri Paman Sam. Petinggi PAN yang gagal
meraih kemenangan dalam Pemilu Juni 1999 lalu itu juga mendesak
pemerintah untuk menerima kehadiran pasukan multinasional di
Timtim. Para petinggi PAN pula yang memimpin perwakilan Parpol
yang antara lain menuntut agar Presiden Habibie membatalkan
pembentukan Kodam di Aceh. Salah satu petinggi PAN bahkan
mempertanyakan apakah Aceh, Riau, Ambon dan Irja termasuk dalam
nasionalismenya Indonesia?

Amien Rais yang sekarang berhasil menduduki jabatan Ketua MPR atas
jasa Poros Tengah itu mengatakan bahwa referendum adalah cara
terakhir untuk menyelamatkan masalah Aceh. Ketua Umum PAN ini
mengatakan bahwa pemerintah dengan segala upayanya sudah mentok.
Menurutnya, bila pemerintah tidak banyak omong dan langsung
melakukan tindakan kongkret untuk memperbaiki kondisi di Aceh,
mungkin rakyat Aceh mau menerima, namun tidak merupakan jaminan
batalnya referendum.

Amien Rais pernah mengatakan pula bahwa militer yang datanya
lengkap, ada namanya dan ada NRP-nya segera diadili. Lantas
bagaimana dengan pelanggara HAM yang dilakukan oleh GAM terhadap
TNI? Mengapa seorang Ketua MPR dari sebelum menjabat sampai
sekarang terus-menerus "menghantam" TNI, sementara TNI memang
"tidak disukai" oleh Paman Sam karena dianggap otoriter dan
menghambat proses demokratisasi?

SIAPAKAH AMIEN RAIS

Bila ditarik garis antara sikap Amien Rais yang membenarkan rakyat
Aceh pegang senjata, gagasan negara federal, tuntutan pembatalan
Kodam, dorongan kepada pemerintah untuk menerima kehadiran pasukan
internasional, referendum adalah cara terakhir, sikap
mempersoalkan nasionalisme, adil TNI. Begitu pula pernyataannya
bahwa ia berupaya agar presiden dan wakil presiden jangan dari
militer, Menhankam harus sipil dan hubungan Amien Rais dengan
Amerika yang begitu mesra serta mungkin masih sederetan lagi, maka
patut dipertanyakan siapakah Amien Rais sebenarnya? Namun apapun
yang telah terjadi, sekarang Amien Rais menduduki posisi tertinggi
di Indonesia, yakni: Ketua MPR RI yang jelas sangat berpengaruh
terhadap pengambilan keputusan nasional.

Dengan latar belakang seperti itu, kehadiran Amien Rais di Aceh
yang mendahului alias menyalip pemerintahan Gus Dur, dapat
diasumsikan sebagai kelanjutan sikap politiknya yang kebarat-
baratan. Sikap Ketua MPR itu akan memberikan dampak negatif yang
luas pada rakyat Aceh dan daerah lain. Seharusnya Amien Rais
sebagai Ketua MPR memberikan kesempatan kepada pemerintah selaku
eksekutif untuk mengambil langkah-langkah penyelesaian.

Amien Rais seharusnya berpidato di forum MPR dan bukan di luar
yang terkesan bahwa terjadi persaingan antara Amien dan
pemerintah. Apakah tindakan Amien Rais ini sebagai pencerminan
demokrasi atau penyaluran hobi konflik? Atau karena sedang ada
beban intervensi asing yang tidak dapat dia elakkan? Reformasi
menuntut sistem politik yang checks and balances. Namun
kenyataannya Amien Rais sang demokrator mengaku reformis itu
justru melakukan tindakan yang tidak checks dan tidak balances.

Tidak berlebihan bila diasumsikan bahwa sikap Amien Rais yang
sejak semula mendukung GAM, tidak akan menghasilkan penyelesaian
masalah Aceh secara damai dan dalam kerangka negara kesatuan
Republik Indonesia. Sikap rakyat Aceh yang semakin mengkristal
dengan tuntutan referendum dan bahkan siap perang bila referendum
ditolak oleh pemerintah, mungkin saja ada korelasinya dengan
kunjungan Amien Rais. Sekalipun asumsi ini perlu pembuktian untuk
menguji kebenarannya, namun garis lurus yang menghubungkan sikap
Amien Rais selama ini ada korelasinya dengan sikap rakyat Aceh
yang memvonis akan melakukan aksi bersenjata pada 4 Desember 1999
mendatang sebagai batas akhir. Bila pemerintah menolak referendum
yang salah satu opsinya adalah merdeka, maka rakyat Aceh akan
memukul genderang perang.

BANYAK YANG MAIN

Niat baik pemerintah untuk berusaha memenuhi tuntutan rakyat Aceh
seolah-olah tidak ada artinya dan tidak mengubah reaksi rakyat
Aceh. Di masa kekuasaan Presiden BJ. Habibie ada suntikan dana Rp
1,5 triliun dan kini di bawah pemerintahan Presiden Gus Dur
tuntutan pembatalan pembentukan kodam dan penarikan TNI non
organik telah dipenuhi.

Namun Hasan Tiro secara arogan menyatakan tidak mau berunding
dengan pemerintah, bahkan secara arogan dia sesumbar bahwa 5000
serdadu GAM saat ini sedang dilatih di Libia. Seiring dengan
sesumbar Hasan Tiro, kelompok rakyat Aceh tertentu menyatakan
"siap perang". Secara transparan, kita tahu bahwa banyak pihak
yang bermain di Aceh. Mereka secara terpisah atau link up
memberikan dukungan kepada GAM yang memang berniat terus berjuang
untuk memisahkan Aceh  dari Republik Indonesia.

Pemerintah perlu mengidentifikasi anatomi konflik yang ada di
Aceh, sehingga dapat menentukan kebijakan secara proporsional,
bukan secara emosional dengan menuruti tuntutan keistimewaan Aceh
semata-mata. Kaum imperialis dan zionis pasti tidak akan
membiarkan Indonesia di bawah Gus Dur tumbuh menjadi kekuatan
Islam yang dapat menganggu grand politics mereka. Dibalik itu
mereka juga punya kepentingan ekonomi yang menjadi kepentingan
tokoh Aceh tertentu.

Pemerintah tidak perlu mengambil sikap kompromi terhadap mereka
terhadap mereka, karena pihak imperialis dan zionis terbiasa
memberlakukan standar ganda dalam menjalankan politik luar negeri
mereka. Sekalipun kita melakukan kompromi dan bahkan cenderung
mengalah, tidak berarti mereka dengan sepenuh hati merangkul
Indonesia sebagai teman permanen. Mereka akan bikin ulah lagi
dengan berbagai persyaratan baru, bila mereka punya kepentingan
baru dan tidak segan-segan "meninggalkan" Indonesia bila sudah tak
diperlukan lagi.

Sikap kompromi seperti yang dilakukan pemerintah memang perlu,
namun kita tidak boleh memposisikan diri sebagai "pengemis".
Kunjungan Gus Dur ke Amerika dan rencana pemerintah membuka
hubungan dagang dengan Israel memang merupakan langkah-langkah
kompromi, namun harus diupayakan agar tidak merobohkan kedaulatan
dan kehormatan bangsa. Penyelesaian masalah Aceh memang harus
dilakukan secara damai dan dialog dilaksanakan antara pemerintah
dengan rakyat Aceh, bukan dengan GAM. Pemerintah juga tidak perlu
menuruti nafsu rakyat rakyat Aceh, negosiasi yang dilakukan harus
memperhatikan kepentingan Aceh, kepentingan daerah lain yang masih
"melarat" dan kepentingan nasional yang menjadi tanggungjawab
pemerintah pusat.

Bila penyelesaian damai dan proporsional tetap ditolak, maka
kemungkinan besar penolakan itu dilakukan oleh rakyat "di bawah
tekanan GAM". GAM memang selalu menggunakan rakyat sebagai
"tameng", baik dalam aksi bersenjata maupun politik dan mereka
dapat dipastikan menolak penyelesaian apapun dalam kerangka negara
kesatuan Republik Indonesia. Lantas apakah pemerintah yang konon
demokratis akan "menyerah" pada GAM dan membiarkan Indonesia
porak-poranda seperti yang terjadi di Uni Soviet?

Sebaiknya pemerintah menguatkan komitmen untuk terus berjuang
mempertahankan keutuhan Republik Indonesia. Bila GAM terus
mengacau upaya pemerintah dan mencoba melakukan aksi bersenjata,
maka pemerintah bersama DPR masih punya rakyat dan TNI untuk
menumpas GAM sampai rata tanah. Pemerintah tidak boleh menyerah,
karena bila hal itu terjadi, maka rakyat dan TNI tidak akan
tinggal diam.

(Penulis adalah pengamat sosial politik, Alumnus Florida Institute
of Technology US)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Nov 1999 jam 03:56:18 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke