----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

DATA �NEW YORK TIME� TAK AKURAT SOAL ACEH

BANDA ACEH, Radio Nikoya-FM (Senin, 22/11).
Perkembangan terakhir di Provinsi Daerah Istimewa Aceh dengan adanya
gelombang eksodus warga non-Aceh ke luar Serambi Mekkah dipersoalkan oleh
majalah New York Time terbitan pekan ini dalam tajuk utamanya. Aguswandi BR,
Duta Kampanye Keliling Amerika Eropah dari Solidaritas Mahasiswa Untuk
Rakyat (SMUR-Aceh), dari New York pagi tadi kepada Radio Nikoya-FM melalui
telepon, mengatakan, �majalah New York Time menyebutkan bahwa warga Aceh
telah mengusir warga non-Aceh keluar dari Tanah Rencong, liputan wartawan
New York Time itu sepertinya tidak akurat dan sangat berbeda/bertentangan
dengan kenyataan di lapangan, eksodusnya warga non-Aceh itu terjadi lantaran
selebaran gelap yang ditebarkan oleh provokator yang tidak menginginkan Aceh
itu aman, sehingga pandangan masyarakat Internasional yang telah bersimpati
terhadap perjuangan rakyat Aceh terhadap tuntutan referendum yang kini terus
bergema itu menjadi berubah lantaran adanya eksodus warga non-Aceh, padahal
rakyat Aceh dikenal sangat anti terhadap tindakan yang mengarah ke
diskriminasi rasial, gerakan protes rakyat Aceh saat ini adalah gerakan
non-violence/tanpa kekerasan�, kata Agus.

Selebaran gelap yang sempat beredar beberapa waktu lalu dan dilangsir oleh
salah satu media cetak, membuat banyak warga non-Aceh merasa khawatir akan
keamanannya tinggal di Aceh, sehingga mereka lebih memilih melakukan eksodus
sebelum 4 Desember, saat akan dilaksanakan HUT GAM ke 23 itu. Wawancara
reporter RCTI Medan dengan salah seorang penumpang Kapal Motor (KM) Sangiang
yang baru tiba di pelabuhan Belawan-Medan dua hari lalu, menyebutkan bahwa
warga non-Aceh yang meninggalkan Serambi Mekkah itu bukan karena adanya
intimidasi, tetapi mereka merasa khawatir saja dengan isu-isu yang
berkembang di Aceh selama ini dan mereka akan kembali lagi setelah tanggal 6
Desember nanti. Wawancara Radio Nikoya-FM dengan salah seorang warga
keturunan Jawa asal Aceh Barat yang baru tiba di terminal bus Setui-Banda
Aceh juga menyebutkan hal yang sama, bahwa mereka melakukan eksodus bukan
karena adanya intimidasi, tetapi khawatir akan keamanan keluarganya, sebab
mendengar isu akan terjadi revolusi sosial secara besar-besaran di Aceh.
Selain itu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Univesitas Syiah Kuala (Unsyiah)
Banda Aceh, Mukminan, Ketua Umum BEM Unsyiah, Setia Budi, Kabid Kesma
Unsyiah dan Usman A Gani, Kabid Humas Unsyiah juga telah bertemu langsung
dengan Panglima Tertinggi GAM, Tengku Abdullah Safei di markas GAM di sebuah
tempat rahasia, untuk
mengklarifikasi kebenaran isi selebaran yang berbunyi mengusir warga
non-Aceh yang beredar itu, menurut Muslim, Sekkretaris Umum BEM Unsyiah,
Tengku marah-marah sambil merobek selebaran gelap yang berlogo ASNFL dengan
mengatakan, �ini semua perbuatan provokator yang tidak menginginkan Aceh itu
aman, pihak GAM tidak pernah mengusir warga non-Aceh, warga non-Aceh
memiliki hal tinggal di Aceh asalkan mereka berniat baik dan menghormati
adat dan budaya di Aceh�. Berdasarkan statemen Pangti GAM itu, BEM Unsyiah
mengeluarkan pernyataan dan seruan kepada semua warga non-Aceh agar tidak
perlu meninggalkan Aceh dan tidak perlu menanggapi isu yang disebarkan
provokator itu, dan mahasiswa Aceh telah siap berhadapan langsung dengan
provokator yang berani mengusir warga non-Aceh, pernyataan yang sama juga
diterbitkan oleh People Crisis Centre (PCC-Aceh) dan KDK-SMUR-Unsyiah,
kemarin, yang isinya kurang lebih sama dengan pernyataan dari BEM Unsyiah,
yaitu agar masyarakat tidak perlu terpancing dengan isu-isu pengusiran warga
non-Aceh. Kedua organisasi mahasiswa Aceh itupun membuka posko-posko
pengaduan masyarakat jika ada yang di intimidasi.

Aguswandi BR, juga mengklaim tentang isi berita di New York Time. �mereka
menyebutkan jumlah massa SU-MPR Aceh 8 November lalu hanya diikuti 500 ribu
rakyat Aceh saja,  apakah wartawan mereka itu benar-benar berada di Banda
Aceh pada tanggal tersebut, sementara beberapa media internasional dan
nasional serta lokal lainnya menyebutkan lebih dari 1,5 juta massa yang
hadir pada kegiatan itu, apa yang dimuat pada New York Time itu sangat
berbeda dengan realita dilapangan dan sangat tidak menguntungkan bagi
perjuangan rakyat Aceh yang sedang menuntut referendum saat ini�.
Kekhawatiran Agus tampaknya sangat beralasan, karena citra Aceh dimata
internasional sudah semakin baik dan ditakutkan akan jatuh, sehingga
penindasan dan ketidakadilan serta kejahatan HAM akan dialami kembali oleh
rakyat Aceh. Aguswandi menambahkan, �persoalan di Aceh itu sebenarnya bukan
persoalan etnis, tetapi persoalan politik dan kejahatan HAM, jadi tolonglah
sampaikan kepada rekan-rekan pers asing yang berada di Aceh saat ini agar
dapat se-objektif mungkin dalam membuat liputannya dan bersikap independen,
tulislah apa yang Anda dengar, Anda lihat dan Anda cium selama di Aceh
dengan apa adanya, jangan ditambah atau dikurangi, di Aceh sendiri tidak ada
yang namanya etnis Aceh, karena warga Aceh itu sendiri sudah sejak jaman
sebelum ada yang namanya Republik Indonesia, etnis Aceh telah bercampur
baur, ada keturunan arab, keturunan cina, keturunan portugis dan sebagainya�
. katanya.

Hari Kamis (18/11) lalu, pihak ASNLF di AS, juga telah mengeluarkan
pernyataannya, tentang tidak mengajurkan warga masyarakat untuk membeli
Bendera Aceh Merdeka karena kondisi rakyat yang sangat prihatin serta tidak
membenarkan warga mengibarkan bendera itu pada tanggal 4 Desember, sementara
itu pihak GAM di Aceh juga mengeluarkan pernyataan resminya bahwa perayaan
HUT GAM ke 23 itu hanya dirayakan bersama pasukannya saja disebuah tempat
rahasia dan tidak melibatkan rakyat, rakyat Aceh hanya diminta sejak shalat
subuh pada tanggal tersebut untuk berdo�a dan mengaji serta membaca surat
yasin bersama di mesjid atau meunasah (surau. Red) terdekat dengan pemukiman
masing-masing agar Allah menjauhkan bala bagi rakyat Aceh. Selain itu minggu
lalu Danrem 012/Teuku Umar, Kolonel CZI Syariffudin Tippe Msi, dalam jumpa
pers di kantornya juga mengatakan, TNI akan bersikap defensif pada tanggal
2-4 Desember nanti dan menjamin keselamatan warga masyarakat yang akan
melakukan aktivitas rutinnya, serta mengharapkan agar pihak GAM bersedia
berdialog dengan pemerintah untuk mencari solusi penyelesaian Aceh yang
sangat kompleks ini. Jika kita memperhatikan dari pernyataan-pernyataan itu,
tentu tak ada alasan untuk khawatir tinggal di Aceh. (Tim).

News Devision
RADIO NIKOYA 106.15 FM
Banda Aceh Hits Radio Station
Jaringan Radio UNESCO-PBB
http://come.to/nikoyafm

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Nov 1999 jam 08:44:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke