----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Sudah 2 hari ini saya terserang sinus. Badan yang
demam ditambah lobang pernapasan yang tersumbat
menyerang saya mulai dari pesawat take off meninggali
Gatwick Airport menuju St Louis. Perjalanan pulang
dari London begitu melelahkan. Kepala saya masih
tetap keleyengan. Tapi begitu Boeing 767  itu touched down
di landasan Kansas International Airport, bahkan sebelum
Doris nampak melambaikan tangannya saat menjemput
di terminal kedatangan, saya sudah mulai menyusun
ide untuk menulis. Bukan cuma menulis laporan jalan-jalan ini
doang, tapi juga melanjutkan cerita serial ngasal Bonang.

Terus terang pekerjaan menulis yang tidak menghasilkan
duit di sini awalnya lahir cuma lantaran iseng, tapi keisengan
ini akhirnya berubah menjadi sebuah hobby. Selanjutnya
hobby ini mengental bersama sang waktu menjadi sebuah
candu yang memabukkan. Kini setelah sekian lama, setelah
sekian banyak email yang diterima, setelah sekian banyak
teman baru yang kenal lantaran menulis, pekerjaan ini akhirnya
masuk ke dalam sebuah cluster dunia para penggemar opium-
saya terperangkap dan sudah tidak bisa lagi keluar .
Seperti mereka , alam saya kini telah terbagi dua, real dan semi
real, rasional dan irasional, sekarang rutinitas hidup saya cuma...
bernapas untuk bekerja, cari duit, jalan-jalan serta ...menulis.

Okelah, cukup sudah bertele-tele jualan diri dan alibi,
Anda nikmati saja cerita pertualanan anak gang melalang
bumi di bawah ini, seorang Minang culun pengembara
yang sok mencari-cari " something". Seperti kebiasaan
anak SMA yang kehilangan identitas, juga kebiasaan
murid Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat yang kebanyakan
sok aneh, sok sempalan, sok Socrates, sok Kierkegaard,
sok atheis dengan berbekal paham existenisalis yang
kebanyakan juga tidak banyak mereka mengerti...

BELALANG PADANG TERBANG  MELALANG.
Rabu, November 10

Tidak banyak yang bisa diceritakan di awal hari ini,
Kecuali Alan menyetir, Doris duduk di samping, Saya
dan bini duduk di belakang pusing mendengarkan musik
natalan yang distel mertua sepanjang perjalanan mereka
mengantar kami ke Kansas City.

Juga tidak ada sesuatu yang baru dalam penerbangan
45 menit Kansas City ke St Louis. Kecuali keheranan
ketika melihat rombongan preacher, para pendeta katolik
berbaju khas hitam berkerah putih, " Mengapa mereka
selalu duduk di bangku first class ?" Mikir begini saya
mengambil kesimpulan sederhana. Barangkali karena
mereka adalah manusia spesial , jadi bangku mereka
juga harus spesial, Jika Tuhan itu adalah sang Pilot,
jelas saya tidak bisa mambantah argumen bahwa tempat
mereka memang harus lebih dekat dengan Pilot dari
pada posisi manusia seperti kami yang duduk kelas ekonomi
dan kambing...titik..saya tidak mau berdebat..titik.

Jam 12:20 PM ( siang ) Kami sudah berada dalam pesawat
setelah berjalan bagitu jauh dari ujung terminal untuk mengganti
ke penerbangan internasional. Cabin nampak begitu penuh.
Seperti biasa duduk dalam penerbangan lintas benua yang
panjang selalu membuat bosan dan penat, mempersenjatai
diri dari kejenuhan, saya panggul sekian banyak majalah dan
koran, juga sebuah buku " The Nature of Leadership " karangan
Garry Wills yang setelah saya baca kemudian, begitu menunjukan
kebloonan dan mentah, obversasi si Garry mengenai tokoh
berpengaruh dalam peradaban manusia  boleh saya bilang
sama murahnya dengan harga bukunya sendiri yang diobral
di Hastings Book Store.

10 Menit kemudian pesawat tinggal landas. Tidak lama,
para pramugari mulai berdatangan untuk membagi minuman
ringan dan kraker. Pesawat melaju melayang lebih tinggi dari
Mount Everest, hampir 30.000 kaki, kuping saya mulai
mendenging kembali. Pening dan lapar mulai menghantui
perut ini anak gang.

Saya tidak tahu sejak kapan kebiasaan ini timbul, tapi
setiap kali terbang, kepala ini pusing, mata ini berair,
dan setiap kali melihat makanan yang di sodorkan pramugari,
saya ingin muntah dan melemparkannya keluar jendela.
Jadi begitu 2 jam kemudian sang crappy food ini muncul
disodorkan di depan hidung, ingin benar saya menangis
dan merintih-rintih pedih...

....hik..hik..kasihanilah saya miss and mister..hik..hik..
Saya lapar, iko paruik den lapar bana..pliz ..jangan
kasih saya makanan kucing ini..ambo urang Minang..
ambo pengennya nasi tumpang...hik..hik...mana rendang ?..

Film Thomas Crown Affair yang diputar tidak saya nikmati.
Berjam-jam pesawat ini berguncang-guncang, tapi perut
ini jelas lebih terguncang . Tepat melintasi Nova Scotia, lapar
dan ketakukan menerpa saya demikian brutal. Tidak jauh
dari sini, di perairan sekitar sini bukannya sudah beberapa
kali kecelakaan besar terjadi ? Egypt Air flight 990 yang
luluh lantak , Pesawat John Kennedy yang ambruk ?
Titanic yang karam ke dasar laut ? Dan ratusan miles di
selatan pesawat TWA flight 800 pecah dua membinasakan
semua penumpangnya dalam penerbangan ke Paris ?
Dan pesawat yang saya tumpangi ini juga adalah TWA !
Ah....dalam keadaan begini...sumpah mati saya takut mati..

Mati bagaimana yang paling mengerikan ? Kata orang
beragama, mati dalam keadaan kufur!  Itu mungkin benar..
Tapi lantaran saya bukan termasuk kufur, mati yang
paling menyedihkan adalah mati lapar..atau mati kangen
oleh masakan Padang.

Itulah sebabnya saya marah pada manajemen semua
maskapai yang menyetandarkan makanan penumpang
secara internasional. Ini benar-benar tidak adil...kita
sebagai orang Asia tidak bisa begitu saja disumpal oleh
salad asem, buncis asem, sekeping roti tanpa rasa,
chicken salads over asin, beef steaks yang cuma layak
di makan si doggy,...

Di tengah penderitaan itu, sebagai seorang belalang Minang,
saya memimpikan etnis saya punya maskapai penerbangan
sendiri bernama Padang Airways, Atau Silungkang Air,
atau Bukittinggi Air yang menu makanan penerbangan
Internasionalnya adalah :

Nasi Kapau
Gule Tunjang
Rendang
Pete rebus plus lalap daun singkong rebus
Gule jengkol
Soto Padang
Ayam Goreng
Ikan Balado
Ikan Sempadeh ( Asam Padeh )

Saya juga membayangkan mendengar suara pengumuman
Pilot dalam bahasa Indonesia :

".. Perhatian  pertahian..para penumpang..Dalam satu jam
kita akan mendarat di London..Nama saya Anwar Husain dari
Lubung Alung,kebetulan hari ini adalah hari ulang
tahun Minarti Sudirjo istri saya yang keturunan Jawa
Betawi, oleh karena itu untuk merayakan ini, kami telah
menyiapkan Gudeg, soto kikil, soto betawi untuk kita
nikmati bersama...untuk itu saya persilahkan anda
melepas  seat belt anda agar anda bisa makan sekenyang
mungkin...terima kasih atas perhatiannya.."

Tapi mimpi itu buyar ketika mikrophone berbunyi
dalam bahasa Inggris. Setelah  hampir 9 jam bergulat
ditemani Trade Wind menyebrang Atlantik, pesawat
menukik merendah..samar samar saya menyaksikan
dataran England yang pepohonannya sudah menanggalkan
daun untuk tidur di musim dingin, tapi rumput kelihatan
begitu hijau, rumah bata Victorian dan sejumlah ternak
bertaburan di bawah sana. Awan pekat dan kabut adalah
penguasa cuaca England. Mendekati landasan Gatwick
saya mencoba mengamati dari jendela -siapa tahu barangkali
bisa menemukan plang " Restaurant Bundo Kanduang "
atau " Roda" atau " Rumah Makan Selero Basama "
Atau paling kurang tenda " Warung Makan Pak Kumis-
sedia  Sop Buntut, Soto Madura dan Sate Ayam "
Ya ! Saya lihat...! ada ! ada ! Itu di sebelah sana..!

Tapi setelah keluar pesawat, sedihnya semua itu cuma
daydream, mimpi kosong, halusinasi seorang anak
gang MHT yang memimpikan oase di terik gurun tandus
akibat  tersiksa haus...

Ini negri para bule, goblok...!

( bersambung )

Hasan Basri
Nov 20,1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Nov 1999 jam 02:37:04 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke