----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Serambi Selasa, 23 November 1999
Dr Husaini Hasan: Berunding takkan Mengubah Prinsip

Serambi-Kuala Lumpur
Tokoh senior Gerakan Aceh Merdeka, Dr Husaini Hasan, mengatakan, perundingan dalam 
penyelesaian
masalah Aceh bukan berarti mengalah, tapi memberi kesempatan kepada rakyat Aceh yang 
sudah jenuh dan
tegang untuk sedikit tenang. "Perundingan juga takkan mengubah prinsip GAM, namun cara 
itu dapat
mencegah jatuhnya banyak korban di tengah situasi yang sudah sangat panas," katanya.
Berbicara via telepon kepada Serambi dari Kuala Lumpur tadi malam, Chairman GAM Eropa 
serta anggota
Majelis MP GAM itu menegaskan bahwa berunding dengan pemerintah RI yang dimaksud MP 
GAM itu bukan
berarti GAM akan mengubah prinsip. "Tidak. Prinsip perjuangan GAM tetap. Bahkan, di 
PBB pun saya
sudah bicara bahwa GAM tak akan mengubah prinsip," kata Husaini yang mengaku sangat 
khawatir pada
kondisi Aceh sekarang ini.
Menurut Husaini, saat ini adik-adik mahasiswa dan taliban sudah susah payah berjuang 
untuk menuntut
pelaksanaan referendum bagi penentuan nasib atau penyelesaian masalah Aceh. 
"Kenyataannya,
perjuangan referendum itu sudah mendapat sambutan cukup bulat dari rakyat Aceh. Karena 
itulah, kita
perlu memberi kesempatan bagi penyelesaian masalah melalui referendum," katanya.
Menurut Husaini, referendum atau tidak referendum, saat ini masyarakat Aceh memang 
sangat
membutuhkan ketenangan. "Masyarakat Aceh tak tahan lagi pada berbagai kekerasan yang 
dilakukan oleh
siapapun. Karena itulah perlu perundingan. Dan, saya tegaskan bahwa perundingan yang 
kita maksud
bukan berarti kita harus berada di bawah moncong senjata militer Indonesia. Tapi 
perundingan
ditengahi pihak ketiga, yakni badan internasional yang kredibel," katanya.
Husaini menjelaskan, dalam perjuangan untuk keluar dari ketertindasan sebuah bangsa, 
selalu ada
perundingan. "Dan itu terjadi di manapun di dunia. Contoh yang paling dekat dengan 
kita adalah Timor
Timur. Apa yang mereka capai sekarang adalah hasil dari perundingan, lobi-lobi, dan 
sejenisnya yang
mereka lakukan bertahun-tahun baik di Indonesia maupun di luar negeri," kata Husaini.
Jika penyelesaian masalah Aceh tanpa melalui perundingan dan perang diplomasi, menurut 
Husaini, akan
membuat kondisi rakyat Aceh makin parah. "Untuk apa Aceh ini kemudiannya merdeka jika 
rakyat sudah
terbunuh semua," katanya.
Dalam keterangannya, Dr Husaini Hasan dan Sekjen MP GAM Tgk Don Zulfahri juga 
menyatakan surat yang
dikirim mengatasnamakan Wali Negara Aceh Tengku Hasan M di Tiro, itu adalah surat 
palsu yang dubuat
orang lain. "Saya tahu persis keberadaan Wali saat ini. Jadi, Beliau tak mungkin 
membuat surat
seperti itu. Itu surat yang dibuat oleh orang-orang syirik," kata Tgk Don. (*)
Warga Aceh Tengah Masih Dicekam Takut
*Bupati dan KEGANA: Ganyang Provokator

Serambi-Takengon
Warga di dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah, masih diliput ketakutan menyusul 
aksi teror
yang dilakukan orang-orang tak dikenal --diidentifikasi sebagai provokator-- terhadap 
warga non-
Aceh, Senin (22/11) dinihari. Bahkan di Desa Pondok Balik Kecamatan Silihnara, 
gerombolan itu
menembak kades dan imum Meunasah.
Sekitar pukul 02.00 WIB dinihari Senin, kelompok perusuh, sempat membakar kedai di 
kawasan pasar
ikan Kampung Baru, Takengon. Namun api berhasil dipadamkan penduduk setempat. 
Sedangkan di Simpang
Balik, Kecamatan Bukit, terjadi pembakaran dua unit mobil masing-masing cold diesel 
dan carry pick
up milik penduduk.
Menurut pengakuan warga Pondok Balik kepada Serambi, Senin (22/11) kelompok yang 
sempat dilihat
berjumlah enam orang dengan pakaian loreng dan bersenjata laras panjang tersebut 
beraksi ke
rumah-rumah penduduk sambil menendang pintu seraya mengancam warga suku non-Aceh untuk 
hengkang dari
tanah Gayo dengan memberi tempo 1 X 24 jam. "Jika tidak pergi kami akan dihabisi," 
ungkap seorang
warga suku Jawa.
Kapolres Letkol (Pol) Misik Natari melalui Kasat Sersenya Lettu Pol Dean Marten yang 
dikonfirmasi,
membenarkan adanya laporan warga yang diintimidasi kelompok provokator itu. Pihak 
kepolisian,
katanya, sudah menurunkan tim khusus dibacking satuan Gegana untuk melakukan 
penyelidikan. "Kita
harap warga jangan terpancing dan harus kompak untuk memerangi provokator yang 
berupaya menjadikan
Aceh Tengah rusuh," katanya.
Aksi pembakaran kedai di kawasan pasar ikan bawah, menurut Ali Umar --seorang saksi 
mata-- terjadi
sekitar pukul 02.00 dinihari. Api terlihat menyala di sudut kedai milik Zaini. Saat 
itu warga
spontan keluar untuk membantu dengan menyiramkan air, sehingga hanya sempat membakar 
sudut bagian
bawah.
Pada saat api menyala, ungkap beberapa warga, mereka melihat satu unit mobil minibus 
yang
diperkirakan jenis Hiline warna putih parkir di pengkolan jalan berjarak 5 meter dari 
TKP. Namun
mobil tersebut segera meluncur ketika melihat warga keluar. "Ada beberapa orang dalam 
mobil itu".
Ganyang Provokator
Untuk mengantisipasi aksi provokator yang mulai bergentayangan di Aceh Tengah, 
Kerukunan Keluarga
Negri Antara (KEGANA) di Takengon mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak 
terhasut ulah
provokator yang coba mengadu domba masyarakat. Sebab selama ini warga hidup damai -- 
apalagi telah
bertekad mendukung referendum bagi Aceh. "Kita minta warga tenang dengan tetap siaga, 
kompak dan
menghadang gerombolan perusuh," tukas Tgk Ali Djadum, panisepuh tanah Gayo didampingi 
Ketua KEGANA,
Tgk H Razali Irsyad.
Masyarakat, imbau KAGANA, jangan segan-segan menindak tegas terhadap provokator, jika 
perlu setiap
wilayah membentuk "panguyuban" kerukunan keluarga besar (antar etnis lokal) untuk 
mengganyang
provokator yang saat ini mulai gencar mengintimidasi masyarakat. "Kita imbau warga 
supaya tenang dan
kompak," kata Marsito.
Bupati Aceh Tengah, H Mustafa M Tamy kepada Serambi, mengingatkan masyarakat agar 
tidak terhasut
dengan ulah kelompok yang ingin mengacaukan daerah ini. Sebab wilayah tanah Gayo yang 
dihuni
berbagai etnis (Aceh, Jawa, Tapanuli, Minang) selama puluhan tahun hidup dalam 
kedamaian dan rukun.
Karenanya, harus diwaspadai bila ada pihak yang coba memecah belah.
"Kalau perlu setiap desa bentuk pengamanan rakyat untuk menghadap aksi-aksi provokator 
melalui
koordinasi dengan pihak kepolisian maupun aparat," kata bupati sambil menyatakan 
keyakinannya bahwa
serangkaian aksi pembakaran mustahil dilakukan warga Gayo yang cinta kedamaian.
Bupati juga menganjurkan agar warga tidak keluar rumah di atas pukul 21.00 WIB. 
Dimaksudkan untuk
memberi peluang bagi pihak polisi melakukan kontrol bagi pengamanan masyarakat. "Kalau 
memang
terpaksa keluar karena suatu keperluan, diingatkan hati-hati dan selalu membawa 
identitas diri,"
ujar Mustafa M Tamy.
Terindikasi
Aksi pembakaran sejumlah sekolah dan kantor pemerintahan di wilayah Aceh Tengah, 
Minggu (21/11)
malam yang dilakukan orang tak dikenal, tampaknya mulai terkuak dengan ditemukannya 
sejumlah barang
bukti di tempat kejadian dan hasil laporan masyarakat yang sempat menyaksikan 
aksi-aksi kelompok
tersebut.
Di kawasan Simpang Balik Kecamatan Bukit, selain mendapatkan keterangan identitas yang 
diduga
provokator, aparat juga mendapatkan sejumlah atribut. Sedangkan di kota Takengon 
menyusul aksi
pengeboman kantor Bappeda Aceh Tengah, beberapa saksi mata juga menuturkan beberapa 
menit sebelum
terjadi ledakan mereka mengamati satu unit mobil warna putih mondar mandir di kawasan 
tersebut,
bahkan parkir persis di samping Meuligoe bupati. Bahkan dari dalam mobil tersebut 
sempat terdengar
tembakan.
Masih menurut saksi, malam itu ia sempat mengamati seseorang yang merasa gelisah 
mondar mandir di
seputaran kantor Telkom Takengon. Namun saksi tersebut tidak bersedia menyebutkan 
identitas orang
dimaksud. "Matanya selalu ke arah kantor bupati," ungkap saksi tersebut.(tim)
AS: Selesaikan Lewat Dialog
* Tanpa Darurat Militer

Serambi-Banda Aceh
Amerika Serikat mendukung penyelesaian kasus Aceh lewat komunikasi dan dialog tanpa 
penerapan
darurat militer. Sedangkan Gubernur Syamsuddin Mahmud menyatakan yakin di akhir 
kesuraman masalah
Aceh akan muncul kecerahan. "Tapi, kapan, kapan?!" tanya Pak Syam sambil memukul meja.
Ian McCary, Sekretaris Bidang Politik Kedubes AS untuk RI itu seusai bertemu Gubernur 
Syamsudin
Mahmud di Banda Aceh kemarin, kepada pers menyatakan, satu-satu jalan terbaik untuk 
menyelesaikan
masalah Aceh adalah dengan dialog.
"Kita yakin Pemerintah Kabinet Abdurrahman Wahid siap mencari solusi yang adil yang 
bisa diterima
kedua pihak, yaitu masyarakat Aceh dengan Pemerintah Indonesia," kata McCary. Dengan 
tidak bermaksud
mencampuri urusan dalam negeri Indonesia, kata Ian McCary, Amerika berharap dialog itu 
bisa dibuka
segera. "Sebuah dialog yang jujur dan adil," katanya.
Menyikapi adanya keinginan pemerintah pusat untuk menerapkan darurat militer di Aceh, 
menurut Ian
McCary, Amerika Serikat sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. "Kami tidak 
akan pernah
mendukung diberlakukannya darurat militer dalam menyelesaikan masalah Aceh," ujarnya.
Sedangkan Dubes AS untuk PBB Richard C Holbrooke, dalam komperensi pers di Jakarta 
juga menyebutkan
bahwa AS mendukung dialog pemerintah RI dengan rakyat Aceh, dan menolak darurat 
militer. AS
menyatakam pihaknya mendukung ketidaksetujuan Presiden Wahid terhadap pemberlakuan 
status darurat
militer di Aceh.
"AS pun tidak mendukung kekerasan, namun mendorong berlangsungnya dialog dan solusi 
damai atas kasus
Aceh," kata Holbrooke.
Ian McCary dalam pertemuan dengan Pak Syam juga banyak menanyakan persoalan Aceh, 
termasuk komposisi
anggota DPRD Aceh dan nama-nama kabupaten baru.
Gubernur Syamsuddin Mahmud sesuai menjamu McCary mengatakan, kunjungan staf Kedubes 
Amerika itu
untuk mendapatkan masukan tentang berbagai masalah yang kini masih terus terjadi di 
Aceh.
Pak Syam mengaku telah membeberkan semua masalah Aceh yang sampai saat ini belum ada 
tanda-tanda
akan terselesaikan. Amerika Serikat, kata Pak Syam, sangat mengharapkan masalah Aceh 
ini dapat
diselesaikan dengan dialog antara masyarakat Aceh dengan dengan pemerintah pusat.
Menyangkut banyaknya warga non Aceh yang eksodus keluar Aceh, menurut Pak Syam, tidak 
orang Aceh
yang melakukan pengusiran terhadap warga non Aceh dari daerah ini. "Itu adalah kerja 
provokator yang
terus memprovokasi sehingga warga non Aceh menjadi cemas dan takut. "Tidak ada sifat 
orang Aceh
seperti itu. Bahkan orang Amerika sendiri seperti Ian McCary tahu persis tentang sifat 
orang Aceh
yang penuh persaudaraan," kata Pak Syam.
Menyangkut penyelesaian masalah Aceh, kata Pak Syam, kita tunggu saja hasil godokan 
dari sejumlah
Menteri yang datang ke Aceh beberapa waktu lalu. "Saya yakin, para menteri yang telah 
datang ke
Aceh, telah menerima banyak masukan tentang kondisi Aceh dan sekaligus mencarikan 
solusi
penyelesaiannya. Kita tunggu saja," kata Pak Syam.
Namun, ditanya tentang kemungkinan penyelesaian masalah Aceh yang kian rumit, Pak 
dalam bahasa yang
sangat puitis mengatakan, "Di balik kesuraman pasti ada harapan yang cerah."
Dan, sambil berkali-kali memukul meja, Pak Syam menadaskan, "Tapi, kapan, kapan 
kecerahan itu akan
datang?" (ism/kan)
Anggota MPR/DPR Asal Aceh:
Gus Dur Harus Segera Berdialog dengan GAM

Serambi-Jakarta
Tiga anggota legislatif dari Aceh mengharapkan pemerintah KH Abdurrahman Wahid dapat 
segera
melakukan dialog dengan tokoh Gerakan Aceh Merdeka. Apalagi sinyal untuk itu telah 
dibuka oleh
petinggi Majelis Pemerintah (MP) GAM.
Ketiga anggota legislatif yang mengutarakan pendapatnya itu secara terpisah, Senin 
(22/11),
masing-masing Tgk H Nashiruddin Daud (DPR/MPR), Nurdahri Ibrahim Naim (DPR/MPR), dan 
Drs H Ghazali
Abbas Adan.
Ghazali Abbas Adan menyatakan pemerintah harus segera menangkap peluang yang 
ditawarkan oleh Gerakan
Aceh Merdeka yang menyatakan bersedia melakukan perundingan. Menurutnya, kesediaan GAM 
itu adalah
langkah maju bagi penyelesaian masalah di Aceh. "Tinggal saja sekarang bagaimana 
pemerintah merespon
kesediaan itu," kata Ghazali Abbas yang melakukan walk out dari sidang Paripurna MPR 
setelah masalah
Aceh tidak dibicarakan secara khusus dalam GBHN.
Seperti yang diberitakan, Sekjen MP GAM Teuku Don Zulfahri dalam sebuah wawancara 
radio yang
disiarkan Pro2 FM mengatakan kesediaannya untuk melakukan perundingan dengan 
pemerintah RI guna
penyelesaian masalah Aceh. Pernyataan itu sangat mengagetkan, mengingat selama ini 
pihak GAM
terkesan bertahan kepada keinginan memerdekakan Aceh.
Pernyataan itu, dinilai Ghazali, sebagai ungkapan yang memihak kepada rakyat Aceh. 
"Saya kira
siapapun tidak akan bisa menolak kehendak rakyat Aceh sekarang yang menginginkan 
referendum,"
katanya.
Ghazali Abbas Adan menyebutkan, persoalan Aceh harus ditempuh dengan dialog dan
perundingan-perundingan yang melibatkan seluruh unsur masyarakat Aceh termasuk GAM. 
Secara kasat
mata, lanjut Ghazali, pihak Aceh Merdeka menginginkan wilayah Aceh merdeka, namun 
disisi lain
masyarakat sipil menuntut referendum, sedangkan pemerintah tetap ingin Aceh berada 
dalam wilayah
negara kesatuan. "Perbedaan-perbedaan pandangan itu yang musti didialogkan untuk 
mencapai
penyelesaian," katanya.
Oleh karena itu, katanya, kesediaan GAM melakukan perundingan telah menampakkan satu 
titik terang
bagi penyelesaian Aceh.
Sedangkan Tgk H Nashiruddin Daud mengatakan, selain dengan GAM, pemerintah Gus Dur 
hendaknya juga
bersedia berdialog dengan ulama, tokoh adat, dan para pegiat reformasi, termasuk 
mahasiswa dan LSM
agar kasus Aceh tidak berlarut-larut. "Dialog dengan tokoh GAM itu tidak harus di 
Aceh, tetapi bisa
di Jakarta atau di tempat lain, yang penting mereka kita ikutkan dalam upaya 
menyelesaikan kasus
Aceh," katanya kepada pers seusai mengikuti sidang pertama "Pansus Aceh" di gedung 
DPR, Jakarta,
Senin.
Menurut dia, tuntutan masyarakat Aceh saat ini agar pelaku pelanggaran hak azasi 
manusia (HAM)
semasa daerah operasi militer (DOM) dapat diadili dan otonomi luas segera diberikan 
secara adil.
"Jika itu dapat segera diwujudkan, saya kira gema tuntutan referendum akan segera 
mereda," katanya
yang juga dikenal salah seorang ulama asal Aceh Selatan.
Sebelum dialog itu dilakukan, pengikut GAM harus lebih dulu meletakkan senjata agar 
aspirasi yang
disampaikan benar-benar murni sesuai dengan keinginan rakyat banyak dan bukan atas 
keinginan suatu
kelompok tertentu.
Anggota DPR asal Aceh lainnya, Ny Nur Dahri Ibrahim Naim, mengatakan kesediaan 
pemerintah berdilog
dengan kelompok GAM, LSM, ulama Aceh, dan para pegiat reformasi di Aceh diharapkan 
akan mempercepat
proses penyelesaian kasus Aceh.
Tingkat kepercayaan masyarakat Aceh terhadap pemerintah pusat saat ini, katanya, 
berada pada titik
paling rendah, setelah banyak janji yang belum ditepati, terutama pelaku pelanggaran 
HAM.
"Pemerintah tidak perlu mengirimkan lagi tim ke Aceh, masyarakat Aceh sudah muak 
dengan tim yang
turun ke daerah itu karena mereka merasakan hasil temuan di lapangan belum pernah 
ditindaklanjuti,"
katanya.
Bukan adat Aceh
Terhadap adanya ancaman yang memaksa rakyat non-Aceh eksodus dari daerah Aceh, Ghazali 
Abbas
mengatakan bahwa tindakan itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab 
dan ingin
memperkeruh situasi.
Ia mengatakan tidak percaya kalau ancaman itu datang dari orang Aceh. "Sebab mengusir 
orang non-Aceh
keluar dari Aceh itu bertentangan dengan adat istiadat Aceh dan melanggar ajaran 
Islam. Karena itu
saya tidak yakin itu dilakukan orang Aceh," katanya.
Menurut dia, orang Aceh itu adalah penganut Islam yang taat. Karena itu tidak ada 
alasan bagi orang
Aceh meminta keluar orang-orang non-Aceh dari bumi Aceh. "Bumi itu milik Allah. Tidak 
ada satu
orangpun yang berhak memaksa keluar dari bumi Allah," kata Ghazali yang kini aktif 
berbicara dalam
berbagai seminar di Jakarta.
Mengomentari langkah-langkah TNI yang kini menyiapkan armada kapal perang di perairan 
Aceh
menghadapi peringatan HUT GAM pada 4 Desember mendatang, Ghazali Abbas Adan mengatakan 
itu langkah
orang panik.
Ia mengatakan persoalan Aceh tidak akan pernah selesai kalau ditempuh dengan cara 
kekerasan.
Karenanya ia mengingatkan agar pemerintah tidak tergopoh-gopoh mengambil kebijaksanaan 
yang bersifat
refresif.(fik/ant)
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Disebar luas keseluruh dunia oleh
Campaign & Networking Division
KOALISI NGO HAM ACEH
Aceh N.G.O's Coalition for Human Rights
E-mail:
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Apa itu Koalisi NGO HAM Aceh?
Silahkan clik:
http://come.to/koalisi-ham

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Nov 1999 jam 02:38:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke