---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT: INDONESIA TAK BELAJAR DARI MALAPETAKA TIMTIM Dari pernyataan pernyataan para penggede kita dapatlah kiranya ditarik kesimpulan bahwa mereka tidak belajar dari malapetaka Timtim, bahkan tampaknya mau me- ngulanginya tanpa memperdulikan reaksi dan kutukan internasional yang begitu dahsyatnya menjatuhkan nama baik Indonesia ke comberan baru busuk. Mulai dari Alatas sampai Wiranto mengakui bahwa mereka terkejut atas kekalahan referendum karena laporan yang mereka terima justru pihak pro-integrasi akan me- nang. Saya dengar ucapan serupa dari mulut Lopes da Cruz sendiri di PBB. Dalam masalah Aceh, di mana lk sejuta rakyatnya telah berdemo menuntut kemer- dekaan lewat referendum tanggal 8 Nopember itu, para penggede kita - termasuk Presiden AR Wahid tetap bersikeras bahwa mayoritas rakyat Aceh tidak mau merdeka. Apakah pendapat ini akan berubah setelah Menteri Negara HAM Has- ballah Saad melaporkan bahwa rakyat Aceh memang menuntut referendum. Presi- den yang di Tokio mengatakan referendum Aceh akan dilakukan dalam 7 bulan akhirnya menambahkan bahwa referendum itu bukan untuk opsi kemerdekaan. Sementara itu TNI sudah mengancam akan memaksakan hukum darurat walaupun terbatas. Ini berarti tantangan perang dilayani dengan perang! Rakyat Timtim saja yang baru lahir dari 400 tahun kolonialisme Portugal dan pa- sukan gerilyanya hanya ratusan sedangkan pemimpinnya sudah kita penjarakan tidak bisa dibasmi karena gerilya memang tidak bisa dibasmi. Ataukah para jendral kita tidak belajar dari sejarah gerilyanya sendiri? Rakyat Aceh sudah mempunyai tradisi gerilya sejak ratusan tahun y.l., perang gerilya sudah mendarah mendaging baginya. Kenyataan kita kita singkirkan de- ngan mendandalkan kekuatan senjata atau DOM TNI dengan doktrin Pagarbetis- nya yang tidak bisa dipraktekkan di Aceh karena rakyatnya tidak mau diadu dom- ba lawan gerilya yang kita cap makar, GPK. Makar bukan makar, gerilya atau GPK, kenyataan sekarang ini sudah mencapai "point of no return", "irreversible" sehingga pilihan kita tinggal pertumpahan darah atau mereka merdeka. Presiden dan TNI tampaknya sependapat bahwa taktik "buying time" masih bisa diharapkan berhasil sementara pers asing, Thailand sudah mengantisipasi dam- pak dampaknya, Asean akan membahasnya pula. Sebagai bekas pejuang kemerdekaan, saya memahami sekali kata kata merdeka. Sebagai teenager (17 tahun) kami bersemboyan "Merdeka atau Mati" sampai ke ha- ti sanubari, bukan semboyan kosong. Mengapa para jendral sekarang ini tetap saja tidak mau mengerti mulai dari Timtim? Fretilin dan Falintil yang memperjuangkan kemerdekaan Timtim tidak mendapat sambutan rakyat secara spontan sampai pemerintah kita sendiri yang mengobral kata kata "kemerdekaan" sebagai opsi integrasi, barulah terjadi paranoia yang berkumandang di seluruh dunia sehingga tidak ada kekuasaan atau kekuatan yang bisa menghentikannya dan mereka memang lk 80%! Di Aceh rakyatnya sendiri sudah bertekad merdeka sejak puluhan tahun walaupun ditindas habis habisan dengan kekuatan militer, malah hasilnya justru menye- bar luaskan dan memperkuat semangat kemerderkaan. Saya tidak usah pergi ke Timtim, ke Aceh untuk mengetahui ini karena sudah terbenam dalam hati sanubari bahwa perkataan "merdeka" akan melanda apa saja yang menghalanginya tidak ubahnya seperti pengalaman kita tahun 1945! Memang kemerdekaan Aceh akan menambah malapetaka kita yang sudah maha- gawat ini, terutama di bidang perekonomian rakyat (microeconomy) di mana pulu- han juta sudah menderita busunglapar, kelaparan, seratus duapuluh juta melarat. Belum lagi dampak dominonya terhadap Irian Jaya, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Ambon, Maluku Utara. Tapi apakah military approach TNI dengan mengancam hukum darurat tidak akan mengakibatkan pertumpahan darah yang lebih dahsyat? Rakyat Aceh ini tidak takut mati, baik sebagai orang Aceh maupun sebagai Muslim. Delaying tactics dengan segala macam muslihat sudah tidak akan laku lagi, ha- nya menambah buruk situasi. Adakah jalan lain daripada "delaying tactics", "buying time" atau iming imingan "carrot and big stick" atau muslihat lain yang pasti akan ditolak rakyat Aceh yang sudah tidak bisa dibodokin lagi itu? Ataukah kita akan terus mengulangi malapetaka Timtim ibarat pepatah Blanda: "Een ezel struikelt op dezelfde steen" (seekor keledai selalu kesandung pada batu itu itu juga) dan bukannya belajar dari kesalahan? New York, 20 Nopember 1999. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Nov 1999 jam 02:42:25 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
