----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Saya berjalan bagai zombie di samping Vikcy sambil
menyeret 2 koper penuh peralatan kosmetik. Setelah
melewati loket imigrasi, saya menukarkan traveler check
dan sejumlah dollar ke poundsterlling pada sebuah
money changer. Sungguh terperanjat melihat ratusan
dollar di tangan nilainya menciut jauh ( 1 Pound = 1.6 dollar)
Belum apa apa- cash value duit kami sudah terserang inflasi.
Keperkasaan dollar pudar digergaji mata uang negara monarki ini.
plus dipotong sejumlah komisi, pajak dan entah apalagi.

Marco adalah supir taxi yang diutus Deane menjemput kami.
Tinggi badannya sedang dan wajahnya klinis, dia berjaket tebal seperti
kebanyakan manusia yang lalu lalang. Dan setiap kali manusia
ini bicara gayanya mirip Hugh Grant. Setelah diamati semua
orang Inggris memang beraksen Hugh Grant,  aktor yang mono
karakter ini memang rada membosankan. Seperti penduduk
Pemalang atau Pekalongan, vocal mereka yang medok terkadang
susah ditangkap telinga manusia yang normal.

Hawa dingin menyergap di parkir garage. Secepat itu saya
masuk menyelinap ke dalam Renault tua si Marco yang dengan
tangkas menyetir keluar airport menuju highway. Mobil-mobil aneh
nampak simpang siur ,kebanyakan Audi, BMW, Mercedes dan Ford.
Ketika saya tanya kenapa jarang mobil Jepang di sini ? Marco
menjawab bahwa Mobil Jepang selain mahal dibatasi perederannya,
" Kami lebih suka mobil Jerman dan Amerika, mobil buatan Inggris
sendiri mutunya tidak sebagus mereka ".

Harga bensin bukan main mahalnya, sekitar 79 pence per liter.
ini hampir 3 kali lipat harga di Amerika. Petunjuk jalan di freeway
membingungkan, rasanya polisi atau departemen lalu lintas di
negara ini kurang kreatif. Lihat plat nomor kendaraan bukan
main gede dan tidak efektif. Selain cuma angka dan nomor
posisinya serasa mendominasi mobil.  Keluar dari highway menuju
jalan kecil, nama jalan justru tambah susah dicari. Menuju Brookmans
Park, tempat Deane teman yang cuma kami kenal di internet jalan
nampak mengecil. Kadang mobil ini harus mengalah menunggu
mobil yang didepan lewat. Kambing dan biri biri nongkrong di
sepanjang pagar ranch. Suasana country side begitu kental.
Awan memekat di langit basah. Setelah 40 menit driving sampai
juga kami di tempat sahabat ini.

Anda boleh merasa tersiksa dan menderita di Indonesia.
Anda boleh bilang " Jakarta adalah kota mahal, biaya hidup
di Jakarta bukan main tingginya ".

Tapi, dengarkan apa yang si Marco jawab ketika saya tanya
tarif taxi yang jaraknya sama seperti dari Cengkareng ke Depok.

" How much ? "
" 69 Pounds !" Jawabnya enteng.

Cuma lantaran melihat Deane yang berjalan keluar rumah dan
menyambut kami dengan begitu suka , yang menahan saya
untuk mencaci maki dalam bahasa broken minang.

Saya berikan 75 Pounds termasuk tips. Itu sama dengan
$110 alias hampir sejuta rupiah , sayang....

Deane adalah cewek hitam berasal dari Washington DC
yang kawin dengan bule sini bernama James. Memeluk tubuhnya
saya merasa seperti memeluk sahabat lama, Matanya kecil seperti
Cina, tidak seperti kebanyakan negro berambut bagai
sumbu kompor, rambut Deane lurus dan panjang. Vicky
mengenal dia selama 2 tahun tanpa sekalipun pernah berjumpa.
Setelah selesai menyelesaikan program masternya dalam jurusan
ESL ( English as a Second Languange ) Deane sempat mengajar
dan beri les private yang menghasilkan income lumayan.
Seperti ketika mengenal kami, berbekal intenet, dia menemukan
pasangan hidupnya.

Musik dangdut di perut sore itu berbunyi nyaring. Musik perut Vicky
terdengar seperti banyo para Cajun di Lousiana. Tanpa menunggu
lama, saya memohon pada Deane untuk mencari restaurant Cina.
Deane tersenyum mengerti.." Ayo kita jalan ke Village " katanya
sambil mengambil jaket tebal.

Sungguh beruntung, di kota kecil macam begini ( sekitar 20 miles
utara London ) ada juga restaurant Cina, di bundaran kecil
yang dikelilingi beberapa toko , kami berkeliling dan akhirnya
memutuskan untuk makan di restaurant India.

Hari mulai menggelap waktu itu, saya makan dengan lahap
itu kari dan nasi yang ukurannya begitu mini, masakannya
tidak terlalu nikmat tapi terus saya embat. Vicky mengobrol
ngalor ngidul. Deane menggasak itu daging, itu tepung
well  entah apa.  Kabut tipis menggantung di luar , seperti
selimut dia mengambang di antara atap rumah dan taman.

Setelah membayar 30 Pounds , saya beranjak keluar.
Si Bombay memberikan 2 kembang ros pada Vicky dan
Deane. Kota kecil ini demikian tenang dan sunyi.

Berjalan melangkah kembali kerumah ,saya melangkah
agak cepat. Rumah tempat kami numpang nampak berada
di ujung sana , agak ke bawah di dekat turunan. Deretan
bangunan antik berarsitek cute itu seperti berjejeran
dengan apik sampai ke batas bukit. Lampu jalan mulai
dinyalakan tapi begitu kelihatan  redup. Sulit juga mempercayai
bahwa sekarang saya berada di negeri ini.Seperti mimpi
tampil kembali pertanyaan filosofis
kok manusia bokek macam saya bisa kesini ?
Takdir? Destiny? Nasib baik ? Lucky shit ?

Sambil melangkah saya mengikuti suara derap kaki,
lalu dengan pasti  menyanyikan  lagu:

" Gubuk Derita "

Hasan Basri
Nov 21, 99

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Nov 1999 jam 06:42:34 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke