----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Republika, 22 November 1999

Rakyat Aceh Mulai Borong Kebutuhan Pokok
AS Dukung Dialog, bukan Darurat Militer

JAKARTA -- Amerika Serikat angkat bicara soal Aceh. Duta Besar AS untuk
PBB, Richard C. Holbrooke, kemarin mengadakan jumpa pers di Jakarta
menjelaskan sikap AS yang mendukung dialog Pemerintah RI dengan rakyat
Aceh, sebaliknya menolak darurat militer.

"AS mendukung adanya dialog antara Pemerintah RI dan rakyat Aceh, di mana
Gus Dur [Presiden Abdurrahman Wahid] juga sedang mengupayakan," kata
Holbrooke di kediaman Dubes AS Robert S Gelbard. "Kami tidak akan
mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Tapi, Indonesia teramat penting
bagi AS. Negara ini adalah negara demokratis terbesar ketiga di dunia."

Sabtu lalu Holbrooke mengadakan serangkaian pertemuan antara lain dengan
Presiden Abdurrahman Wahid dan Wapres Megawati. Usulan darurat militer
awalnya datang dari Kapolri Jenderal Roesmanhadi, yang disambut positif
Menhan Yuwono Sudarsono dan Kapuspen TNI Mayjen Sudrajat. Kapolri
menyatakan penegakan hukum tidak dapat lagi dilaksanakan di Aceh.

Kepada pers, Dubes Holbrooke menyatakan pihaknya mendukung ketidaksetujuan
Presiden Wahid terhadap pemberlakuan status darurat militer di Aceh. "AS
pun tidak mendukung kekerasan, namun mendorong berlangsungnya dialog dan
solusi damai atas kasus Aceh," kata Holbrooke, yang turut didampingi
asisten Menlu AS untuk urusan Asia Timur dan Pasifik Stanley Roth.

Holbrooke berharap, DPR secara internal mampu mendorong berjalannya sistem
pertanggungjawaban itu. Ini, katanya, sangat penting dalam penyelesaian
kasus Aceh, antara lain dengan mengadili mereka yang terbukti melanggar HAM
di sana.

Setelah konferensi pers itu, Holbrooke dan rombongannya berangkat ke Kupang
menemui pengungsi Timtim. Rombongan yang ikut bersama Dubes itu
digambarkannya sebagai perjalanan tingkat tertinggi AS yang dikirim
Presiden Clinton ke Indonesia sejak perubahan pemerintahan RI.

Sementara itu Sabtu, Sekretaris Jenderal Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Teuku
Don Zulfahri menegaskan bahwa pihaknya siap melakukan perundingan dengan
Pemerintah RI untuk merealisasikan apa yang dikehendaki rakyat Aceh.

"Kami siap untuk berunding kapan-kapan ... mari kita dialog, kita duduk di
atas meja, sediakan jadwal, kita pikir mana yang baik," katanya dalam
wawancara via telepon antara Sekjen GAM yang berada di Kuala Lumpur dengan
RRI Pro2FM Jakarta.

Situasi yang berkembang di Aceh, menurut dia, tidak dapat lagi menunggu,
terlebih rakyat sudah menuntut untuk dilaksanakan referendum. "Presiden
bilang dalam tujuh bulan ... selesaikan masalah ini hitam putih, supaya
jangan berlanjut, jangan sampai berjatuhan korban," katanya.

Referendum tersebut, katanya, bukan kehendak GAM melainkan kemauan rakyat
Aceh yang diakomodasikan oleh gerakan tersebut, apalagi Gus Dur sendiri
sudah menyatakan perlunya pelaksanaan penentuan pendapat rakyat itu. "Kalau
dulu kan kepentingan RI dan GAM, maka dulu kita perang. Sekarang ini kami
ingin merealisasikan apa yang dikehendaki rakyat dulu," katanya.

Dia menginginkan dialog dilakukan di luar negeri dan disaksikan oleh pihak
ketiga. "Kami hanya mau disaksikan, bukan mau juri ... GAM tidak percaya
kepada RI, RI tidak percaya kepada GAM, maka kita perlukan saksi," katanya.

Menurut Sekjen GAM yang berada di Kuala Lumpur dan mengaku pulang ke Aceh
setiap bulan itu, kemudian mengatakan saksi tersebut harus dari negara yang
layak dipercaya.

Ketika ditanyai sehubungan hari ulang tahun (HUT) terbentuknya GAM ke-23
pada 4 Desember mendatang, Teuku Don Zulfahri mengatakan tidak ada
persiapan khusus, meskipun HUT kali ini berbeda dari sebelumnya, atau
dinilai semakin membaik. "Ulang tahun kali ini mungkin yang banyak
syukuran, karena rakyat Aceh hari ini sudah menyadari haknya, sudah
bersatu," katanya.

Pemerintah RI mengaku bahwa persoalan Aceh merupakan persoalan yang
complicated dan sensitif. Menurut Menko Polkam Wiranto, jika salah
mengatasi bisa membahayakan integrasi bangsa Indonesia. Meski demikian,
pemerintah berpendapat sebagian besar warga Aceh masih tetap memilih
bersatu dengan Republik Indonesia.

"Bahwa pemerintah pusat berkeyakinan sebagian besar warga Aceh dalam
hatinya masih ingin bersatu di dalam wadah negara kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana diwasiatkan oleh Daud Beureueh," ujar Wiranto di Bina
Graha, Jakarta.

Pandangan pemerintah pusat itu, seperti diungkapkan Wiranto, merupakan
salah satu materi yang dibahas dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin
Presiden KH Abdurrahman Wahid. Gus Dur sendiri ketika memimpin sidang itu
mengenakan baju batik berwarna hijau. Kepala Negara duduk bersebelahan
degan Wapres Megawati.

Diungkapkan Wiranto, sidang paripurna itu sengaja dilakukan untuk membahas
berbagai persoalan sebelum Kepala Negara mengadakan kunjungan kerja ke luar
negeri pekan depan. Sidang itu berlangsung sekitar dua jam. Bahkan di awal
sambutannya, Presiden menggarisbawahi agar sidang bisa dilakukan cepat.
Sidang Kabinet kembali menyampaikan tekadnya menindak tegas semua
pelangggar HAM, baik kalangan sipil maupun militer.

Untuk mengatasi persoalan Aceh, menurut Witanto, pemerintah pusat akan
menempuh berbagai upaya, seperti pelaksanaan UU No 22/1999 tentang
Pemerintahan Daerah, UU No 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan
Daerah, serta UU No 44/1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah
Aceh.

Pengamat politik dari UII Yogyakarta Dr Moh Mahfud mengatakan di Bandung,
ada beberapa pilihan yang dapat diambil pemerintah untuk menyelesaikan
masalah Aceh. "Pertama, melakukan tindakan militer dan kedua, pemerintah
mengakomodasi tuntutan referendum rakyat Aceh melalui persetujuan MPR,"
jelasnya.

Menurut Mahfud, tindakan militer akan sangat sulit. Selain akan melahirkan
protes keras, pilihan ini juga hanya akan menumpahkan kembali darah di
tanah Aceh. "Karena itu, tuntutan referendum bisa saja dilaksanakan asal
dengan syarat, pemerintah harus proaktif dengan menawar opsi yang akan
diberikan," ujar Direktur Pasca Sarjana UII ini.

Sehingga, sambungnya, kalaupun diadakan referendum maka tidak ada opsi
merdeka. "Paling tinggi adalah federasi," tegas Mahfud. Ia menambahkan,
opsi federal belum tentu ditolak mengingat opini merdeka yang selama ini
muncul ke permukaan tidak otomatis menggambarkan tuntutan seluruh rakyat
Aceh.

Dia juga menyebutkan jika Aceh terpisah dari wilayah Indonesia, umat Islam
merupakan pihak yang paling dirugikan. "Kekuatan umat Islam Indonesia akan
berkurang hingga 40 persen," katanya.

Angka itu, lanjutnya, merupakan angka kualitatif bukan kuantitatif karena
secara kuantitas umat Islam di Aceh jumlahnya hanya sekitar lima juta
orang, tapi kualitas mereka itu yang paling penting. Dibandingkan dengan
umat Islam di wilayah lain di Indonesia, menurutnya, kualitas keislaman
orang Aceh sangat baik sehingga kontribusinya terhadap kekuatan Islam di
Indonesia sangat besar.

Situasi Aceh hingga kemarin tanpa kepastian. Warga Banda Aceh sejak dua
hari terakhir dilaporkan mulai membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar
berkaitan dengan isu kekacauan pada awal Desember 1999, namun harga
kebutuhan masyarakat tetap stabil.

Sejumlah pedagang di Banda Aceh menjelaskan, meningkatnya jumlah pembeli
dalam dua hari terakhir itu erat kaitannya dengan isu kekacauan di daerah
ini. "Selama ini banyak masyarakat yang membeli berbagai kebutuhan pokok
seperti beras, minyak goreng, gula, dan tepung dalam jumlah besar," kata
Zakaria, salah seorang pedagang di pasar Aceh.

Kendati situasi Kamtibmas di Aceh akhir-akhir ini kurang menguntungkan,
namun harga berbagai jenis kebutuhan pokok yang dijual para pedagang di
Banda Aceh dan di sejumlah kota kabupaten, dilaporkan masih stabil. "Harga
beberapa kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, sabun, tepung
terigu, dan gula pasir, yang dijual para pedagang masih dalam batas
kewajaran," katanya.

Akibat kondisi keamanan itu pula, Dirut PT Telkom AA Nasution mengancam
akan menarik seluruh karyawan Telkom dari bumi Aceh jika tidak ada jaminan
keamanan terhadap keselamatan mereka. "Kami akan menarik semua karyawan
jika mereka dicelakai," kata Nasution di Medan Sabtu (21/11).

Usai menerima penghargaan dari Rektor USU, Nasution menambahkan kalau
aparat mengatakan terserah, pihaknya tegas akan menarik seluruh karyawannya
yang kini berjumlah sektar 600 orang.

Namun demikian, Nasution merasa bersyukur karena hingga sekarang
karyawannya belum ada karyawan Telkom yang cidera. Menurutnya, anak buahnya
ternyata cukup baik menjalin komunikasi dengan para penduduk maupun
kalangan pasukan yang tergabung dengan GAM.

"Tapi menjelang ulang tahun GAM 4 November nanti, kami khawatir juga,"
ujarnya. Ditanya apakah ada peralatan Telkom di Aceh yang rusak, Nasution
menyatakan hingga saat ini belum ada. Yang rusak, katanya, justru di Ambon,
Halmahera maupun Bali.

Hingga Sabtu, jajaran PT Telkom di Medan cukup sibuk menerima kedatangan
keluarga karyawan PT Telkom yang mengungsi ke Sumut. Jumlahnya sudah
mencapai lebih dari 400 orang. Mereka pergi menggunakan puluhan bus maupun
kapal laut dari Banda Aceh ke Medan. Yang lewat darat, terpaksa harus mau
merogoh koceknya di berbagai ruas jalan menuju Sumut.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Nov 1999 jam 05:08:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke