----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

-----------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Selasa 23 November 1999 15:40 UTC

** SOEHARTO DAN SEJUMLAH JENDRAL LAIN DIPANGGIL DPR SEHUBUNGAN MASALAH
ACEH

** RICHARD HOLBROOKE BERTEMU DENGAN XANANA GUSMAO

** PERTUMBUHAN EKONOMI DI ASIA CUKUP BAIK

** TOPIK GEMA WARTA: DUBES HOLBROOKE MEMACU PENYIDIKAN HAM INDONESIA DI
TIMOR TIMUR

** TOPIK GEMA WARTA: BERANIKAH GUS DUR MAKLUMKAN DARURAT PERANG DI ACEH?

* SOEHARTO DAN SEJUMLAH JENDRAL LAIN DIPANGGIL DPR SEHUBUNGAN MASALAH
ACEH
Panitia Khusus DPR tentang masalah Aceh akan memanggil mantan Presiden
Soeharto dan sejumlah mantan pejabat yang bertanggung jawab atas
penerapan Daerah Operasi Militer di Aceh. Menurut wakil ketua Pansus
Teuku Syaiful Achmad, Soeharto akan dipanggil Sabtu ini, sementara Menko
Polkam Wiranto diminta memberikan keterangan Kamis mendatang.
Selanjutnya mantan Wapres Try Sutrisno serta mantan Pangab Jenderal
Purnawirawan L.B. Moerdani diminta menghadap beberapa hari kemudian.
Selain itu Pansus DPR juga akan memanggil mantan Gubernur Ibrahim
Hassan, mantan Pangdam Bukit Barisan Pramono Anom dan sejumlah pejabat
lainnya. Menurut berbagai LSM dan Organisasi HAM di Aceh, selama satu
tahun pelaksanaan DOM, telah tewas lebih dari 2000 orang Aceh.

* RICHARD HOLBROOKE BERTEMU DENGAN XANANA GUSMAO
Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Richard Holbrooke bertemu dengan
pemimpin perlawanan Timor Timur, Xanana Gusmao di tempat kediaman
sementaranya di Aileu di selatan ibukota Dili. Gusmao dianggap sebagai
calon presiden pertama Timor Lorosae, yang akan mengambil alih pimpinan
dari tangan PBB. Selain itu, Selasa ini Holbrooke juga bertemu dengan
Uskup Dili Monseigneur Carlos Felipe Ximenes Belo. Kepada para pengungsi
Timor Timur, yang masih berada di kamp-kamp penampungan di Timor Barat
Belo berseru supaya mereka kembali. Sementara Senin kemarin
ditandatangani rancangan perjanjian tapal batas NTT-TimTim antara pihak
Indonesia dan PBB. Disepakati untuk membentuk komisi khusus yang
mengawasi perlucutan senjata milisi-milisi pro-Indonesia.

* PERTUMBUHAN EKONOMI DI ASIA CUKUP BAIK
Pertumbuhan ekonomi di Asia tahun ini, lebih baik dari yang diharapkan
sebelumnya. Negara-negara Asia perlahan-lahan berhasil mengatasi krisis
ekonomi, dan diperkirakan tahun ini pertumbuhan akan mencapai 5,7%.
Demikian laporan ADB atau Bank Perkembangan Asia. Sebelumnya
diperkirakan angka tersebut tidak akan melebihi 4%. ADB menambahkan
negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura dan
Hongkong, mulai berhasil keluar dari resesi. Selanjutnya pertumbuhan
ekonomi Cina yang cukup hebat, turut memegang peranan penting. Menurut
ADB mereka positif akan situasi ekonomi di Asia di tahun-tahun
mendatang.

* PRESIDEN BILL CLINTON TIBA DI KOSOVO
Presiden Amerika Serikat Bill Clinton berseru kepada penduduk Kosovo
untuk membuang perasaan dendam dan benci terhadap warga Serbia dan
bersama-sama membangun masyarakat Kosovo yang baru. Presiden Clinton
berpidato Selasa ini di ibukota Pristina. Pesan perdamaian Clinton
adalah reaksi atas rangkaian pembunuhan terhadap penduduk minoritas
Serbia di Kosovo. Sejak pemerintah Yugoslavia menarik mundur tentaranya
dari Kosovo, warga etnis Albania telah membunuhi lebih dari 135 penduduk
Serbia. Presiden Amerika tiba di Kosovo untuk kunjungan satu hari.
Clinton akan bertemu dengan sejumlah pimpinan politik Kosovo dan
mengunjungi pasukan Amerika yang ditugaskan di sana. Sementara Partai
Sosialis yang berkuasa di Serbia, mencap kunjungan presiden Amerika ini,
sebagai kembalinya seorang penjahat ke tempat kejahatan. Kunjungan di
Kosovo ini akan mengakhiri perjalanan keliling 10 hari presiden Amerika
Serikat di Eropa Tenggara. Selasa malam ini juga Clinton akan terbang
kembali ke Washington, setelah singgah sebentar di Italia.

* RUSIA MELANJUTKAN OFENSIF DI CHECHNYA
Rangkaian ofensif baru tentara Rusia di Chechnya, kali ini dipusatkan
sekitar kota Urus-Martan. Kota strategis penting ini terletak di jalan
penghubung utama di selatan ibukota Grozny. Urus-Martin dipandang
sebagai kantong pertahanan kelompok-kelompok bersenjata, yang sering
melakukan aksi penculikan sejak akhir perang Chechnya tahun 1996.
Sementara ini serangan Rusia telah memasuki minggu ke delapan. Menurut
kantor berita Interfax, Rusia berharap dapat mengepung ibukota Grozny,
pertengahan Desember mendatang. Sementara Jerman dan Inggris semakin
mengkritik aksi militer Rusia di Chechnya. Menteri Luar Negeri Inggris
Robin Cook menyatakan, makin sulit untuk mengerti apa tujuan aksi
militer Rusia. Sedangkan Kanselir Jerman Gerhard Schroder berpendapat,
ofensif Rusia ini bertentangan dengan peraturan Organisasi Keamanan dan
Kerjasama Eropa, OSCE, yang juga beranggotakan Rusia.

* DESI BOUTERSE BERSEDIA DATANG KE BELANDA
Mantan pemimpin militer Suriname, Desi Bouterse bersedia datang ke
Belanda untuk menghadiri sidang naik banding, apabila ia mendapat
jaminan tidak akan ditangkap. Demikian pengacara Bouterse, Abraham
Moskowicz kepada pihak kehakiman Belanda. Sebuah pengadilan di Den Haag,
belum lama ini menjatuhkan hukuman penjara 16 tahun kepada Desi
Bouterse, karena terbukti menyelundupkan narkoba. Sidang pengadilan naik
banding akan dimulai bulan depan. Bouterse tidak dapat meninggalkan
Suriname karena sesuai surat perintah penahanan internasional, ia bisa
langsung ditangkap. Moskowicz menamakan permintaan kliennya ini masuk
akal, dan menyatakan akan memanggil lebih dari 100 orang saksi dalam
sidang naik banding nanti.

* PAKISTAN MEMBEBASKAN KAPAL KERUK BELANDA
Pengadilan Pakistan mencabut perintah penyitaan kapal keruk Belanda
Delta Queen. Pemilik kapal mengharapkan, kapal tersebut dapat
meninggalkan pelabuhan Port Qasim, dalam waktu dekat. Delta Queen
dilarang berlayar sejak bulan Mei lalu. Penyebab konflik adalah masalah
pajak dengan duane Pakistan, yang hingga sekarang tidak mengindahkan
keputusan pengadilan, dan menahan semua awak kapal. Sebelumnya
pengadilan Pakistan juga memutuskan hal yang sama, tetapi ketika kapal
tersebut akan meninggalkan pelabuhan, mereka ditembaki angkatan laut
Pakistan. Pemerintah Belanda telah mengajukan protes kepada pemerintah
Islamabad.

* GANTI RUGI BAGI JANDA PEMIMPIN BOLIVIA
Argentina kan membayar 250.000 dolar ganti rugi kepada janda mantan
pemimpin Bolivia, Juan Jose Torres, yang mati dibunuh. Jendral beraliran
kiri ini digulingkan lewat kudeta militer tahun 1971 dan melarikan diri
ke Argentina. Tidak lama setelah rejim militer mulai berkuasa di
Argentina, tahun 1976, Torres ditembak mati. Wakil menteri bidang hak
asasi manusia Ines Perez Suarez melaporkan pembunuhan ini dilaksanakan
sesuai rencana Condor, yang disetujui para pemimpin militer di Amerika
Latin. Tujuannya adalah untuk mencari dan membunuh lawan-lawan politik
mereka.

* DUBES HOLBROOKE MEMACU PENYIDIKAN HAM INDONESIA DI TIM-TIM
Intro: Meskipun komisi penyidikan ham yang dipimpin Albert Hasibuan dan
Mulya Lubis bermaksud memeriksa sejumlah jendral, termasuk Menko Polkam
Jenderal Wiranto yang dinilai beranggungjawab atas bumi hangus di
Timtim, tapi ada alasan-alasan untuk menyangsikan efektivitas komisi
tsb. Soalnya, komisi tersebut sekedar dibentuk sebagai reaksi politik
atas tekanan dunia, ujar Direktur PBHI Hendardi:

HENDARDI: Saya kira kita harus berpaling kembali ke belakang ya, bahwa
pendirian atau pembentukan KPPHAM dan Peradilan HAM yang sangat terkesan
terburu-buru, lewat Perpu No. 1/1999, itu lebih dimaksudkan sebagai
usaha-usaha politik untuk melindungi TNI, dalam konteks akan bekerjanya
International Commission of Inquiry (Komisi Penyidik Internasional,
Red.) dan International Tribunal (Tribunal Interansional, Red.) yang
menjadi ancaman bagi TNI.

Jadi saya kira apa yang dilakukan oleh KPPHAM dengan mengumumkan suatu
pemeriksaan atau katakanlah pemanggilan terhadap Jenderal Wiranto dan
lainnya, saya masih belum melihat optimisme bahwa mereka akan diajukan
di dalam suatu proses hukum. Karena kita tahu bahwa rujukan-rujukan yang
dianut di dalam suatu proses hukum atau proses kejahatan hak-hak asasi
manusia itu sangat minim di Indonesia. Yang kedua memang ini bisa saja
seperti proses penculikan dulu oleh Prabowo dan kawan-kawan, hasilnya
akan semacam itu. Sebagai usaha peredaman untuk melindungi yang di atas.
Saya masih percaya bahwa orang semacam Wiranto tidak akan terkena pada
pemeriksaan lebih lanjut. Bahwa mungkin ada korban-korban di level
(tingkat, Red.) bawahnya, mungkin saja. Tapi saya tidak percaya bahwa
itu secara politik akan hadapkan Wiranto di dalam suatu proses hukum.

RADIO NEDERLAND [RN]: Tapi kali ini bukan sekedar Komnasham yang
dianggap lemah, itu dalam hal Timor Timur, tapi ini suatu Komisi Khusus
dari Komnasham dan lebih dari itu taruhannya amat besar. Taruhannya
internasional. Apabila ini cuma trik politik untuk melindungi beberapa
jenderal di atas. Jadi risiko besar ini, kalau mau bermain seperti
terhadap Prabowo tempo hari.

HENDARDI: Ya bisa jadi. Apalagi kita tahu bahwa para anggota
International Commission of Inquiry sudah terbang ke Dili. Justru karena
itu, saya kira Komnasham dalam hal ini juga tidak melakukannya secara
sendiri, tapi melibatkan juga beberapa LSM di bidang hak asasi manusia,
serta di dalam itu. Ini kepentingannya adalah agar tanggung jawab itu
bisa dipikul bersama. Dan PBHI sendiri menolak untuk ikut terlibat.

RN: Kenapa PBHI kok tidak mau?

HENDARDI: Ya, itu, Atas alasan-alasan bahwa pembentukan KPPHAM maupun
peradilan HAM ini bisa bermotif politik untuk melindungi kepentingan
TNI, ketimbang suatu usaha yang betul-betul untuk menegakkan hak asasi
manusia. Karena kalau ini dimaksud untuk menegakkan hak-hak asasi dan
membongkar kasus atau persoalan di sana, seharusnya ratifikasi atas
berbagai konvensi dan convenant (traktat, Red.) PBB itu sudah dilakukan
terlebih dahulu daripada sekedar suatu pembentukan peradilan HAM tanpa
rujukan yang jelas.

RN: Pada saat yang sama Duta Besar Amerika untuk PBB Richard Holbrooke
berada di Timor Timur. Ini suatu tekanan politik yang besar terhadap
Jakarta untuk betul-betul melaksanakan pemulangan pengungsi dan juga
sekali lagi soal penyeretan jenderal-jenderal yang terlibat ini. Tidak
bisa secara apriori tampaknya tadi PBHI telah menolak untuk ikut.

HENDARDI: Persoalannya adalah kita melihat bahwa apa yang dilakukan
dengan pembentukan KPPHAM maupun peradilan HAM itu lebih suatu reaksi
atas suatu aksi internasional di dalam membentuk Commission of Inquiry
dan International Tribunal. Suatu reaksi ketimbang suatu usaha betul-
betul memang untuk melakukan pembenahan di bidang hak-hak asasi manusia.

RN: Mengenai konvensi-konvensi itu tadi, apabila konvensi-konvensi itu
diratifikasikan belakangan, kan tidak mengubah hasil penyelidikan komisi
ini bukan?

HENDARDI: Bukan! Persoalannya begini. Apa konvensi-konvensi atau
convenant-convenant dari PBB itu harusnya menjadi semacam rujukan atau
hukum acara, yang bisa melengkapi hukum acara yang ada di Indonesia di
dalam mengadili suatu pelanggaran atau kejahatan hak asasi manusia.
Kalau itu belum diratifikasi, itu artinya kita hanya mengandalkan pada
hukum acara yang ada di dalam KUHAP kita, yang sangat sederhana dan
sangat banyak lubang untuk memberikan sangsi-sangsi hukum khususnya
terhadap aparat negara yang melakukan kejahatan hak asasi manusia atau
kejahatan kemanusiaan.

RN: Jadi masalahnya perangkat hukum yang menjadi basis. Tapi kalau hasil
ini kemudian bisa dibarengkan dengan komisi internasional, dan mungkin
bisa membawa ke suatu peradilan sipil khusus mengenai pelanggaran HAM,
jadi bukan peradilan militer atau Dewan Kehormatan Perwira, maka ini
sudah suatu hasil yang lumayan bukan, yang dibawa oleh Mulya Lubis dan
Albert Hasibuan.
HENDARDI: Saya kira periode penyelidikannya juga sudah berbeda. Kalau
internasional Comission of Inquiry itu sejak tahun 1999, sementara untuk
KPPHAM ini pasca jajak pendapat. Jadi dari segi itu saja tentu data-
datanya akan berbeda.

RN: Bicara mengenai data, PBHI sendiri melakukan penyelidikan mengenai
nasib para pengungsi Timor Timur yang berada di Timor Barat? Lalu
bagaimana tindak lanjutnya?

HENDARDI: Proses itu masih berlanjut terus. Secara bergilir kita
mengirimkan tim ke sana, untuk mencatat beberapa kejadian, khususnya
peristiwa-peristiwa pelanggaran hak asasi manusia. Memang kita melihat
bahwa kegiatan milisi itu relatif berkurang ketimbang sebelumnya, tetapi
justru ini menujukkan korelasinya dengan tekanan-tekanan internasional
yang makin besar. Khususnya dengan kedatangan misalnya Duta Besar
Amerika untuk PBB dan justru menunjukkan adanya korelasi yang tegas
antara milisi dan TNI di lain sisi.

RN: Jadi pihak Indonesia maksud anda semacam mempersiapkan untuk
memperbaiki situasi sedikit di sana-sini, dalam rangka kedatangan
Holbrooke?

HENDARI: Betul, saya kira Holbrooke dan juga tekanan-tekanan
internasional lain ya.

Demikian Ketua PBHI, Hendardi.

* BERANIKAH GUS DUR MAKLUMKAN DARURAT PERANG DI ACEH?
Pers ibukota kemarin memberitakan bahwa Gus Dur sekembalinya dari
lawatannya ke Timur Tengah akan mengumumkan keadaan darurat di beberapa
kawasan Provinsi Aceh. Hal ini akan dilakukannya akibat pergolakan fisik
yang terus marak antara para pendukung kemerdekaan melawan pasukan TNI
di daerah Serambi Mekah itu. Akibat pergolakan tersebut, sejak bulan Mei
tahun ini sudah sekitar 250 orang tewas. Lebih lanjut koresponden
Sjahrir melaporkan dari Jakarta:

Pihak SIRA, Sentral Informasi Referendum Aceh menganggap rencana
pemberlakuan darurat militer itu suatu skenario untuk kembali melakukan
intervensi militer di Aceh. Dan itu sudah dimulai dengan usaha pihak TNI
yang menyamar sebagai GAM, Gerakan Aceh Merdeka, mengusir warga non Aceh
serta melakukan pembakaran-pembakaran di daerah Bokongan dan Aceh
Tengah. Menurut seorang pengamat cara-cara yang sama pernah dipraktekkan
pula di Timor Timur dahulu. Ada skenario TNI yang sengaja menimbulkan
kesan seolah persoalannya bukan lagi dengan GAM melainkan Aceh kontra
Jakarta. Darurat militer sama saja dengan mengajak perang rakyat Aceh.

Ketua MPR Amien Rais kemarin, dalam suatu wawancara, menolak dengan
tegas rencana pemerintah untuk memberlakukan daerah operasi militer di
Aceh. Ia tetap percaya bahwa rakyat Aceh tidak akan memisahkan diri dari
Indonesia karena Indonesia berasal dari Aceh dan Aceh adalah Indonesia.
Bagi Amien Rais yang penting Gus Dur harus segera pulang dari Timur
tengah. Sebaliknya, di luar negeri, Gus Dur mengatakan bahwa ia melawat
ke luar negeri untuk membuktikan bahwa RI aman-aman saja.

Dalam pada itu Amran Zamzani dari Komisi Independen mempertanyakan
kelambanan pemerintah Indonesia yang kurang responsif terhadap Aceh.
Komisi Independen sudah dua minggu menyerahkan laporan soal pelanggaran
hak asasi manusia di Aceh, tetapi hingga ini belum ada reaksi
pemerintah. Pemerintahan Habibie maupun Gus Dur nampaknya ragu-ragu
dalam menindak pihak TNI. Mabes TNI sendiri, melalui Kepala Puspen TNI
Mayjen Sudrajat, sudah memastikan akan membawa ke pengadilan militer
para anggota TNI yang telah melakukan pelanggaran HAM di Aceh. Maka
Puspom TNI pun sudah mengumumkan telah mendatangkan saksi-saksi dari
Aceh untuk menjadi saksi dalam perkara pembunuhan Tengku Bantaqiyah dan
pengikut-pengikutnya. Yang menarik, meski belum disidangkan namun salah
seorang saksi menyatakan kepada pers bahwa justru TNI yang diancam oleh
Tengku Bantaqiyah sehingga komnadan setempat terpaksa bela diri dengan
menembaki Tengku Bantaqiyah serta pengikut-pengikutnya yang hanya
bersenjatakan pisau.

Sebenarnya hal yang sama pernah terjadi pula pada kasus Lampung beberapa
tahun yang lampau. Yang pertama-tama menembak adalah komandan Koramil
sedangkan Marsudi yang kemudian disebut sebagai tokoh terror Lampung
hanya membela diri dengan menebas perwira militer tersebut yang sempat
menembak berkali-kali. Akibat perlawanan ini puluhan rakyat dibunuh,
termasuk istri dan empat orang anak Marsudi. Hingga hari ini Marsudi
masih ditahan di pulau Nusa Kambangan. Maka sama seperti dalam kasus
penculikan mahasiswa, POM TNI lagi-lagi hanya akan membawa militer
tingkat teri ke pengadilan militer. Hasilnya pun sudah dapat
diperkirakan, paling-paling mereka dihukum beberapa tahun saja.

Karena itu menarik untuk dilihat sampai dimana DPR RI akan bersikap.
Pansus tentang masalah Aceh yang dibentuk DPR sesuai rencana hari Sabtu
mendatang akan memanggil mantan Presiden Soeharto yang bertanggung jawab
dalam penerapan DOM di Aceh. Selain itu Pansus Aceh akan akan memanggil
sejumlah mantan pejabat yang terkait dengan DOM Aceh tersebut. Seperti
tiga jenderal mantan Pangab, Try Sutrisno, L.B. Moerdani, dan Feisal
Tanjung, kemudian Syarwan Hamid, mantan Gubernur Aceh Ibrahim Hasan dan
mantan Pangdam Bukit Barisan Pramono Anom.

Kini orang pun ingin melihat reaksi tentara. Beranikah mereka melakukan
perebutan kekuasaan? Atau siapkah TNI melawan para politisi sipil yang
kini menguasai parlemen? Adapun para diplomat Amerika Serikat yang
mengunjungi Aceh baru-baru ini sudah menyatakan bahwa negara adikuasa
ini tidak mengingini pengulangan operasi militer dan berlanjutnya
kekerasan di Aceh.

-----------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
-----------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Nov 1999 jam 07:35:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke