----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Kamis, November 11,99

Tubes Station ( stasiun kereta/subway ) letaknya tidak terlalu
jauh dari rumah Diane.Berjalan lurus kembali ke village
kemudian berbelok ke kiri menyebrang jembatan di pagi
dingin dan basah malah membuat badan terasa segar
walaupun  seluruh  pori-pori kulit di balik  jaket dan sweater
tebal ini mengkerut  tersiksa diterpa suhu rendah.

Berdiri menunggu train di stasiun kecil yang sepi ini
sungguh sebuah pengalaman yang unik. Setiap 5 menit
sebuah kereta api cepat melesat mengagetkan meninggali
angin beku yang menampar muka kami. Saya taksir kecepatan
itu kereta hampir 200 kilometer per jam.Suara mesin yang
mendesing beberapa kali membuat ngilu tulang . Saya tidak
sanggup membayangkan apa jadinya jika manusia tertabrak
itu train. Barangkali jadi kornet, atau daging cincang.

Karcis naik Tube ke London adalah 14 pounds untuk berdua.
Keretanya sendiri tidak istimewa. Di bandingkan Jabotabek
memang Tubes ini lebih kelihatan bersih. Tapi... baru 20
menit berjalan sang Tubes macet mendadak di lorong bawah
tanah. Dan yang seperti ini rasanya belum pernah terjadi
pada Jabotabek. Para penumpang yang dalam perjalanan
ke tempat kerja sebagian tenang, sebagian gelisah. 30 menit
lamanya kami terkurung. Seorang mahasiwa kelihatan pucat
pasi lantaran hari ini dia ada exam. Ketika sang masinis
mendatangi dan memberikan alibi " bahwa ada kereta
yang mendeg di Statuiun Cockfosters " Beberapa bule
yang duduk di pojokan malah memaki ,

" Ngepet loe ! "

" Gue peratiin ini kereta slow dari tadi..elu  sengaja ya?"

Sang masinis mencoba sabar  mencoba self defense dengan
berucap  " Well, theres nothing I can do .."

Kelompok bule itu malah makin mangkel. Dan menghadiahkan:

" Makan tokai gue nih ! "

" Anjing kurap !"

" Anak Lonte ! "

" Dasar masinis goblok !"

Saya ketawa cekikikan , sayang adegan para ningrat Englander
yang terkenal dengan etika dan sopan santunnya itu tidak saya
abadikan dalam video camera.

Setelah pindah ke Circle Lines ( subway yang trayeknya
muter-muter Central London ) kami keluar di stasiun Westminster.
Tepat begitu keluar tanah yang menyambut kami adalah sang
Big Ben. Jam raksasa bagian dari gedung parlemen itu tampak
berkilapan. Seperti penduduk gunung Kidul yang pertama kali
melihat monas, jelas saya motret-motret kaya orang norak.
Berjalan menuju jembatan yang membelah sungai Thames
yang berair keruh, Parlemen House dan Big Ben itu makin
kelihatan karakternya.Gedung coklat itu penuh ukiran mirip
candi.Pada setiap kerucut selalu terdapat simbol entah mahkota
entah singa, entah hero dan barangkali dewa dan para santo.

Millenium  Whell, atau super biang lala teronggok di seberang.
Entah berapa tingginya itu mainan. Tapi bentuknya yang terlalu
modern sungguh mengganggu karakter kota London yang
sarat dengan bangunan tua yang sangat apik. Biang lala ini
jadi seperti nintendo yang dipajang dalam musium, jelas
tidak serasi dan nyambung.

Balik menjelajahi sisi depan House of Parlemen yang dijaga
oleh patung Oliver Cromwell ( Lord Protector of England
yang mengukum mati King Charles I ) kami menyebrang
ke Westminter Abbey. katedral tua ini sebenarnya bukan
gereja tapi  sebagai  tempat seromonial orang mati
( Mati dan tenar / mati dan berguna) yang dimanaje langsung
oleh the Crown,  sekaligus lokasi kuburan. Sejak tahun 1066
sudah ratusan bangsawan begelar SIR, Baron,politisi,tukang
puisi, penulis, pahlawan perang dunia pertama yang tidak
dikenal mayatnya teronggok di Westminter Abbey.

Bosen membaca nama-nama mayat dan sejarah para
ningrat, ( Oke gedung itu memang historical sites yang
menggugah, mengesankan, membuat kagum, goyang-
goyang kepala..so what ?) kami melanjutkan penjelajahan
naik Tubes lagi ke Kensington untuk melihat musium dan
....mall.

Jalan di London bukan main ramainya, ukuran jalan itu
sendiri kecil dibandingkan dengan jalan di Amerika.
Perbaikan kontruksi di sana sini. Bis tingkat merah
sekali-kali memintas jalan, sebagian bis ini berubah
fungsi menjadi bis turis dengan kap terbuka. Di atas
sana bila anda mau perhatikan, akan terdapat puluhan
manusia gunung kidul yang meneneng tustel, video
camera dan menggondol oleh-oleh yang memenuhi
tas demi tas.Dan mereka norak seperti kami, mereka juga
mengantungi peta London seperti kami, cuma jelas
kami lebih pintar, Mereka bayar untuk ngider-ngider
sambil dengerin ocehan guide yang belum tentu benar.
Kami mencari dan mempelajari sendiri semua objek wisata.
Dan satu lagi, si Vicky pernah 2 kali ke sini, jadi jelas
sang bini adalah guide yang paling murah dan handal,
dan seperti biasanya, penciuman perempuan selalu
tajam begitu dekat pada mall. Kelak begitu dekat dengan
Harrods ( Mall extravagansa kelas atas ) saya melihat
ada kunang-kunang di mata si Vicky.

Sebelum menjenguk musium V& A ( Victoria and Alber)
rasa lapar menuntun kami untuk singgah di Buger King.
Lucu melihat restaurant fastfood yang ukurannya semua
mini di London ini, Selain itu lucu melihat cara kerja
manusianya yang kalah sigap dengan pekerja di Amerika.
Juga mangkel ketika saya disodori burger tanpa ketchup.
Ketika saya tanya " Eh mas, gue butuh kecap nih..bagi dong "
Mereka dengan malas memberikan muncratan kecap di atas
tutup soda plastik...Englishmen..you are so fuckin' cheap.!

Seorang gembel berbaju compang,berwajah super dekil
dengan ingus yang meleleh berdiri di pucuk tangga kearah
rest room Burger King. Kebetulan saya duduk bersebrangan
dengan posisinya. Gembel eksebisionis ini bukan tanpa
alasan berdiri mematung di sana. Seperti ABRI pangkat
rendah sekaligus goblok yang hobby memberikan hormat
pada atasan atau keluarga atasan yang kebetulan berpergokan,
si gembel bule ini juga memberikan hormat pada pengunjung
restaurant yang baru memakai rest room dengan menurunkan
celananya, sambil cengengesan plus muka konak seperti
orang yang hampir klimaks, dikeluarkannya burung perkutut
putih dari sangkar lebatnya, dibelai -belai, diaduk aduk, dikocok-
kocok kearah para penonton. Wajar kalau ada satu dua
cewek menjerit lantaran pameran burung itu.

Karyawan Burgerking berkulit hitam segera bereaksi,
tapi ukuran tubuhnya yang tidak terlalu besar ternyata
tidak menggentarkan ini Gatotkaca pirang. Setiap kali
ditarik keluar, sang penjinak burung masuk dari pintu
satunya lagi, lalu berdiri dan membuka celananya
kembali. Dan usaha menyeret ini manusia bukannya
gampang. Akhirnya datang supervisor Restaurant
yang kebetulan adalah seorang negro berbadan
Hollyfield.  Tanpa kesulitan diangkatnya pahlawan
kesayangan Taman Burung ini keluar pintu, dengan
enteng di lemparkannya dia ke trotoar.

But I love this guy, really..
.Daya tahan, stamina dan keteguhan pendirian
sang tunawisma ini jauh di atas ketegaran mahasiswa
kita yang suka demonstrasi di tanah air. Lihat,
secepat itu badannya ambruk ke beton trotoar,
secepat itu dia bangun kembali. Tanpa sungkan...dia
pelorotkan celananya tepat di muka kaca depan.
Berbekal iman dan keyakinan , dia berjihad
dengan caranya sendiri..yaitu mengencingi
kaca dan pintu restaurant...

Anda boleh bangga pernah datang dan melihat
keindahan London, anda boleh takjub dengan
segala arsitek, peradaban, dan semua patung seni
di kota ini...

Tapi, anda belum tentu bisa melihat pemandangan
bagus dan unik seperti yang saya lihat saat itu..

Seekor burung Inggris ukuran sedang
saya saksikan dengan mata kepala sendiri..!
Kepalanya yang plontos, tidak disunat dengan
bangga dipamerkan spesial buat kami...

Pameran sekejab ini selesai begitu dia kabur
karena mengetahui sang manajer memanggil polisi

Menyesal saya tidak rekam dalam video lagi...

Hasan Basri
Nov 23, 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Nov 1999 jam 08:18:42 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke