----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Aceh 4 Desember: Darah Mengalir di Aceh?
Betulkah Bumi Cut Nyak Dien itu akan bersimbah darah pada 4 Desember?
--------------------------------------------------------------------------------
KARDUS adalah barang langka di Aceh. ''Anda punya kardus?" tanya Nurdin, karyawan PT 
Telkom Banda
Aceh, kepada TEMPO, ketika ia gagal mendapatkan kotak pengepak itu di sebuah toko di 
muka Masjid
Baiturrahman, Banda Aceh, Rabu pekan lalu.
Nurdin adalah satu dari ribuan warga pendatang yang berkemas untuk menghindari 
kemungkinan kerusuhan
massa di Aceh pada 4 Desember 1999 kelak. Menurut desas-desus, amuk massa akan terjadi 
pada hari
yang bertepatan dengan ulang tahun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu. Rakyat 
mempersalahkan Jakarta,
yang lamban merespons tuntutan referendum bagi rakyat Serambi Mekah. Itu sebabnya 
kardus tiba-tiba
laku keras.
Tapi ketakutan memang telah kelewat batas. Di kantor pos Banda Aceh, biasanya 
permintaan pengiriman
barang ke luar Aceh hanya 100 hingga 200 kilogram, tapi setelah 8 November lalu 
berlipat menjadi
1.500 kilogram. Hal yang sama terjadi di kantor pos Tapaktuan di Aceh Selatan dan 
Meulaboh di Aceh
Barat. Dari rak piring sampai motor ramai-ramai mereka kirim ke berbagai lokasi, yang 
terbanyak ke
Yogyakarta dan Solo. Bandar udara dan pelabuhan laut diserbu penumpang yang mau 
hengkang. ''Anak dan
istri saya sudah berangkat ke Bandung. Nanti saya belakangan menyusul," kata Nurdin, 
lesu. Di
kantornya sekitar 100 karyawan plus keluarganya telah angkat kaki dari Aceh dalam 
seminggu terakhir.
Demam ungsi-mengungsi ini juga terjadi pada perusahaan besar seperti Mobil Oil, PT 
Kertas Kraft Aceh
(KKA), PT Pupuk Iskandar Muda, PT Arun, dan PT Pupuk Asean. Mereka umumnya menyingkir 
ke Medan.
Jumlah pengungsi itu, menurut Ikatan Pemuda Pelajar Tanah Rencong, telah mencapai 
12.800 jiwa.
Umumnya penduduk mengungsi karena kesadaran sendiri. Tapi beberapa pengungsi yang 
ditemui TEMPO di
Medan menyebutkan mereka mendapat selebaran berisi perintah meninggalkan Aceh paling 
lambat 30
November, dengan pengirim yang tentu saja anonim.
Siapa? Tak ada yang mengaku. GAM membantah tuduhan mendalangi teror itu. ''Kami tidak 
memusuhi warga
lain. Kami hanya memusuhi mereka yang menentang Aceh Merdeka," ujar Panglima GAM, 
Abdullah Safii.
Hal yang sama juga dikemukakan Sentra Informasi Referendum Aceh (SIRA)-organisasi yang 
mengoordinasi
pengumpulan massa pendukung referendum 8 November lalu.
Tapi betulkah Aceh akan bersimbah darah pada 4 Desember nanti? Tidak ada yang bisa 
memastikan. GAM
sendiri sejak awal hanya memerintahkan agar rakyat Aceh tidak keluar rumah dan 
menghentikan semua
kegiatan pada 4 Desember saja. Selebihnya dijamin aman. Presiden Gus Dur juga telah 
mengimbau rakyat
Aceh agar mau berdiam diri di rumah hari itu. Imbauan ini dibarengi ''janji" pusat 
untuk melakukan
referendum tujuh bulan mendatang. Sampai di sini-di atas kertas-mestinya gejolak tidak 
akan terjadi.
Tapi, persoalannya, Gus Dur memang belum mau memberi opsi kemerdekaan seperti yang 
dituntut orang
banyak di Tanah Rencong. Artinya, selepas tanggal 4 Desember, gerakan untuk 
''menggoyang" pemerintah
Jakarta ditaksir akan tetap membara.
Nah, di sinilah Jakarta dan Aceh akan melakukan ''lomba lari". Gus Dur tampaknya akan 
menggunakan
waktu untuk mengambil hati rakyat Aceh agar opsi merdeka tidak muncul. Adapun 
mahasiswa, kalangan
LSM, dan ulama Aceh akan menyiapkan konsep referendum agar mereka punya ''peluru" yang 
cukup untuk
''menembak" Jakarta.
Pekan lalu, ''peluru" itu mulai dibicarakan oleh kalangan LSM. Mereka, misalnya, 
mencanangkan
referendum tanggal 2 Juli tahun depan dengan opsi merdeka atau tetap bergabung dengan 
Indonesia.
Pelaksana referendum adalah pemerintah RI, masyarakat Aceh, dan mediator asing yang 
disepakati kedua
belah pihak. Tapi, kabarnya, ini pun belum merupakan konsep final dan masih akan 
''dibenturkan"
dengan konsep dari elemen masyarakat lainnya.
Sementara itu, GAM, unsur penting bagi penyelesaian masalah Aceh, melihat referendum 
bak pisau
bermata dua. Jika GAM menolak referendum, itu berarti GAM harus mengakui pemerintah 
Indonesia. Kalau
GAM menerima referendum, yang sebagian besar diminta oleh mahasiswa dan LSM di Aceh, 
persoalan juga
belum selesai. Alhasil, ''GAM ibarat membeli pisang dalam karung," kata Otto 
Sjamsuddin Ishak,
sosiolog dari Universitas Syiah Kuala, Aceh. Artinya, jika kelak prokemerdekaan yang 
menang, GAM
masih harus berhadapan dengan masyarakat Aceh yang menginginkan kemerdekaan 
sendiri-tidak di bawah
GAM.
Dengan kata lain, keadaan Aceh pada dan setelah 4 Desember memang masih sulit 
diprediksi. Bisa
berdarah. Bisa pula damai jika disadari bahwa kekerasan tak banyak menolong siapa pun.
Arif Zulkifli, Bambang Soedjiartono (Medan) dan koresponden Aceh

SERAMBI WARTA ACEH

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 26 Nov 1999 jam 05:18:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke