----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rilis Serambi Sabtu, 27 November 1999
TAK ADA DARURAT MILITER
Gus Dur: Situasi Mulai Tenang

Serambi-Jakarta
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan bahwa pemerintah tidak pernah 
memikirkan kemungkinan
untuk menerapkan status darurat militer di Propinsi Aceh.
"Tidak pernah terpikirkan penetapan Aceh dalam hukum darurat perang. Yang ada di Aceh 
hanyalah
pengacauan. Itulah yang perlu ditindak, tapi tidak perlu sedemikian itu (darurat 
militer)," kata
Presiden kepada pers dalam pesawat Garuda Indonesia dalam perjalanan dari Amman, 
Jordania ke
Jakarta, Jumat pagi.
Penegasan itu disampaikan Gus Dur karena setelah diwawancarai wartawan Kuwait di 
Kuwait City,
Selasa, muncul berita bahwa pemerintah Indonesia akan menerapkan status darurat 
militer di Aceh
akibat berbagai kerusuhan di daerah tersebut.
Gus Dur mengungkapkan pula bahwa ia akan datang ke Banda Aceh setelah kembali dari 
kunjungan
kenegaraan ke RR Cina yang berakhir sekitar 4 Desember.
Sedangkan seusai shalat Jumat di Masjid Baiturrahim Komplek Istana, kemarin, Presiden 
menilai
suasana di Aceh kini sudah mulai tenang. Karena itulah, ia menyangkal kalau dikatakan 
kurang memberi
perhatian terhadap masalah Aceh, sebagaimana dikemukakan beberapa pihak. "Saya bisa 
membagi waktu
dan memang Presiden harus begitu. Kalau tidak bisa membagi waktu, jangan jadi 
Presiden," kata Gus
Dur.
Gus Dur menyebut ada lima kelompok di Aceh yang perlu di Aceh berdialog. Dua di 
antaranya, yakni LSM
dan teungku dayah, karena mereka lebih berada di tengah masyarakat dan pelosok-pelosok 
daerah.
Terhadap tiga kelompok lainnya menurutnya lebih mudah ditemui karena umumnya berada di 
kota,
sehingga juga lebih mudah ditangani.
"Pendekatan saya kepada dua kelompok terakhir tidak secara terbuka, karena lebih 
merupakan
pendekatan-pendekatan pribadi," katanya. Tapi, tambahnya, kedua kelompok terakhir ini 
mempunyai
massa lebih besar.
"Saya melihat bahwa mereka ini masih ingin menyatu dengan Indonesia, meski tetap 
menginginkan
referendum. Tetapi referendum itu bukan untuk merdeka dan memisahkan diri dari 
Indonesia," katanya.
Sementara itu, ketika ditanya tentang usul sejumlah orang Aceh di Jakarta agar pada 
masa mendatang
gubernur tidak dipilih lagi oleh DPRD, dengan tegas Gus Dur mengatakan selama ini 
peraturan
menetapkan gubernur dipilih DPRD Tingkat I, sedangkan walikota atau bupati dipilih 
DPRD Tingkat II.
"Ubah dulu peraturannya. Itulah susahnya orang Aceh. Enggak jelas maunya," katanya.
Ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Kepala Negara dan Ibu Sinta Nuriyah disambut 
Wakil Presiden
Megawati Soekarnoputri, Menko Polkam Wiranto, serta Menko Kesra dan Penuntasan 
Kemiskinan Hamzah
Haz.
Pelanggar HAM
Sementara itu, ketika ditanya wartawan mengenai tuntutan orang Aceh agar pelaku 
pelanggaran Hak
Asasi Manusia (HAM) ditindak terutama saat diberlakukannya Daerah Operasi Militer 
(DOM) tahun
1989-98, Kepala Negara mengatakan hal itu sudah dilakukan.
"Pemeriksaan terhadap orang-orang yang disangka melakukan pelanggaran HAM sudah 
dimulai pihak TNI
dan Polri," kata Gus Dur.
Karena itu, pemerintah tidak berkeberatan jika Komisi Independen Masalah Aceh ingin 
memanggil Menko
Polkam Wiranto untuk mengajukan berbagai pertanyaan. Gus Dur tidak berniat 
menghalang-halangi
pemanggilan itu. "Kalau jujur maka akan segera terbuka. Berat untuk menutup-nutupinya 
dan juga saya
tidak mau," tegas Kepala Negara sambil mengatakan persoalan Aceh tidak bisa dibebankan 
kepada
Wiranto saja.
Gus Dur mengatakan pula bahwa tidaklah mudah untuk mencari orang-orang yang akan 
terkena tuduhan
melakukan pelanggaran HAM, karena hal itu tidak hanya dilakukan aparat militer tapi 
juga orang-orang
sipil.
Sementara itu, ketika ditanya tentang usul cendekiawan muslim Nurcholis Madjid agar 
Aceh dijadikan
modal bagi pembentukan negara federal untuk menggantikan Negara Kesatuan Republik 
Indonesia (NKRI),
sambil tersenyum Gus Dur berkata: "Itu kan pandangan Cak Nur".
Presiden mengatakan kalau ada usul untuk mengubah bentuk negara dan pemerintahan 
Indonesia, maka hal
itu harus dibicarakan terlebih dahulu dengan MPR dan DPR.
Pada hari Kamis, Nurcholis Madjid mengatakan kepada pers di Amman, Jordania bahwa 
penetapan Aceh
sebagai modal bagi pembentukan "Republik Feredal Indonesia" bisa "mengobati" luka hati 
orang Aceh
yang selama ini merasa tidak diakui peranan politiknya.
Terima Prabowo
Pada saat berada di Amman, ibu kota Jordania hari Kamis (25/11), sejumlah wartawan 
melihat mantan
Panglima Kostrad Letjen TNI Prabowo Subianto --menantu mantan Presiden Soeharto-- 
sedang berbicara
dengan beberapa pejabat Indonesia di Hotel Le Meriden.
Gus Dur mengatakan ketika ia mengunjungi Kuala Lumpur, Malaysia beberapa hari lalu, 
Prabowo
meneleponnya untuk minta waktu agar bisa menemui Presiden di Jordania.
"Dia menanyakan kepada saya apakah saya (Prabowo, red) sebaiknya pulang atau tetap 
tinggal dulu di
Jordania karena dulu saya yang minta dia agar tidak pulang dahulu," kata Gus Dur ketika
mengungkapkan pertemuannya dengan mantan Danjen Kopassus itu hari Rabu (24/11). "Kalau 
dia mau
pulang, silakan. Tapi kalau dia mau di sana dulu, juga silakan," kata Gus Dur.
Kepala Negara mengatakan pemberhentian Prabowo sebagai perwira aktif TNI-AD --walaupun 
belum saatnya
memasuki usia pensiun-- pasti merupakan tindakan yang menyakitkan hati keluarga 
Prabowo. "Kita patut
memperlakukannya sebagai manusia biasa," kata Gus Dur ketika menanggapi pertanyaan 
wartawan apakah
Prabowo perlu diadili atau tidak.
Ketika menjadi Panglima Kostrad, Prabowo pada sekitar tanggal 21 Mei 1998, 
disebut-sebut mengepung
kompleks Istana Merdeka dan rumah Presiden BJ Habibie di Jalan Kuningan, Jakarta 
Selatan.(csm/ant)
Rumah Warga Dibakar, Dua Wanita Tewas
*GAM Mengutuk

Serambi-Takengon
Kelompok provokator bersenjata kembali membakar empat rumah penduduk di Desa Panji 
Mulia II
Kecamatan Bukit, Aceh Tengah, Rabu (24/11) malam, setelah menembak kaki pemilik salah 
satu rumah
yang pertama dibakar. Dua orang wanita --Jasni (30) dan Kasmawati (20)-- kemudian 
ditemukan
meninggal dunia di sebuah rumah yang terbakar.
Kapolres Aceh Tengah, Letkol Pol Misik Natari, melalui Kasat Sersenya Lettu Drs Dean 
Marten yang
dikonfirmasi Serambi, kemarin, mengaku sedang mengusut tragedi tersebut, termasuk 
meminta keterangan
dari dua saksi yang pada malam kejadian berada di rumah salah seorang korban. "Mereka 
masih dimintai
keterangan di Mapolsek," kata Dean Marten.
Sementara Biro Penerangan GAM Wilayah Linge (Gayo), Wien Rime Raja, melalui faksimili 
yang dikirim
ke redaksi Serambi, kemarin, menyatakan keprihatinannya atas penembakan terhadap warga 
sipil serta
membakar rumah-rumah penduduk, seperti yang terjadi tanggal 24 November 1999 pukul 
20.00 yang
mengakibatkan dua orang tewas terbakar dan seorang luka tembak. "Semoga Allah SWT 
menerima
arwahnya," tulis Wien Rime Raja.
Tragedi pembakaran empat rumah di Desa Panji Mulia II itu terjadi sekitar pukul 20.30 
WIB, Rabu
malam. Dua saksi yang kala itu sedang bertamu di sebuah rumah korban mengaku melihat 
tiga orang tak
dikenal dengan membawa senjata laras panjang dan pistol, lalu membentak pemilik rumah 
dan
menembaknya pada kedua kaki.
Saksi korban kena tembak yang mengaku bernama Suryanto di RSUD Datu Beru Takengon 
kepada Serambi
mengatakan seorang kawanan itu menembak kedua kakinya dengan senjara laras panjang. 
Sedangkan kedua
tamunya yang sangat ketakutan tidak berbuat apupun dan pasrah keluar dari rumah untuk 
menyelamatkan
diri. Namun tidak dijelaskan bagaimana korban bersama dua tamunya itu bisa selamat.
Ketika mereka berada di luar rumah, kedua saksi --yang tidak disebutkan namanya-- itu 
mengaku
melihat api sudah marak. Sehingga empat unit rumah semi permanen, yang katanya, milik 
Samiran,
Dasiman, Adi, dan Yanto, yang berdempetan itu hangus. Tidak satu pun barang para 
korban yang
berhasil diselamatkan.
Baru setelah api reda, warga bersama aparat yang datang ke lokasi melakukan pencarian 
anggota
keluarga korban yang saat kejadian kucar-kacir menyelamatkan diri. Saat itu, kedua 
korban; Jasni
(30) isteri Suryanto dan Kasmawati (20) karyawan PT Geunap Meupakat yang kos di rumah 
korban,
ditemukan tewas di dalam bak mandi.
Kedua korban tewas itu sebelumnya bersembunyi di bak mandi saat Yanto ditembak orang 
tak dikenal itu
di ruang tamu. Mayat dua wanita tersebut diangkut warga untuk disemayamkan ke sebuah 
tempat.
Menurut Yanto, tiga orang yang masuk ke dalam rumahnya, masing-masing memegang senjata 
M-16, AK-47,
dan Gren. Salah seorang dapat dikenali wajahnya, kata Yanto. Seorang lagi berambut 
panjang. Suryanto
mengatakan uang kontan Rp 30 juta yang disimpan dalam lemari rumahnya ikut terbakar. 
Sedangkan satu
unit mobil kijang miliknya selamat karena waktu itu dipinjam temannya.
Sebuah rumah kosong milik Sirwan, bintara anggota Polres Aceh Tengah, di Desa 
Sukaramai Kecamatan
Bukit, juga dilaporkan hangus dibakar orang-orang tak dikenal pada Rabu malam yang 
sama.
Suasana Aceh Tengah dalam beberapa hari terakhir makin mencekam. Masyarakat sering 
dikagetkan suara
tembakan, seperti terjadi Rabu malam di beberapa tempat, antara lain kawasan Blang 
Kolak dan
Bebesen. Namun belum ada laporan tentang korban jiwa. Warga merasa takut ke luar rumah.
GAM mengutuk
Biro Penerangan GAM Wilayah Linge (Gayo) dalam pernyataan yang diteken Wien Rime Raja, 
seperti
dikirim melalui faksimili ke redaksi Serambi, kemarin, menyatakan mengutuk perbuatan 
biadab yang
membakar perkantoran dan rumah-rumah penduduk serta aksi teror yang meresahkan 
masyarakat di daerah
itu belakangan ini.
Pernyataan GAM (Acheh/Sumatra National Liberation Front) itu antara lain menyebutkan 
pihaknya telah
menemukan bukti-bukti (perlengkapan militer) serta telah menangkap seorang 
"provokator" suruhan
pihak tertentu.
GAM Wilayah Linge, katanya, tidak bertanggung jawab terhadap terjadinya pengrusakan, 
pembakaran, dan
teror, terhadap masyarakat. "Selama ini, daerah Aceh Tengah relatif aman bila 
dibandingkan daerah
lain. Namun, akhir-akhir ini cukup meresahkan masyarakat semenjak kehadiran aparat 
TNI/Polri di
lingkungan penduduk," katanya.(tim)
Tanpa Referendum takkan Ada Dialog

Serambi-Banda Aceh
Sebelum pemerintah menyetujui pelaksanaan referendum bagi rakyat Aceh dengan opsi 
berpisah atau
tetap bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sepanjang itu pula 
tak ada dialog
antara pemerintah dengan masyarakat Aceh.
Koordinator Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA), Muhammad Nazar kepada Serambi 
tadi malam,
mengatakan untuk menyelesaikan kasus Aceh sekarang ini tak ada solusi lain, kecuali 
pelaksanaan
referendum (jajak pendapat) dengan opsi, yaitu merdeka atau tetap dalan negara RI. 
Oleh karena itu,
SIRA menolak keras pernyataan pemerintah yang menyatakan akan ada dialog dengan 
tokoh-tokoh Aceh
pada 30 November nanti.
"Dialog boleh-boleh saja, tetapi setujui dulu referendum dengan mencantumkan opsi 
merdeka, dan itu
pun harus ada mediator pihak PBB atau badan lain yang yang ditunjuk," kata alumni IAIN 
Jamiah Ar-
Raniry Darussalam.
Anak muda yang berhasil menghadirkan 2 juta umat pada Sidang Umum Masyarakat Pejuang 
Referendum
(SU-MPR) 8 Nopember lalu di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, mengharapkan semua 
elemen
masyarakat Aceh tidak mudah menyebutkan dirinya tokoh lantas ingin berdialog dengan 
pemerintah.
Kepada warga Aceh terutama yang berdomisili di Jakarta, Nazar mengingatakan, jangan 
sembarangan
mengaku dirinya tokoh lantas membuka dialog dengan pemerintah. Hal ini penting 
diresapi oleh warga
Aceh di Jakarta, karena yang menerima penderitaan selama ini adalah rakyat Aceh, yang 
berdomisili di
Daerah Istimewa Aceh.
Menurut informasi dari pihak pemerintah di Jakarta bahwa pada 30 November nanti akan 
dibuka sebuah
dialog antara pemerintah dengan orang-orang yang menamakan dirinya tokoh. Mereka itu, 
katanya, ada
politisi, akademisi, ulama, mahasiswa, dan tokoh masyrakat lainnya.
Pemerintah, kata Nazar, menurut rencana akan membuka sebuah dialog dengan tokoh-tokoh 
Aceh dalam hal
pemberian otonomi khusus bagi Daerah Istimewa Aceh. "Kalau pemerintah ingin berdialog, 
yang
dibicarakan bukan mencari solusi, tetapi membicarakan kapan dan bagaimana sistem 
pelaksaan
referendum. SIRA meski pun diundang tapi tidak akan hadir, karena hal paling utama 
yang diinginkan
rakyat Aceh sekarang ini adalah persetujuan referendum," sebut Nazar yang kemarin 
hadir dalam sebuah
seminar mencari solusi Aceh di Jakarta.
Muhammad Nazar mengingatkan pemerintah dan tokoh-tokoh Aceh yang berdomisili di 
Jakarta agar tidak
lagi berbicara dan mencari solusi penyelesaian kasus Aceh dengan cara-cara lain, 
kecuali referendum.
"Katanya ada Gerakan Aceh Merdeka (GAM) akan hadir dalam dialog 30 November. GAM dari 
mana itu?"
tanya Nazar. (ism)

LP Loksukon Bobol Lagi, 45 Tahanan Lari
* Satu Pucuk Senjata Organik Ikut Dibawa Kabur
* Mobil Rental MOI Dirampas

Serambi-Lhoksukon
Lembaga Pemasyarakatan (LP) Lhoksukon, Jumat (26/11) siang kemarin, kembali bobol 
setelah peristiwa
serupa terjadi lima hari lalu. Pembobolan yang dilakukan dari luar oleh tiga pria 
bersenjata api
genggam mengakibatkan 45 napi dan tahanan lolos bersama satu pucuk senjata organik LP. 
Kesemua napi
serta tahanan tersebut, dilaporkan, dibawa kabur dengan menggunakan truk yang telah 
disiapkan di
luar penjara oleh pelaku pembobolan.
Kapolres Aceh Utara Letkol Pol Drs Syafei Aksal yang didampingi Perwira Penghubung 
Penerangan,
Kapten Pol Drs AM Kamal, ketika dikonfirmasi Serambi tadi malam mengungkapkan, 
peristiwa pembobolan
LP itu terjadi sekitar pukul 14.00 WIB.
Menurut kapolres, insiden itu bermula dari kedatangan tiga pria yang menggunakan truk. 
Dengan pistol
di tangan mereka mendekat ke pintu LP seolah-olah hendak bertamu. Ketika pintu dibuka, 
sipir
langsung ditodong dengan senjata api seraya memaksa untuk membebaskan seluruh tahanan 
dan
narapidana. Dari 46 orang yang berada di dalam penjara tersebut, hanya satu orang yang 
tersisa.
Para napi dan tahanan setelah dinaikkan ke truk, dikabarkan, dilarikan ke arah Medan. 
Pada saat
dibawa kabur, seluruh penghuni LP Lhoksukon itu merunduk sehingga tidak terlihat pada 
saat truk itu
melintasi jalan raya dan pos-pos aparat keamanan.
Sejauh ini, kapolres belum dapat menggambarkan secara gamblang menyangkut tersangka 
pelaku
pembobolan rumah tahanan tersebut. Namun, ada dugaan tindakan itu dilakukan oleh tiga 
narapidana
yang lima hari lalu melarikan diri dari LP dimaksud dengan cara merusak jeruji sel.
Dari 45 orang yang berhasil kabur atau dibawa kabur itu terdiri dari sembilan orang 
narapidana, 17
orang tahanan titipan Polri, 17 orang tahanan titipan hakim, dan dua orang tahanan 
titipan Mahkamah
Agung.
Dari Lhoksukon diperoleh informasi, pada saat aksi 'pembebasan' itu berlangsung 
sejumlah masyarakat
yang berdekatan rumah dengan LP tersebut sempat menyaksikan peristiwa itu. Namun, 
karena mereka
dikawal oleh tiga pria bersenjata api, masyarakat tidak menduga kalau napi dan tahanan 
itu dibawa
kabur. "Semula kami menduga napi itu hendak dipindahkan ke LP lain," ungkap seorang 
saksi mata.
Mobil dirampas
Sementara itu, empat jam sebelum peristiwa pembobolan LP, masyarakat Simpang Rangkaya, 
Kecamatan
tanah Luas, kembali dihebohkan oleh aksi perampasan satu unit mobil minibus L-300 BL 
911 milik PT
masyitah Karya yang direntalkan ke Mobil Oil Indonesia (MOI) Inc.
Menurut kapolres, perampasan itu dilakukan oleh tiga pria berpakaian sipil dan tidak 
menggunakan
senjata api. Sebelum dirampas, mobil itu telah diikuti oleh tiga pelaku yang 
menggunakan sepeda
motor sejak berangkat dari mengisi bahan bakar di SPBU Lhoksukon.
Saat perampasan, dikatakan kapolres, mobil itu sedang dalam perjalanan ke Poin A MOI. 
Namun, di
tengah perjalanan kawasan Simpang Rangkaya mobil dimaksud dirampas kemudian dibawa 
lari ke arah
timur. (tim)
Orang-orang Bersenjata Bobolkan Rutan Takengon
* 49 Napi Dibawa Kabur

Serambi-Takengon
Sedikitnya, 49 napi penghuni rumah tahanan (rutan) Takengon, dibawa kabur orang-orang 
tak dikenal
setelah lebih dulu menyekap sipir penjara di bawah todongan senjata, Kamis (25/11) 
malam. Selain
mengeluarkan napi, orang-orang tak dikenal itu juga membakar tiga unit sel tahanan 
hingga hangus.
Peristiwa sekitar pukul 18.00 WIB, menurut PLH Ka Rutan Takengon Ridwan Salam, pintu 
bagian depan
Rutan diketuk yang kemudian sipir Suwardi membukanya. Namun serta merta kawanan 
berjumlah tiga orang
langsung menodongkan clurit ke leher Suwardi yang kemudian menggiringnya ke dalam 
kamar. Lalu,
ketiga orang tak dikenal yang memegang senjata laras panjang menggembok kamar tersebut.
Kemudian ketiganya mengambil kunci-kunci kamar tahanan dan langsung menuju ruang 
belakang. Sambil
menyuruh para napi yang sore itu berada di dalam sel, kelompok tak dikenal itu 
menyiram sel dengan
bensin yang dibungkus dalam plastik dan membakarnya yang menyebabkan tiga sel, 
masing-masing kamar
1, 2 dan 17 hangus.
Menurut Syahbuddin, seorang napi yang saat itu bersama lima kawannya sedang shalat, 
ketika mereka
melihat orang-orang bersenjata sambil menyuruh para napi keluar rutan, mereka langsung 
lari keluar
dan bersembunyi di semak-semak untuk menghindari jika ditembak. "Di luar ada kawannya 
yang menunggu
berkendaraan sepeda motor GL Pro juga menyandang senjata, dan dua unit mobil pikap 
warna hijau,"
kata seorang napi yang mengaku tidak sempat melihat plat mobil tersebut karena sangat 
ketakutan.
Setelah para napi digiring ke luar, kelompok tak dikenal menyuruh naik ke mobil dan 
tancap gas
menuju arah barat melewati jalan Losmen Meusara. Baru setelah kelompok itu pergi, 
sejumlah napi yang
tingga kembali ke dalam rutan. Kemudian bersama dua sipir Sofyan dan Salman yang saat 
kejadian
berada di pos I, mengeluarkan Suwardi dari dalam kamar. Bersama napi, tiga sipir 
menyiram tiga sel
yang saat itu sedang terbakar.
PLH Ridwan Salam yang kembali dikonfirmasi Serambi, Jumat (26/11), dari 49 napi yang 
dibawa kabur,
21 di antaranya sudah kembali. Para napi itu ada yang diantar orangtuanya dan ada pula 
yang kembali
sendiri. Bahkan tiga napi lagi, dikabarkan sudah menelepon ke Rutan yang minta 
dijemput petugas
karena takut mendapat ancaman.
Menurut PLH Ridwan Salam, napi yang saat ini menghuni Rutan Takengon berjumlah 55 
orang yang 90
persen terlibat kasus ganja, selebihnya pencurian, perkosaan dan pembunuhan. Umumnya 
masa hukuman
mereka sudah terhitung bulanan, kecuali beberapa napi yang masih menjalani hukuman 
lama yaitu M
Janen (5 tahun) dan Amiruddin (6 tahun).(tim)
--------------------------------------------
Dirilis dari Serambi Indonesia Online

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Nov 1999 jam 02:44:05 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke