---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 ---------------------------------------------------------- Rilis Serambi Minggu, 28 Nopember 1999 Insiden di Lamtamot Satu Tewas, Empat Cedera Serambi-Banda Aceh Insiden berdarah terjadi di kawasan Desa Lamtamot, Kecamatan Seulimuen, Aceh Besar, Sabtu (27/11) malam. Dalam peristiwa itu jatuh korban satu orang tewas, dan empat lainnya cedera --termasuk seorang anggota TNI yang bertugas di Kodim Pidie. Berkembang dua versi tentang asal mula insiden ini. Tiga warga penduduk Seulimuen yang mengaku menyaksikan peristiwa itu kepada redaksi Serambi via telepon mengatakan, insiden itu bermula dari pemberondongan aparat terhadap rombongan massa yang akan menghadiri ceramah GAM. "Memang malam ini (Sabtu malam, red.) ada ceramah GAM di Lamtamot," kata seorang penelepon. Dua warga yang menelepon Serambi lainnya, juga memberikan keterangan hampir senada. Tapi, dari sumber aparat keamanan, mengatakan peristiwa itu bermula ketika massa melakukan sweeping di jalan raya Banda Aceh-Medan, kawasan Lamtamot. Salah satu kendaraan yang terkena sweeping adalah mobil kijang yang kebetulan "berisi" enam anggota TNI dari kesatuan Kodim Pidie. "Mereka (anggota TNI, red.) itu dalam perjalanan menuju Banda Aceh, karena salah seorang dari mereka ingin menjenguk keluarganya yang sakit di Banda Aceh," kata Dandim 0101 Banda Aceh, Letkol Inf Ferdinan S, tadi malam kepada Serambi. Menurut Dandim, saat penghadangan yang terjadi sekitar pukul 19.30 WIB itu, terjadi keributan antara massa yang melakukan sweeping dengan keenam anggota TNI itu. Bahkan salah seorang dari mereka, Serda Suaidi, dibacok massa sehingga mengalami luka serius. Menyaksikan temannya mendapatkan perlakuan demikian, kelima anggota Kodim Pidie yang lain lari menyelamatkan diri ke arah Saree sembari melepaskan tembakan. Dalam keadaan yang demikianlah jatuh korban di kalangan warga empat orang, satu di antaranya meninggal dunia. "Anggota melepaskan tembakan untuk melindungi keselamatan diri," kata Letkol Ferdinand. Menurut sumber di RSUZA Banda Aceh dan Puskesmas Seulimuem keempat warga yang terkena tembakan masing-masing Niazi, Basri, Sabri, dan Marzuki. Nama yang terakhir, bahkan meninggal dunia. Menurut sumber dari pihak medis, Marzuki (30) --penduduk Lamkubu Panca-- mengalami luka tembak di tangan, dan bagian kepala mengalami luka bacok. Tak didapat kejelasan mengenai luka bacok yang dialami Marzuki. Sedangkan tiga korban yang mengalami cedera, tadi malam dibawa ke RSUZA. Salah seorang dari korban itu ketika ditanya Serambi tadi malam mengatakan bahwa benar ada penyetopan kendaraan oleh massa di kawasan Lamtamot itu. Menurutnya, massa melihat sebuah mobil Kijang yang jalan perlahan tak jauh di belakang sebuah minibus (L300) dengan keadaan mati mesin. "Karena keadaan jalan menurun, mobil itu jalan perlahan. Tapi begitu mobil dihentikan dengan cara menahan di depan, warga tak melihat satu orang pun di dalam. Tak lama kemudian terdengar tembakan. Barangkali penumpang mobil kijang itu turun begitu melihat warga ramai-ramai di jalan," seorang korban hidup yang minta namanya tak disebutkan. Masih menurutnya, setelah melakukan pemberondongan, orang-orang bersenjata itu menghilang di kegelapan malam. Meskipun masyarakat melakukan pencarian, katanya, tapi mereka belum menemukannya hingga tengah malam tadi. Tetapi, lelaki yang mengalami luka tembak itu tak menceritakan tentang pembacokan yang dialami Serda Suaidi. Menurut masyarakat di Seulimuem, mobil Kijang itu saat ini telah diamankan warga sekitar. Dalam bobil tersebut, masyarakat mengaku menemukan dua kotak peluru, dan beberapa plat BL. 50 orang Menurut Letkol Inf Ferdinan, ketika terkena sweeping, Serda Suaidi dikerubungi oleh sekitar 50 orang. Tak lama kemudian ia dibacok, dan mengalami luka di punggung sebelah kanan, jari tangan kiri dan kanan. Ketika insiden itu terjadi, teman-temannya lari menyelamatkan diri dengan melepaskan tembakan. Dijelaskan Ferdinan, ketika massa terkonsentrasi untuk mengejar anggota TNI yang meloloskan diri itu, Serda Suaidi bangkit dan dengan sisa tenaga yang ada ia melarikan diri ke arah Seulimuem dengan melepaskan beberapa kali tembakan untuk melindungi diri secara tidak menentu. Suaidi, katanya, ditolong salah satu mobil yang melintas hingga ia sampai ke Seulimuem. Sampai pukul 22.00 WIB tadi malam, Serda Sua- idi masih dirawat di pos kesehatan Seulimuem. Sedangkan kelima teman Suaidi sampai pukul 22.00 WIb tadi malam juga belum diketahui nasibnya. Demikian juga dengan kendaraan roda empat yang digunakan mereka yang telah dikuasai massa. (tim) Di Meulaboh:Puluhan Ribu Massa Tuntut Lepas Tahanan *Seorang Ditemukan Meninggal *Aparat Mengaku tak Menangkap Serambi-Banda Aceh Puluhan ribu massa dari berbagai kecamatan di Aceh Barat, Sabtu (27/11) siang, berkumpul di Masjid Annur Kelurahan Drien Rampak Meulaboh. Mereka mempertanyakan keberadaan sepuluh warga sipil yang disebut-sebut ditahan di Makodim Aceh Barat, dan minta agar dilepaskan. Massa yang datang dengan truk, minibus dan sepeda motor itu memasuki Kota Meulaboh sekitar pukul 12.00 WIB. Mereka disambut Bupati Drs Nasruddin MSi, Tugub Wil III Drs H Zulkarnein Djakfar, Ketua DPRD Drs Sofyan S Sawang, Ketua MUI Tgk H Sayed Abbas Hasyim, Ketua LAKA HT Al Amin Khan, para anggota dewan dan sejumlah camat yang sudah menunggu di masjid yang berlokasi di kawasan Simpang Peut Rundeng itu. Puluhan ribu massa itu memasuki Kota Meulaboh dengan tertib dan mendapat sambutan meriah dari masyarakat di sepanjang jalan. Ketika tiba di komplek Masjid Annur, massa yang diwakili utusannya yakni dari wilayah Seunagan Raya, Kaway XVI dan Teunom menyampaikan maksud kedatangan mereka ke Meulaboh adalah untuk menanyakan keberadaan sepuluh orang warga sipil yang hilang beberapa waktu lalu. Melalui juru bicaranya Drs Tgk Haramen Nuriqmar dan Tgk Mahmuddin, massa meminta Bupati Drs Nasruddin MSi, Ketua DPRD Drs Sofyan S Sawang, unsur Barmas Raya, Kagempar, taliban dan wakil masyarakat untuk menemui Dandim Aceh Barat Letkol Widhagdo menanyakan keberadaan sepuluh warga yang dilaporkan hilang itu. Kesepuluh warga yang dipertanyakan itu masing-masing Yusmaidir, Banta Usman penduduk Kecamatan Kuala, Janiban (Sungaimas), Ahmad Bruk (Patek Kecamatan Sampoiniet), Mustajab, Dien Raja Kuneng, Usman Utoh, M Ali, Jakfar Panga dan M Nur Husen (semua warga Kecamatan Teunom). Kepada Bupati Drs Nasruddin MSi, Ketua DPRD Drs Sofyan S Sawang, pimpinan pesatren Serambi Aceh Tgk Mahmuddin dan anggota rambongan lainnya, Dandim Letkol Widhagdo menyatakan dari sepuluh warga yang dipertanyakan itu hanya tiga orang yang ada ditahan yakni Janiban, Djakfar Panga, dan Ahmad Bruk. Mengenai keberadaan tujuh lainnya, Dandim mengaku tidak tahu dan tidak pernah menangkap mereka. Untuk membuktikan ada tidaknya masyarakat yang dipertanyakan itu, Dandim mempersilakan utusan masyarakat termasuk bupati dan ketua DPRD untuk memeriksa sel tahanan Makodim. Ternyata setelah diperiksa hanya ada tiga orang di dalam tahanan. Sesuai permintaan massa, Dandim bersedia melepaskan mereka yang ditahan. Tapi, yang bersangkutan menolak. Hasil pertemuan dengan Dandim selanjutnya disampaikan oleh juru bicara Drs Tgk Haramen di dua lokasi yakni Simpang Kisaran dan Masjid Annur Keluruhan Drien Rampak. Bersamaan dengan penyampaian hasil pertemuan dengan Dandim, massa mendapat laporan tentang penemuan korban penembakan di jembatan Lamie Kecamatan Darul Makmur yang terjadi Rabu (24/11) malam. Ternyata mayat yang ditemukan di Krueng Lamie, Sabtu (27/11) siang itu adalah Tgk Yusmaidir penduduk Desa Simpang Peut Kuala yang disebut-sebut ditangkap Rabu (24/11) sore di Meulaboh. Korban adalah salah seorang dari sepuluh warga yang dipertanyakan kepada Dandim. Mendapat informasi itu massa langsung bubar. Bersama bupati, ketua DPRD Aceh Barat massa bertolak dari Meulaboh ke rumah duka yang berlokasi di Desa Keude Simpang Peut. Koordinator Barmas Raya, Zulaidi Sjah SAg mengutuk aksi pembunuhan terhadap Yusmaidir. Menurutnya, sewaktu ditemukan jenazah korban langsung diselimuti dengan bendera AM dan langsung dibawa pulang ke rumahnya di Desa Kabu Kecamatan Seunagan. Tadi malam korban dikebumikan di desa itu. "Di bagian kepala korban ditemukan luka tembak," kata Zulaidi Sjah. (tim) GAM Imbau Masyarakat Lawan Perampas Mobil Serambi-Lhokseumawe Staf Biro Penerangan GAM Wilayah Pasee, Abu Sabar, mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menangkal aksi perampasan mobil dengan modus operandi meminjam dan membawa-bawa nama GAM. "Kita tidak pernah memaksa dan merampas harta orang lain. Kalau ada yang berbuat begitu dan mengaku dirinya GAM, masyarakat tak perlu takut untuk melawan," kata Abu Sabar kepada Serambi, Sabtu (27/11) pagi. Sementara itu, Sabtu malam, Serambi menerima faksimili pernyataan bersama pimpinan senior GAM di Kualalumpur, Malaysia. Salah satu butir dari empat pernyataan yang ditandatangani oleh Dr Husaini Hasan, Tgk M Daud Husin, Tgk Idris Machmud, dan Tgk Abdullah Krueng itu menyatakan mendukung sepenuhnya keputusan dan kebijakan panglima dan komandan operasi wilayah tentang aktivitas syukuran dalam rangka menyambut HUT GAM ke-23 pada 4 Desember mendatang. Ternoda Abu Sabar mengatakan tindakan perampasan kendaraan bermotor (sepeda motor dan mobil) merupakan ulah pihak yang menginginkan perjuangan Aceh Merdeka ternoda dan jelek di mata masyarakat. Karenanya, ia menganjurkan masyarakat untuk bersatu padu menjaga lingkungan tempat tinggalnya untuk menangkal sekaligus memberantas tindak- tindak perampasan mobil dan pemerasan. Selaras dengan pernyataan itu ia meminta para pejabat dan pengusaha di Wilayah Pasee untuk tidak perlu takut apalagi sampai eksodus karena khawatir akan dirampas harta bendanya. "Kalau ada pejabat dan pengusaha yang ikut-ikutan eksodus dalam kondisi Aceh seperti sekarang, itu sungguh tidak etis. Kita meragukan keacehannya. Sebab, tidak ada alasan bagi mereka untuk meninggalkan Aceh," ungkap Abu Sabar. Menjawab pertanyaan mengenai adanya ancaman dan teror yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya GAM, Abu Sabar menandaskan, bahwa dalam platform perjuangan GAM tidak ada istilah mengancam untuk menegakkan perjuangan. "Kalau itu ada, maka itu pengkhianat dan bisa jadi musuh kita," katanya. Apalagi bila ada yang mengancam dan menakut-nakuti wartawan. "Itu jelas-jelas bukan kerjaannya GAM. Kita telah menempatkan wartawan sebagai mitra. Jadi sangat tidak mungkin kalau GAM justru ingin mengacaukan ketenangan bekerja wartawan sebagai mitranya. Itu kerjanya orang-orang yang mengaku-ngaku diri sebagai GAM tapi pada hakikatnya dia adalah musuh perjuangan GAM," tegas Abu Sabar. Di akhir pembicaraan, Abu Sabar kembali mengingatkan pengusaha dan pejabat serta orang-orang Aceh untuk tidak perlu eksodus menjelang peringatan HUT ke 23 GAM, 4 Desember mendatang. "Bila ada yang mengatakan bahwa pada hari itu akan terjadi kekacauan besar, maka itu merupakan isu yang dihembuskan musuh-musuh GAM untuk menimbulkan rasa tidak aman di Aceh," kata Abu Sabar. Seruan Selain mendukung syukuran HUT ke-23, pimpinan senior GAM di Kualalumpur juga mengatakan menolak sembarang usaha untuk mengadakan dialog di Jakarta atau di Aceh antara RI dengan GAM maupun antara RI dengan komponen masyarakat Aceh lainnya. Karena kata mereka, kini ada usaha serius dari PBB yang sedang dijalankan di Genewa (Swiss) untuk mengadakan perundingan tingkat tinggi antara GAM bersama komponen masyarakat Aceh lainnya dengan Republik Indonesia. Selain itu, pimpinan senior itu menyatakan mendukung sepenuhnya posisi dan peran Teuku Don Zulfahri sebagai Sekjen GAM. Selain mengeluarkan pernyataan, keempat pimpinan GAM di Kualalumpur juga mengeluarkan seruan kepada rakyat Aceh agar tenang dan tabah. "Kami menyerukan agar masyarakat merapatkan barisan dan jangan terpengaruh dengan konflik dan isu, termasuk konflik di dalam tubuh GAM. Masalah di tubuh GAM adalah persoalan pimpinan yang berbeda pendapat dalam pelaksanaan dan cara menuju Aceh Merdeka," kata mereka.(tim) Gus Dur Ajak Nur Misuari ke Aceh Serambi-Manila Presiden Abdurrahman Wahid, Sabtu (27/11), mengatakan akan mengajak pimpinan muslim Moro-Filipina, Nur Misuari ke Aceh untuk bertemu dengan tokoh-tokoh Aceh. "Kami perlu mengundang Misuari bertemu dengan masyarakat Aceh sehingga mereka tahu bahwa menjadi muslim yang baik tidak harus mendirikan negara Islam," katanya pada sebuah konferensi pers, di Manila. Gus Dur berada di Filipina dalam rangka pertemuan KTT informal ke-3 ASEAN. Selain Misuari, Gus Dur juga merencanakan mengundang Hasyim Salamat, Ketua Front Pembebasan Muslim Moro (MILF) datang ke Indonesia. "Sebelumnya kami berencana bertemu dalam perjalanan pulang dari Manila ke Mindanoa, namun gagal karena dia tidak bisa keluar dari hutan," katanya. Meski tidak bertemu dengan Salamat, ia telah memberitahu Presiden Filipina Joseph Estrada bahwa dia telah meminta kedubes Indonesia mengundang Hasyim Salamat dan Nur Misuari segera datang ke Indonesia. "Jika mereka datang, saya akan berikan akomodasi di Gedung Tamu Negara," katanya. Diharapkan, Hasyim Salamat akan melihat sendiri kehidupan muslim di Indonesia. "Kami perlu mengirim Misuari ke Aceh bertemu dengan masyarakat Aceh sehingga mereka faham bahwa untuk menjadi seorang muslim yang baik tidak perlu harus membentuk negara Islam," katanya. Ketika ditanyakan kapan Gus Dur mengunjungi Aceh, Gus Dur menjawab tidak perlu terburu-buru. "Saya tahu pasti situasi di Aceh." Menyinggung tuntutan referendum di Aceh, ia mengutarakan seharusnya otonomi luas bukan kemerdekaan. "Otonomi luas akan meliputi pelaksanaan hukum syariah Islam jika mereka menerimanya," katanya.(ant/r) Dua Warga Perancis Tewas Diseruduk Truk Serambi-Banda Aceh Dua warga Perancis Vincent Cueschaoi (28) dan Pompac Williem (28), tewas dalam kecelakaan lalu lintas di Banda Aceh, Sabtu. Kedua warga Perancis yang datang ke Banda Aceh sebagai wisatawan itu, sekitar pukul 18.00 WIB sedang mengendarai sepeda motor Yamaha RXZ BL 5097 LD dari arah kota menuju penginapan (home stay) Namploh di kawasan wisata Lhoknga, Aceh Besar. Setibanya di kawasan Ajuen beberapa meter menjelang Simpang Rima Kecamatan Peukan Bada Aceh Besar, sepeda motor yang dikendarai kedua turis itu bertabrakan dengan truk pasir BL 8621 L yang dikemudikan Erdi warga Lamgarot Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Kedua warga Perancis itu itupun sempat digilas truk, hingga mengalami luka parah. Bahkan kedua laki-laki itu tewas mengenaskan di tempat kejadian. Vincent, selain batok kepalanya pecah, juga tubuhnya remuk. Demikian juga dengan Pompac Williem, kondisinya juga cukup menyedihkan. Hingga berita ini dibuat, kedua mayat korban masih disemayamkan di RSU-ZA Banda Aceh. Belakangan diketahui, warga Perancis itu telah tiga Minggu berada di Lhoknga. Dari data yang diperoleh di Polres Aceh Besar, Vincent merupakan sebagai salah seorang fotografer. Sedangkan Pompac sampai tadi malam belum diketahui identitasnya. Kadispen Polda Aceh, Mayor Pol. Said Husaini yang dikonfirmasi, membenarkan adanya korban kecelakaan lalu lintas yang merenggut kedua warga Perancis tersebut. Namun, ia belum mendapat informasi lebih rinci tentang indentitas kedua korban, termasuk asal kota korban di Perancis. "Petugas polisi sedang mengumpulkan data korban. Mungkin besok (Minggu) baru bisa diketahui secara lengkap," tambahnya.(mis/ant) KSAD: Penyelesaian Masalah Aceh Jangan Gegabah Serambi-Denpasar Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Subagyo HS, mengatakan kemampuan menjaga semangat kebersamaan dan berpikir jernih dapat menyelesaikan berbagai masalahan kebangsaan seperti yang terjadi di Aceh, Ambon, dan Irian Jaya. Hal itu dikatakan orang nomor satu di TNI-AD itu saat menjawab pertanyaan wartawan tentang masalah Aceh seusai melantik Pangdam IX/Udayana dari pejabat lama Mayjen TNI Adam R Damiri kepada pejabat baru Mayjen TNI Kiki Syahnakri di Denpasar, Sabtu (27/11). Kepada dia juga ditanyakan tentang sikap TNI-AD dalam hal pemberlakukan darurat militer. Katanya, keputusan untuk itu masih menunggu situasi dan kondisi di Aceh, sehingga penyelesaian masalah Aceh dapat benar-benar dilakukan dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan ancaman perpecahan bangsa yang lebih luas. "Kita lihat dulu perkembangan situasi dan kondisi terakhir di Aceh, apakah perlu pemberlakukan darurat militer atau tidak, karena penyelesaian di Aceh harus benar-benar dipikirkan secara sungguh-sungguh jangan gegabah," kata Subagyo HS. Ia mengemukakan, yang penting saat ini adalah tetap menjaga semangat kebersamaan untuk dapat berpikir jernih dalam semangat persatuan dan kesatuan untuk menyelesaikan berbagai masalah seperti di Aceh, Ambon dan Irian Jaya. Kesadaran berbangsa dan bernegara dalam kerangka persatuan dan kesatuan ditingkatkan dan dimantapkan, agar segala permasalahan seperti Aceh, Ambon dan Irian Jaya dapat diselesaikan secara jernih, sehingga tidak perlu lagi ada pengerahan kekuatan yang mengarah kepada kekerasan seperti pemberlakukan darurat militer. "Kalau bisa, penyelesaian di Aceh dan seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dapat diselesaikan secara jernih dengan prinsip kebersamaan sebagai satu saudara yang berada dalam wilayah kesatuan Republik Indonesia, sehingga tidak perlu ada pemberlakuan darurat militer," ujar KASAD. Ditanya parameter yang digunakan TNI untuk memberlakukan darurat militer di Aceh atau wilayah lain di Indonesia, Subagyo menegaskan, bukan masalah diperlakukan atau tidak, tetapi yang penting jika semua mempunyai kesadaran dan berpikir jernih untuk melihat dan menangkap segala persoalan yang terjadi, maka segala sesuatu akan menjadi mudah untuk menyelesaikannya. Dialogis Dalam amanatnya pada acara serah terima itu, Subagyo mengatakan untuk mengatasi berbagai permasalahan bangsa termasuk ancaman disintegrasi, diperlukan komunikasi dialogis dan kemanunggalan sejati antara TNI dengan rakyat dalam suasana keterbukaan dan kebebasan yang bertanggungjawab. "Melalui budaya dialogis dan kerjasama yang positif antara TNI dan rakyat serta seluruh komponen bangsa, maka kita akan mampu menghilangkan berbagai hambatan psikologis diantara sesama komponen bangsa secara bersama-sama," katanya. Menurutnya, dengan dialog dan kemanunggalan itu, penyaluran aspirasi masyarakat dapat ditata dengan tertib sesuai mekanisme yang disepakati serta berada dalam koridor konstitusi. Dengan demikian, lanjut KSAD, setiap permasalahan yang dihadapi bangsa dapat diselesaikan secara bersama-sama berdasarkan pemikiran yang jernih dan tidak emosional, disamping terus dikembangkan kemampuan menalar yang logis dan sistematis untuk menghadapi berbagai tantangan di masa datang. "Dengan kemampuan seperti itu, jajaran TNI mampu membaca secara cermat dan kritis setiap fenomena yang terjadi berikut kecenderungannya, sehingga setiap permasalahan dapat dikenali akar dan aktor penyebabnya secara dini, sehingga dapat diselesaikan secara cepat, tepat dan tuntas" ujar Subagyo. Berkaitan dengan hal itu, seluruh jajaran TNI dapat menjalin kerjasama yang erat dan saling menghormati secara proporsional dan profesional dengan instansi lintas sektoral, pemuka agama, tokoh masyarakat dengan dilandasi semangat kemanunggalan TNI-rakyat. Jenderal Subagyo mengemukakan, kemanunggalan TNI dan rakyat merupakan bentuk sinergi yang positif, yang memiliki daya tahan tinggi untuk mengatasi segala bentuk ancaman. Oleh karenanya, kemanunggalan tersebut dapat senantiasa dimantapkan dan ditumbuhkembangkan. "Untuk mewujudkan kemanunggalan tersebut, maka TNI harus mampu tampil menjadi sosok prajurit yang disegani, dicintai serta mampu menjadi pengayom dan pelindung masyarakat," kata KSAD.(ant) ----------------------------------------------------------- ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 29 Nov 1999 jam 02:47:23 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
