----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

Rilis Serambi Minggu, 28 Nopember 1999
Insiden di Lamtamot
Satu Tewas, Empat Cedera

Serambi-Banda Aceh
Insiden berdarah terjadi di kawasan Desa Lamtamot, Kecamatan Seulimuen, Aceh Besar, 
Sabtu (27/11)
malam. Dalam peristiwa itu jatuh korban satu orang tewas, dan empat lainnya cedera 
--termasuk
seorang anggota TNI yang bertugas di Kodim Pidie.
Berkembang dua versi tentang asal mula insiden ini. Tiga warga penduduk Seulimuen yang 
mengaku
menyaksikan peristiwa itu kepada redaksi Serambi via telepon mengatakan, insiden itu 
bermula dari
pemberondongan aparat terhadap rombongan massa yang akan menghadiri ceramah GAM. 
"Memang malam ini
(Sabtu malam, red.) ada ceramah GAM di Lamtamot," kata seorang penelepon. Dua warga 
yang menelepon
Serambi lainnya, juga memberikan keterangan hampir senada.
Tapi, dari sumber aparat keamanan, mengatakan peristiwa itu bermula ketika massa 
melakukan sweeping
di jalan raya Banda Aceh-Medan, kawasan Lamtamot. Salah satu kendaraan yang terkena 
sweeping adalah
mobil kijang yang kebetulan "berisi" enam anggota TNI dari kesatuan Kodim Pidie. 
"Mereka (anggota
TNI, red.) itu dalam perjalanan menuju Banda Aceh, karena salah seorang dari mereka 
ingin menjenguk
keluarganya yang sakit di Banda Aceh," kata Dandim 0101 Banda Aceh, Letkol Inf 
Ferdinan S, tadi
malam kepada Serambi.
Menurut Dandim, saat penghadangan yang terjadi sekitar pukul 19.30 WIB itu, terjadi 
keributan antara
massa yang melakukan sweeping dengan keenam anggota TNI itu. Bahkan salah seorang dari 
mereka, Serda
Suaidi, dibacok massa sehingga mengalami luka serius.
Menyaksikan temannya mendapatkan perlakuan demikian, kelima anggota Kodim Pidie yang 
lain lari
menyelamatkan diri ke arah Saree sembari melepaskan tembakan. Dalam keadaan yang 
demikianlah jatuh
korban di kalangan warga empat orang, satu di antaranya meninggal dunia. "Anggota 
melepaskan
tembakan untuk melindungi keselamatan diri," kata Letkol Ferdinand.
Menurut sumber di RSUZA Banda Aceh dan Puskesmas Seulimuem keempat warga yang terkena 
tembakan
masing-masing Niazi, Basri, Sabri, dan Marzuki. Nama yang terakhir, bahkan meninggal 
dunia. Menurut
sumber dari pihak medis, Marzuki (30) --penduduk Lamkubu Panca-- mengalami luka tembak 
di tangan,
dan bagian kepala mengalami luka bacok. Tak didapat kejelasan mengenai luka bacok yang 
dialami
Marzuki. Sedangkan tiga korban yang mengalami cedera, tadi malam dibawa ke RSUZA.
Salah seorang dari korban itu ketika ditanya Serambi tadi malam mengatakan bahwa benar 
ada
penyetopan kendaraan oleh massa di kawasan Lamtamot itu. Menurutnya, massa melihat 
sebuah mobil
Kijang yang jalan perlahan tak jauh di belakang sebuah minibus (L300) dengan keadaan 
mati mesin.
"Karena keadaan jalan menurun, mobil itu jalan perlahan. Tapi begitu mobil dihentikan 
dengan cara
menahan di depan, warga tak melihat satu orang pun di dalam. Tak lama kemudian 
terdengar tembakan.
Barangkali penumpang mobil kijang itu turun begitu melihat warga ramai-ramai di 
jalan," seorang
korban hidup yang minta namanya tak disebutkan.
Masih menurutnya, setelah melakukan pemberondongan, orang-orang bersenjata itu 
menghilang di
kegelapan malam. Meskipun masyarakat melakukan pencarian, katanya, tapi mereka belum 
menemukannya
hingga tengah malam tadi. Tetapi, lelaki yang mengalami luka tembak itu tak 
menceritakan tentang
pembacokan yang dialami Serda Suaidi.
Menurut masyarakat di Seulimuem, mobil Kijang itu saat ini telah diamankan warga 
sekitar. Dalam
bobil tersebut, masyarakat mengaku menemukan dua kotak peluru, dan beberapa plat BL.
50 orang
Menurut Letkol Inf Ferdinan, ketika terkena sweeping, Serda Suaidi dikerubungi oleh 
sekitar 50
orang. Tak lama kemudian ia dibacok, dan mengalami luka di punggung sebelah kanan, 
jari tangan kiri
dan kanan. Ketika insiden itu terjadi, teman-temannya lari menyelamatkan diri dengan 
melepaskan
tembakan.
Dijelaskan Ferdinan, ketika massa terkonsentrasi untuk mengejar anggota TNI yang 
meloloskan diri
itu, Serda Suaidi bangkit dan dengan sisa tenaga yang ada ia melarikan diri ke arah 
Seulimuem dengan
melepaskan beberapa kali tembakan untuk melindungi diri secara tidak menentu.
Suaidi, katanya, ditolong salah satu mobil yang melintas hingga ia sampai ke 
Seulimuem. Sampai pukul
22.00 WIB tadi malam, Serda Sua- idi masih dirawat di pos kesehatan Seulimuem. 
Sedangkan kelima
teman Suaidi sampai pukul 22.00 WIb tadi malam juga belum diketahui nasibnya. Demikian 
juga dengan
kendaraan roda empat yang digunakan mereka yang telah dikuasai massa. (tim)
Di Meulaboh:Puluhan Ribu Massa Tuntut Lepas Tahanan
*Seorang Ditemukan Meninggal
*Aparat Mengaku tak Menangkap
Serambi-Banda Aceh
Puluhan ribu massa dari berbagai kecamatan di Aceh Barat, Sabtu (27/11) siang, 
berkumpul di Masjid
Annur Kelurahan Drien Rampak Meulaboh. Mereka mempertanyakan keberadaan sepuluh warga 
sipil yang
disebut-sebut ditahan di Makodim Aceh Barat, dan minta agar dilepaskan.
Massa yang datang dengan truk, minibus dan sepeda motor itu memasuki Kota Meulaboh 
sekitar pukul
12.00 WIB. Mereka disambut Bupati Drs Nasruddin MSi, Tugub Wil III Drs H Zulkarnein 
Djakfar, Ketua
DPRD Drs Sofyan S Sawang, Ketua MUI Tgk H Sayed Abbas Hasyim, Ketua LAKA HT Al Amin 
Khan, para
anggota dewan dan sejumlah camat yang sudah menunggu di masjid yang berlokasi di 
kawasan Simpang
Peut Rundeng itu.
Puluhan ribu massa itu memasuki Kota Meulaboh dengan tertib dan mendapat sambutan 
meriah dari
masyarakat di sepanjang jalan. Ketika tiba di komplek Masjid Annur, massa yang 
diwakili utusannya
yakni dari wilayah Seunagan Raya, Kaway XVI dan Teunom menyampaikan maksud kedatangan 
mereka ke
Meulaboh adalah untuk menanyakan keberadaan sepuluh orang warga sipil yang hilang 
beberapa waktu
lalu.
Melalui juru bicaranya Drs Tgk Haramen Nuriqmar dan Tgk Mahmuddin, massa meminta 
Bupati Drs
Nasruddin MSi, Ketua DPRD Drs Sofyan S Sawang, unsur Barmas Raya, Kagempar, taliban 
dan wakil
masyarakat untuk menemui Dandim Aceh Barat Letkol Widhagdo menanyakan keberadaan 
sepuluh warga yang
dilaporkan hilang itu.
Kesepuluh warga yang dipertanyakan itu masing-masing Yusmaidir, Banta Usman penduduk 
Kecamatan
Kuala, Janiban (Sungaimas), Ahmad Bruk (Patek Kecamatan Sampoiniet), Mustajab, Dien 
Raja Kuneng,
Usman Utoh, M Ali, Jakfar Panga dan M Nur Husen (semua warga Kecamatan Teunom).
Kepada Bupati Drs Nasruddin MSi, Ketua DPRD Drs Sofyan S Sawang, pimpinan pesatren 
Serambi Aceh Tgk
Mahmuddin dan anggota rambongan lainnya, Dandim Letkol Widhagdo menyatakan dari 
sepuluh warga yang
dipertanyakan itu hanya tiga orang yang ada ditahan yakni Janiban, Djakfar Panga, dan 
Ahmad Bruk.
Mengenai keberadaan tujuh lainnya, Dandim mengaku tidak tahu dan tidak pernah 
menangkap mereka.
Untuk membuktikan ada tidaknya masyarakat yang dipertanyakan itu, Dandim mempersilakan 
utusan
masyarakat termasuk bupati dan ketua DPRD untuk memeriksa sel tahanan Makodim. 
Ternyata setelah
diperiksa hanya ada tiga orang di dalam tahanan. Sesuai permintaan massa, Dandim 
bersedia melepaskan
mereka yang ditahan. Tapi, yang bersangkutan menolak.
Hasil pertemuan dengan Dandim selanjutnya disampaikan oleh juru bicara Drs Tgk Haramen 
di dua lokasi
yakni Simpang Kisaran dan Masjid Annur Keluruhan Drien Rampak. Bersamaan dengan 
penyampaian hasil
pertemuan dengan Dandim, massa mendapat laporan tentang penemuan korban penembakan di 
jembatan Lamie
Kecamatan Darul Makmur yang terjadi Rabu (24/11) malam.
Ternyata mayat yang ditemukan di Krueng Lamie, Sabtu (27/11) siang itu adalah Tgk 
Yusmaidir penduduk
Desa Simpang Peut Kuala yang disebut-sebut ditangkap Rabu (24/11) sore di Meulaboh. 
Korban adalah
salah seorang dari sepuluh warga yang dipertanyakan kepada Dandim. Mendapat informasi 
itu massa
langsung bubar. Bersama bupati, ketua DPRD Aceh Barat massa bertolak dari Meulaboh ke 
rumah duka
yang berlokasi di Desa Keude Simpang Peut.
Koordinator Barmas Raya, Zulaidi Sjah SAg mengutuk aksi pembunuhan terhadap Yusmaidir. 
Menurutnya,
sewaktu ditemukan jenazah korban langsung diselimuti dengan bendera AM dan langsung 
dibawa pulang ke
rumahnya di Desa Kabu Kecamatan Seunagan. Tadi malam korban dikebumikan di desa itu. 
"Di bagian
kepala korban ditemukan luka tembak," kata Zulaidi Sjah. (tim)
GAM Imbau Masyarakat Lawan Perampas Mobil

Serambi-Lhokseumawe
Staf Biro Penerangan GAM Wilayah Pasee, Abu Sabar, mengajak seluruh masyarakat untuk 
bersama-sama
menangkal aksi perampasan mobil dengan modus operandi meminjam dan membawa-bawa nama 
GAM.
"Kita tidak pernah memaksa dan merampas harta orang lain. Kalau ada yang berbuat 
begitu dan mengaku
dirinya GAM, masyarakat tak perlu takut untuk melawan," kata Abu Sabar kepada Serambi, 
Sabtu (27/11)
pagi.
Sementara itu, Sabtu malam, Serambi menerima faksimili pernyataan bersama pimpinan 
senior GAM di
Kualalumpur, Malaysia. Salah satu butir dari empat pernyataan yang ditandatangani oleh 
Dr Husaini
Hasan, Tgk M Daud Husin, Tgk Idris Machmud, dan Tgk Abdullah Krueng itu menyatakan 
mendukung
sepenuhnya keputusan dan kebijakan panglima dan komandan operasi wilayah tentang 
aktivitas syukuran
dalam rangka menyambut HUT GAM ke-23 pada 4 Desember mendatang.
Ternoda
Abu Sabar mengatakan tindakan perampasan kendaraan bermotor (sepeda motor dan mobil) 
merupakan ulah
pihak yang menginginkan perjuangan Aceh Merdeka ternoda dan jelek di mata masyarakat. 
Karenanya, ia
menganjurkan masyarakat untuk bersatu padu menjaga lingkungan tempat tinggalnya untuk 
menangkal
sekaligus memberantas tindak- tindak perampasan mobil dan pemerasan.
Selaras dengan pernyataan itu ia meminta para pejabat dan pengusaha di Wilayah Pasee 
untuk tidak
perlu takut apalagi sampai eksodus karena khawatir akan dirampas harta bendanya. 
"Kalau ada pejabat
dan pengusaha yang ikut-ikutan eksodus dalam kondisi Aceh seperti sekarang, itu 
sungguh tidak etis.
Kita meragukan keacehannya. Sebab, tidak ada alasan bagi mereka untuk meninggalkan 
Aceh," ungkap Abu
Sabar.
Menjawab pertanyaan mengenai adanya ancaman dan teror yang dilakukan oleh orang-orang 
yang mengaku
dirinya GAM, Abu Sabar menandaskan, bahwa dalam platform perjuangan GAM tidak ada 
istilah mengancam
untuk menegakkan perjuangan. "Kalau itu ada, maka itu pengkhianat dan bisa jadi musuh 
kita,"
katanya.
Apalagi bila ada yang mengancam dan menakut-nakuti wartawan. "Itu jelas-jelas bukan 
kerjaannya GAM.
Kita telah menempatkan wartawan sebagai mitra. Jadi sangat tidak mungkin kalau GAM 
justru ingin
mengacaukan ketenangan bekerja wartawan sebagai mitranya. Itu kerjanya orang-orang yang
mengaku-ngaku diri sebagai GAM tapi pada hakikatnya dia adalah musuh perjuangan GAM," 
tegas Abu
Sabar.
Di akhir pembicaraan, Abu Sabar kembali mengingatkan pengusaha dan pejabat serta 
orang-orang Aceh
untuk tidak perlu eksodus menjelang peringatan HUT ke 23 GAM, 4 Desember mendatang. 
"Bila ada yang
mengatakan bahwa pada hari itu akan terjadi kekacauan besar, maka itu merupakan isu 
yang dihembuskan
musuh-musuh GAM untuk menimbulkan rasa tidak aman di Aceh," kata Abu Sabar.
Seruan
Selain mendukung syukuran HUT ke-23, pimpinan senior GAM di Kualalumpur juga 
mengatakan menolak
sembarang usaha untuk mengadakan dialog di Jakarta atau di Aceh antara RI dengan GAM 
maupun antara
RI dengan komponen masyarakat Aceh lainnya. Karena kata mereka, kini ada usaha serius 
dari PBB yang
sedang dijalankan di Genewa (Swiss) untuk mengadakan perundingan tingkat tinggi antara 
GAM bersama
komponen masyarakat Aceh lainnya dengan Republik Indonesia. Selain itu, pimpinan 
senior itu
menyatakan mendukung sepenuhnya posisi dan peran Teuku Don Zulfahri sebagai Sekjen GAM.
Selain mengeluarkan pernyataan, keempat pimpinan GAM di Kualalumpur juga mengeluarkan 
seruan kepada
rakyat Aceh agar tenang dan tabah.
"Kami menyerukan agar masyarakat merapatkan barisan dan jangan terpengaruh dengan 
konflik dan isu,
termasuk konflik di dalam tubuh GAM. Masalah di tubuh GAM adalah persoalan pimpinan 
yang berbeda
pendapat dalam pelaksanaan dan cara menuju Aceh Merdeka," kata mereka.(tim)
Gus Dur Ajak Nur Misuari ke Aceh

Serambi-Manila
Presiden Abdurrahman Wahid, Sabtu (27/11), mengatakan akan mengajak pimpinan muslim 
Moro-Filipina,
Nur Misuari ke Aceh untuk bertemu dengan tokoh-tokoh Aceh.
"Kami perlu mengundang Misuari bertemu dengan masyarakat Aceh sehingga mereka tahu 
bahwa menjadi
muslim yang baik tidak harus mendirikan negara Islam," katanya pada sebuah konferensi 
pers, di
Manila. Gus Dur berada di Filipina dalam rangka pertemuan KTT informal ke-3 ASEAN.
Selain Misuari, Gus Dur juga merencanakan mengundang Hasyim Salamat, Ketua Front 
Pembebasan Muslim
Moro (MILF) datang ke Indonesia. "Sebelumnya kami berencana bertemu dalam perjalanan 
pulang dari
Manila ke Mindanoa, namun gagal karena dia tidak bisa keluar dari hutan," katanya.
Meski tidak bertemu dengan Salamat, ia telah memberitahu Presiden Filipina Joseph 
Estrada bahwa dia
telah meminta kedubes Indonesia mengundang Hasyim Salamat dan Nur Misuari segera 
datang ke
Indonesia. "Jika mereka datang, saya akan berikan akomodasi di Gedung Tamu Negara," 
katanya.
Diharapkan, Hasyim Salamat akan melihat sendiri kehidupan muslim di Indonesia. "Kami 
perlu mengirim
Misuari ke Aceh bertemu dengan masyarakat Aceh sehingga mereka faham bahwa untuk 
menjadi seorang
muslim yang baik tidak perlu harus membentuk negara Islam," katanya.
Ketika ditanyakan kapan Gus Dur mengunjungi Aceh, Gus Dur menjawab tidak perlu 
terburu-buru. "Saya
tahu pasti situasi di Aceh." Menyinggung tuntutan referendum di Aceh, ia mengutarakan 
seharusnya
otonomi luas bukan kemerdekaan. "Otonomi luas akan meliputi pelaksanaan hukum syariah 
Islam jika
mereka menerimanya," katanya.(ant/r)
Dua Warga Perancis Tewas Diseruduk Truk

Serambi-Banda Aceh
Dua warga Perancis Vincent Cueschaoi (28) dan Pompac Williem (28), tewas dalam 
kecelakaan lalu
lintas di Banda Aceh, Sabtu. Kedua warga Perancis yang datang ke Banda Aceh sebagai 
wisatawan itu,
sekitar pukul 18.00 WIB sedang mengendarai sepeda motor Yamaha RXZ BL 5097 LD dari 
arah kota menuju
penginapan (home stay) Namploh di kawasan wisata Lhoknga, Aceh Besar.
Setibanya di kawasan Ajuen beberapa meter menjelang Simpang Rima Kecamatan Peukan Bada 
Aceh Besar,
sepeda motor yang dikendarai kedua turis itu bertabrakan dengan truk pasir BL 8621 L 
yang
dikemudikan Erdi warga Lamgarot Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.
Kedua warga Perancis itu itupun sempat digilas truk, hingga mengalami luka parah. 
Bahkan kedua
laki-laki itu tewas mengenaskan di tempat kejadian. Vincent, selain batok kepalanya 
pecah, juga
tubuhnya remuk. Demikian juga dengan Pompac Williem, kondisinya juga cukup menyedihkan.
Hingga berita ini dibuat, kedua mayat korban masih disemayamkan di RSU-ZA Banda Aceh. 
Belakangan
diketahui, warga Perancis itu telah tiga Minggu berada di Lhoknga. Dari data yang 
diperoleh di
Polres Aceh Besar, Vincent merupakan sebagai salah seorang fotografer. Sedangkan 
Pompac sampai tadi
malam belum diketahui identitasnya.
Kadispen Polda Aceh, Mayor Pol. Said Husaini yang dikonfirmasi, membenarkan adanya 
korban kecelakaan
lalu lintas yang merenggut kedua warga Perancis tersebut.
Namun, ia belum mendapat informasi lebih rinci tentang indentitas kedua korban, 
termasuk asal kota
korban di Perancis. "Petugas polisi sedang mengumpulkan data korban. Mungkin besok 
(Minggu) baru
bisa diketahui secara lengkap," tambahnya.(mis/ant)
KSAD: Penyelesaian Masalah Aceh Jangan Gegabah

Serambi-Denpasar
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Subagyo HS, mengatakan kemampuan menjaga 
semangat
kebersamaan dan berpikir jernih dapat menyelesaikan berbagai masalahan kebangsaan 
seperti yang
terjadi di Aceh, Ambon, dan Irian Jaya.
Hal itu dikatakan orang nomor satu di TNI-AD itu saat menjawab pertanyaan wartawan 
tentang masalah
Aceh seusai melantik Pangdam IX/Udayana dari pejabat lama Mayjen TNI Adam R Damiri 
kepada pejabat
baru Mayjen TNI Kiki Syahnakri di Denpasar, Sabtu (27/11).
Kepada dia juga ditanyakan tentang sikap TNI-AD dalam hal pemberlakukan darurat 
militer. Katanya,
keputusan untuk itu masih menunggu situasi dan kondisi di Aceh, sehingga penyelesaian 
masalah Aceh
dapat benar-benar dilakukan dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan ancaman perpecahan 
bangsa yang
lebih luas.
"Kita lihat dulu perkembangan situasi dan kondisi terakhir di Aceh, apakah perlu 
pemberlakukan
darurat militer atau tidak, karena penyelesaian di Aceh harus benar-benar dipikirkan 
secara
sungguh-sungguh jangan gegabah," kata Subagyo HS.
Ia mengemukakan, yang penting saat ini adalah tetap menjaga semangat kebersamaan untuk 
dapat
berpikir jernih dalam semangat persatuan dan kesatuan untuk menyelesaikan berbagai 
masalah seperti
di Aceh, Ambon dan Irian Jaya.
Kesadaran berbangsa dan bernegara dalam kerangka persatuan dan kesatuan ditingkatkan 
dan
dimantapkan, agar segala permasalahan seperti Aceh, Ambon dan Irian Jaya dapat 
diselesaikan secara
jernih, sehingga tidak perlu lagi ada pengerahan kekuatan yang mengarah kepada 
kekerasan seperti
pemberlakukan darurat militer.
"Kalau bisa, penyelesaian di Aceh dan seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik 
Indonesia, dapat
diselesaikan secara jernih dengan prinsip kebersamaan sebagai satu saudara yang berada 
dalam wilayah
kesatuan Republik Indonesia, sehingga tidak perlu ada pemberlakuan darurat militer," 
ujar KASAD.
Ditanya parameter yang digunakan TNI untuk memberlakukan darurat militer di Aceh atau 
wilayah lain
di Indonesia, Subagyo menegaskan, bukan masalah diperlakukan atau tidak, tetapi yang 
penting jika
semua mempunyai kesadaran dan berpikir jernih untuk melihat dan menangkap segala 
persoalan yang
terjadi, maka segala sesuatu akan menjadi mudah untuk menyelesaikannya.
Dialogis
Dalam amanatnya pada acara serah terima itu, Subagyo mengatakan untuk mengatasi 
berbagai
permasalahan bangsa termasuk ancaman disintegrasi, diperlukan komunikasi dialogis dan 
kemanunggalan
sejati antara TNI dengan rakyat dalam suasana keterbukaan dan kebebasan yang 
bertanggungjawab.
"Melalui budaya dialogis dan kerjasama yang positif antara TNI dan rakyat serta 
seluruh komponen
bangsa, maka kita akan mampu menghilangkan berbagai hambatan psikologis diantara 
sesama komponen
bangsa secara bersama-sama," katanya.
Menurutnya, dengan dialog dan kemanunggalan itu, penyaluran aspirasi masyarakat dapat 
ditata dengan
tertib sesuai mekanisme yang disepakati serta berada dalam koridor konstitusi.
Dengan demikian, lanjut KSAD, setiap permasalahan yang dihadapi bangsa dapat 
diselesaikan secara
bersama-sama berdasarkan pemikiran yang jernih dan tidak emosional, disamping terus 
dikembangkan
kemampuan menalar yang logis dan sistematis untuk menghadapi berbagai tantangan di 
masa datang.
"Dengan kemampuan seperti itu, jajaran TNI mampu membaca secara cermat dan kritis 
setiap fenomena
yang terjadi berikut kecenderungannya, sehingga setiap permasalahan dapat dikenali 
akar dan aktor
penyebabnya secara dini, sehingga dapat diselesaikan secara cepat, tepat dan tuntas" 
ujar Subagyo.
Berkaitan dengan hal itu, seluruh jajaran TNI dapat menjalin kerjasama yang erat dan 
saling
menghormati secara proporsional dan profesional dengan instansi lintas sektoral, 
pemuka agama, tokoh
masyarakat dengan dilandasi semangat kemanunggalan TNI-rakyat.
Jenderal Subagyo mengemukakan, kemanunggalan TNI dan rakyat merupakan bentuk sinergi 
yang positif,
yang memiliki daya tahan tinggi untuk mengatasi segala bentuk ancaman. Oleh karenanya, 
kemanunggalan
tersebut dapat senantiasa dimantapkan dan ditumbuhkembangkan. "Untuk mewujudkan 
kemanunggalan
tersebut, maka TNI harus mampu tampil menjadi sosok prajurit yang disegani, dicintai 
serta mampu
menjadi pengayom dan pelindung masyarakat," kata KSAD.(ant)
-----------------------------------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Nov 1999 jam 02:47:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke