----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
----------------------------------------------------------

    Rakyat Merdeka, 25 Nopember 1999

    Awas, Perintah Soeharto Berlaku Di Aceh

    Jakarta, Rakyat Merdeka

    Dua  jenderal senior yang sama-sama pernah  menjabat  Pangkostrad,
    yakni  Letjen  (Pur)  Kemal Idris dan Letjen  (Pur)  Leo  Lopulisa
    berpendapat tuntutan merdeka rakyat Aceh jangan diartikan  sebagai
    separatis.  Apa yang dilakukan rakyat Aceh saat ini adalah  bentuk
    protes atas ketidakadilan yang pernah diperbuat Orde Baru di bawah
    kepemimpinan Soeharto.

    Bahkan  Kemal  dan Leo menduga keras,  order  (perintah)  Soeharto
    hingga  kini  masih  berlaku di Aceh. Isinya  agar  persatuan  dan
    kesatuan  bangsa  terpecah-belah.  Sedangkan  pelaksana   perintah
    adalah kroni dan antek-antek status quo.

    Lebih  jauh  Kemal Idris--yang juga Koordinator  Barisan  Nasional
    itu--menekankan,  selama 32 tahun Orde Baru cuma memberikan  janji
    gombal  kepada  rakyat  Aceh, akibatnya  rakyat  sakit  hati,  dan
    mencari bentuk penyaluran kekecewaan.

    Sebagai  senior TNI, Kemal yakin sebagian besar rakyat Aceh  tetap
    ingin bersatu dengan RI. "Karena itu lebih baik didahulukan  cara-
    cara  dialog  dan rekonsiliasi daripada  mengedepankan  kekerasan.
    Kalau TNI malah bersikap keras kepada mereka, bukan tidak  mungkin
    gerakan rakyat Aceh semakin besar," tandas Kemal.

    Sedangkan  Letjen (Pur) Leo Lopulisa berpendapat,  jangan  gampang
    mengklaim  tuntutan  rakyat Aceh sebagai gerakan  separatis.  "Apa
    yang mereka lakukan belum tentu separatis. Kita tidak bisa  mencap
    begitu  saja, karena kenyataannya mereka terlalu sering  diberikan
    janji palsu, sehingga wajar menuntut keadilan," ujar Leo.

    Menurutnya,  salah satu kunci untuk meredam keinginan rakyat  Aceh
    merdeka  ialah  dengan  memberikan  hak  untuk  mengatur   wilayah
    sendiri.  Yaitu, melalui otonomi yang di-share  dengan  pemerintah
    pusat,  atau  diterapkan syariat Islam yang  selama  ini  dituntut
    rakyat Aceh.

    Leo mengaku pernah berdialog dengan sejumlah tokoh Aceh  berkaitan
    dengan tuntutan merdeka atau referendum.

    "Saya  sudah  bicara dengan orang-orang Aceh, kita  berkumpul  dan
    ternyata yang dirasakan mereka adalah ketidakadilan," tegasnya.

    Menyinggung soal tindak kekerasan yang selama ini terjadi di Aceh,
    Lopulisa  menekankan,  jangan mudah  mempersalahkan  rakyat  Aceh.
    Karena dirinya melihat dalam kasus Aceh ada kekuatan hi-tech  yang
    bermain.

    "Jadi meskipun rezim Soeharto sudah lengser, tapi tampaknya  masih
    belum  rela turun tahta. Mungkin saja order Soeharto  masih  tetap
    jalan di Aceh," katanya.

    Di  sisi  lain  Ketua Komnas HAM  Marzuki  Darusman  mengemukakan,
    gerakan  Aceh merdeka hanya protes terhadap ketidakadilan,  karena
    selama  ini  rakyat  Aceh tidak menemukan  saluran  aspirasi  yang
    tepat,  dan pemerintah pusat tidak menanggapi masalah Aceh  secara
    serius.

    Marzuki  kemudian  menunjuk  contoh  gerakan  rakyat  Irian   Jaya
    belakangan ini. "Orang-orang Irian yang mengerek bendera  merdeka,
    sebenarnya  bukan  mau merdeka. Kita anggap saja  orang-orang  itu
    mengerek bendera klub sepak bola, sebagai bagian untuk  menyatakan
    eksistensinya.  Itu  sama  dengan  Gerakan  Aceh  Merdeka,"   kata
    Marzuki. (NAN)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 29 Nov 1999 jam 05:26:34 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke