----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

DEMOKRASI ATAU SEKEDAR BAGI-BAGI KEKUASAAN !

Oleh: Ki Ageng Mangir

Walaupun pada akhirnya hasilnya sepertinya 'happy ending'
dengan terpilihnya Megawati sebagai Wakil Presiden,
dibandingkan apabila terjadi kemungkinan kombinasi yang
pasti lebih jelek Gus Dur - Akbar Tanjung, ataupun Gus
Dur - Wiranto mengingat pentingnya fungsi Wakil Presiden
dengan kekhawatiran akan kondisi kesehatan Presiden
terpilih, penulis tidak bisa lepas dari kesan telah terjadi
permainan bagi-bagi kekuasaan dikalangan elite politik di
MPR yang kelihatannya se-olah-olah sedang
menjalankannya secara demokratis. Mungkin juga
pelajaran awal demokrasi ala Indonesia memang tidak bisa
lepas dari intrik-intrik adu akal2-an dari para elite politik
untuk saling akal mengakali. Sekarang ini bisa kita lihat
apakah Amin Rais mengakali Gus Dur atau Gus Dur
mengakali Amin Rais (Mungkin kita juga beruntung punya
Gus Dur yang jago akal2-an).

Apakah masyarakat demokratis yang lebih transparan
akan bisa kita bentuk dalam masyarakat bangsa
Indonesia ? Sehingga rakyat biasa seperti penulis tidak
bingung melihat tingkah polah para elite politik di MPR.
Jelas perangkat per-undang2-an yang ada saat ini tidak
memungkinkan fungsi MPR menjalankan peran demokrasi
yang transparan, yang dimasa yang akan datang dipastikan
diperlukannya perubahan2 sehingga distorsi demokrasi bisa
diminimalkan sekecil mungkin.

Adalah masih menjadi kharakter dari bangsa Indonesia
untuk selalu menjaga keseimbangan, yang meminjam istilah
dari pak Pandita Kumbokarno adalah keseimbangan antara
Jagad Kecil dan Jagad Besar, juga kesimbangan didalam
Jagad Kecil maupun didalam Jagad Besar itu sendiri. Ciri ini
mungkin akan dalam kurun waktu yang lama masih akan
berpengaruh dalam masyarakat Indonesia, yang mungkin
bahkan akan ada disana selamanya sebagai ciri budaya
Indonesia yang dalam melaksanakan demokrasi di
Indonesia, akan sulit untuk mengetrapkan posisi oposisi
secara lugas seperti yang umumnya bisa kita lihat di
negara2 Barat. Pelaksanaan demokrasi mungkin adalah
sebatas 'ritual' pemilihan umum, pengangkatan anggota
DPR dan MPR. Begitu sampai dengan kekuasaan,
kompromi akan lebih berperan untuk menjaga kesimbangan
diantara kekuatan2 politik yang ada agar terjalin harmoni
dalam masyarakat - apakah ini manifestasi dari
'musyarawah dan mufakat' seperti yang ada di Pancasila
walaupun tatacara yang dipakai tetap dengan cara 'voting'
yang se-olah2 merupakan legitimasi tatacara demokrasi
ala Barat.

Penulis barangkali harus minta maaf pada Gus Dur, dengan
tulisan penulis terdahulu, yang mengatakan bahwa Gus Dur
pembohong dengan tidak konsitennya dalam mendukung
Megawati dan merebut posisi Presiden dengan cara
memotong ditikungan untuk dirinya (diperlukan kearifan
yang luarbiasa untuk bisa mengerti tingkah laku dari Gus
Dur).

Pada akhirnya penulis sependapat bahwa kombinasi Gus
Dur dan Megawati adalah kombinasi pemimpin yang ideal
yang mungkin bisa dicapai bagi bangsa Indonesia pada
saat ini, sebagai dasar awal bangsa Indonesia menuju
masyarakat yang lebih demokratis dan transparan. Boleh
juga ini adalah kemenangan perjuangan melawan 'status
quo' sehingga perubahan mendasar bagi kehidupan
bernegara dan  berbangsa bisa dilaksanakan.

Beberapa sebab kombinasi Gus Dur dan Megawati adalah
kombinasi yang ideal untuk saat ini:

- Gus Dur adalah pimpinan yang lebih bisa diterima oleh
kalangan umat Islam yang merupakan mayoritas dari
masyarakat Indonesia yang bisa menamengi kelemahan
Megawati di bidang ini.
- Megawati adalah pimpinan yang lebih bisa diterima oleh
kalangan nasionalis yang lebih luas tanpa melihat dari
agama, maupun kalangan profesional. Disamping itu
Megawati lebih akrab dengan 'fluktuasi pasar' dan bisa
mengisi kelemahan Gus Dur dibidang ini.
- Gus Dur bisa meredam kerusuhan2 yang mungkin timbul
dari kalangan Islam.
- Megawati bisa meredam kerusuhan2 yang mungkin timbul
dari para pengikutnya.

Walaupun secara demokrasi murni, hasil ini bisa saja
diperdebatkan, karena se-olah-olah ada 'master mind' yang
mencoba mengatur keseimbanngan kekuatan, inilah
kenyataan penghayatan demokrasi ala Indonesia saat ini.
Kita juga masih harus melihat bagaimana BJ Habibie and
the gang, dengan team sukses Habibie yang sangat
populer dengan langkah2 KKN-nya yang 'kontroversial',
akan bereaksi. Apakah ancaman mendirikan negara
Indonesia Bagian Timur  (Iramasuka) akan dilaksanakan ?
Walau bagaimanapun BJ Habibie and the gang adalah pihak
yang paling dirugikan dengan hasil2 sidang MPR kali ini.
Mungkin saja saat ini para pelaku KKN sudah mulai tidak
bisa tidur nyenyak dan menunggu langkah apa yang akan
dilakukan pemerintahan baru menyikapi masalah akut
bangsa Indonesia ini dan yang juga menjadi masalah
utama kerusakan perekonomian Indonesia. Tentu saja
orang-orang ini tidak akan begitu saja menyerahkan leher
mereka begitu saja dan akan berbuat sesuatu untuk
menyelamatkan diri dengan berbagai cara.

Ada beberapa point penting dengan hasil saat ini yang
patut digaris bawahi:

- Tidak terpilihnya kembali BJ Habibie sebagai simbol
'status quo'
- ABRI yang secara konsisten mencoba untuk netral, yang
adalah tanda-tanda positif kearah kemungkinan
penghapusan 'dwifungsi'
- Kompromi yang sangat mungkin bisa meredam
kerusuhan2
- Kompromi yang sangat mungkin mencegah lebih lanjut
disintegrasi bangsa
- Dunia usaha memberi respon positif, yang lebih
memudahkan Indonesia melanjutkan dengan cepat
pemulihan ekonomi (economic recovery) yang tidak saja
ditunggu-tunggu oleh kalangan dunia usaha didalam negeri,
tapi juga kalangan dunia usaha di ASEAN/ASIA pada
khususnya dan bahkan juga diseluruh dunia pada
umumnya.

Saya kira hura-hura elite politik di MPR, adalah juga
pengalaman berharga bagi Megawati dan PDIP dalam
menyikapi kemenangan Pemilu dan tanpa mampu
menindak lanjuti dalam bentuk koalisi dan kerjasama
yang cukup 'fleksible' dengan pihak-pihak yang lain agar
tercapai target dari partai disamping bagaimana
meningkatkan sensitifitasnya dalam mengakomodasi
kepentingan umat Islam di Indonesia yang merupakan
mayoritas penduduk Indonesia. Kalau tidak ada Gus Dur
yang menyelamatkan muka PDIP - sulit untuk dipredikisi
apa yang akan terjadi dan bagaimana para pimpinan PDIP
bisa mempertangung-jawabkan hal ini kepada para pemilih
dan simpatisannya.

Disamping itu baik Poros Tengah, Golkar, dan ABRI harus
juga menyadari bahwa kekuatan dari 'supporter' maupun
pengikut Megawati adalah nyata terutama dikalangan
masyarakat kalangan rakyat jelata yang kalau tidak
diakomodasikan suara dan kepentingannya tetap bisa
menjadi sumber keresahan sosial yang laten dan
berbahaya.

Selamat bekerja Gus Dur dan mBak Mega, semoga
Allah swt bersamamu dalam mengatasi masalah bangsa
Indonesia menuju masyarakat Indonesia Baru yang adil dan
makmur.

Oktober '99.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Dec 1999 jam 04:13:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke