----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Amien Rais Soal 4 Desember:
Kemerdekaan Aceh De Facto

JAKARTA (Waspada): Ketua MPR RI M Amien Rais menilai rencana peringatan hari ulang 
tahun ke-23
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember akan menjadikan kemerdekaan Aceh secara de 
facto. Namun
pengalaman negara yang ingin merdeka di dalam sebuah negara yakni Uni Soviet dan 
Yugoslavia dan
tidak majemuk seperti Indonesia, negara mereka pecah tapi untuk kekala han mereka.
Sedangkan pelaksanaan referendum Aceh hendaknya sebagai pilihan yang paling terakhir, 
jika
musyawarah atau dialog tidak membuahkan hasil apapun.
"Ketika saya ke Aceh saya memang mengatakan, bahwa referendum buat saya memang tidak 
bisa ditolak.
Tetapi jadikanlah itu sebagai the last-last-last option, the last-last-last 
alternative. Artinya
alternatif yang memang sudah sangat terakhir, jika tidak bisa membuahkan apapun," 
ungkap Amien Rais
ketika menerima aspirasi 53 orang masyarakat Aceh yang terdiri dari para ulama, 
tokoh-tokoh
masyarakat dan mahasiswa di Jakarta Selasa (30/11).
Sekalipun demikian Ketua MPR mengingatkan, menghadapi HUT GAM 4 Desember nanti jangan 
dilakukan
pendekatan militer, karena dia tidak bisa membayangkan kalau sampai Aceh 
berdarah-daarah lagi, image
pemerintahan di mata internasional terpuruk dan lebih dari pada rakyat itu Aceh tidak 
bisa menerima.
Menurut dia, kalau sesuatu hal menyangkut marwah atau martabat harga diri memang tidak 
ada lagi yang
ditakuti. Apa yang dia yakini dalam soal Aceh sekarang ini kita berlomba dengan waktu.
"Mudah-mudahan tidak ada solusi militer, karena kalau ada solusi militer dan kemudian 
berdarah-darah
lagi, saya kira rakyat Aceh yang sudah terkenal dengan perangnya yang hebat tentu 
sudah tidak takut
apapun juga,"tukas Amien Rais.
Kepada para ulama dan tokoh-tokoh Aceh yang dipimpin oleh T Abubakar Sabil itu Amien 
mengatakan,
persoalan Aceh membuat keadaan yang tidak nyaman. "Terus terang saja, pemerintah pusat 
tidak satu
kata dalam menyikapi referendum. Terus terang antara pilihan TNI dengan pilihan
pemerintahan/Presiden dan mungkin juga pimpinan DPR, pimpinan MPR masih belum bermuara 
pada suatu
pemecahan atau usul pemecahan yang konkrit. Sementara waktu sudah berlomba menuju ke 
tanggal 4
Desember. Sejauh yang saya dengan dan saya lihat katanya 4 Desember itu merupakan HUT 
ke-23 GAM yang
kata banyak pengamat akan terjadi peringatan besar-besaran dan kalau dilihat secara 
cermat
jangan-jangan telah terjadi proklamasi kemerdekaan Aceh de facto,"katanya.
"Saya ingin mengatakan, inilah yang kita alami sekarang. Saya tidak tahu apa yang 
sudah dijadwalkan
oleh Allah setelah 4 Desember dan lain-lain (sambil mengutip firman Allah dari Al 
Qur'an tentang
kekuasaan Allah). Tetapi kalau saya boleh mengimbau, sekarang ini masih bisalah secara 
musyawarah
yang sungguh-sungguh kita coba sekali lagi dengantidak ada saling curiga dengan 
istilah 'ditipu Jawa
berkali-kali'. Saya pikir perlu dipikir ulang bagaimana membangun masa depan yang 
bagus, kita
berlomba dengan waktu. Saya mohon bapak-bapak menanamkan sedikit kesabaran sambil 
menanti bagaimana
sesungguhnya hidayah Allah kepada kita sekalian,"kata Amien.
Dalam kaitan itu Ketua MPR mengungkapkan, dia sudah menawar kan solusi tentang Aceh 
agar usaha
terakhir semua unsur diantara nya, Presiden, Wakil Presiden, Ketua MPR. Ketua DPR, 
Ketua DPA,
Pimpinan TNI datang ke tanah rencong untuk bermusyawarah lagi dengan masyarakat Aceh 
untuk mencari
pemecahan yang terbaik.
Musyawarah dengan prinsip Al Qur'an. "Tapi usul saya ini dianggap terlalu ideal, malah 
dikatakan
kalau kita rame-rame ke Aceh ketemu dengan siapa. Jadi saya tidak tahu apa yang akan 
terjadi di
negeri yang kita cintai ini,"ujarnya.
Sedangkan pernyataan para ulama yang disampaikan kemarin menurut Amien Rais sangat 
jelas dan tegas
tidak bisa ditafsir kan lain bahwa aspirasi masayrakat seperti diwujudkan dalam Sidang 
Umum Masyarat
Pejuanga Referendum (SU MPR Aceh) 8 Nopember lalu sudah jelas meminta dilaksanakan 
referendum dengan
opsi: berpisah atau bergabung dengan republik Indonesia. Selain itu menuntut ketegasan 
dan kepastian
dari pemerintah RI untuk tidak melakukan pendekatan militer dalam bentuk apapun untuk 
menyele saikan
kasus Aceh.
"Jadi ini sudah betul bahwa pada akhirnya penyelesaian Aceh terletak ditangan 
pemerintah. Sekalipun
untuk referendum maupun jajak pendapat seperti di Timtim setahu saya harus ada pembica 
raan
eksekutif dengan legislatif maupun dengan lembaga tertinggi yaitu MPR RI,"katanya.
Dalam kesempatan itu Ketua MPR menyatakan belum lega atas keterangan para jenderal 
purnawirawan
dalam rapat Pansus DPR. "Saya tidak tahu apakah nanti ada pengadilan koneksitas. Kalau 
hanya itu
akan membuat rakyat Aceh tidak bisa menerima apapun kompromi yang ditawarkan oleh 
pusat. Karena itu
saya melihat kezaliman itu sudah menumpuk dan lebih berat lagi adanya kejaha tan 
terhadap manusia
berupa perkosaan, penyiksaan, pembunuhan semena-mena oleh oknum-oknum aparat keamanan.
Namun demikian Amien mengharapkan para ulama dapat memberi pengertian kepada masyrakat 
untuk
bermusyawarah sebelum melaksanakan referendum sebagai pilihan terakhir. (j07)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 1 Dec 1999 jam 08:03:15 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke