----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

-----------------------------------

WARTA BERITA RADIO NEDERLAND WERELDOMROEP
Edisi: Bahasa Indonesia

Ikhtisar berita disusun berdasarkan berita-berita yang disiarkan oleh
Radio Nederland Wereldomroep selama 24 jam terakhir.

-----------------------------------

Edisi ini diterbitkan pada:

Kamis 02 Desember 1999 16:10 UTC

** DIPASTIKAN 40 ORANG CEDERA AKIBAT DEMONSTRASI DI TIMIKA, IRIAN JAYA

** INDONESIA AKAN MENYERAHKAN LAPORAN PELANGGARAN HAM DI TIMOR TIMUR

** TOPIK GEMA WARTA: APARAT KEAMANAN KEMBALI GUNAKAN KEKERASAN DI IRIAN
JAYA

** TOPIK GEMA WARTA: BENARKAH DALAM SOAL ACEH GUS DUR SUDAH DIKUDETA
TENTARA?

** TOPIK GEMA WARTA: MENJELANG 4 DESEMBER SEMAKIN JELAS BAHWA ACEH DE
FACTO SUDAH MERDEKA

* DIPASTIKAN 40 ORANG CEDERA AKIBAT DEMONSTRASI DI TIMIKA, IRIAN JAYA
Menurut sebuah lembaga hak-hak asasi manusia di Irian Jaya, polisi anti
huru-hara melepaskan tembakan ketika membubarkan demonstrasi di kota
Timika, Irian Jaya, Kamis ini. Dipastikan 40 orang diberitakan cedera.
Para demonstran bertikai dengan polisi yang ingin menurunkan bendera
Bintang Kejora, lambang Papua Barat. Polisi membantah tuduhan dan
menyatakan ketika itu mereka mencoba menghalau 50 orang demonstran dari
gereja di Timika atas permintaan seorang pastor. Kapolda Irian Jaya
Brigjen SY Wenas menerangkan, pihaknya akan meminta keterangan Ketua
Lembaga Adat Irian Jaya Theys Eluway mengenai siapa yang bertanggung
jawab atas pengibaran tersebut.

* INDONESIA AKAN MENYERAHKAN LAPORAN PELANGGARAN HAM DI TIMOR TIMUR
Dalam beberapa hari mendatang Indonesia akan menyerahkan laporan
mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur. Demikian Ketua
Komnasham Marzuki Darusman. Pemerintah juga meminta keterangan pihak TNI
dalam penyidikan mengenai pembunuhan massal di Timor Timur. Marzuki
Darusman menyatakan, ada petunjuk-petunjuk bahwa pihak TNI bekerja sama
dengan milisi-milisi pro-Indonesia di Timor Timur. Kelompok milisi
bersenjata dianggap bertanggung jawab atas tindakan kekerasan yang
terjadi di Timor Timur sejak pelaksanaan referendum akhir Agustus lalu.
Ribuan penduduk Timor Timur diberitakan tewas menjadi korban.

Sementara itu, Portugal akan membantu pembangunan kembali wilayah bekas
koloninya. Demikian Menteri Luar Negeri Portugal Jaime Gama, yang sedang
berada di ibukota Dili. Ini adalah kunjungan pejabat pemerintah Portugal
pertama di Timor Timur sejak keluar dari wilayah tersebut, 24 tahun
lalu. Lissabon terutama akan membantu pembangunan sektor pelayanan
kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Menteri Luar Negeri Gama juga
berbicara dengan pemimpin perlawanan Timor Timur Xanana Gusmao dan Jose
Ramos-Horta. Selain itu pemerintah Lissabon akan membuka kembali
hubungan diplomatik dengan Indonesia, yang diputus tahun 1975 ketika
Jakarta menganeksasi wilayah Timor Timur.

* TABRAKAN KERETA API DI AUSTRALIA
Dalam tabrakan antara dua kereta api di Australia sedikitnya enam dan
mungkin 12 orang penumpang tewas menjadi korban, serta puluhan orang
lainnya cedera. Sebuah kereta penumpang yang lari dengan kecepatan
tinggi menabrak bagian belakang salah satu kereta api paling terkenal di
Australia, Indian-Pacific Express, yang sedang berhenti. Kecelakaan ini
terjadi tidak jauh dari kota Sydney. Menurut masinis kereta Pacific
Express, keretanya berhenti karena ada kerusakan pada alat pemberi
sinyal. Tiga gerbong pertama kereta penumpang keluar dari jalur. Regu-
regu penolong sudah berjam-jam lamanya mencoba mengeluarkan para korban
yang terjepit di antara gerbong-gerbong kereta yang hancur.

* JEPANG DAN KOREA UTARA JAJAKI PEMBUKAAN HUBUNGAN DIPLOMATIK
Sebuah delegasi parlemen Jepang berbicara dengan para pemimpin Korea
Utara mengenai perbaikan hubungan kedua negara. Menurut media Jepang,
Korea Utara bersedia memulai kembali perundingan dengan pemerintah Tokyo
mengenai perbaikan hubungan diplomatik. Perundingan tersebut terputus
tujuh tahun lalu. Hubungan antara kedua negara semakin memburuk ketika
Korea Utara melakukan uji coba rudal nuklir yang juga melewati wilayah
Jepang. Rencana perundingan ini akan ditetapkan di dalam sebuah dokumen
Jumat besok. Pemerintah Korea Utara menekankan, pihaknya terlebih dulu
akan membicarakan masalah-masalah kemanusiaan seperti bantuan pangan
dari Jepang, sebelum putaran dialog baru dimulai.

* DI SEATTLE MASIH BERLAKU KEADAAN DARURAT
Walikota Seattle masih memberlakukan keadaan darurat hingga Konperensi
Organisasi Perdagangan Dunia WTO selesai akhir minggu ini. Juga larangan
keluar malam tetap dipertahankan. Kamis kemarin kembali pecah kerusuhan
antara polisi dengan ribuan demonstran. Hingga sekarang polisi Seattle
telah menahan 450 orang. Sementara itu para wakil 135 negara anggota WTO
mulai membicarakan susunan agenda liberalisasi perdagangan dunia.
Presiden Amerika Serikat Bill Clinton menyatakan dalam pidatonya, WTO
harus menolong negara-negara termiskin di dunia. Clinton ingin menghapus
pajak impor bagi negara-negara tersebut setelah 2002. Para pengamat
tidak begitu optimis akan adanya gebrakan baru selama konperensi WTO.
Uni Eropa mendesak agar masalah perlindungan lingkungan dan situasi
kerja dimasukkan ke dalam agenda, tetapi mendapat banyak tantangan dari
negara-negara sedang berkembang. Hambatan lain dalam pembicaraan, adalah
subsidi kepada para petani Uni Eropa.

Atas inisiatif Belanda dan Kolombia, ditandatangai sebuah traktat
mengenai pendirian badan-badan hukum di negara-negara sedang berkembang.
Badan ini harus membantu di bidang hukum dan keuangan, jika pecah
masalah. Negara-negara sedang berkembang sering mengeluh tidak mempunyai
dana atau pakar hukum dalam memecahkan masalah praktek-praktek
perdagangan dengan negara-negara kaya.

* PEMERINTAH BARU IRLANDIA UTARA MULAI BERTUGAS
Pemerintah koalisi baru Irlandia Utara, memulai tugas mereka Kamis ini.
Rabu kemarin, Ratu Inggris Elizabeth menandatangani penyerahan kekuasaan
terbatas kepada propinsi tersebut. Kabinet baru Irlandia Utara yang
terdiri atas 12 orang menteri, termasuk dua orang menteri Sinn Fein,
sayap politik IRA, dan berada di bawah pimpinan Perdana Menteri David
Trimble. Sebagai gantinya pihak Protestan menuntut agar IRA memulai
perlucutan senjata bulan Februari tahun 2000. Diperkirakan, IRA akan
menunjuk seorang perantara Kamis ini, yang harus berunding dengan komisi
khusus perlucutan senjata.

* POLITIKUS ANTI-ARAFAT DITEMBAK DI NABLUS
Di Nablus, Tepi barat Sungai Yordan, sejumlah penembak tak dikenal
menyerang seorang anggota Dewan Perundang-undangan Palestina. Politikus
tersebut juga dipukuli dengan tongkat kayu, dan sekarang dirawat di
rumah sakit. Menurut Radio Israel polisi menahan dua orang yang
dicurigai. Sang korban adalah salah satu penandatangan petisi yang
menuduh Presiden Palestina Yasser Arafat melakukan korupsi. Sedangkan
sebelas politikus lainnya yang juga menandatangani petisi, ditahan Rabu
kemarin. Tiga diantaranya telah dibebaskan kembali. Pemerintah Palestina
mengecam penembakan di Nablus.

* APARAT KEAMANAN KEMBALI GUNAKAN KEKERASAN DI IRIAN JAYA
Intro: Menyusul upacara pengibaran bendera Bintang Kejora, di Irian Jaya
kemarin, dalam rangka memperingati 38 tahun kemerdekaan Papua Barat,
Kamis ini, di Timika upacara serupa berakhir dengan kerusuhan antara
massa dan aparat keamanan. Aparat keamanan melepas tembakan yang melukai
50-an orang. Akibatnya, rakyat Papua, yang berupaya menempuh jalan
dialog dengan Jakarta belum merasakan perbedaan antara rejim Orde Baru
dengan pemerintahan Gus Dur. Berikut penjelasan John Rumbiak dari LSM
Elsam di Jayapura.

JOHN RUMBIAK [JR]: Pagi tadi tanggal 2 Desember, kami menerima telepon
dari Lembaga Musyawarah Adat suku Amungme di Timika, dan sejumlah
pengamat hak asasi manusia kami di kota itu, bahwa aparat kepolisian,
Brimob dan TNI melakukan pengepungan dan penyerbuan terhadap lebih dari
2000 demonstran yang berkumpul di halaman Gereja Katolik Paroki Tigaraja
di Timika, yang sedang melakukan demonstrasi menari sehubungan dengan
aksi pengibaran bendera Bintang Kejora, Papua Barat. Baru beberapa menit
yang lalu kami menerima laporan dari Lemasa di Timika bahwa 55 orang
telah mengalami luka-luka tembak dan penganiayaan akibat dari serangan
yang dilakukan oleh aparat keamanan.

RADIO NEDERLAND [RN]: Kira-kira alasannya apa aparat keamanan terus
melakukan tindakan kekerasan?

JR: Kami berbicara dengan Wakapolres Kabupaten Mimika Kamis pagi, Mayor
Pol Edi Pramudyo, dia katakan bahwa yang terjadi Kamis pagi adalah bukan
penyerbuan tetapi dia sebut itu sebagai koordinasi. Bahwa pengibaran
bendera seharusnya sudah harus selesai kemarin sore, tanggal 1 Desember,
tetapi rakyat di sana menolak untuk menurunkan bendera.

RN: Kami dengar bahwa di wilayah-wilayah lain masyarakat memang
menurunkan bendera-bendera Bintang Kejora, hanya di Timika mereka tidak
menurunkan bendera pada pukul 18.00 WIT, begitu?

JR: Kami menanyakan hal itu kepada masyarakat yang melakukan aksi
pengibaran bendera dan demonstrasi. Dan mereka mengatakan, bahwa memang
benar mereka menolak untuk menurunkan bendera Bintang Kejora, karena
tuntutan mereka untuk perhatian yang sungguh-sungguh dari Presiden
Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid dan masyarakat internasional soal
kasus Papua Barat, ternyata tidak mendapat respons yang positif. Dan
mereka mau agar bendera tetap berkibar sampai ada langkah yang kongkrit
diambil oleh pemerintah Jakarta dan masyarakat internasional untuk
membicarakan masalah Papua Barat.

RN: jadi selama ini warga Papua Barat itu menginginkan cara damai dengan
Indonesia untuk mencari solusi di masa mendatang. Sementara hal itu
tidak pernah mendapat perhatian dari kalangan internasional maupun oleh
pemerintah Jakarta.

JR: Benar. Yang terjadi seperti yang kita bicarakan ini. Di daerah,
aparat keamanan bertindak sangat dualistis sekali, tidak juga melarang
karena menurut mereka hukum domestik yang ada itu adalah kegiatan
subversif, tapi juga mengatakan bahwa mereka juga tidak mengijinkan.
Ketika kami berbicara dengan Kapolda Irian Jaya kemarin, sehubungan
dengan aksi pengibaran di seluruh Papua Barat, dia merespons kepada kami
bahwa kehadirannya di Irian Jaya adalah untuk menegakkan demokrasi dan
hak asasi manusia. Tetapi kenyataan yang terjadi di Timika sekarang
menunjukkan bahwa kemanusiaan yang seharusnya ditegakkan di sana
ternyata tidak terjadi. Di sana terjadi kekerasan dan ini menunjukkan
bahwa arogansi penguasa di wilayah ini masih begitu besar. Jakarta juga
masih sangat enggan untuk melihat serius persoalan Papua, untuk
dibicarakan secara damai.

Tindakan seperti yang terjadi sekarang di Timika, secara tidak langsung
merupakan suatu bentuk diskriminasi pemerintahan Abdurrahman Wahid dan
ketidaksungguhan pemerintahannya terhadap persoalan Papua Barat. Di satu
sisi pemerintahan yang baru ini kelihatannya adalah pemerintahan
demokratis. Tetapi kenyataan di lapangan sangat bertentangan sekali. Dan
ini sangat mengecewakan masyarakat bagian Timur Indonesia ini.

Demikian John Rumbiak dari LSM Elsam di Jayapura.

* BENARKAH  DALAM  SOAL  ACEH GUS DUR SUDAH DIKUDETA TENTARA?
TNI siap pertahankan bendera merah putih di mana pun di negeri ini.
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Tyasno Sudarto meminta supaya
tak ada lagi upaya penurunan merah putih di Bumi Pertiwi ini. Berbicara
hari Kamis lalu pada serah terima jabatan KSAD di Mabes Angkatan Darat,
Tyasno menjelaskan, untuk menyelesaikan maraknya gejolak separatis, TNI
akan mengedepankan dialog dan penyelesaian politis. Laporan Djohan
Talisipat dari Jakarta:

Di tempat yang sama, Kapuspen TNI Mayjen Sudrajat menegaskan, TNI akan
menyikat habis kekuatan bersenjata di mana pun mereka berada. Menurutnya
terdapat tiga kategori tindakan yang dianggap merebut kekuasaan yang
sah. Tindakan-tindakan itu adalah, menyatakan kemerdekaan, menyatakan
pemerintahan sendiri, serta memiliki kekuatan senjata api. "Percayalah
TNI tak akan tinggal diam melihat aksi mereka. Tak ada kekuatan mana pun
yang boleh memiliki senjata api. Apalagi mengakui suatu daerah di negeri
ini menjadi negara merdeka", tandasnya.

Di tempat terpisah, Kadispen Polri Brigjen E. Dotulong menyatakan Polda
Irian tidak menyetujui penaikan bendera Papua Merdeka. Ia membantah
keterangan tokoh Papua Merdeka yang menyebutkan Brigjen SY Wenas,
Kapolda Irian mengijinkan penaikan bendera Papua Merdeka itu. "Yang
pasti seluruh penanggungjawab penaikan bendera Papua merdeka sedang kita
periksa", ujar Brigjen Dotulong. Seperti diberitakan sebelumnya, pihak
Komisi I, DPR, khususnya Fraksi PDI Perjuangan, baru-baru ini telah
meminta Panglima TNI agar menindak para separatis dengan mengambil alih
tugas-tugas Polri yang dinilai kurang tegas. Hal ini antara lain
dikemukakan oleh Mayjen Purnawirawan R.K. Sembiring dan Permadi SH,
keduanya dari Fraksi PDI.

Permadi secara eksplisit berkali-kali menyebut nama Yoris Raweyai yang
harus ditindak. Sembiring bahkan menganjurkan agar TNI langsung saja
melakukan operasi militer di Aceh. Namun Panglima TNI Laksamana Widodo
hanya mau bergerak kalau langkah TNI itu dipayungi oleh undang-undang,
dalam hal ini Undang-Undang PKB. Akibat dorongan Fraksi PDI, maka
sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP, hari Kamis pagi, pasukan
Indonesia menembaki rakyat Irian yang umumnya merupakan pendukung Golkar
atau PDI Perjuangan.

Menurut harian Berita Buana, tentara melepaskan tembakan ke arah
sekelompok aktivis yang telah berkumpul untuk menghentikan aksi
pengibaran bendera Bintang Pagi. 41 orang luka-luka. Penembakan itu
terjadi di depan sebuah gereja di Timika, bagian timur Irian Jaya. Maka
tidaklah mengherankan jika di beberapa tempat diinstruksikan agar
menghentikan upacara-upacara penaikan bendera Papua Merdeka. Sasaran
pihak Organisasi Papua Merdeka dirasakan telah berhasil, yakni memancing
kemarahan pihak tentara agar menggunakan senjata terhadap rakyat tak
bersenjata. Dengan memancing pelanggaran hak-hak asasi manusia seperti
itu diharapkan rakyat akan bersatu mendukung gerakan separatis seperti
di Aceh.

Di Aceh sendiri para panglima GAM melarang rakyat biasa menaikkan
bendera Aceh Merdeka pada tanggal 4 Desember nanti. Mogok pun dilarang.
Hanya GAM gadungan saja yang masih aktif memeras warga Non-Aceh
khususnya kalangan pengusaha non-pri. Kabarnya para aktivis SIRA (Sentra
Informasi Referendum Aceh) sudah tahu bahwa Aceh kini sudah dikepung
baik dari laut maupun darat. TNI sewaktu-waktu siap menyerbu kembali ke
Aceh. Itulah latarbelakang keterangan KASAD yang baru bahwa TNI siap
pertahankan bendera merah putih dan ancaman Kapuspen bahwa TNI akan
sikat habis separatisme. Di kalangan elit politik Jakarta saat ini
beredar dua versi. Ada yang mengatakan sejarah berulang kembali. Sama
seperti saat tentara berhadapan dengan Bung Karno soal PKI, kini tentara
pun bersiap berhadap-hadapan dengan Gus Dur soal referendum Aceh.

Menurut seorang pengamat yang dahulu mendukung Habibie, "Ini sebenarnya
sudah merupakan kudeta terselubung". Tentara menganggap Gus Dur plin-
plan, katanya. Sebaliknya ada yang bertanya: "Mungkinkah Gus Dur
mengetahui rencana TNI ini? Apakah benar TNI bersedia berhadapan dengan
pemerintahan sipil yang dipilih secara demokratis? Dan apa benar Gus Dur
setuju? Mereka mengemukakan pertanyaan ini karena ada keanehan soal
press-release yang beredar tanggal 30 November yang mengindikasikan
bahwa Aceh akan disikat padahal Gus Dur saat itu masih berada di
Indonesia. Apakah mungkin Gus Dur meminta Menko Polkam Wiranto bertindak
sementara ia berada di luar negeri? Dengan demikian ia bisa cuci tangan
sambil TNI menyikat Aceh, kata mereka.

Seorang diplomat barat menduga "TNI dengan dukungan PDI-Perjuangan
tampaknya merasa sanggup berseberangan sikap dengan Gus Dur, jika
presiden terpilih ini tetap mau melaksanakan referendum di Aceh".
Strategi memasukkan perwira-perwira pensiunan TNI seperti Theo Syafei,
R.K. Sembiring dan lain-lain ke PDI-Perjuangan ternyata cukup ampuh.
Tetapi seorang pengamat dari UI, Nasaruddin menyatakan kepada TVRI,
cara-cara melibas itu pada akhirnya hanya akan menyuburkan separatisme.
Apa yang dikatakannya itu memang tepat. TNI ternyata tidak belajar dari
kasus Timor Timur.

* MENJELANG 4 DESEMBER SEMAKIN JELAS BAHWA ACEH DE FACTO SUDAH MERDEKA
INTRO: Panglima AGAM, Angkatan Gersenjata Gerakan Aceh Merdeka, Tengku
Abdullah Syafii akhirnya mengimbau rakyat Aceh agar tidak mengibarkan
bendera GAM pada 4 Desember mendatang. Hal itu, katanya, untuk
menghindari rakyat menjadi korban lagi dari kekerasan. Perayaan ulang
tahun GAM Sabtu besok akan dipusatkan pada upacara GAM di suatu tempat
di Kabupaten Pidie dengan dihadiri ratusan pers dalam dan luar negeri.
Secara de facto Aceh sudah merdeka. Laporan Aboerpijadi Santoso dari
Sigli:

TENGKU ABDULLAH SYAFII: Supaya jangan dikibarkan bendera pusakan oleh
rakyat awam. Disebabkan sesudah mendapat rintangan dari imperialis, dan
kepada para pimpinan komando di wilayah masing-masing diwajibkan
mengibarkan bendera pusaka tersebut sesuai dengan surat yang saya
sebarkan tertanggal 15 bulan 11 1999. Amanat ini sengaja saya sampaikan
kepada seluruh bangsa saya, Aceh Sumatra, supaya dipatuhi dan dihormati,
demi keselamatan bangsa kita, Aceh Sumatra Merdeka. Keputusan ini saya
ambil daripada pimpinan tertinggi Aceh Sumatra untuk menyelamatkan
bangsa Aceh Sumatra yang kita cintai, yang mengamanatkan kepada saya di
komando pusat untuk diperhatikan dan dilaksanakan dengan sepenuhnya.
Wasalam dan terima kasih.

Dengan demikian tampaknya berakhirlah kontroverse di Aceh soal penaikan
bendera Bulan-Bintang berdasar merah dengan dua strip hitam itu. Paling
tidak dengan perintah Tengku Syafii itu sekarang bola bergulir pada
pihak TNI yang selama ini menuduh GAM memancing aparat ke arah kerusuhan
pada hari ulang tahun GAM. TNI dan GAM sejak belakangan terlibat
kontroverse apakah rakyat Aceh harus mengibarkan bendera lambang
kemerdekaan itu atau tidak. Semula GAM tidak memberi perintah
mengibarkan ataupun melarangnya. Tetapi diam-diam sejak Oktober yang
lalu bendera GAM banyak dijahit, dijual dan beredar di tengah
masyarakat.

Lalu TNI keluar dengan ancaman agar jangan kibarkan bendera GAM yang
menyulut panik di kalangan elit di Jakarta, tentang kemungkinan
pertumpahan darah pada 4 Desember nanti. Lalu gerakan sipil pro-
referendum di Aceh membantah peredaran bendera tersebut dan meminta GAM
maupun publik luas agar berhati-hati. Lantas bola beralih ke tangan TNI
ketika Danrem Kolonel Syarifuddin Tippe, Rabu lalu, mengatakan, yang
terlarang mengibarkan adalah instansi-instansi resmi pemerintah dan TNI.
Sedangkan publik akan dibiarkan asalkan tidak memancing kerusuhan.
Rupanya isyarat ini ditangkap oleh GAM sebagai provokasi pihak aparat
hingga Panglima AGAM, Tengku Abdullah Syafii bersambut gayung dengan
tegas-tegas meminta agar rakyat tidak mengibarkan bendera itu.

Dengan menyebut hal itu sebagai suatu upaya untuk menyelamatkan rakyat
GAM menuding pihak TNI telah siap beraksi terhadap pengibaran bendera.
Yang menarik perang kata-kata antara TNI dan GAM itu akhirnya disusul
dengan pernyataan tiga pejabat tingi propinsi, Gubernur Syamsuddin
Mahmud, Kapolda Bahrumsyah dan Danrem Syarifuddin Tippe ynag intinya
mengatakan, "silakan saja rayakan hari ulang tahun GAM. Yang penting
jangan lakukan perusakan", tambah Gubernur Syamsuddin. Pernyataan tiga
bos propinsi itu menandakan bahwa pihak Pemda dan aparat lokal
sebenarnya secara politik sudah kalah. Pihak otoritas resmi daerah makin
jelas dalam membaca situasi Aceh. Mereka sadar rakyat tidak suka pada
aparat TNI, sedangkan GAM maupun Pemda tidak ingin terjadi kekerasan
pada 4 Desember.

Jadi kedua pihak, Pemda maupun GAM, tampaknya telah saling mengalah,
yang satu mempersilahkan perayaan dan yang lain melarang pengibaran
bendera oleh publik. Sepakat tanpa tatap muka atau saling paham lewat
isyarat itu menandakan bahwa gerak perkembangan Aceh sudah berada di
tangan masyarakat termasuk GAM, dan bukan lagi di tangan negara, Pemda
ataupun aparat TNI. Aceh dengan kata lain secara de facto sebenarnya
sudah merdeka. Barang siapa bepergian ke pedalaman Pidie misalnya, dapat
melihat tulisan-tulisan di dinding atau pun spanduk-spanduk yang
mendukung referendum dan kantor-kantor kecamatan, kejaksaan dan polisi
kosong.

Seorang mantan Kapolsek menyeberang ke GAM. Jalanan sepi dari kendaraan
pejabat dan aparat. Bahkan ratusan ribu pengungsi Aceh yang lari karena
takut gangguan aparat, meskipun penuh derita, tetap menolak bantuan
apapun dari bantuan birokrasi. Bahkan mereka juga menolak bantuan dari
PMI, Palang Merah indonesia, tetapi mau menerima bantuan dari ICRC,
Palang Merah Internasional. Apapun yang berbau Indonesia atau birokrasi
dan aparat pemerintah Jakarta, tidak disukai oleh masyarakat Aceh.
"Masak sudah melukai hati kita, kok mau mengobati", tegas seorang
pengungsi di Beureuneum, dekat Sigli. "Kalau TNI besok hengkang dari
Aceh semua pengungsi ini besok juga akan pulang ke desa-desa mereka",
ujar seorang mahasiswa yang mengkoordinasi Posko Aksi Kemanusiaan untuk
membantu pengungsi.

Sedikitnya 140-an jiwa, tua muda wanita dan kanak-kanak bertebaran di
meunasah-meunasah atau masjid-masjid di Kabupaten Pidie. Kegigihan
pengungsi itu mengingatkan orang akan kegigihan dan kegagahan Cut Nyak
Dien ketika menolak luka-luka badannya diobati oleh perawat Belanda
seabad yang lalu. Singkatnya, semua itu menunjukkan tidak hanya wibawa
pemda dan aparat lokal, tetapi juga wibawa republik ini sudah merosot
sampai hampir titik nol di mata masyarakat Aceh. Otoritas resmi sudah
loyo dan banyak yang tidak berfungsi lagi. Sebaliknya Radio Nederland
sempat pula menyaksikan bagaimana masyarakat Aceh berswadaya,
menyelenggarakan upaya raksasa di berbagai tempat pengungsian. Mulai
dari sumbangan uang di jalanan sampai pengakutan ikan, beras, tenda
dengan truk-truk dan sebagainya, yang semuanya, seluruhnya disumbang
oleh masyarakat sendiri, tanpa setetespun keringat dan bensin dari pemda
dan aparat.
Walhasil gara-gara trauma DOM dan kebencian rakyat terhadap TNI maka
Aceh kenyataannya sekarang sudahh merdeka meskipun secara dejoure masih
di bawah kekuasaan Jakarta. Gubernur Syamsuddin sendiri ketika ditanya
bagimana kalu Aceh merdeka, kabarnya pernah menjawab: "Kan saya orang
Aceh, jadi saya ikut rakyat". Dan masyarakatpun menangkap isyarat itu.
Dengan latar belakang semua itu, maka boleh diduga perayaan ulang tahun
GAM 4 Desember nanti akan berlangsung baik-baik saja. Kecuali, sekali
lagi kecuali, kalau ada ulang provokator yang tidak perduli nasib rakyat
Aceh.

Brigade Kucing Hitam yaitu semacam tim intel atau gerakan klandestin
dari gerakan mahasiswa, kemarin menjaring 26 orang provokator yang
sebagian besar ternyata adalah agen-agennya aparat TNI. Ulang provokasi
juga terbukti karena aksi mogok rakyat yang disebarluaskan akan terjadi
2 dan 3 Desember ternyata tidak terjadi. Jadi kalau tak ada aral
melintang maka tanggal 4 Desember akan ditandai dengan ibadah dan zikir
sampai jam 12 siang, lalu kegiatan publik akan berlangsung normal dan
baru esok harinya tanggal 5 Desember GAM akan mengundang suatu pesta
rakyat. Rakyat yang tidak datang dipersilakan syukuran, bukan di jalan
raya, melainkan di meunasah-meunasah masing-masing desa.

Sekian laporan Aboeprijadi Santoso dari Sigli, Aceh.

-----------------------------------
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.rnw.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
[EMAIL PROTECTED]

Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
-----------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 3 Dec 1999 jam 04:20:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke