---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT: PLUS-MINUS GUS DUR: TETAP "THE BEST BUY" BAGI INDONESIA Kita semua punya ideal, saya punya ideal. Namun menghadapi kenyataan yang hidup kita tidak bermimpi terus dan harus menganalisa baik pribadi maupun siitu-sasinya. Karena ia sudah dipilih sebagai pemegang tampuk pimpinan bangsa dan negara selama 5 tahun mendatang, maka alangkah baiknya bila dukungan kita itu dida- sarkan pada rasionalisme bukan sekedar sentimentalisme emosional karena me- rasa di fait accompli lalu membabi buta. Presiden Abdurrachman Wahid alias Gus Dur harus kita dukung selama 5 tahun mendartang ini, begitulah yang diminta oleh demokrasi. Mendukung dalam demo- krasi berarti memberikan dorongan moral dan rasional berupa kritikan kritikan yang nuchter (reasonable, rational) sambil sekuat mungkin memberikan alternatif jalan keluar sebaik baiknya. Demikianlah tulisan saya selama ini diupayakan. Kecuali yang sudah dtulis, plus minus Gus Dur ingin saya tambahkan di bawah ini: PLUS 1. Dia seorang kiayi walaupun dari NU tapi paling tidak dogmatis, paling rasional, paling komunikatif, paling tidak otoriter, paling kreatif pemikirannya, tidak mandeg atau statik, konservatif, paling liberal, paling toleran. Konsekuensinya: Gus Dur berhati nurani dan bermoral, beritikad baik. 2. Approach demokratisnya cukup memuaskan. Yang harus ditambahkan adalah teknik komunikasinya di mana "general info" nya harus dijabarkan menjadi "spe- cific info" terutama kepada bawahannya dan kepada media, berarti tanpa teka-teki lagi. 3. Walaupun hal itu agar sukar baginya karena Presiden adalah seorang "actor improvisator" bukan konvensional menurut teks. Media dan para Menterinya mungkin sukar mengikuti daya improvisasi Gus Dur ini. Mewarisi malapetaka Perang Dingin Belum pernah kita punya presiden seperti Gus Dur. Presiden Sukarno adalah pre- siden paling ideal: intelektual, pejuang kemerdekaan, karismatik, didukung oleh mayoritas rakyat di seluruh Indonesia. Namun bak pepatah Melayu: tiada gading nan tak retak, maka BK mempunyai keretakan yang terbukti telah membawa malapetaka nasional. Tapi kita harus melihatnya dari situasi dan kondisi nasional dan internasional pada waktu itu. Pada waktu itu seluruh dunia telah terjebak dalam Perang Dingin, teruta- maka perang komunisme lawan anti-komunisme, kedua penganut ideologi itu bertekad untuk saling-menghancur-leburkan. Kesalahan BK ialah menutup mata terhadap kenyataan Perang Dingin yang ber- kecamuk di tanah airnya sendiri, di mana kubu komunisme yang mula mula di bawah pimpin Uni Soviet kemudian direbut oleh RRC telah bercokol untuk men- ceburkan kita ke dalam dunia komunis dengan jalan kudeta BK mengetahui hal ini setelah diberi tahu berulang ulang baik oleh KASAD Jen- ral Ahmad Yani maupun oleh oleh Duta Besar AS Howard P Jones yang sangat dekat hubungan pribadinya sejak perebutan Irian Barat. Namun ia merasa terlalu kuat a la Charles de Gaulle di Eropah dan merasa ainulyakin bahwa ia mampu mengusai PKI dengan Nasakomisasinya. Ia mau me- ngalihkan perhatian PKI dari kudeta kepada politik luar negeri untuk mengganyang Inggeris dan Amerika. Saebaliknya PKI, terutama faksi ekstrim kiri DN Aidit me- manfa'atkannya untuk menggalang pengikut sampai berhasil mencatat anggota 3 juta, suatu jumlah yang merupakan keanggotaan komunis terbesar di seluruh dunia di luar negara komunis. Karena koppignya dan tekad bulatnya maka BK rawe rawe rantas malang malang putung melanjutkan revolusi artifisialnya tanpa menyadari bahwa ia sudah mence- burkan Indonesia kedalam kancah Perang Dingin. Indonesia sudah menjadi aktor Perang Dingin dalam blok komunis. BK tidak mempunyai itikad buruk untuk menceburkan Indonesia ke dalam kancah Perang Dingin pro-komunis. Sebagai intelektual hebat ia menutup mata terhadap kenyataan dunia internasional yang sedang berkecamuk pada waktu itu dan me- rasa yakin bahwa jalan yang ditempuhnya lewat nasionalisme membentak Ame- rika dan Barat umumnya" "I am minding my own business, and you mind your own!" Namun Perang Dingin adalah Perang Dingin yang tidak mengenal kompromi, tidak mengenal kenetralan, dan kedua pihak ditambah RRC sudah kejam mengejami. Akhirnya kita jadi korban. Tidak puas dengan malapetaka PKI, Presiden Suharto yang berhasil memutar balik haluian 180 derajat dari pro-komunis menjadi anti- komunis telah melibatkan Indonesia dalam Perang Dingin lawan komunis yang mencapai klimaksnya dalam invasi dan aneksasi Timor Timur. Kalau BK membawa malapetaka Perang Dingin setelah berkiblat pada anti-Ba- rat, maka Suharto membawa malapetaka setelah berkiblat kepada anti-komu- nis. Presiden Habibie yng tidak punya background dan pengalaman (pengalamannya sebagai Menteri Ristek tidak banyak memberikan pelajaran politik memerintah) adalah yang tidak mujur. Dia berupaya melancarkan reformasi namun tantangan statuskuo masih berkekuatan 90%, maka robohlah dia diganyang kedua pihak yang bertempur. Kecuali daripada itu ia terbelenggu oleh hatinuraninya sendiri yang harus membalas budi kepada Presiden Suharto dan politik statuskuonya. Kesalahan lain Presiden Habibie ialah mau melihat adanya Kristenisasi dalam pemerintahan tertinggi sehingga merasa perlu untuk mengimbanginya dengan 'ICMISASI" yang telah dimanipulasi oleh Baramuli ke bawahnya sehingga men- jadi kontraproduktif, kalau tidak mem "bumerang". Gus Dur tidak akan NU-isasi pemerintahan, suatu keuntungan bagi kita semua. Kedua malapetaka inilah yang telah diwarisi Presiden Gus Dur. Akibatnya kita dan anak cucu kita sampai generasi mungkin sampai beberapa generasi men- datang masih harus memikul pahit-getirnya hidup sebagai korban Perang Dingin. Ibarat sudah jatuh dihimpit tangga pula, Indonesia menjadi korban Perang Speku- lan Devisa di Asia sehingga mengakibatkan ekonomi kita ambruk bangkrut. Tidak puas dengan malapetaka bertubi tubi ini maka para pemimpin Indonesia di bawah Presiden Habibie secara kejam tanpa belas kasihan telah melahap dana pemerintah dan negara dengan berbagai korupsi yang tidak bisa diusut tidak bisa dihukum. Mission Impossible Gus Dur Inilah mission impossible Gus Dur. Poor President Gus Dur! Mengingat situasi dan kondisi itu maka sepatutnyalah kita dukung Gus Dur un- tuk merehabilitasi ekonomi dan politik kita secara rasional. Warisan Perang Dingin masih juga berkecamuk di Indonesi dewasa ini: konfron- tasi golongan nasionalis militan dengan golongan Islam militan dengan TNI se- bagai pihak ketiga yang mendukung Golkar, selalu ngintip momentum psikologis. Setelah usai pemilu malah violence inilah yang mau meledak. Mau tidak mau harus diakui jasa Amien Rais dengan blitzkriegnya berhasil membentuk kabinet Gus Dur sekarang ini. Malang baginya, belum sempat ia bergerak dalam sebulan di Istana, masalah Aceh khususnya dan masalah separatisme bermunculan ibarat bisul bisul se- hingga masalah pembangunan kembali ekonomi terdorong lagi kebelakang. Investor yang sudah kembali bergairah kembali wait and see. Sementara pe- ngangguran massal, busunglapar. kelaparan massal, kejahatan kejam, semakin merajalela pula, kesemuanya merupakan kendala berat bagi ekonomi. MINUS GUS DUR Dengan mendukung Gus Dur tidak berarti kita harus membabi buta tanpa rasional. Kita harus mengetahui minus Gus Dur dan membantu mengatasinya: 1. Seperti BK Gus Dur mempunyai visi politik tapi visi ekonominya minus. Namun berbeda dengan BK, kini ia mempunyai menteri yang handal seperti Kwik Gian Gie yang muda belia karena itu tidak cukup kuat dalam politik ekonomi yang sesuai dengan situasi dan kondisi Indonesia dewasa ini walaupun wawasan ekonomi rakyanya adalah paling jitu dalam teori sulit sekali dalam praktek. Karena tidak ada "narrowing down" atau konsentrasi atau fokus seluruh kabinet yang harus dipelopori oleh Presiden sendiri. Ditambah pula dengan kenyataan bahwa kita tidak mempunyai sumber dana dan daya pelaksana birokrasi kita yang melempem akibat langsung preokupasi kekurangan sembako dan ongkos sekolah anak anaknya: hidup serbakurang. Saran: politik ekonomi baru harus ditunjang oleh birokrasi yang potensial bukan birokrasi yang impoten - hanya potensial untuk korupsi - seperti sekrang ini. Kekurangan pendididkan dan pengalaman Presiden Gus Dur dalam "Government" tidak mengkhawatirkan karena dia tidak arogan, mau belajar terus. "Permainan Solo" Gus Dur sebagai Presiden RI harus dikurangi sedikit demi se- dikit karena sekarang ia adalah pemimpin tertinggi Indonesia, kecuali daripada itu harus dikomunikasikan kepada para menterinya supaya ada konvergensi po- litik. Alangkah baiknya apabila ia belajar dari Presiden Ronald Reagan yang te- lh dijuluki "the Great Communicator" itu. Dia bukan lagi seperti diktator Suharto yang secara membabi buta didukung oleh para menteri, TNI, dan DPR/MPR. New York, 1 Desember 1999. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 3 Dec 1999 jam 04:37:39 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
