----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

BERITA UTAMA WASPADA SABTU, 4 DESEMBER 1999
Doa Tolak Bala Menggema

BANDA ACEH (Waspada): Detik-detik menjelang peringatan hari ulang tahun ke-23 Gerakan 
Aceh Merdeka
(GAM) Sabtu (4/12) hari ini, jamaah masjid di seluruh Aceh melaksanakan zikir, yasin, 
takhtim dan
doa tolak bala untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar Aceh terhindar dari 
pertumpahan
darah.
Ayat-ayat Al-Quran itu dilantunkan begitu syahdu sehingga suasananya tak jauh beda 
dengan malam
bulan suci Ramadhan. Sayup-sayup Surat Yasin yang menggema di seluruh masjid di Aceh 
menggambarkan
betapa mayoritas rakyat di Serambi Mekkah itu menginginkan kedamaian.
Sementara itu kota Banda Aceh dan Aceh Besar, tegang dan mencekam. Kenderaan aparat 
kepolisian dan
pasukan elite-nya, gencar melakukan patroli. Bersamaan dengan itu, isu unjuk rasa 
mahasiswa dan
rakyat Aceh di Gedung DPRD I Aceh semakin mencemaskan warga.
Ribuan warga, Banda Aceh dan Aceh Besar, melakukan ronda malam dengan sistem pagar 
betis terutama di
kawasan komplek perumahan dan pemukiman penduduk. Pamswakarsa yang dilakukan 
masyarakat itu, dengan
cara menjajarkan 30 warga setiap jarak 50 - 70 meter.
Langkah itu dilakukan, untuk mengantisipasi masuknya provokator yang akan 
mengobok-obok daerah ini,
di balik perayaan HUT GAM.
Terdengar nyaring
Hingga menjelang pukul 24:00, suara doa-doa dari berbagai masjid dan meunasah di Banda 
Aceh
terdengar begitu nyaring, mengisi kesenyapan malam yang terasa agak mencekam. Belum 
lagi dengan
berpatrolinya panser dan truk berisi pasukan Brimob mengelilingi kawasan kota Banda 
Aceh dan
sekitarnya.
Seorang ulama memimpin doa itu, selepas shalat maghrib hingga menjelang Isya. Selain 
doa masyarakat
juga membaca surah Yasin secara bersama, laki-laki, perempuan, pemuda, pemudi dan 
segenap lapisan
masyarakat.
Para pria dewasa khusyuk berdoa untuk keselamatan diri, keluarga dan umat keseluruhan.
"Keadaan ini persis ketika terjadinya tragedi G-30S PKI, tahun 1965," ujar Khatib 
Shalat Jumat, Drs
H.Zaini Yusuf, dalam khutbahnya (3/12), di masjid Kel. Laksana Banda Aceh. Zaini 
berharap, keadaan
ini bertambah mantap, selama bulan puasa dan sesudahnya.
Firman Allah SWT yang artinya: Katakanlah, jika kebenaran telah datang segala bentuk 
kebathilan akan
sirna.
Para imam shalat berjamaah juga membacakan doa qunut nazilah, doa untuk para pejuang 
dari kalangan
kaum Muslimin yang Mukmin.
Doa qunut nazilah imam menjelaskan sebagai kebiasaan Nabi SAW selama umat Islam sedang 
dalam suasana
jihad menentang kaum musyrikin. Rasulullah membaca qunut ini selama sebulan penuh, 
setiap iktidal
rakaat akhir shalat berjamaah wajib.
Sedangkan kalimah "wa kulja" menurut imam, dikumandangkan sewaktu umat Islam melawan 
Kompeni
Belanda.
Kota kalah perang
Kota Banda Aceh yang sebelumnya aman dan hingar-bingar deru kenderaan, sejak tiga hari 
terakhir ini
bagaikan 'kota kalah perang'. Pertokoan, sekolahan dan perkantoran dua hari terakhir 
ini seperti
libur, walaupun tidak libur. Keadaan yang mencekam ini, telah memupuskan predikat 
Banda Aceh sebagai
kota sejuta warung.
Aksi masuknya provokator, sebagaimana disinyalir pihak Polda Aceh, ternyata nyaris 
warga non Aceh
dan siswa Senakma di Saree, Aceh Besar. Untung saja, pihak Thaliban dan Mahasiswa 
segera terjun
menetralisir issue tersebut. Para provokator itu, sebut sumber, kepada Waspada, dalam 
aksi
pengusiran warga itu, Jumat (3/12) pagi, sengaja mencatut nama Thaliban dan mahasiswa, 
sehingga
warga setempat panik.
Seorang tokoh masyarakat menyebutkan, sulit membayangkan apa yang bakal terjadi, andai 
kata Saree
yang dihuni mayoritas warga non Aceh itu, meninggalkan rumah dan kedai. Bisa jadi, 
puncak Seulawah
berhawa sejuk ini, bisa dibumihanguskan oleh sang provokator.
Selain itu, hubungan darat Banda Aceh ke pantai Barat - Selatan dan Banda Aceh - 
Medan, via pantai
Utara sejak dua hari ini lumpuh total. Dampaknya sebagaimana dilaporkan wartawan 
Waspada dari Tapak
Tuan, harga sembako di kawasan itu membumbung tinggi. Seperti, cabai merang, biasanya 
Rp. 3.000/kg
menjadi Rp. 10.000/kg gula pasir, yang sebelumnya hanya Rp. 2.500, naik hingga Rp. 
3.000/kg.
Daerah ini sejak beberapa hari lalu, merasa terkucil karena tak satupun surat kabar 
dan majalah
terbitan Medan, Jakara serta lokal, yang beredar di sana. "Kami betul-betul buta 
informasi," ujar
Aiyu dan Hamsanuddin melalui SLJJ, Jumat tengah malam.
Dikedua kawasan itu juga, mulai terlihat pancangan tiang bendera bersimbol Bulan 
Bintang, siap
dinaikkan. Di Desa Meunasah Cut Mamplam, Kecamatan Muara Dua, Aceh Utara, kelihatan 
sudah memasang
Billboard Aceh Sumatera National Front Liberation dengan lukisan Pulau Sumatera. 
Padahal, sehari
sebelumnya pasukan Brimob sempat memporak-porandakan billboard dan gapura yang dihiasi 
warga
setempat.
Menanggapi issue unjuk rasa yang akan berlangsung, Sabtu (4/12) sore. Kapolda Aceh, 
Brigjen. Pol.
Drs. Bachrumsyah, mengingatkan, agar semua pihak tetap memegang kesepakatan tentang 
tidak adanya
aksi dibalik perayaan, kecuali membaca doa, zikir dan takbir serta tahmid dan selawat 
badar.
"Jadi, jika ada yang membuat macam-macam di luar itu, berarti itu ulah provokator. 
Berarti
masyarakat Aceh, perlu mencurigai dan menangkap sebagai pembuktian siapa sebenarnya 
provokator itu,"
kata Kapolda.
Sementara Danrem 012/TU, Kolonel CZI Syarifudin Tippe, SiP, Msi, juga mengimbau semua 
pihak harus
menahan diri. Agar, semua yang direncanakan bisa berjalan lancar sebagaimana hasil 
kesepakatan di
DPRD I Aceh. Katanya, dalam hal ini TNI tetap berada di instalasi dan baraknya 
masing-masing.
Pageu Gampong
Selain doa, pemuda desa/kota Banda Aceh/Aceh Besar bersama-sama memagar kawasan 
mereka, yang dikenal
istilah pageu gampong. Ide pemagaran desa dengan kegiatan jaga malam ini, bukan muncul 
dari aparat
desa, tapi dari penduduk sendiri.
Waspada memperhatikan kegiatan ini tak ada paksaan dan tekanan aparat resmi, tapi 
benar-benar muncul
atas kesadaran memelihara ketentraman desa.
Seorang pemuda di sebuah desa menyampaikan pada Waspada, mereka mengerahkan semua 
potensi pemuda
untuk menjaga desanya dari gangguan pengacau yang mereka sebut provokator.
Soal provokator Taufik Abda, Presidium Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) 
menyatakan pasukan
Brigade Kucing Hitam (intelijen mahasiswa) telah dikerahkan di berbagai tempat untuk 
mendeteksi
keberadaan provokator. Mahasiswa, katanya siap mengamankan pelaksanaan HUT GAM dari 
tangan-tangan
provokator.
Sebelumnya juga dilaporkan tentang keberhasilan Brigade Kucing Hitam mengamankan 
puluhan provokator
selama satu bulan terakhir ini di Aceh. Motif para provokator pun beragam, mulai dari 
pemerasan,
pencurian kenderaan bermotor hingga pengrusakan dan pembakaran. 
(b02/b03/b06/b07/b04/cik)
Lhokseumawe Seram,
Bireuen Meriah

LHOKSEUMAWE (Waspada): Hari ini Sabtu 4 Desember 1999, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 
merayakan Hari
Ulang Tahun (HUT) yang ke-23.
Banyak pihak yang mempertanyakan apa yang bakal terjadi hari ini di Aceh. Akibatnya, 
suasana kota
gas itu hingga tadi malam diliputi suasana seram.
Pantauan Waspada hingga Jumat (3/12) malam suasana kota Lhokseumawe, Aceh Utara, dan 
kota kecamatan
lainnya di sekitarnya agak tegang dan mencekam.
Aparat keamanan TNI/Polri nampak hilir mudik mengitari jalan-jalan kota baik memakai 
kenderaan
maupun berjalan kaki memantau situasi. Sedangkan masyarakat di siang hari Jumat 
kemarin lebih banyak
mengurung diri di rumah maupun di meunasah dan masjid hingga suasana agak lengang.
Sejumlah pertokoan juga terlihat tertutup terutama yang terletak di pusat kota 
Lhokseumawe. Hanya
satu dua yang buka, termasuk warung-warung kopi yang di pinggiran kota.
Dari lapangan dilaporkan keinginan masyarakat Aceh untuk merdeka tampaknya sudah 
sangat kuat. Hal
ini ditunjukkan dengan antusiasnya masyarakat yang secara serentak membuat berbagai 
bentuk grafiti
ciri khas Aceh, bahkan di beberapa tempat sudut jalan terlihat lukisan Pulau Sumatera 
ukuran raksasa
yang menunjukkan batas wilayah Aceh dengan Indonesia. Berikut pancangan tonggak 
bendera Aceh Merdeka
pada bagian peta wilayah Aceh.
Sumber Waspada menyebutkan, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah menganggap 
bahwa Aceh
bukanlah wilayah Indonesia namun merupakan wilayah tersendiri yang lepas dari NKRI.
Kata dia, saat ini bagi sebagian masyarakat Tanah Rencong kemerdekaan adalah harga 
mati dan tidak
bisa ditawar-tawar lagi meskipun nyawa taruhannya.
"Sejarah telah membuktikan bahwa Aceh adalah sebuah negara yang berdaulat. Karena itu 
rakyat Aceh
harus merebut kemerdekaan," tegasnya.
Selama ini kata dia, rakyat Aceh begitu tertindas oleh Pemerintah RI sejak puluhan 
tahun yang lalu,
karena itu kemerdekaan merupakan jalan satu-satunya untuk mengembalikan harkat 
martabat rakyat Aceh.
Sementara itu salah seorang pemuda yang mengaku anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 
yang ditemui di
tempat terpisah kepada wartawan mengatakan pihaknya tidak ada keinginan untuk 
melakukan kerusuhan
atau tindakan anarkis lainnya pada saat perayaan HUT GAM ke-23.
GAM menginginkan perayaan HUT yang ke-23 ini berjalan damai dan tidak ada korban 
berjatuhan dari
kalangan rakyat sipil. Namun mereka siap dengan konfrontasi senjata bila TNI/Polri 
melakukan
tindakan kekerasan, katanya.
"Kami diintruksikan oleh Panglima GAM Wilayah Pase dan Panglima Angkatan Gerakan Aceh 
Merdeka (AGAM)
pusat Tgk. Abdullah Syafei untuk tidak menggunakan senjata. Namun bila TNI yang 
memulainya kami akan
membalas untuk melindungi rakyat sipil, kata anggota GAM yang tidak bersedia menyebut 
identitasnya
itu.
Di setiap kecamatan terutama dititik-titik perayaan HUT tersebut, diperkirakan 
perayaan itu akan
berlangsung meriah dan dilaksanakan secara serentak selama beberapa hari. Kegiatan 
itu, katanya,
akan diisi dengan takbir Akbar, pembacaan hikayat perang sabi, musabaqah qari, ceramah 
agama dan
hiburan rakyat lainnya seperti seudati, rapai serta aneka atraksi lainnya. (tim)
Mendagri: TNI Dan GAM Tahan Diri

JAKARTA (Waspada): Saat HUT Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember, Mendagri 
Suryadi Soedirdja
meminta semua pihak, baik dari pihak TNI maupun GAM, berusaha menahan diri dan 
mengedepankan
kepentingan rakyat.
"Kami Pemda bersama aparat keamanan akan lebih mengedepankan dialog, mari kita lakukan 
dengan kepala
dingin, jangan sampai mengorbankan rakyat, katanya, di Jakarta, Jumat.
Apabila masing-masing memaksakan kehendak dan terjadi kerusuhan maka rakyatlah yang 
menderita, kata
mantan Gubernur DKI Jakarta itu seusai menandatangani naskah kerja sama Dwipraja 
antara Pemda DKI
dan Pemda Tingkat I Lampung, Sulsel dan Kalsel di Balaikota Jakarta, Jumat (3/12).
Menurut dia, pihaknya saat ini sedang mengupayakan pemulihan keadaan yang dinilainya 
sangat rawan,
pihaknya juga terus menerus mengadakan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat untuk 
mencari titik
temu dari segala perbedaan yang memicu kuatnya tuntutan referendum di Aceh.
Dia mengatakan, pihaknya sudah berbicara dengan para tokoh masyarakat tersebut tentang 
bagaimana
masa depan anak-anak yang terpaksa kesulitan makan dan tidak bisa sekolah karena 
konflik tersebut.
Artinya, meski berbeda, sebenarnya kedua pihak harus tetap saling menghormati, karena 
jika sampai
kasus Aceh ini menyerupai Ambon, dimana terjadi tragedi kemanusiaan, sungguh sangat 
menyedihkan.
Tidaklah ada untungnya saling menganiaya, saling menghilangkan nyawa, karena kerugian 
akan ada di
kedua pihak.
"Sebenarnya, yang ada di Aceh itu, konflik horisontal antar warga masyarakat sendiri, 
itu saya lihat
juga waktu saya ke Aceh pekan lalu. Ada kejadian besar yang membuat mobilitas kurang 
lancar karena
penduduk ternyata mempunyai blok-blok tersendiri yang tidak homogen, sehingga 
masyarakat suatu
daerah menganggap berbahaya ke suatu daerah yang lain," katanya.
Begitu terganggunya, sampai-sampai aparat Pemda yang tersebar terhambat pergi ke 
kantornya, padahal
pelayanan masyarakat tidak boleh terganggu, ujarnya. "Tetapi selama keamanan itu belum 
terjamin,
keadaan akan terus begini."
Namun, dia mengatakan, masyarakat Aceh tidak perlu khawatir soal terhentinya pelayanan 
Pemda kepada
masyarakat, karena pihaknya telah berupaya keras agar pelayanan kepada masyarakat 
terus berjalan,
sambil sekaligus merehabilitasi keadaan.
Menurut dia, Negara Kesatuan Indonesia sudah final, dan segala perbedaan antara daerah 
satu dengan
daerah lainnya haruslah diselesaikan secara arif dengan berdialog secara intensif, 
bukan dengan
kekerasan yang mengorbankan rakyat.(ant)
Warga Banda Aceh 'Panas Dingin'

BANDA ACEH (Waspada): Sehari menjelang pelaksanaan HUT Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 
warga Banda Aceh
"panas dingin" karena diliputi rasa takut akan terjadi kontak senjata antara GAM 
dengan pihak
TNI/Polri.
Sejak Kamis (2/12) pagi, kota spiritual itu diterpa berbagai isu menakutkan. Wartawan 
Waspada yang
melakukan pemantauan sejak Kamis menjelang Jumat dinihari kemarin, melihat kondisinya 
begitu
mencekam. Apalagi, di kota itu aparat keamanan Siaga I dengan perlengkapan perang 
stanbay di
lokasi-lokasi strategis.
Sedangkan Kamis pagi menjelang sore sejumlah kenderaan rantis lapis baja lalu lalang 
di kawasan kota
dan menyisiri pinggiran darah Aceh Besar. Pemandangan lainnya tampak sesekali truk 
sarat pasukan
Brimob menyusuri jalan protokol dan jalan pintas lainnya dengan senjata ditangan.
Kendati vanser dan truk militer tampak "aktif" sejak pagi menjelang siang, kelihatan 
warga masih
melaksanakan aktivitas, walau volumenya menurun. Namun menjelang sore, kawasan 
pertokoan satu
persatu mulai tutup hingga pukul 20:00 hampir pertokoan tutup seluruhnya.
"Mau cari makan saja kami terpaksa pergi ke hotel karena warung-warung dan tempat 
jajanan tutup
lebih cepat," kata seorang pamen polisi kepada Was-pada ketika sedang melakukan 
patroli.
Di pihak lain, perumahan TNI maupun Polri di kota itu dikawal dan mendapat pengawasan 
ketat oleh
petugas. Seperti yang terlihat di Asrama Kuta Alam, Lamteumen, Lampulo, Neusu termasuk 
Lingke.
Sedangkan kawasan pemukiman penduduk kelihatan sepi karena penghuninya lebih memilih 
mengurung diri
untuk menghindari hal tak diinginkan.
Isu bermunculan
Ketegangan di Banda Aceh tampaknya mulai terasa pada Kamis malam, di mana sejumlah isu 
pembunuh
merebak di kalangan masyarakat. Perebutan senjata aparat yang dilakukan masyarakat 
sipil di depan
Simbon Sibreh, misalnya, sempat bikin warga ketakutan. (tim)
Massa Jarah Rumah Dan Bakar
Mobil Milik Suku Aceh Di Medan

MEDAN (Waspada): Satu KK (Kepala Keluarga) suku Aceh Jumat (3/12) terpaksa eksodus ke 
Mapolsekta
Medan Baru karena rumahnya di Jl. Balai Desa Gang I Polonia Medan di porak-porandakan 
dan dijarah
serta mobilnya bersama isinya barang dagangnya dibakar massa.
Peristiwa yang sempat menggemparkan di kawasan Polonia Medan terjadi Kamis malam 
(2/12) sekira
pk.21:00, Zakaria, 50, pedagang keliling, sedang melaksanakan sholat Isya tiba-tiba 
terdengar
rumahnya dihujani batu dilakukan orang tidak bertanggungjawab.
Lemparan batu semakin menjadi-jadi, Rohani, 35, (istrinya) keluar rumah mencoba 
melarangnya. Namun
tidak berhasil malahan jendela kaca berpecahan serta mereka menendang Rohani dibarengi 
lemparan batu
bata.
Melihat istrinya dianiaya, spontan Zakaria mengamuk lalu mengambil senjata tajam terus
mengayunkannya mengenai lengan tangan salah seorang dari kelompok massa yang melakukan 
penyerangan .
Massa semakin mengamuk lalu menyorong mobil yang dipergunakan untuk berdagang makanan 
ringan ke arah
tempat sunyi jaraknya sekitar 200 meter dari rumah korban lalu membakarnya.
Karena takut diamankan pihak berwajib, 'W' salah seorang pelaku dilarikan rekannya 
dalam keadaan
jarum infus masih tertancap di tangannya menuju ke Rumah Sakit Umum Dr Pirngadi Medan.
Petugas Polsekta Medan Baru bekerjasama dengan Poltabes Medan begitu mendapat 
informasi segera turun
ke TKP (Tempat Kejadian Perkara) melakukan penyelidikan .Suasana berhasil diredakan 
dan rumah yang
porak-poranda dijaga petugas kepolisian.
Jumat pagi pk.07:00, petugas pergi massa datang lagi selain memporak-porandakan juga 
melakukan
penjarahan. Karena situasi sudah tidak menguntungkan selanjutnya Zakaria bersama 
Rohani (istri) dan
putranya terpaksa meminta perlindungan ke Polsekta Medan Baru karena lebih aman.
Zakaria kepada wartawan mengatakan, kejadian ini cukup menyedihkan dan tak satu harta 
maupun pakaian
berhasil dibawa. Hanya pakaian melekat dibadan yang terbawa.
"Kemana lagi kami harus mengadu terpaksa pulang kampung halaman di Aceh", ungkap 
Zakaria dengan nada
sendu. (m27)
Masyarakat Antusias Sambut HUT GAM

SIGLI (Waspada): Secara umum masyarakat Aceh di Pidie antusias menyambut perayaan hari 
ulang tahun
ke-23 Gerakan Atjeh Merdeka (GAM) 4 Desember mendatang, terkesan suasananya mirip 
menyambut perayaan
Proklamasi RI, 17 Agustus.
Kegembiraan masyarakat Atjeh tersebut tergambar dari aktivitas masyarakat yang 
mempersiapkan secara
lengkap dan akbar hari yang disebut telah ditunggu-tunggu selama 22 tahun lebih itu.
Masyarakat secara umum mempersiapkan gaba-gaba, umbul-umbul, bahkan bendera dan 
melakukan gotong
royong massal membersihkan pinggir jalan desa, pekarangan rumah, kebun kosong dan 
lingkungan
perkotaan.
Selain itu, dilaporkan sejumlah bangunan milik masyarakat, baik perumahan, pertokoan 
maupun bangunan
lain dipermak dengan cat hingga menambah indah suanana dan sedap dipandang.
Pantauan Waspada hingga Kamis (2/12) belum terlihat secara khusus pengibaran bendera 
bulan bintang
(bendera GAM) di lapangan, meskipun isu penaikan bendera telah merebak sejak awal 
November 1999.
Sementara itu Panglima Komando Pusat Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tgk Abdullah 
Syafii
mengatakan, tidak ada pengibaran bendera secara meluas di tengah-tengah masyarakat 
dalam menyambut
HUT Ke-23 GAM pada 4 Desember mendatang.
"Rakyat awam diminta tidak mengibarkan bendera pusaka Aceh Merdeka pada 4 Desember 
mendatang, demi
keselamatan mereka sendiri," tegas Tgk Abdullah Syafii kepada sejumlah wartawan di 
suatu tempat
kawasan Pidiei, Rabu (1/12).
Larangan ini hanya dikhususkan kepada rakyat awam. Sedangkan kepada para pimpinan GAM 
di wilayah
masing-masing, Panglima AGAM itu tetap mewajibkan pengibaran bendera Aceh Merdeka 
tersebut.
Do'a Masyarakat
Masyarakat memanjatkan doa keselamatan untuk segenap lapisan penduduk Aceh di 
masjid-masjid dan
meunasah-meunasah selama empat malam berturut-turut, sejak 1-4 Desember.
Seorang ulama memimpin doa itu, selepas shalat maghrib hingga menjelang siya. Selain 
doa, masyarakat
juga membaca surah Yasin secara bersama, laki-laki perempuan, pemuda, pemudi dan 
segenap lapisan
masyarakat.
Waspada memantau, khususnya masjid-masjid dan meunasah-meunasah mulai penuh dengan 
jamaah
melaksanakan shalat berjamaah, dalam pekanpekan akhir November dan awal Desember.
Pria dewasa dan tua yang malas ke masjid berjamaah kini mulai bergegas ke rumah Allah 
SWT, dan ikut
khusyuk berdoa untuk keselamatan diri, keluarga dan umat keseluruhan.
"Keadaan ini persis ketika terjadinya tragedi G-30 S PKI, tahun 1965," ujar Khatib 
Shalat Jumat Drs
H Zaini Yusuf, dalam khutbahnya (3/12), di masjid Kel Laksana Banda Aceh. Zaini 
berharap, keadaan
ini bertambah mantap, selama bulan puasa dan sesudahnya.
Para imam shalat berjamaah juga membacakan doa qunut nazilah, doa untuk para pejuang 
dari kalangan
kaum muslimin yang mukmin.
Doa qunut nazilah imam menjelaskan sebagai kebiasaan Nabi SAW selama umat Islam sedang 
dalam suasana
jihad menentang kaum musyrik. Rasulullah membaca qunut ini selama sebulan penuh, 
setiap iktidal
rakaat akhir shalat berjamaah wajib.
Pageu Gampong
Selain doa, pemuda desa/kota Banda Aceh/Aceh Besar bersama-sama memagar kawasan 
mereka, yang dikenal
istilah pageu gampong. Ide pemagara desa dengan kegiatan jaga malam ini, bukan muncul 
dari aparat
desa, tapi dari penduduk sendiri.
Waspada memperhatikan kegiatan ini tak ada paksaan dan tekanan aparat resmi, tapi 
benar-benar muncul
atas kesadaran memelihara ketentraman desa.
Bahkan kaum ibu, sukarela menyedekahkan minuman kopi, dan kue-kue alakadarnya untuk 
pemuda mereka.
PAY: Jangan Panik
Partai Abulyatama (PAY) Kotamadya Banda Aceh mengimbau warganya dan masyarakat umumnya 
untuk tidak
panik dan terpancing berkaitan dengan HUT ke-23 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada Sabtu 
(4/12) ini.
Masyarakat hendaknya senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dan terus berdoa 
agar daerah ini
terlepas dari bencana dan malapetaka, imbau Razali Ahmad, Ketua PAY Kodya Banda Aceh 
kepada Waspada
Kamis (2/12).
"Mari kita ciptakan suasana aman dan damai dengan terus menjalin ukhuwah Islamiyah 
sesama kita,
sehingga kita tidak mudah terprovokasi oleh orang-orang yang tidak menginginkan daerah 
Aceh aman dan
tenteram.
Foto Studio Tutup
Sejak Minggu (28/11) semua studio photo di kota Lhokseumawe, Aceh Utara, tutup total, 
membuat para
wartawan kewalahan untuk mencetak photo. Menurut keterangan yang Waspada peroleh semua 
pengusaha
photo studio eksodus ke Medan.
Di kota Lhokseumawe, sampai saat ini belum ada pengusaha studio warga pribumi (Aceh) 
semuanya WNI
keturunan China, sampai kapan pengusaha studio itu tutup, belum jelas diketahui.
Wartawan photo di daerah ini terpaksa mengirim film ke Medan, karena satu-satunya 
pengusaha studio
photo milik orang Aceh di luar kota Lhokseumawe (Batuphat) juga tutup, ujar wartawan 
yang bertugas
di daerah ini. (tim)
AGAM Temukan Ladang
Ganja Di Samalanga

SAMALANGA (Waspada) : Seratus orang intelijen Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) 
wilayah Batee
Ileik, dipimpin Komandan Operasi Tgk. Darwis Djeunieb, Jumat (3/12) menemukan tiga 
hektar ladang
ganja siap panen di kawasan transmigrasi Krueng Meuseugob, Kecamatan Samalanga, 
Kabupaten Bireuen.
Sementara itu di kota Lhokseumawe, ibukota Aceh Utara aparat keamanan mengobrak-abrik 
seluruh
umbul-umbul yang dipasang di toko-toko sepanjang jalan Merdeka, membuat pemilik toko 
dan ruko
menjadi ketakutan. Sedangkan di sepanjang jalan negara Medan - Banda Aceh dilakukan 
sweeping oleh
aparat keamanan.
Menurut Tgk. Darwis Djeunieb, berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa di lokasi 
transmigrasi
yang sudah ditinggalkan penghuninya sebulan lalu ada ladang ganja, pihaknya 
memerintahkan anggota
intel AGAM untuk melacak laporan tersebut.
"Ternyata benar, di tengah-tengah pemukiman warga transmigran yang sudah eksodus itu, 
ditemukan
ladang ganja yang hidup subur, " kata dia.
"Mengingat luasnya ladang ganja tersebut, kami menurunkan 100 orang anggota Intel 
untuk mencabut dan
membasminya," ujar Tgk. Darwis Djeunib.
Pencabutan tanaman haram itu dilakukan sejak Jumat pagi hingga siang hari, kemudian 
langsung di
basmi.
Kepada seluruh bangsa Aceh, Dan Ops AGAM mengimbau untuk memberitahukannya kepada 
AGAM, dimana saja
kedapatan dan diketahui adanya tanaman haram dan perbuatan maksiat lainnya di bumi 
Aceh, karena kami
tidak akan membiarkan tanah Aceh ini dicemari oleh siapapun juga," ujar Tgk. Darwis 
Djeunieb.
Sehari sebelumnya, Intel AGAM wilayah ini juga berhasil menangkap 400 Kg ganja kering 
yang siap
diangkut ke luar daerah Aceh, di salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Samalanga, 
Kabupaten
Bireuen berikut menangkap tiga orang tersangka.
Ke 400 Kg ganja tersebut, disaksikan ratusan warga masyarakat dimusnahkan. Tiga 
tersangka yang
berinitial MUN bin YS, 26, FAI bin YC, 22, keduanya warga Samalanga dan SAI bin AGN, 
25, warga Jln.
Plamboyan Desa Garot, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, di intrograsi. Bila 
keluarganya menjamin
tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut akan di bebaskan, kata dia.
Sementara itu aparat keamanan sejak Kamis (2/12) sampai berita ini dikirim masih 
melakukan sweeping
di sepanjang jalan negara dan jalan masuk kota Lhokseumawe, semua kenderaan yang 
melintasinya
diperiksa, termasuk mobil armada pengangkut HR. Waspada.
Selain memeriksa kelengakapan surat-surat kenderaan dan KTP, aparat juga dengan teliti 
memeriksa
seluruh barang-barang dan bagasi mobil, demikian juga dengan pengendara sepeda motor 
termasuk anak
koran.
Bagi warga yang sudah membawa kelengkapan surat-surat, aparat memerintahkan untuk 
mengambilnya,
sementara SIM atau identitas lainnya dipegang oleh aparat yang melakukan sweeping 
tersebut.
Selain itu, warga kota Lhokseumawe dan sekitarnya yang telah memasang umbul-umbul di 
depan toko dan
rukonya, Kamis (2/12) seluruh diobrak-abrik aparat keamanan Jumat.
Karena banyaknya aparat keamanan yang melakukan patroli di kota Lhokseumawe dan 
sekitarnya, membuat
situasi jadi mencekam, banyak masyarakat yang tidak berani ke luar rumah, sementara 
semua toko,
kantor pemerintah/swasta dan seluruh Bank tutup total, yang ada masyarakat terutama 
kaum ibu di
pajak ikan dan pajak sayur. (tim)
---------------------------------------------

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Dec 1999 jam 07:56:38 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke