----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

>From Aceh's People Cricis Center
Banda Aceh

Kondisi  Aceh sebelum dan pasca 4 desember ditandai dengan munculnya berbagai
macam isu yang berkembang ditengah tengah masyarakat sehingga membuat
masayarakat hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran yang sangat. Kondisi
sebelum 4 desember sebagian masyarakat kecamatan Selimum khususnya kemukiman Lamtamot
dan kemukiman Saree mengungsi ke tempat tempat yang menurut mereka lebih aman.
Masyarakat kemukiman Lamtamot dan Panca mengungsi ke  mesjid Selimum dan SD
Selimum, sedangkan kemukiman Saree mengungsi ke Banda Aceh sebanyak 32 KK.

Kondisi pada tanggal 4 desember ditandai dengan dilaksanakannya upacara HUT
GAM dibeberapa tempat. Aceh besar dipusatkan di Piyeung dan Tungkop, begitu juga
didaerah daerah lainnya. Kepatuhan masyarakat mendengar setiap amaran yang
dikeluarkan oleh GAM menandakan bahwa sebagian masyarakat Aceh sepakat dan
setuju  serta mendukung gerakan Aceh Merdeka. Hal yang sangat kita sayangkan
ketidak konsisten pemerintah khususnya TNI/Polri dalam menyikapi setiap
pergolakan yang terjadi di Aceh baik pra maupun pasca 4 desember. Ini terbukti
dengan terjadinya beberapa peristiwa di Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie dan Aceh
Barat. Kemudian kondisi  kota Banda Aceh sehari sebelum 4 desember sudah
nampak
sangat mencekam apalagi pada malam hari H sebagian masyarakat memadati mesjid
mesjid untuk berdoa dan selawat sehingga nampak sekali dijalan tidak ada
satupun kenderaan yang lewat tetapi hanya panser dan aparat kemanan saja yang
sering lalu lalang di jalan jalan kota.

Pemantauan relawan relawan PCC di beberapa daerah yang secara langsung
melakukan monitoring  antara lain :

Terjadi penembakan keatas saat masyarakat Idi Rayeuk Aceh Timur  melakukan
aksi
dengan berjalan kaki sambil membaca doa, kejadian ini telah membuat masyarakat
panik dan lari kocar kacir. 12 personil aparat  Brimob menembak keatas dan
merusak umbul umbul yang dibuat masyarakat Krung Geukuh Aceh Utara dalam
menyambut HUT GAM dan bulan Ramadhan, aparat aparat tersebut mengeluarkan kata
kata " Orang Aceh mau saya bunuh semua, apa merdeka merdeka".  ini semua
semakin menunjukkan bukti bahwa aparat (pemerintah) sama sekali meng-angin
lalukan masalah aceh, dan untuk ini hanya satu hal yang harus dipikirkan oleh
orang aceh bahwa persoalan pelanggaran HAM dan penghancuran terhadap seluruh
unsur dalam masyarakat aceh hanya kita sendiri yang bisa menyelesaikannya.
hanya ada dua pilihan, kita selesaikan dengan cara kita sendiri atau pusat
harus segera merealisasikan seluruh tuntutan rakyat aceh. Emosional ! jelas,
seluruh orang aceh dalam keadaan emosional saat ini, namun masih mampu
berpikir dengan kepala dingin. nah, apakah ketika fungsi kontrol masih dapat
dijalankan, masih adakah harapan untuk menunggu pusat berbuat sesuatu ?

Berikut beberapa aksi brutal militer selama pra dan pasca perayaan HUT GAM,

Insiden Layung, Aceh Barat

Pada tanggal 27 Nopember 1999 sekitar pukul 20.00 aparat TNI dari Kompi C
Lapang Meulaboh mengadakan patroli dengan jumlah pasukan sebanyak 2 truk
lengkap. Berpatroli dari Meulaboh menuju ke Kuala Bhe. Pada saat itu pula
aparat TNI berpapasan dengan mobil kijang yang didalamnya berawak 5-6 orang
sipil bersenjata (GAM) yang kebetulan sedang menuju ke arah Meulaboh, dan
kontak senjata pun terjadi sekitar 15 menit di Desa layung. Korban dari pihak
TNI (1 orang tewas), dan dipihak GAM 3 orang mengalami luka tembak. Pihak GAM
melarikan diri dan korban luka tembak juga dibawa serta. 30 menit kemudian, di
lokasi terjadinya kontak senjata tersebut, aparat TNI melakukan penyisiran
dengan represifnya sehingga mengakibatkan jatuhnya korban dari masyarakat
sipil. Penyisiran berlangsung hingga pukul 16.00 tanggal 28 Nopember 1999.

Namun, aparat datang lagi sekitar pukul 22.00 dan kembali menyiksa masyarakat
dengan kasar dan tidak manusiawi. Malah aparat secara paksa juga mengambil
barang-barang dari 15 kedai/warung kopi milik masyarakat dan merusak merusak
TV, kulkas serta membakar 7 unit sepeda motor, dan 1 unit mobil kijang yang
dibakar menyerupai api unggun. Sedangkan 1 unit mobil kijang milik warga
bernama Yusna dibawa aparat TNI.

Pada pukul 18.00 masyarakat dari lokasi sekitar tempat kontak senjata
berlangsung  (Layung, Alue Lhok, Kuwait, Kuta Padang) mulai mengungsi ke
tempat-tempat yang agak aman yaitu, Ujong Limpat, Alu Bakong, Ujong Kut, Dayah
Pesantren Nurul Islam, Mesjid Layung dan Gunung Panah.
Korban tindak kekerasan Insiden Layung :

�       Abd. Jalil (46), penduduk Desa Layung. Kepala bengkak, dada sesak dan
kemaluan sakit akibat             dipukul dengan popor senjata.

�       Nazaruddin (25), penduduk Layung. Muka bengkak dan lengan memar akibat
dipukul dan      ditendang.

�       Bustami (40). Luka memar bagian muka, bibir pecah dan patah gigi.

�       Cut Meurah Wan (35). Luka lecet kena peluru.

�       Saifuddin (26). Luka dibibir dan muka memar.

�       Ahmad Dairi (22). Muka bengkak dan memar, bibir pecah akibat dipukul
dengan sangkar aparat.

�       Saiman (30). Luka di muka, dada dan lengan akibat pukulan dengan
senjata.

�       Samsul (20). Muka bengkak dan jari hancur kena popor senjata.

�       Ilhamuddin (18). Luka di muka, bibir pecah, dada memar dan sesak
akibat
kena pukulan dan        tendangan.

�       Ilyas (28). Luka memar bagian muka, goresan di badan.

�       T. Zulfahri (30). Kepala berdarah, bibir pecah akibat pukulan  popor
senjata.

�       Ramadhan (21). Luka memar bagian muka.

�       Raja Bangsawan (30). Luka memar bagian muka.

�       Puteh (70). Luka tembak di bahu.

        14 korban lainnyatidak perlu perawatan, hanya mengalami luka lecet.
Jumlah korban seluruhnya    28 orang. 4 diantaranya harus dirawat di RSU Cut
Nya' Dhien. Mereka adalah :�   Ahmad Dairi

�       Abdul Jalil
�       T. Zulfahmi
�       Ramadhan
Jumlah pengungsi lebih kurang 2.000-an jiwa.

Pengungsi Lamtamot
Desa yang mengungsi :�  Lon Baroh, 372 jiwa/67 KK
�       Meunasah Baro, 250 jiwa/75 KK
�       Alue Rindang, 600 jiwa/140 KK
�       Lambaro Tunong, 375 jiwa/61 KK
�       Iboh Tanjung, 400 jiwa/58 KK
�       Lam Asan, 350 jiwa/95 KK
�       Lamtamot, 1.160 jiwa/227 KK
�       Panca, 400 jiwa/47 KK
�       Iboh Tunong, 260 jiwa/67 KK
�       Paya Keneng, 423 jiwa/100 KK
�       Lam Kubu, 250 jiwa/46 KK

Jumlah keseluruhan, 13.000 jiwa/1300 KK
Mengungsi sejak tanggal 27 Nopember (pukul 21.55) tiba di Banda Aceh (mesjid
kampus darussalam) dan sebagian lainnya di tampung di mesjid dan SD Seulimum.

Pada saat mengungsi, dan berada dalam camp di Seulimum. Para pengungsi ini
keracunan yang diakibatkan oleh campuran yang dimasukkan dalam makanan mereka
oleh seseorang yang hingga hari ini tidak diketahui identitasnya. Akibat ini
71 orang harus di rawat di RSUZA, 12 orang dirawat di Puskesmas Indrapuri dan 85
orang lainnya dirawat di Puskesmas Seulimum.

03 Desember 1999
Sekitar 1000-an jiwa pengungsi yang terdiri dari warga aceh dan non-aceh
bersama-sama mengungsi. Mereka merencanakan untuk menetap di Mesjid Raya
Baiturrahman, namun ketika dalam perjalanan, seluruhnya mereka ditampung di
Mesjid Seulimum bergabung dengan para pengungsi yang sebelumnya telah
ditempatkan di Mesjid Seulimum.

 KR. GEUKEUH (04/12/99)

�       Aparat datang dengan 4 unit sepeda motor beranggotakan 8 personil
mengancam penduduk Desa Tambon Baroh terutama pemuda untuk membantu
menghancurkan posko pemuda setempat, namun tak ada yang mau membantu. Namun
dengan alasan mereka simpatisan GAM, pemuda yang sedang duduk di posko diancam
untuk melakukan hal tersebut diatas. Ketika tidak ada yang bergerak, aparat
dengan emosinya memukul seorang pemuda hingga tersungkur yang kemudian
ditendang dari belakang.

Korban bernama Hasbi (40) yang berlamatkan Desa Tambon Baroh Dusun II Jl. Tuha
Selatan Kr. Geukeuh.

�       Sekitar pukul 09.30, aparat menghancurkan pintu gerbang (gapura) jalan
menuju Desa Nisam. Dalam aksinya, aparat juga memaksa 3 orang pemuda setempat
untuk membakar bendera GAM. Setelah pembakaran tersebut, 2 orang diantaranya
lari dan tinggal 1 orang disandera oleh yang lalu disuruh mengarak bendera
yang
telah dibakar, jaraknya antara Desa tambon Tunong sampai Sp. Elak. Korban
bernama Yusra (18) penduduk Desa Tanbon Tunong. Sedangkan yang berhasil
melarikan diri adalah Adnan dan Rusdan.

�       Paloh Kayee Kunyet
Gapura dan pos keamanan pemuda setempat dihancurkan aparat karena dianggap
berbau GAM. Kemudian aparat melepaskan tembakan ke arah perumahan Desa, namun
tidak ada korban jiwa.

�       Gampong Barat
Gapura dan pos keamanan setempat dibakar aparat, namun kaum wanita desa
berhasil memadamkan api. Setelah membakar pos, aparat menganiaya 22 orang
warga
setempat. Diantara mereka ada yang dilemparkan ke sungai, 4 orang ditendang
dan
diancam dengan sangkur. Juga penembakan ke udara berulang kali untuk menakuti
warga setempat.

�       Meunasah Kulam
Aparat menangkap seorang warga Desa bernama Yadib Abu Bakar (26). Ketika itu,
korban sedang tidur di rumah dan dibangunkan aparat langsung secara paksa
disiksa. Korban mengalami patah pinggang dan memar seluruh tubuh. Sekarang
korban berada dalam perwatan Puskesmas Nisam. Ada 2 orang saksi yang bersedia
di panggil untuk dimintai keterangan.

Insiden Sigli (04/12)

Pukul 11.00 siang tanggal 4 Desember 1999 setelah upacara perayaan HUT GAM,
sekitar 4 truk massa ditambah dengan konvoi mobil dan sepeda motor mengadakan
pawai yang dimulai dari arah Beureunun yang direncanakan menuju kota Sigli.
Namun massa yang mengusung bendera GAM dihadang di depan Markas Kodom Sigli
dan
langsung diberondong dengan senjata yang mengakibatkan jatuhnya korban dari
massa yaitu 3 orang luka tembak dan 8 lainnya luka akibat jatuh dari truk. 4
orang korban sekarang dirawat di RSU Sigli, 1 orang korban luka tembak di
tangan sudah dievakuasi ke RSU ZA Banda Aceh. Pada saat insiden penemabakan
itu, korban yang sudah kocar-kacir menyelamatkan diri ke persawahan juga
ditembak sambil melakukan dikejar oleh aparat Kodim, namun tidak ada korban
jiwa lagi.

Truk, mobil dan sepeda motor yang digunakan massa seluruhnya diamanakan di
Kodim Sigli, namun sore harinya truk ini dilepaskan, sedangkan yang lain
tinggal. Massa yang tidak dapat melarikan diri di lokasi penembakan juga
ditangkap. Sore hari mereka dilepaskan setelah ada negosiasi antara anggota
DPR-RI yang kebetulan berada di lokasi. Namun ada indikasi masih ada yang
ditahan sampai dengan 5 Desember 1999.

Kandang, 04 Desember 1999
Sejumlah 38 rumah dan 3 buah Meunasah yaitu Mns. Mee, Mns. Manyang dan Mns.
Simpang di Desa Kandang kec. Kuta Makmur Aceh Utara dirusak oleh aparat Brimob
yang datang ke desa tersebut untuk menurunkan bendera GAM. Insiden ini terjadi
pukul 12.00. Sejumlah peralatan milik wrga seperti Becak, sepeda motor, dan
perabotan RT dibakar aparat.

Dokumentasi
People Crisis Centre (PCC-ACEH)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 6 Dec 1999 jam 07:58:40 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke