----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Insiden di Depan Kodim Pidie, Aparat Harus Bertanggung Jawab

Serambi-Banda Aceh
Pihak keamanan harus bertanggung jawab terhadap insiden di depan Kodim Pidie dan juga 
di beberapa
tempatnya lainnya yang mengakibatkan tertembaknya sejumlah masyarakat sipil saat 
merayakan HUT ke-23
GAM, 4 Desember lalu. "Kami minta komisi independen segera turun ke lapangan untuk 
mengusut kasus
ini secara tuntas. Pelakunya harus dibawa ke pengadilan," tukas anggota MPR asal Aceh, 
Dr Ahmad
Farhan Hamid, dalam jumpa pers dengan para wartawan media cetak dan elektronik di 
Hotel Sultan,
Senin (6/12).
Farhan Hamid-- yang ketika memberikan keterangan pers sekitar satu jam ikut yang 
antara lain
didampingi Wakil Ketua Tim Pansus DPR RI untuk Aceh Ir Drs Teuku Syaiful Achmad BMuE 
serta --
mengaku mereka (Farhan dan Syaiful- red) telah melakukan investigasi langsung ke 
lapangan sehubungan
munculnya insiden itu. Hasilnya, antara lain, diketahui ada pihak keamanan menembak 
masyarakat yang
mengadakan pawai merayakan HUT ke-23 Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
"Tindakan aparat yang menembak warga sipil itu jelas-jelas melanggar kemitmen bersama. 
Sebab,
sebelumya para petinggi TNI telah memberikan jaminan bahwa pihak keamanan tidak akan 
melakukan
tindakan apapun bagi warga hanya sekadar merayakan HUT GAM, kecuali menurunkan bendera 
merah putih
atau menaikkan bendera GAM di tempat-tempat yang merupakan simbol negara. Karenanya, 
pihak keamanan
harus bertanggung jawab terhadap insiden ini," ujar Farhan dengan nada tinggi.
Farhan Hamid juga menyebutkan, dalam rangka merayakan HUT ke-23 GAM dimaksud, 
setidaknya telah
terjadi empat insiden sangat yang melukai hati rakyat Aceh. Keempat insiden itu, 
masing-masing kasus
penembakan massa di depan Kodim Pidie, di Kandang dan Baktya (Aceh Utara), serta di 
Ulee Gle
(Pidie). "Terhadap insiden ini Bupati Pidie dan Aceh Utara telah membuat pengaduan 
resmi. Ini tidak
bisa ditolerir," ungkap Farhan, yang pada hari HUT GAM tersebut ia bersama Syaiful 
Achmad terjun
langsung ke lapangan guna memantau kegiatan masyarakat itu.
Sedangkan Teuku Syaiful Achmad mengatakan, dalam menyelesaikan masalah Aceh jangan 
lagi dilakukan
dengan tindak kekerasan. Sebaliknya, kasus Aceh ini harus diselesaikan secara politik, 
yakni melalui
jalur dialog. Sebab, katanya, apabila kasus Aceh ini selesaikan dengan kekerasan, maka 
yang muncul
kemudian justru bentuk kekerasan yang baru. "Rakyat Aceh tidak mau lagi terjadi 
pertumpahan darah di
daerah ini. Makanya, rakyat memilih referendum untuk menyelesaikan kasus Aceh secara 
aman dan
damai," ujar Syaiful.
Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Aceh, Drs H Azhari Basyar dalam kesempatan itu 
menyatakan,
sinyalemen petinggi TNI terhadap GAM yang akan melakukan penyerangan terhadap pos-pos 
keamanan pada
HUT ke-23 ternyata tidak terbukti sama sekali. Karenanya, Azhari sangat yakin di Aceh 
tidak akan
pernah terjadi kerusuhan sepanjang tidak diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu. 
"Sepanjang tidak
diprovokasi, yakinlah Aceh tidak akan terjadi apa-apa," ujarnya.
Menyangkut terjadinya korban jiwa di beberapa tempat, baik yang meninggal dunia maupun 
yang
menderita luka-luka hingga harus berbaring di rumah sakit, menurut Azhari Basyar, itu 
adalah
persoalan lain yang tidak ada kaitan langsung dengan HUT GAM. Maksudnya, peristiwa itu 
terjadi di
luar kegiatan upacara HUT GAM, bukan di lapangannya.
Masih dalam konperensi pers itu, Prof Dr Djamaluddin Ahmad MS dari PAN menilai, 
terjadinya tindakan
yang berlebihan di lapangan oleh aparat keamanan bisa jadi karena informasi dari atas 
tidak sampai
ke bawah. Menurut Djamaluddin, seandainya wartawan bisa masuk dalam pertemuan dewan 
dengan Muspida,
Jumat lalu, dan kemudian mengekspose beberapa kebijakan untuk diterapkan di lapangan, 
barangkali
situasi akan lain.
"Sayang, informasi itu tidak sampai ke bawah, khususnya aparat di lapangan. Seharusnya
kebijakan-kebijakan itu bisa diinformasikan secara luas. Tetapi, mau dibilang apa, 
wartawan kan
dilarang meliput. Ini sutau kebijakan yang salah," tukas Djamuluddin. (tim)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 7 Dec 1999 jam 02:10:05 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke