---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Rakyat Merdeka, 2 Desember 1999 Khawatir Timbul Perang MENYIMAK, kusut Aceh, saat ini membuat kita khawatir sebagai bangsa yang satu, apalagi menjelang tanggal 4 Desember 1999, HUT GAM. Banyak orang memprediksikan bakal terjadi "perang" pada tanggal tersebut. Namun, mari kita semua ataupun pihak terkait berdoa, jangan sampai terjadi perang. Sebab perang bukan cara penyelesaian terbaik. Mengantisipasi hal itu kiranya segala tindakan kekerasan harus dihentikan. Begitu juga pengusiran orang-orang pendatang non Aceh harus segera distop, karena sangat memprihatinkan. Kita semua optimis masalah Aceh bila diselesaikan melalui dialog komprehensif, meskipun diketahui bahwa sejumlah tokoh GAM menolaknya. Namun demikian upaya dialog harus selalu dikedepankan. Tentu saja pemerintah harus mengajak pentolan-pentolan GAM, sebab bagaimana eksistensinya dan propaganda mereka semakin membaur dan mendapat simpati masyarakat. Walaupun perjalanan Gus Dur keluar negeri disinyalir mengupayakan dukungan internasional untuk menekan GAM dan memecah konsentrasi masyarakat pro-referendum dan ternyata berhasil di mana Gus Dur memperoleh dukungan negara-negara ASEAN, negara-negara Arab, Amerika dan Jepang. Namun demikian, tidak begitu saja mengenyampingkan potensi GAM yang telah merasuki rakyat Aceh. Harus diakui bahwa pengaruh dukungan internasional terhadap kebijaksanaan Gus Dur besar, karena bagaimanapun itu sangat penting bagi perjuangan satu negara yang ingin merdeka. Di sinilah pulalah titik paling lemah bagi perjuangan Aceh Merdeka. Padahal di sisi lain dukungan rakyatnya terlihat sangat signifikan. Kini, pendapat pemerintah melalu Gus Dur bertentangan dengan tuntutan rakyat Aceh. Pemerintah menolak keras referendum dengan opsi merdeka dan hanya otonomi luas, namun rakyat Aceh bertekad pokoknya referendum. Akankah terjadi perang? Itulah yang tidak kita harapkan sebagai sebuah nation state. Secara de facto terlihat seakan-akan Aceh telah merdeka karena aparatuur pemerintah tidak digubris lagi, warga sipil bebas membawa senjata api, hukum sulit ditegakkan, sementara GAM terus membaur bersama masyarakat. Harus diingat secara hukum (de jure) tidak semudah itu mengucapkan merdeka. Perjuangan rakyat Aceh akan menghadapi sejumlah tantangan dan rintangan, karena referendum merdeka tidak cukup dilakukan hanya oleh orang Aceh, tapi harus mengikutsertakan rakyat Indonesia. Sebab, Aceh adalah Indonesia Raya. Jenuardi Sip, Johar Baru, Jakarta Pusat. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Dec 1999 jam 06:08:10 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
