----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 44/II/5-11 Desember 99
------------------------------

POLITIK SEOLAH-OLAH
Oleh: Pauline Dyah P

(OPINI): Dalam permainan domino, Aceh ibarat 'balak enam'. Mungkin kalimat
pembuka ini bakal diprotes selayaknya subjudul Kontan edisi dua minggu lalu.
"Ibarat tikus mati di lumbung". Tetapi gambarannya toh mirip begitu. Kalau
balak enam keluar, hampir dipastikan semua kartu di tangan lancar turun ke
meja. Begitulah cara lain menerangkan Teori Domino. Tak ayal, Ketua MPR
Amien Rais sendiri kerap me-warning. "Aceh selama ini pemilik saham terbesar
negara ini. Kalau sampai lepas tentunya kita harus mengucap innalillahi wa
inna ilaihi raajiun buat Republik Indonesia".

Gelombang memang nampak menyapu bibir pantai. Menumbur karang di Pasai,
melontar suara. Aliran akhirnya berbalik menuju hulu. Alangkah dahsyat
menyaksikan lebih dari sejuta rakyat berkumpul di Mesjid Raya Banda Aceh,
dipertalikan satu munajat. Referendum.

Cuma juga jangan lupa. Kedahsyatan daya cipta dan itikad pembebasan rakyat
tadi bermain di locus politik. Ada proses yang tidak boleh ketinggalan.
Kebersahajaan itikad akhirnya tidak selesai dengan istiqomah. Ada hitung
menghitung amunisi -apapun bentuknya, memperkuat bargaining, ada intai
mengintai, ada intrik. Maka, pada konteks ini kearifan sungguhan diperlukan.
Ia mesti mencitra bukan sekedar dalam retorika di media massa atau panggung
orasi. Di seputar locus politik pula tuntutan referendum dipahami sebagai
aspirasi dengan segala metamorfosanya.

Tulisan ini berniat mendekati dua skenario Jakarta selain innalillahi dan
satu fenomena baru di internal GAM. Bagaimana ending masing-masing skenario
tentu belum ditentukan benar. Tetap terbuka peluang revisi. Plot pertama
(masih) menyangkut tawaran antara otonomi atau federasi. Keberadaan kedua
opsi jelas bertujuan mengimbangi opsi kemerdekaan dalam proses penentuan
pendapat tujuh bulan mendatang, apabila janji (sulit membedakan ini sebagai
janji atau bukan) Presiden Abdurrahman Wahid terlaksana.

Sayangnya perkara otonomi juga masih jadi debat panjang lebar. Materinya
meluas tidak sebatas bangun otonomi semacam apa yang bakal diterapkan di
Aceh. Apalagi mengingat, betapa keberlangsungan otonomi tidak bisa breg
seketika. Sekedar menyebut satu kendala, ada mentalitas yang perlu dibenahi
selain profesionalitas birokrasi. Sebab sedikit gegabah saja, maksud membagi
adil perolehan pusat-daerah malah jadi berujung pengalihan lokasi KKN dari
Jakarta ke masing-masing daerah. Istilahnya: 'dari sentralisasi korupsi
menuju desentralisasi kemarukan'. "Seolah-olah" sudah ada keadilan. Harus
jujur usia kebobrokan mental birokrasi dan penguasa berusia lebih tua dari
jabatan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara.

Pendek kata, sama juga bohong. Dengan tensi mental sama dengan bangun rejim
lama, distribusi pendapatan oleh daerah sulit meruyak dan dirasai
masyarakat. Lebih-lebih masyarakat tingkat bawah. Di dalam kapal Nuh
Otonomi, nasib masyarakat tidak ubahnya penumpang kelas tiga kapal Titanic.
Beroleh akses survive belakangan. Ambil contoh Brazil di tahun 1971. Negeri
ini sempat mengalami hyper inflation sampai tiga digit lantaran peralihan
rejim sentralistik ke desentralistik berlangsung secara ekstrim dan
ditingkahi perilaku eporistik. Tanpa perlu trauma dengan pengalaman Brazil,
kehati-hatian diperlukan benar.

Suhu politik Aceh kini mendukung tersulutnya sentimen kerakyatan. Otonomi
terburu-buru makin melegitimasi bahwa produk apapun dari Jakarta tidak lagi
dapat dipercaya. Akhirnya, cuma satu: merdeka!

Kedua, menilik dukungan luarnegeri yang beda wajah dengan kasus Timor
Lorosae. Khusus pada bagian ini penulis berseberangan dengan Amien Rais dan
"nasehat-nasehatnya" kepada Gus Dur agar mengurangi tour of duty ke luar
negeri. Faktanya, telah terjadi perbedaan sikap nyaris 180 derajat dari
negara-negara yang dikunjungi presiden. "Seolah-olah" Gus Dur tak peduli
situasi dalam negeri. Dalam perspektif persatuan RI, jalan-jalan ala Gus Dur
bisa dibilang memberi lebih banyak manfaat ketimbang mudarat. Terutama
negara-negara jazirah Arab, ingin melihat Aceh tetap menjadi bagian RI. Toh
paragraf ini sama sekali tidak bermaksud memberi dukungan penuh terhadap
blok anti-kemerdekaan Aceh dalam RI. Jawaban persoalan lagi-lagi
dikembalikan kepada mereka yang berhak. Rakyat Aceh sendiri.

Faktor luar negeri, hemat penulis, bisa menjadi signifikan atau malah
kontraproduktif bergantung pada pertimbangan kebijakan masing-masing negara.
Pemerintah boleh klaim didukung Arab, RRC, Amerika dan sebagainya. Toh, hal
sama berlaku bagi gerakan Aceh. Bukankah Libya dan Malaysia serta Swedia
adalah tiga negara yang akrab dengan persoalan Aceh? Dan bukankah dalam
diplomasi internasional kerapkali ambivalensi diloloskan sebagai kebolehan?
"Seolah-olah" mereka mendukung Jakarta.

Lebih menarik ketika terangkat isu terjadi perpecahan di tubuh Gerakan Aceh
Merdeka. Seorang kawan dari sebuah LSM anti kekerasan yang minggu lalu
menggelar dialog interaktif antara beberapa tokoh Aceh di Jakarta dan Swedia
dengan jajaran pemerintah tidak menampik berita tersebut. "Apa yang ditulis
banyak media itu benar, kok," tukasnya. "Orang-orang Aceh terutama GAM
sendiri tidak lagi menutup-nutupi kenyataan pembelahan di tubuh mereka".
Gejala perpecahan dianggap sang kawan sebagai kewajaran.

Namun justru di situ menariknya. Mengingat kini merupakan titik paling
krusial bagi gerakan Aceh. Tidak kurang Panglima GAM Tengku Abdullah Syafii
mendukung pernyataan ini. Termasuk, Sekjen MP GAM Tengku Don Zulfahri. Dua
pihak yang diberitakan tengah tukaran (saling gontok). Betapa tidak? Logika
sederhana, fragmentasi antar elemen lazimnya segera luluh ketika mereka
memperoleh common enemy. Buat Aceh, musuh bersamanya adalah Jakarta. Buat
gerakan mahasiswa dan kelompok oposisi lainnya dulu Soeharto kini militerisme.

Lantas pasal apa berlaku? Untuk menjawab penulis mendukung sinyalemen
perubahan taktis politis GAM. Sebut saja "politik seolah-olah". Seolah GAM
terpecah. Targetnya? Untuk sementara kita dapat mengambil anggapan masih
terjadi baca-membaca dari GAM. Kewajarannya di sini. Locus politik akan
menganggap naif sikap garis keras to' atau kompromistis belaka. Politik
jelang milenia tiga adalah gabungan kedua sayap. Dan GAM telah 'cantik'
memainkan. Lho, bukan NU doang toh yang gemar main 'seolah-olah' retak?

(*) Pengamat sosial politik tinggal di Bekasi

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Dec 1999 jam 08:30:22 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke