----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 44/II/5-11 Desember 99
------------------------------

SLEEPLESS IN SEATTLE

(POLITIK): Demonstrasi besar di Seatlle, AS, menandai gerakan baru melawan
kapitalisme. Globalisasi mestinya jadi global fairness.

Ini sungguh bukan judul film percintaan Tom Hanks dan Meg Ryan. Warga
Seattle di AS, 30 November lalu, betul-betul tak bisa tidur pada saat
terjadi kerusuhan di kotanya. Puluhan ribu demonstran anti-WTO, saat itu,
mengamuk dan mengakibatkan diterapkannya keadaan darurat sipil serta
pemberlakuan jam malam.

Janji People Global Action (PGA) untuk mendatangkan 100.000 aktivis buruh,
lingkungan bahkan kelompok konsumen memang belum terwujud, namun mereka
benar-benar serius mewujudkan targetnya: membatalkan konferensi antar
negara-negara anggota WTO (World Trade Organization). Mereka menuduh banyak
kesepakatan yang dikeluarkan WTO hanya menguntungkan berbagai perusahaan
besar yang ambisius, yang enggan memperhatikan hak-hak kaum buruh dan
pelestarian lingkungan.

Dunia tercengang. Bukan saja lantaran kerusuhan dahsyat yang sempat menunda
pembukaan acara WTO ini, tapi lantaran, inilah untuk pertama kalinya -di era
usainya perang dingin- muncul sebuah gerakan perlawanan rakyat terhadap
sistem kapitalisme global.

Banyak orang berpikir, setelah runtuhnya induk komunisme Uni Sovyet,
kapitalisme akan berlenggang menguasai dunia. Mungkin betul, sebab kata
globalisasi dan perdagangan bebas seolah-olah tak lagi memiliki lawan di era
90-an. Namun, ternyata perjalanan sejarah tak merelakan arogansi kapitalisme
merajalela. Setidaknya, itu yang terjadi di Seattle. Bukan ideologi
"Sosialisme" yang dilawankan dengan "Kapitalisme", tapi masyarakat -melalui
LSM dan serikat buruh- yang menolak "kemapanan" kapitalisme.

Aneh memang. Selama puluhan tahun, harapan kritik pada kapitalisme selalu
ditumpukan pada antitesisnya, sosialisme. Bahkan setelah usainya perang
dingin, segelintir orang masih percaya, China masih berpotensi 'melawan'
para kapitalis besar, semisal AS, Jepang dan negara-negara Eropa barat.
Nyatanya, Cina malah menyatakan diri bergabung dengan WTO. Padahal, oleh
para pengkritiknya, WTO dianggap sebagai mesin penerjemah kerakusan kapitalisme.

Lalu, di mana persisnya kesalahan WTO? Setidaknya, terdapat dua sudut
pandang yang dapat digunakan untuk melihat hal ini, yaitu dari kacamata
"pendukung pasar bebas" dan "anti-pasar bebas." Sudut pandang yang pertama,
menilai para anggota WTO sebenarnya tidak benar-benar konsisten menerapkan
pasar bebas. Prinsip-prinsip pasar bebas justru dilanggar sendiri oleh para
penggagas utamanya yang menggunakan standar ganda. Di satu sisi,
negara-negara maju menghimbau negara-negara berkembang membuka lebar-lebar
pintu impornya dari negara-negara maju. Di sisi lain, mereka menutup pintu
masuk barang-barang dari negara-negara berkembang.

Misalnya dalam bidang pertanian. Keinginan untuk menurunkan tarif dan
mengakhiri subsidi ekspor supaya produk-produk pertanian bisa bersaing
secara sehat, tak kunjung bisa terwujud lantaran negara-negara maju ogah
memulai -khususnya negara-negara yang tergabung dalam Uni-Eropa. Dengan
berbagai cara, mereka berusaha memproteksi petani-petani di negara mereka.

Masih dalam sudut pandang yang sama, negara-negara maju sering dituduh lebih
mendengarkan lobi-lobi yang dilakukan "kaum proteksionis" -dari pengusaha
hingga banyak kelompok kepentingan- untuk menjalankan kebijakan yang
bertentangan dengan pasar bebas. Seperti yang dilakukan oleh AS. Presiden
Bill Clinton misalnya, tak mau mengutuk unjuk rasa di Seattle karena
bagaimanapun, sebagian besar demonstran diorganisir oleh AFL-CIO (American
Federation of Labour-Congress of Industrial Organization, asosiasi serikat
buruh terbesar di AS) yang merupakan pendukung terbesar Partai Demokrat.
(Hal yang sama dilakukan Indonesia di era Soeharto, yang memberikan proteksi
pada Tommy Soeharto untuk membuat "mobil nasional").

Sementara mereka yang anti-pasar bebas, persoalan dengan WTO bukanlah
berkaitan dengan agenda isu yang akan dibahas dalam konferensi itu, seperti
target liberalisasi, penghapusan tarif dan lain-lain. Bagi mereka
persoalannya sesederhana ini: pasar bebas itu jahat; WTO adalah alat pasar
bebas; karena itu WTO jahat! Pasar bebas sering disamakan dengan pembunuhan
lumba-lumba, penggundulan hutan, hilangnya pekerjaan atau pelanggaran HAM.
Menurut The Economist, sebuah kelompok konsumen yang menamakan diri Public
Citizen, bahkan menuduh WTO sebagai "alat pemusnah kebudayaan dan ekonomi
lokal."

Lalu, benarkah globalisasi dan pasar bebas itu harus dihindari? Masalahnya,
hal tersebut sudah terlanjur ada. Yang bisa dilakukan adalah "melawannya"
atau "membuatnya menjadi manusiawi." Melawan pasar bebas dan globalisasi
sama saja melawan hakikat kesalingtergantungan antar negara. Karena itu,
pilihan kedua, agaknya lebih realistis. Profesor Ilmu Politik dan Riset
Pembangunan dari Universitas Oslo, Olle Tornquist, kepada Xpos menyatakan
bahwa "pasar bebas" adalah sesuatu yang netral. "Sama dengan kata
'kebebasan', 'pasar bebas' bisa menjadi berbahaya jika ia tidak dikaitkan
dengan banyak masalah lingkungan, keadilan dan HAM. Kebebasan bisa berbahaya
jika menindas yang lain atau berlaku tak adil."

Demikian pula dengan keberadaan WTO. Bila yang hendak diagungkan semata-mata
adalah "pasar bebas" -atau lebih jujurnya profit, keuntungan atau kapital
belaka- maka kemunafikan yang akan muncul. Masing-masing negara akan
menggunakan standar ganda demi kepentingan masing-masing. Berbagai
kesepakatan menjadi tak ada gunanya. Sudah saatnya aspek globalisasi dalam
perdagangan bebas diganti dengan global fairness. "Sehingga semua
kepentingan bisa dinegosiasikan," ujar Tornquist. Tak lagi bisa, kapitalisme
berjalan angkuh tanpa memperhatikan kepentingan yang lain. Sebab, kerusuhan
di Seattle, bukan tak mungkin terulang kembali. (*)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Inilah Alamat "Jaringan LSM yang Menggelar Demo Besar Anti-WTO di Seattle"

1. Umum:
Public Citizen's Global Trade Watch
www.tradewatch.org
Washington DC (202) 546-4996

International Forum on Globalization (IFG)
www.ifg.org
San Fransisco, CA (415) 771-3394

2. Kebijakan Pertanian dan Pangan:
Institute for Agriculture and Trade Policy
www.iatp.org
Minneapolis, MN (612) 870-3405

National Family Farm Coalition
Washington DC (202) 543-5675

3. Perspektif Negara Berkembang:
Third World Network
www.twnside.org.sg
Penang, Malaysia +60-4-2266728

50 Years is Enough Network
www.50years.org
Washington DC (202) 463-2265

4. Ekonomi/Politik:
Alliance for Democracy
www.afd-online.org
Washington DC (202) 244-0561

The Preamble Center
www.preamble.org
Washington DC (202) 265-3263

United for a Fair Economy
www.stw.org
Boston, MA (617) 43-2148

5. Lingkungan:
American Lands Alliance
www.americanlands.org
Washington DC (202) 547-9230

Center for International Environmental Law
www.econet.apc.org/ciel
Washington DC (202) 785-8700

Friends of the Earth
www.foe.org
Washington DC (202) 783-7400

Pasific Environment and Resources Center (PERC)
www.pacenv.org
Oakland, CA (510) 251-8800

Sierra Club
www.sierraclub.org
Washington DC (202) 778-9721

Defenders of Wildlife
www.defenders.org
202-682-9400

6. Organisasi Buruh:
AFL-CIO
(American Federation of Labor and Congress of Industrial Organizations)
www.aflcio.org/front.htm
Washington DC (202) 67-5000

International Brotherhood of Teamsters
www.teamsters.org
Washington DC (202) 624-6800

United Autoworkers of America (UAW)
www.uaw.org
Washington DC (202) 828-8500

United Steelworkers of America
www.uswa.org
Washington DC (202) 77-4384

7. Organisasi Perempuan:
Women's Edge
www.womenedge.org
Washington DC (202) 884-8394

Women's International League for Peace and Freedom
Washington DC (202) 546-6727

8. Organisasi Keagamaan:
Women's Division, GBGM United Methodist Church
Washington DC (202) 488-5660
[EMAIL PROTECTED]

9. Seattle:
WTO Host Committee of People for Fair Trade
www.tradewatch.org
Seattle, WA 1-877-STOP-WTO (786-7986)

10. Usaha Kecil:
United States Business and Industry Council (USBIC)
Educational Foundation
www.usbusiness.org
Washington DC (202) 728-1985

11. Indonesia
INFID
(International NGO Forum on Indonesia)
(021) 791-96721, 791-96722
[EMAIL PROTECTED]

KONPHALINDO
(Konsorsium Nasional Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia)
(021) 782-1877, 780-4158
[EMAIL PROTECTED]

PAN
(Pesticide Action Network) Indonesia
(021) 829-6545
[EMAIL PROTECTED]

ICEL
(Indonesia Center for Environmental Law)
(021) 739-4432, 723-3390
[EMAIL PROTECTED]

WALHI
(Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)
(021) 7941672, 79193363-67
[EMAIL PROTECTED]

Menurut para pengelola Anda dapat berpartisipasi dalam melawan "putaran
milenium" di alamat mereka masing-masing. Atau turut menyebarluaskan
surat-surat Ornop/LSM internasional yang menentang putaran perundingan baru
dan menuntut peninjauan ulang atas WTO di: www.xs4all.nl/~ceo/
(Sumber: "Panduan Masyarakat untuk Memahami WTO" terbitan Working Group on
the WTO/MAI, Juli 1999; edisi Indonesia oleh INFID, Oktober 1999)
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Dec 1999 jam 08:57:11 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke