----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Tekad, 6 Desember 1999

Pdt. Herman Saud, Ketua Sinode GKI Irian Jaya
Kami Dukung Irian Merdeka, tapi secara Damai

Sejauh mana Gereja mendukug gerakan 1 Desember kemarin?
Gereja sebenarnya lebih bersikap netral, bukan mendukung, Gereja
tidak mendukung gerakan yang melanggar hukum. Dalam arti, langkah
pengibaran itu tidak mendapat dukungan Pemerintah, karena itu kami
hati-hati menyikapinyya. Tetapi gereja juga tahu bahwa masyarakat
mayoritas mempunyai tuntutan untuk merdeka. Peran gereja sebenarnya
lebih mengedepankan bagaimana bisa menjembatani keinginan besar itu,
sehingga tidak terjadi korban jiwa.

Tuntutan masyarakat besar sekali untuk lepas dari Indonesia, sikap
gereja sebenarnya seperti apa?

Tuntutan masyarakat untuk merdeka memang begitu, tapi apa Pemerintah
Indonesia setuju untuk Irian Jaya. Kami memang telah menyebarkan
seruan ke seluruh Irian Jaya, tapi untuk mewujudkan kedamaian bukan
kerusakan. Kami ingin kemerdekaan bagi warga Irian berjalan dengan
baik dan damai. Masyarakat di tanah Papua memang seluruhnya
menginginkan merdeka, itu sudah jelas. Di sisi lain, Pemerintah
Indonesia 100 persen tidak mau melepas. Untuk itu gereja memilih di
tengah mereka untuk menjembatani agar kedua keinginan ini tidak
terbenturan.

Representasi penduduk mayoritas adalah Kristiani, dan mereka
menuntut merdeka. Sikap gereja seperti apa?
   Kami memahami dan melihat itu memang keinginan mayoritas jamaat
kami. Tapi kenyatannya kan berbeda. Pemerintah Indonesia tidak
menghendaki itu. Karena itu kami akan menyalurkan tuntutan itu ke
jalur yang ada, kita akan dialog. Semua orang Papua itu ingin
merdeka, termasuk saya juga. Tapi Pemerintah Indonesia kan tidak
setujuj. Gereja akan menselaraskan agar harapan itu bisa menjadi
kenyataan.

Tapi secara institusi gereja mendukung?
   Secara institusi memang kami belum mengeluarkan sikap. Kami
mencoba menghindari dari munculnya banyak masalah akibat dukungan
gereja itu. Kami tetap menghendaki jalan damai.

Tapi kenapa dalam khutbah mingguannya seluruh gereja menyerukan agar
mendukung tuntutan merdeka?
   Kebijakan gereja soal sembahyang minggu secara resmi tidak ada.
Kami ini jamaatnya dari Sabang sampai Merauke. Jadi tidak mungkin
kalau kami menyerukan agar mendukung kemerdekaan untuk Papua Barat.
Tapi kalau dalam gereja-gereja itu terjadi kutbah-kutbah seperti
itu, saya suliat mengontrolnya. Mayoritas masyarakat menghendaki
merdeka, sementara mayoritas dari mereka adalah jamaat gereja, ini
masalahnya.

Kalau sikap gereja seperti itu apa tidak mengecewakan jamaatnya?
   Mereka memang bisa saja kecewa, tapi saya juga mempunyai jamaat
dari Jawa, Kalimantan dan lainnya yang tidak kecewa dengan gereja.
Kami tidak bisa dipaksa untuk mendukung yang mana. Masalah politik
itu bukan wilayah gereja, itu urusan negara.

Bagaimana Gereja menjembatani kedua keinginan itu seingga tidak
memakan korban?
   Menurut saya, orang Papua ini menuntut karena pengalaman mereka
selama 36 tahun bergabung dengan Indonesia, yang terjadi adalah
orang Papua ditelantarkan, orang di sini dibunuh dan diperlakukan
tidak manusiawi. Ini pengalaman buruk mereka. Karena itu mereka
kemudian menuntut. Pemerintah Indonesia selama ini hanya pinter
berteriak, kami satu kami satu, tapi tindakannya apa? Orang Irian
itu perlu didengar suaranya.

Mereka menggugat sejarah, menggungat Pepera dan pelanggaran HAM, apa
alasan-alasan itu rasional?
   Alasan-alasan itu rasional sekali dan kami mempunyai data soal
itu. Masalahnya sekarang apakah Pemerintah Indonesia bisa berbesar
hati untuk mengakui kesalahan-kesalahan itu. Untuk itu wajar kalau
mereka kemudian menuntut merdeka.

Kalau versi gereja, penyelesaian terbaik untuk Irian itu lepas atau
otonomi luas?
   Menurut versi gereja, Irian itu harus merdeka. Tapi kemerdekaan
itu harus dicapai dengan damai. Gereja tidak berharap ada korban
hanya karena ingin merdeka. Untuk itu perlu ada dialog antara
masyarakat di sini dengan pemerintah pusat. Mungkin pada tahap
pertama kita akan melakukan otonomi khusus dulu. Tapi otonomi ini
jangan pemerintah pusat yang menentukan tapi rakyat Papua. Setelah
itu berjalan sekitar 10-20 tahun, baru ada pemilihan sikap, apakah
tetap bergabung dengan Indonesia atau merdeka. Ini langkah terbaik
versi gereja.

Pengibaran bendera di Timika terjadi penembakan, apa komentar
gereja?
   Sebelumnya kan sudah ada kesepakatan, bahwa izin dari Kapolda kan
hanya sampai pukul 17.00. Kalau kemudian di Timika terjadi
pengibaran yang terus-meneruus ya menurut saya mestinya aparat tidak
main tembak begitu saja. Meskipun langkah aparat wajar, tapi jangan
sampai ada korban lagi.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Dec 1999 jam 01:26:21 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke