----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Oleh: Rony S.M.

                Menanggapi tulisan Tjipta Lesmana "Habibie balas dendam"

Ijinkanlah untuk memberikan tanggapan atas tulisan Tjipta Lesmana yang saya baca lewat 
internet di
Indonews 2 Desember 1999.

Setelah membaca tulisan tersebut saya mendapat kesan yang kurang jelas apa sebenarnya 
isi analisa
tentang perkembangan situasi sospolek di Indonesia akhir-akhir ini yang dikaitkan 
dengan
faktor-faktor internasional seperti peranan Gorbachev serta ambruknya imperium Uni 
Soviet.

Tentang peranan Gorbachev dengan glasnost dan perestrojkanya tidak sesederhana seperti 
apa yang
ditulis oleh saudara Tjipta Lesmana. Munculnya glasnost dan perestrojka bukanlah 
semata-mata hasil
satu orang [dalam hal ini Gorbachev] dan satu masa waktu saja [tahun 1998/1989], 
melainkan merupakan
proses usaha untuk merevisi tata kenegaraan, kepolitikan ,perekonomian dan 
kemsyarakatan dinegara2
kubu komunis . Dimana kekuasaan totaliteris dipegang oleh satu-satunya partai ,yaitu 
parkom-parkom
dengan politbiro2 pusatnya maupun politbiro2 daerah, yang menerapkan kekuasaan mereka 
dengan bantuan
polisi serta angkatan bersenjatanya. Masyarakat dipenuhi oleh rasa ketakutan [yang 
sengaja
ditimbulkan oleh rejim],  anggota masyarakat saling curiga mencurigai , masyarakat 
merasa dikekang
kebebasannya. Dalam bidang politik masyarakat tidak punya pilihan lain kecuali memilih 
partai
komunis dalam pemilu yang tak bebas aktif, maka dari itu hasil pemilu2 selalu mencapai 
angka lebih
dari 98% suara pemilih untuk wakil2 partai komunis. Dalam bidang ekonomi  hak untuk 
memiliki alat
produksi  cuma dipunyai oleh negara dan disana sini oleh kooperasi2 (pemilikan 
kolektif) yang
mendapat restu dan harus menjalankan kebijaksanaan ekonomi yang ditentukan oleh 
negara. Badan2
rencana ekonomi negara secara sentralis merencanakan perkembangan ekonomi negara dari 
meja hijau
menuruti garis2 yang sudah ditentukan oleh partai , juga "badan penentuan harga " 
menentukan semua
harga barang maupun jasa , sehingga dari sudut harga kelihatannya ekonomi sangat 
stabil. Situasi
sedemikian di Uni Soviet sejak tahun duapuluhan dan dinegara2 Eropa Timur lainnya 
mulai 1948/1949
berlangsung sampai tahun 1989.  Usaha untuk merevisi situasi sospolek diatas telah 
dicoba oleh
pentolan partai di Hungaria tahun 1956 yang mengakibatkan penindasan berdarah dan 
penghancuran
tokoh2 "revisionis" Hungaria, ditahun 1968 di Cekoslovakia terjadi "Prague spring' - 
Musim semi
Praha, yang ingin mengganti wajah totalitaris komunis dengan sosialisme berwajah 
manusia berkahir
dengan okupasi Cekoslovakia oleh angakatan bersenjata Bulgaria, DDR, Hungaria , Poland 
dibawah
komando dan pimpinan Armada Merah Uni Soviet. Masyarakat dikubu komunis frustasi 
hebat, mereka
merasa HAM mereka dilanggar, mereka merasa mendapat intimidasi permanen, ekonomi 
menemui jalan buntu
sebab masyarakat/negara memproduksi barang untuk digudangkan, sebab parameter tekhnis 
dan design
jauh dari bisa untuk dikompetisikan dipasar internasional, pengurasan kekayaan alam 
yang sangat
drastis dikarenakan ini merupakan satu2nya sumber devisa untuk negara. Disamping itu 
anggaran
belanja untuk pertahanan snagat tinggi, sehingga investasi dan inovasi untuk keperluan 
sipil boleh
dikata tidak ada, sehingga ini makin membuat masyarakat lebih frustrasi melihat 
negara2 barat sukses
dengan  membina masyarakat konsumsinya. Situasi politik sosial dan ekonomi yang begini 
susah untuk
bisa dipertahankan dan dipertanggung jawabkan. Untuk melepas belenggu anggaran belanja 
untuk
kepentingan militer harus diciptakan situasi damai antara dua superpower, kalau perang 
dingin bisa
diakhiri tokoh2 reformis berharap bisa menyalurkan anggaran belanja keinvestasi sipil, 
tapi
perekonomian sipil yang tetap sentralistis tak akan bisa memenuhi syarat perekembangan 
perekonomian
secara layaknya dan akan kalah dalam kompetisi dipasar internasional. Dengan demikian 
"glasnost"
[transparansi]yang dimaksud sebagai proses demokratisasi kehidupan politik didalam 
kubu komunis
harus diikuti dengan "perestrojka" [perombakan] dalam segi ekonomi , supaya ranati  
proses dari
produksi sampai kekonsumasi dan pemasaran tidak bertentangan dengan prinsip2 ekonomi 
yang berlaku
secara umum, yang dalam masa perekonomian komunis direncanakan oleh negara utnuk 
kepentingan rejim,
sehingga terjadi pemerkosaan harga, dimana harga buat konsumen bisa jauh lebih rendah 
dari ongkos
produksi.

Demikianlah karena tingkat devastasi politik, ekonomi dan sosial, dibarengi dengan 
devastasi ekologi
yang maha dahsyat, "glasnost" dan "perestrojka" mulai dijalankan di blok komunis. 
Pertemuan
Gorbachev dan Helmuth Kohl dari Jerman dan akhirnya pembongkaran "tembok Berlin" tahun 
1989, tembok
yang membagi kota Berlin menjadi dua bagian, Barat kapitalis dan Timur ibukota  DDR 
[Republik Jerman
Demokratik] yang dibangun permualaan tahun enampuluhan sebagai hasil puncak panasnya 
perang dingin.
Secara symbolik pembongkaran tembok Berlin ini merupakan start dari meningkatnya proses
demokratisasi di negara2 blok komunis lainnya.

Dari tulisan singkat diatas saya tidak heran, kalau Gorbachev tidak menyesal akan 
sikap dan tindakan
politik yang dia kerjakan semasa jabatannya sebagai Sekjen PKUS terakhir dan presiden 
Uni Soviet
pertama dan terakhir. Sebab selain faktor lain, peranan Gorbachev merupakan 
katalisator dari proses
demokratisasi, yang mulanya sebagai usaha "glasnost" dan "perestrojka" dari dalam 
system komunis
untuk membuat system komunis menjadi system yang humanis dan demokratis, tapi memang 
karena ajaran
komunis yang fondamen dasarnya adalah diktatur proletar [baca : kekuasaan totaliter], 
maka usaha
reformasi ini tentu saja tak mungkin berhasil [antara lain sebabnya adalah 
pertentangan antagonistis
antara pengertian demokrasi dan diktatur proletar]. Hasil dari perombakan dan proses 
demokratisasi
di Eropa Timur adalah pergantian dari system sosialis [komunis] ke system kapitalis. 
Tentu saja
hasil dinegara masing2 sangat berbeda2 tergantung dari kondisi dan kemampuan masing2 
masyarakat,
yang jelas proses pergantian dari sopolek komunis ke sospolek kapitalis 
[ekonomi-pasar] merupakan
masa transisi yang sangat sulit.

Dari yang tertulis diatas saya menarik kesimpulan, bahwa ambruknya imperium Uni Soviet 
bukan
terutama hasil rekayasa "made in internasional" maupun Gorbachev sebagai agen CIA, 
walaupun tidak
ada seorangpun yang yakin seratus persen ,bahwa kekuatan2 luar sama sekali tidak ikut 
mempercepat
proses tsb. untuk kepentingan sendiri. Tetapi reaksi negara2 Eropa Barat maupun USA 
atas krisis
ekonomi di Federasi Rusia,dimana mereka tak segan2 memberi dana bermiliard dolar demi 
tidak kacaunya
Federasi Rusia, sebab walau bagaimana Federasi Rusia yang disatu pihak sangat lemah 
ekonominya
[kocar-kacir] dilain pihak tetap mempunyai arsenal persenjataan nuklir yang luar 
biasa, yang bisa
membahyakan bukan saja Eropa tapi juga seluruh jagat.

Ini lebih memperkuat kesimpulan saya, bahwa "faktor dalam" lah yang paling utama yang 
telah membawa
proses kearah peralihan demokrasi dikawasan tsb.  Munculnya puluhan negara dibekas 
region Uni Soviet
hanyalah merupakan pengejowantahan dari kehendak [konsensus] masyarakat masing2, yang 
pada masa Uni
Soviet yang disatu pihak  merasa dikuras kekayaannya dan dilain pihak sangat 
dianaktirikan dan tak
digubris sama sakali oleh kekuasaan pusat Moscow.

Diambang disintegrasi total:

Contoh dan analisa yang diberikan oleh saudara Tjipta Lesmana membuat saya tak begitu 
jelas duduk
perkaranya , misalnya :

Hasil referendum di Timtim  setengah tahun yang lalu dianalisa oleh penulis sebagai 
salah satu bukti
adanya disintegrasi dan merupakan kekalahan Indonesia. Padahal menurut hemat saya 
kesalahan  besar
Indonesia timbul sewaktu Indonesia dibawah Jendral Suharto, yang notabene adalah rejim 
militer
totaliter, mencaplok dan menganeksi Timtim dan menjadikanya secara paksa sebagai 
provinsi 27
Indonesia [1975/1976]. Pencaplokan dan aneksi militer ini merupakan kesalahan, dosa 
dan pelanggaran
hukum internasional maupun peraturan2 di PBB, yang tidak bisa disyahkan walau dengan 
dalih "perang
dingin" maupun dalih, bahwa negera2 Barat/USA "merestui" pencaplokan tsb.. Jadi 
keputusan presiden
Habibie untuk mengadakan referendum itu menurut pendapat pribadi saya malah  masih 
kurang,
seharusnya Indonesia,begitu Jendral Suharto lengser,segera tanpa syarat harus 
memberikan kemerdekaan
kepada Timtim dan minta maaf atas pencaplokan yang telah dilakukannya. Jadi lepasnya 
Timtim bukan
hasil proses disintegrasi, melainkan proses pembayaran hutang Indonesia terhadap 
Timtim,pembayaran
hutang ats pemerkosaan demokrasi dan HAM, yang menurut saya masih belum lunas.

Juga tuntutan daerah2 terutama Aceh dan Indonesia Timur dinilai oleh penulis sebagai 
rentetan proses
disintegrasi total, yang bahkan penulis mengemukanan dua teori scenario, yaitu made-in 
 dalam negri
atau made-in internasional.

Teori hipotetikal bahwa proses, yang mungkin hasilnya bakal lepasnya Aceh dari 
Indonesia, adalah
balas dendam mantan presiden Habibie, menurut hemat saya memang sangat hipotetis dan 
jauh dari
realitas.

Pertama, seandainya kita setuju dengan hipotesa tsb. , berarti kita menganggap Habibie 
pengaruhnya
begitu besar didaerah2 yang sekarang bergolak, sehingga begitu tak terpilih jadi 
presiden RI
langsung dia perintahkan agar daerah2 brontak. Dipihak lain sekali gus kita sangat 
memandang rendah
kesadaran dan kemampuan masyarakat didaerah2 yang bergolak ,bahwa mereka tak sanggup 
mempunyai
pendapat dan kemauan sendiri. Ini saya kira sangat absurd. Padahal ,bahkan saya 
pribadi tak yakin
atas bisa dipenuhinya "janji" golongan yang menginginkan Habibie jadi presiden, bahwa 
kalau dia
menjadi presiden kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia tidak akan goyah. Ini janji 
yang mustahil
dan susah untuk bisa ditepati ,kalau kita sadar betapa parahnya "luka" daerah2 yang 
disebabkan oleh
brutalita dan kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah pusat Orba, lewat militer dengan
dwifungsinya, selama 32 tahun.

Saya sendiri bisa mengerti dan bisa membayangkan kalau kekuatan2 Orba yang gagal 
menjadikan Habibie
terpilih sebagai presiden RI boleh jadi mau menjegal jalannya reformasi di Indonesia, 
atau
menghalang-halangi lancarnya proses  pemeriksaan KKN, sebab kekuatan2 tsb. merupakan 
pihak yang
sangat terkena.

Tetapi saya tak bisa membayangkan kekuatan ini bisa mengorganisir "pembrontakan" 
daerah sebagai
balas dendam terhadap Indonesia yang baru, yang berusaha lepas dari sistim kekuasaan 
totaliter dan
menuju ke demokrasi.

Menurut hemat saya lebih baik kita tak mencari-cari "musuh" yang menurut saudara 
Lesmana berusaha
memecah belah  RI, tetapi dengan seksama ,teliti dan penuh kesungguhan mencari sebab 
musabab, kenapa
masyarakat daerah berontak dan menghendaki lepas dari negara kesatuan RI.

Sudah waktunya kabinet Gus Dur memberikan pernyataannya yang tegas, bahwa Indonesia 
dibawah
pemerintah hasil pemilu demokratis akan berkelakuan lain dari rejim totalitaris Orba. 
Dan pernyataan
ini harus segera dibuktikan dengan tindakan nyata dari pemerintah untuk mencari jalan 
keluar dari
persoalan sudah sangat gawat, terutama di Aceh. Tuntutan2 masyarakat Aceh yang sesuai 
dengan tujuan
reformasi harus selayaknya didengar dan direstui. Jauhkan dari keangkuhan dan arogansi 
kekuasaan dan
kekuatan militer. Singkirkan pikiran2 untuk menciptakan situasi darurat militer di 
Aceh [dan juga di
daerah2 lain] atau untuk mencoba membentuk DOM dengan cara baru.Tunjukkan, bahwa 
pemerintah
Indonesia baru ini betul2 pemerintah yang demokratis yang dipilih oleh masyarakat dan 
mengabdi
kepada kepentingan masyarakat.

 Pusat sangat perlu untuk menyimak tuntutan2 daerah itu secara obyektif, apa yang 
menyebabkan mereka
ingin lepas dari gengaman dan cengkeraman pemerintah pusat Jakarta. Pemerintah pusat 
jakarta sangat
perlu untuk secara kritis menganalisa tindakan apa yang menyebabkan masyarakat Aceh 
meminta
referendum dengan opsi lepas dari RI atau tetap dalam RI. Jangan sampai langsung 
menuduh saudara2
kita di Aceh sebagai kaum separatis yang harus segera ditumpas, supaya tuntutan mereka 
ini tak
menjalar kedaerah2 lain. Jangan sampai belum2 pusat sudah kasih ultimatum, bahwa pusat 
akan berusaha
dan menjalankan apa saja, agar Indonesia tetap utuh.

Langkah2 nyata dan serius dari pusat untuk mencari jalan keluar yang optimal dalam 
penyelesaian
persoalan gawat Aceh dan daerah2 lainnya, harus secepatnya dijalankan. Bentuk dewan 
pemerintah yang
berbobot yang terdiri dari pribadi2 yang cinta demokrasi, yang betul2 tahu persoalan 
daerah dan
berpandangan obyektif, tanpa sebelumnya ditentukan hasil kerjanya oleh pemerintah 
pusat.

Saya sendiri sangat menginginkan kalau sekiranya masyarakat Aceh dan daerah daerah 
lainnya bersabar
dan tak terburu buru ingin lepas dari RI. Tapi saya sendiri juga sadar, bahwa bentuk 
kenegaraan
adalah bukan tujuan  dari perjuangan [termasuk perjuangan melawan penjajah Belanda] 
melainkan
hanyalah merupakan alat untuk mencapai terbentuknya masyarakat yang demokratis,adil 
dan kalau bisa
juga makmur.

Dari apa yang saya tulis diatas saya ingin mengajak semua anggota masyarakat Indonesia 
untuk
merenungkan dan menganalisa, kesalahan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah pusat 
terhadap
daerah daerah, dan mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut supaya tak terulang 
lagi.

Sebaliknya saya juga ingin menghimbau semua warga masyarakat Aceh dan daerah-daerah 
lain agar tidak
menyamakan pemerintah RI hasil pemilu Juni 1999 ini dengan rejim totalitaris Orba yang 
lalu. Berikan
kesempatan dan waktu kepada pemerintah Indonesia hasil pemilu yang lalu agar bisa 
menunjukkan
perbedaan yang diametral lain dengan rejim Orba dari tindakan tindakan konkrit untuk 
menyelesaikan
persoalan yang sangat gawat ini. Saya mohon agar tak menutup segala kemungkinan untuk 
negosiasi dan
perundingan seperti layaknya saudara saudara se Bangsa  dan se Tanah Air.

Demikianlah tanggapan saya atas tulisan saudara Lesmana, saya minta maaf kalau ada 
kata kata atau
formulasi yang bisa menyinggung perasaan saudara.

8 desember 1999

Rony S.M.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Dec 1999 jam 02:18:22 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke