----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Gerakan Memerdekakan tak Dapat Ditolerir
SIRA: Gelar Referendum Sendiri

Serambi-Jakarta
Presiden Abdurrahman Wahid mengatakan bisa mengerti dengan aspirasi-aspirasi yang 
disampaikan kepada
Dewan menyangkut masalah Aceh, Maluku, dan Irian Jaya, yang seluruhnya ingin cepat 
diselesaikan
karena rakyat sudah resah.
"Tetapi, penyelesaian tidak semudah yang disangka orang, karena harus membutuhkan 
waktu, tenaga dan
pikiran," ujar Presiden Abdurrahman Wahid dalam konsultasi dengan pimpinan DPR dan 
Fraksi DPR di
gedung DPR Jakarta, Rabu (8/12), yang juga dihadiri Wapres Megawati Sukarnoputri, 
serta para
menteri.
Dalam rapat konsultasi yang dipimpin Ketua DPR RI Akbar Tandjung, Presiden menegaskan 
adanya upaya
di Aceh untuk memerdekakan dari lingkungan Indonesia tidak dapat ditolerir sama sekali.
"Siapa pun orangnya, dan apapun gerakannya, Aceh tetap berada di dalam lingkungan 
kita. Adapun
bentuk pernyataan apakah Aceh tetap berada di lingkungan RI melalui referendum atau 
tidak, kita
lihat nanti," tegas Presiden.
Dikatakan, pemerintah hanya menjalankan apa keinginan Dewan. Oleh karena itu hendaknya 
kita nanti
mengambil keputusan bersama-sama agar masalah ini selesai dengan baik. "Selain itu 
pemerintah juga
melakukan tindakan-tindakan untuk mengecilkan pengaruh tadi secara internasional 
pula," katanya.
Gus Dur menjelaskan, dari kunjungan ke berbagai negara, kita telah memperoleh 
kepastian bahwa mereka
tidak menyetujui Indonesia cerai-berai. "Dengan demikian, kita tetap mendapatkan 
wewenang atas Aceh
dari pengakuan internasional. Ini penting sekali, akibat dari ini maka beberapa 
tindakan untuk
melepaskan dari Indonesia yang terjadi di Aceh itu sudah mulai surut," katanya.
Gus Dur mengatakan keadaan Aceh sekarang ini bisa dikendalikan dengan baik dan 
terhadap penduduk
boleh saja mengatakan sikap dan pilihannya secara bebas. Namun di kantor-kantor 
pemerintahan tetap
harus ditunjukkan bahwa Aceh merupakan bagian dari Indonesia. "Jadi jika rakyat Aceh 
ingin
mengibarkan bendera selain Merah Putih, hal itu sah-sah saja, tapi tidak begitu jika 
dilakukan di
kantor-kantor pemerintahan," tegasnya.
Menyikapi pernyataan Gus Dur yang tak menolerir gerakan memerdekakan dari lingkungan 
Indonesia, SIRA
(Sentral Informasi Referendum Aceh) menyatakan pemerintah pusat sebagai pihak yang 
tidak siap
berdemokrasi. "Sangat aneh apabila pihak pusat tidak menerima opsi merdeka. Sedangkan 
di sisi lain
rakyat Aceh yang saat ini telah memperjuangkan referendum secara kolektif tetap tidak 
bisa menerima
referendum tanpa opsi merdeka," tulis pernyataan SIRA yang ditandatangani koordinator 
pusatnya,
Muhammad Nazar.
Dikatakan, bila pusat tidak menerima tawaran yang seimbang dua opsi pisah dan 
bergabung dengan RI
(otonomi yang seluas-luasnya), maka SIRA bertekad akan melaksanakan referendum 
sendiri. "Hal ini
bisa dilakukan dengan memanggil lembaga-lembaga LSM dan organisasi independen 
internasional untuk
menjadi saksi. Apabila hasilnya merdeka, maka secara de facto Aceh akan lebih merdeka 
lagi secara
teritorial," kata Nazar.
Kecilkan pengaruh
Tentang perjalanan LN-nya, Gus Dur mengatakan sebagai perjalanan politik dalam rangka 
melakukan
tindakan untuk mengecilkan pengaruh terjadinya cerai berai persatuan Indonesia secara 
internasional.
Dijelaskan Gus Dur, dirinya selama di luar negeri mengadakan kunjungan ke berbagai 
negara
diantaranya ke seluruh negara Asean, RRC, Jepang, Amerika Serikat dan tiga negara di 
Timur Tengah,
yaitu, Kuwait, Yordania dan Qatar. "Nanti akan disusul kunjungan ke Saudi Arabia dan 
Mesir. Juga,
kami akan melakukan kunjungan ke Ghaza, pelabuhan penting pusat PLO," katanya.
Saat bertemu Yasser Arafat, tambah Gus Dur, kita katakan kepada Yasser Arafat, dalam 
kunjungan nanti
kita juga akan membuka kantor perdagangan Indonesia dengan Palestina. Diharapkan 
melalui perdagangan
ini dapat membantu saudara-saudara kita di Palestina untuk melakukan perdagangan 
internasional
dengan sebaik-baiknya. "Rencananya akan dilakukan setelah Hari Raya, tapi belum tahu 
tanggalnya. Itu
semua terserah dari jawaban mereka kepada kita," ucap Gus Dur.
Perjalanan politik ke luar negeri itu juga menghasilkan penanaman modal untuk 
Indonesia yang tadi
tidak disinggung sama sekali oleh Ketua DPR. "Dapat saya laporkan semangat untuk 
sharing antara
pemerintah dengan DPR, di beberapa tempat telah terjadi kesepakatan untuk penanaman 
modal di
Indonesia, yaitu, pertama dari seluruh negara Asean, bentuknya bermacam-macam dan ini 
akan
diterangkan oleh menteri bersangkutan dalam rapat komisi DPR," katanya.(son/mur/*)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 9 Dec 1999 jam 02:23:23 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke