----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

KISAH KAOS CNRT DENGAN SEORANG TENTARA

Hari Sabtu dan Minggu kemarin saya dapat giliran libur. Lumayan-lah buat
jalan-jalan dan keluar studio Radio ARGA. Berhari-hari saya tidur di studio
bersama para lelaki penghuni ARGA. Jenuh. Saya merencanakan ke Brebes Jawa
Tengah. Ada kawan yang menikah. Saya diwanti-wanti untuk datang.

Saya berangkat bersama seorang kawan, Saraswati. Dia pakai kaos dan sepatu
keds plus tas ransel. Sementara saya sandalan jepit, nyangklong tas ransel,
pakai celana jins dan kaos hitam bersablon CNRT. Kaos yang saya suka.
Potongannya pas dengan tubuh, enak dipakai, dan saya merasa ada kesan
heroisme. Konon saya memang bertampang demikian. Hitam - maaf saya tambahi
manis -  dan berambut sedikit ikal. Kaos itu sengaja saya pakai biar nggaya
lah. Maklum Pak, cah enom. Praktis penampilanku seperti mahasiswa. Apalagi
kami berdua potongannya kecil-kecil. Yah..mahasiswa tahun ketiga lah.

Kami berangkat Sabtu malam lewat Terminal Pulogadung. Sialan..isinya calo
thok. Sampai di terminal langsung saya diseret kesana kemari. Bahkan pundak
sempat disodok  ketika saya menghardik salah seorang di antara mereka.
Akhirnya saya beli tiket di loket setelah dibawa ke loket oleh orang
berseragam batik. Hampir semua  calo berseragam rupanya.

Terus terang saya belum pernah naik bis dari terminal ini. Pulang pergi
Yogya-Jakarta biasa naik kereta. Saya tidak tahu berapa harga resmi tiket.
Orang tadi hanya bilang 35 ribu. Ya, Jakarta-Brebes bis AC plus toilet 35
ribu per orang. Berhubung agak ngejar waktu - pesta pernikahan hari Minggu
jam 11.00 - akhirnya saya bayar. Dua orang 75 ribu. Lega dapat tiket.
Perasaan sih enggak kena tipu. �Belinya kan resmi di loket� pikir saya.
Belakangan saya tahu bahwa kami memang ketipu. Kawan di Brebes bilang
Jakarta Brebes AC cuma 12 ribu limaratus.  Walhasil  saya berangkat ke Brebes.

Pulang dari Brebes lewat terminal Tegal. Kami berdua berangkat pukul 15.00.
Maunya naik bis AC lagi. Tapi sudah ketinggalan. Akhirnya saya naik bis
ekonomi jurusan Tegal-Jakarta. Bayar 18 ribu untuk dua orang. Hujan lebat
dan air masuk lewat atap dan bodi bis yang sudah bocor.  �Waduh bisa gawat
nih kalau hujan terus,� pikir saya. Kami memilih tempat duduk di belakang
yang agak kering.  Aman. Kami berdua duduk sambil menunggu penumpang lain.

Tak berapa lama dari arah depan seorang penumpang masuk. Berperawakan hitam,
kekar dan berambut cepak. Dia duduk di barisan kursi depan. Kira-kira
segedhe dan seusia Susanto, teman saya sekantor. �Tentara rupanya� pikir
saya. Tidak ada yang menarik dari penumpang ini. Saya justru lupa dan tidak
memperhatikan ketika benak saya mulai melayang ke mana-mana termasuk ke
Radio ARGA. Berdua dengan Saras, saya ngobrol ke sana kemari.

Akhirnya bis berangkat dengan penumpang seadanya. Namun belum ada 15 menit,
bis berhenti. Setengah jam kira-kira. �Radiatornya rusak,� kata kondektur.
Para penumpang mulai kesal karena bis belum juga berangkat. Padahal mesin
sudah bunyi. Mereka mulai  keluar termasuk saya dan si berambut cepak tadi.
Tapi saya tetap saja tidak mempedulikannya.  Saya ngejar-ngejar kondektur
untuk memastikan kapan berangkat. Berkali-kali dia sengaja sembunyi. �Mas
sini duitnya balikin saja� gertak saya. Bis berangkat setelah kondektur saya
bentak-bentak. �Kurang ajar � pikir saya. Ternyata bis tadi pura-pura
dimogokkan untuk menunggu penumpang lain.

Di perjalanan saya tidur saking capeknya. Tahu-tahu bis berhenti di rumah
makan daerah Indramayu. Jam nunjuk pukul 7 malam. Para penumpang keluar
makan. Kami berdua juga keluar langsung ke toilet. �Kita cari yang
anget-anget yuk� ujar saya pada Saras. �Iya..mau yang berkuah nih� jawabnya.
Akhirnya kami duduk di serambi rumah makan pesan bakso.

Kami sedang asyik makan bakso yang tidak enak, ketika tiba-tiba dari arah
depan si penumpang tentara tadi berjalan menuju ke saya. Matanya menatap ke
arah mata saya. �Wah ada apa nih? Mau ngajak ngobrol apa ya,� pikir saya.

Dari jarak 5 meteran dia tiba-tiba nunjuk saya sambil bertanya �Eh..darimana
kamu?� katanya dengan nada tinggi. Kami berdua bingung. Siapa dia kok
nanya-nanya. Saya belum sadar apa maksud pertanyaan itu. Demikian juga kawan
saya.

�Eh..darimana kamu?� dia mengulang pertanyaan sambil mendekat dan matanya
nanar. Suaranya mulai membentak.
�Lho..apa hak anda tanya-tanya begitu?� jawab kawan saya. Kawan saya yang
ini memang punya lumayan nyali. Pernah dia bentrok sama Satpam.  Sementara
saya bingung dan terus makan bakso, kawan saya meladeni pertanyaan si cepak.
�Dia dari Yogya�
�Kamu ini pake kaos CNRT. Ayo copot!�

Saya belum berani menjawab. Bahkan untuk menenangkan hati, saya pura-pura
garuk kepala.

�Lho apa hak anda nyuruh  nyopot.. enak saja,� jawan kawan saya agak menantang.
�Saya bilang ayo copot. Kamu enggak tahu ya..teman-teman saya mati gara-gara
CNRT. Kamu ini enggak menghormati jasa pahlawan.�

Waduh. Takut juga saya digertak begitu. Tapi kami berdua tetap tenang. Dan
dari alasannya saya mulai menatap mukanya sambil tetap duduk dan makan
bakso. Sementara dia berdiri di depan saya.

�Kamu lihat enggak gimana CNRT itu? Dari tadi saya perhatikan anda, panas
rasanya!�

Saya memberanikan diri menjawab. �Jangan begitu dong mas. Kalau anda memang
konsisten..coba suruh yang pake kaos CIA itu suruh dilepas. Itu..itu lihat
tuhh..Ayo suruh dia lepas,� jawab saya agak meraba-raba bagaimana reaksinya.
Keder juga nih. Kebetulan  salah seorang pelayan di sebelah warung itu pakai
kaos CIA. Warna hitam juga. �Ayo suruh dia lepas. Mas tahu enggak, CIA itu
yang ikut nggulingkan Soeharto�  saya ngarang cerita. Saya lihat wajahnya
agak sedikit berubah.
�Itu kan beda. Saya barusan datang dari Timor Timur. CNRT itu membunuh
tentara,� jawabnya.
�Beda gimana? Kalau anda konsisten, tentara juga membunuh kawan-kawan saya
para mahasiswa. Siapa sih yang nembak mahasiswa di Jakarta itu? Coba suruh
yang pakai CIA itu dilepas.�

Tatapan matanya berubah. Saya melanjutkan, �Siapa yang punya senjata di
negara kita selain polisi dan tentara? Enggak ada. Yang nembak ya tentara.
Mahasiswa itu kawan saya mas. Gimana kalau begitu? Mana ada masyarakat sipil
bersenjata selain GAM di Aceh?�
�Nembaknya pake peluru apa? Karet atau sungguhan?�

Mendengar itu saya heran. Tiba-tiba dia malah bicara soal penembakan mahassiwa.

�Enggak peduli pake peluru apa. Yang jelas kawan saya mati juga dan yang
nembak siapa lagi kalau bukan tentara?�
�Kamu ini tidak menghomati UUD 45. Kami berjuang mati-matian anda  malah
pakai kaos CNRT.�
�Lho menghormati itu caranya beda-beda Mas. Apa sih artinya Anda bilang UUD
45 Pancasila hebat kalau nyatanya Indonesia isinya koruptor semua? Kita
obyektif saja. Katanya Mas tadi ngajak lihat kenyataan. Saya bilang
ya�silahkan tentara ngomong yang hebat-hebat UUD 45 dan
Pancasila..kenyataannya tahu ndak? Bullshit mas!�

Jawaban itu membuatnya terdiam sejenak.

�Kalau mas-nya  ngaku tentara beragama tapi minum-minuman terus ya sama
saja. Enggak ada yang percaya. Coba�siapa yang nembak mahasiswa itu? Siapa
sih yang punya senjata di Indonesia selain tentara dan polisi?�
�Kan belum ketahuan siapa yang nembak. Jangan-jangan polisi.�
�Polisi sama tentara sama mas. Saya tahu pasti. ABRI itu ada tentara dan polisi�
�Tapi kan sekarang sudah dipisah�
�Dipisah gimana wong kenyataannya sama saja�
�Saya sepuluh tahun di Timor Timur. Saya barusan pulang. Kami di sana
berjuang sampai mati anda malah pake kaos kaya gitu. Gimana anda ini?�
�Lho kalau memang anda konsisten..orang itu yang di sana tangkap dan copot
kaosnya. CIA itu juga berperan dalam menggulingkan Sukarno. Anda baca sejarah?�

Saya ngarang lagi. Saya yakin dia tidak pernah baca sejarah. Siapa tahu dia
jadi bingung.

�Lho itu beda. Itu kan dulu.�
�Dulu gimana..? Katanya menghormnati jasa pahlawan? Pahlawan kan yang sudah
mati dan yang dulu-dulu itu to?�

Saya mulai berani menantang  bicara. Orang-orang pada melihat kami. Saya dan
kawan saya cuek saja. Kesempatan nih.

�Kaos anda ini mengundang dan meresahkan masyarakat�
�Masyarakat yang mana? Harus jelas dong. Dari tadi saya naik bis, para
penumpang tenang-tenang saja. Mereka malah enggak peduli dengan saya. Yang
benar saja. Kalau kaos ini meresahkan anda, saya percaya. Kaos ini hanya
mengundang anda. Mengundang tentara.�
�Lho jangan begitu..mereka kan enggak tahu. Mereka kan awam�
�Ya itu lah tentara. Kerjaannya nakut-nakuti orang dan suka meremehkan.
Dikiranya orang awam itu enggak tahu apa-apa. Anda salah mas.�

Kawan saya mulai mengajak saya mengakhiri pembicaraan ini. �Udah-lah jangan
ditanggapi.�

�Biarin. Mas-nya harap tahu ya. Kalau bicara UUD 45 siapa yang salah. Wong
anda saja nyapa saya Ehh..siapa lu..darimana..ayo copot tu kaos. Apa itu
budaya kita?�

Si tentara diam lagi. Dia sudah melunakkan bicaranya. Bahkan lalu saya suruh
duduk di kursi samping saya.

�Udah-lah Mas. Santai saja. Wong kaos saya ini enggak ada pengaruhnya
apa-apa kok�
�Iya ..dari tadi kan saya santai�
�Santai apa..masak nyapa orang,  heh..kaosmu dicopot. Apa itu santai,�
timpal kawan saya.
�Ehh..mas saya itu menghormati pahlawan dengan cara saya. Saya sebagai
wartawan dan saya bekerja sebaik-baiknya. Memberitakan hal-hal yang benar.
Itu cukup. Anda dinas di mana?�  tanya saya kemudian.
�Enggak perlu tahu di mana saya dinas. Saya cuma belum pernah lihat kaos
kaya gitu. Di kampung saya enggak ada yang pake.�
�Mas-nya dari mana?�
�Jawa Timur�
�Oalah, Jawa Timur. Saya Yogya Mas. Lha wong podho-podho wong kampung kok
nakut-nakuti. Udah lah,� saya sengaja ingin menyudahi. Tapi dia nungguin terus.
�Tapi kalau anda ngak mau lepas kaos itu, lihat saja nanti di Jakarta.�
�Lho yang pake kaya gini di Jakarta sudah banyak. Anda saja yang tidak
pernah lihat. Bahkan ada kaos PKI mas. Tangkap itu kalau mau.�
�Lho ada to?�
�Ada ..banyak. Singkatannya Partai Koruptor Indonesia�
�Saya tidak pernah lihat di kantor saya pake kaos CNRT�
�Sama saja..di tempat saya kerja enggak ada yang seragam tentara�
�Ha..ha..ha..ha..ha..ha..,� kawan saya tertawa ngakak. Sementara  wajah sang
tentara tampak mulai menyedihkan.
�Mas -nya dinas dimana?�
�Saya di Manggarai�
�Walah ..cuma di Manggarai to? Dekat dong. Saya di Tebet Timur Dalam No. 5.
Cari saya di sana kalau mau ketemu.�
�Nama anda siapa?�
�Saya Dedy, cari di sana pasti ketemu.� Saya tidak menyebutkan nama asli.
Takut dicari betulan. Awalnya terpikir nama Susanto. Tapi saya tidak mau ada
cerita berikutnya di Radio ARGA.

Akhirnya kami bicara baik-baik sambil senyum-senyum. �Ayo mas..duluan. Bis
sudah mau berangkat tuh,� ujar kawan saya. �Mari-mari...�

Saya sama Saras ngeloyor menuju bus. Si tentara tidak saya perhatikan. Cuma
saya masuk bus sambil senyum-senyum.  Kesimpulan saya, doktrin memang
membikin orang jadi goblog. Saya semakin tahu bagaimana goblognya tentara
Indonesia.

Sekian cerita saya. Nanti kalo ada yang lain saya sambung. Siapa tahu si
tentara nyari saya di Radio ARGA. ***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 10 Dec 1999 jam 08:46:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke