---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk JJ Kusni: KUPANGGIL KAU, KUPANGGIL KALIAN DENGAN MANGKOK MERAH DAN TABURAN BERAS MERAH KUNING INI 1. pertengahan nopember sudah dinginpun merasuk sepadan perjalanan musim menghitung membanding lama panjangnya perjalanan dan buah kerja dari detik ke detik dari jam ke jam aku jadi tertegun sendiri memandang waktu terbentang di hadapanku bagai sungai dan arusnya cemas dan kegundahan menggalau mengaduk-aduk lubuk kalbu apa bisakah akhirnya kumenangi perlombaan ini paling tidak dasar-dasar buah kerja sudah tertata sebelum malam menjemput menyeret-benamkan mentari usia akankah usaha jatuh-bangun menopang harapan tinggal sampah-sampah dari hulu larut ke muara? tigapuluh dua tahun berlalu di antara pepohonan pulau di batang-batang sungai di jalan-jalan kampung tiga puluh dua tahun ajaibnya tak obah keganasan bah merambat mendaki tebing-tebing dengan kedahsyatan riam meringsek kampung ajaibnya 32 tahun membangun gumunnya aku, sungguh gumun tiga puluh dua tahun itu bagai angin ribut mengaduk mengabrik kampung-kampung kehidupan jadi kerangka datang kembali ke katingan ke kahayan, kapuas atau saruyan barito dan segala sungai pulau kelahiran ajaibnya 32 tahun orba membangun kusaksikan orang sesuku pada invalid berkudis jiwa mereka korengan hati mereka mata rabun penuh daki kuning-kuning terjangkit trahum politik pendunguan tiga puluh dua tahun diidap ajaib, sungguh ajaib apakah orba itu wabah penyakit yang lebih dahsyat dari segala penyakit kukenal lebih ngeri dari lepra dari trahum, kudis dan segala koreng? sejenis aids dan kanker boleh jadi! 2. berlomba memang harus cepat dan tangkas tapi di jalan-jalan penuh simpang duri-duri bencana dan penyamun dahaga darah matapun patut tajam musti awas ke kiri, ke kanan atau lurus tetapkan saja! tapi awas! sedikit saja melengos ke jurang-jurang kita terjerumus aku memang melihat kegawatan perjalanan kali ini lebih mengancam dari kapanpun dahulu cuaca dan alam kini telah mengobah syarat serta cara bertarung penyamun-penyamun mengganti seragam berkeliaran menjadi penduduk tapi kegawatan dan pertarungan tanahair kampung-halaman tetap mereka jugalah yang menyeru-nyerukan namaku menyeru-nyerukan namamu nama kita putra-putri mereka berseru dan meminta kepada kita mengasah diri jadi pedang cinta maka sebagai dayak anak enggang putra jata kutaruhkan mangkok merah di perempatan berkabar dan berseru ke seluruh penjuru ke seluruh warga suku belum usai perang perang jenis baru tengah dikobarkan memanggil menantang panarung seluruh pulau memanggil menantang putra-putri berdarah kayau belum usai perang perang jenis baru tengah dikobarkan merebut hak tuan di kampung kelahiran merebut hak tuan atas nasib sendiri lantas apa lagi? ayo kita pukul gong tabuh gendang palu kangkanong nyalakan gaharu tabur beras merah dan kuning memanggil para arwah leluhur guna membangkitkan semangat penduduk mengabarkan ke seluruh warga pertarungan tipe baru dimulai jangan lewatkan waktu menjadi tuan kampung ini menghalau ludas para penjahat dan roh-roh hitam kutabur beras merah dan kuning ke utara ke selatan ke segala penjuru ala ice ala due ala telo ala epat kutabur beras ini menabur panggilan mengharapkan kebangkitan: wahai, bangkitlah semua bangkitlah yang emoh dihina dan emoh menghina diri bangkitlah wahai semua yang tak sudi jadi budak zaman tak sudi jadi remah-remah kehidupan di kampung sendiri bersihkan kampung-kampung dari segala bala bersihkan kampung dari serdadu pembunuh bersihkan dari penyamun dan maling-maling untuk itu maka kutaburkan ke utara, ke selatan ke segala penjuru taburan kutukan dalam garam berabu ala ice ala due ala telo o, para roh leluhur kutuklah penjahat-penjahat kehidupan suku! kemudian mangkok merah mangkok merah peperangan sebarkan ke segala penjuru jangan percaya janji panglima serdadu antah-berantah jangan percaya mereka mereka bukan panglimamu bukan tentaramu kata dan ludah mereka penuh racun tiga puluh dua tahun pulau-pulau diracun maka anak enggang putra-putri naga siaplah bertarung merebut kampung menjadi tuan nasibmu enyah enyahkan segala kambe dan hantu enyahkan segala hantuen peminum darah enyahkan bala dari pulau kampung ini kampung kita kampung manusia ala ice ala due ala telo kutabur beras merah dan kuning ini kutaruh mangkok merah ini di persimpangan mata angin memanggil kau memanggil kalian memanggil para roh leluhur merebut kampung menjadi tuan nasibmu ala ice ala due ala telo ala epat kutabur beras merah kuning ini kutaruh mangkok merah ini di persimpangan membangkitkan para roh leluhur membangkitkan seluruh penduduk memanggilmu memanggil kalian kutabur garam berabu kutukan menghalau roh-roh hitam merasuk menyusup jadi penduduk ala ice ala due ala telo wahai para pisur di muara dan di hulu taburkan beras merah kuningmu bangkit, bangkitkan semua bangkitkan para roh leluhur taburkan garam berabu kutukanmu mengutuk menghalau perasukan mengusir penyusup! Perjalanan, Nopember 1999 ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 10 Dec 1999 jam 09:19:01 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
