----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 45/II/12-18 Desember 99
------------------------------

TEXMACO CONNECTION

(PERISTIWA): Sinivasan menyuap banyak orang sejak lama: wartawan, anggota
DPR, pejabat pemerintah dan para ekonom.

Menteri Laksamana Sukardi membongkar kejahatan Marimutu Sinivasan (pemilik
Grup Texmaco) dan Soeharto, mantan Presiden RI. Marimutu, disangka
menyalahgunakan kredit yang diterimanya dari bank-bank pemerintah. Kredit
yang diterima Sinivasan karena bantaun Soeharto mencapai Rp9,8 triliun. Ini
jadi geger. Sinivasan langsung dijadikan tersangka oleh Jaksa Agung Marzuki
Darusman.

Tapi, Sinivasan tak gampang terpojok. Segera setelah "Geger Texmaco" muncul,
ia memboyong para wartawan ibukota mengunjungi dua pabriknya di Subang, Jawa
Barat dan di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Khusus ke Jawa Tengah,
rombongan wartawan ini dicarterkan pesawat yang khusus mengantar dan
menjemput kunjungan para wartawan ibukota itu. Para wartawan ini diajak
mengunjungi dua pabrik Grup Texmaco, untuk membangun citra bahwa Texmaco
tidak pantas diusut. Tentu, Sinivasan tak hanya mencarterkan pesawat, namun
ia juga membagi-bagi amplop, masing-masing berisi Rp1 juta kepada para
wartawan itu. Tentu, ada yang mau menerima, ada pula yang menolak. Bukan
sekali ini Texmaco menyuap wartawan. Dalam banyak kesempatan Texmaco juga
banyak mengeluarkan uang untuk para wartawan atau rombongan wartawan yang
sering diundang ke pabrik Grup Texmaco. Tentu, harapan Texmaco, para
wartawan, yang kebanyakan adalah para wartawan ekonomi, bisnis dan keuangan
itu, tak akan menulis yang isinya menyerang Texmaco. Sogokan Texmaco juga
dilancarkan ke pimpinan media massa, jadi bukan hanya ke para wartawan di
lapangan. Seorang pemimpin redaksi sebuah harian ibukota mengaku lebaran
tahun lalu dikirimi kartu ucapan yang di dalamnya terselip cek sebesar Rp10
juta. Tentu saja sang pemimpin redaksi itu kaget dan kemudian mengembalikannya.

Rupanya, tak hanya wartawan yang "direkrut" Texmaco tapi, menurut sumber
Xpos yang dekat dengan Texmaco, juga para ekonom. Yang sudah "ditangkap"
Texmaco misalnya Direktur Econit, Dr Rizal Ramli. Rizal, mantan aktifis
mahasiswa yang pernah dipenjara ini, menjadi semacam penasehat ekonomi
Texmaco, dan menerima bayaran yang tinggi. Tak heran, jika di wawancara
RCTI, Rizal habis-habisan membela Texmaco. Ekonom lainnya, misalnya Dr Sri
Mulyani, pernah ditawari jadi model iklan textil Texana, salah satu produk
Grup Texmaco, dengan bayaran yang luar biasa besar, di atas Rp1 miliar. Sri
menolak, akhirnya Paramita Rusadi, artis terkenal itu yang menggantikan Sri.
Tentu, maksud Texmaco, kalau Sri mau, ia bisa jadi "bemper" Texmaco, seperti
yang dilakukan Rizal. Nah, kalau ekonom yang dihormati masyarakat seperti
Sri mau membela Texmaco, paling tidak opini masyarakat terhadap Texmaco akan
berbeda, dan bahkan mungkin malah berbalik membela Texmaco.

Info yang diperoleh Xpos juga mengatakan, Texmaco membayar para anggota
Komisi IX, komisi yang menangani kasus ini, terutama dari Partai Golongan
Karya. Termasuk misalnya Priyo Budi Utomo. Tak heran jika para anggota
komisi ini juga, seperti Rizal, membela Texmaco habis-habisan. Laksamana
misalnya dituduh para anggota komisi ini yang dari Golkar, dipimpin Priyo,
sebagai telah bertindak ceroboh dan mencemarkan nama baik Marimutu Sinivasan
di depan para krediturnya. Pokoknya, dalam hal ini yang salah Laksamana,
karena ia mengumumkan kejahatan Sinivasan itu, dan bukannya Texmaco yang
membobol uang rakyat sebesar Rp9,8 triliun dengan gampang dan ingkar untuk
membayarnya.

Sedikit soal Priyo, orang yang namanya melambung karena interupsinya saat
Presiden Gus Dur menjelaskan pembubaran sejumlah departemen tempo hari itu,
menurut sumber Xpos di Departemen Pertambangan dan Energi, bukanlah anggota
dewan yang bersih. Menurut sumber itu, Priyo, yang jadi anggota panitia
khusus RUU Migas di DPR periode lalu, menerima suap yang cukup besar dari
Pertamina. Memang bukan hanya Priyo yang disogok, namun sebagian besar
anggota pansus kala itu. Tujuannya, agar RUU Migas yang diajukan Deptamben,
yang akan memotong kekuasaan Pertamina, tidak jadi UU. Dan, itu berhasil.

Tapi, untunglah untuk kasus Texmaco ini, ada Jaksa Agung Marzuki Darusman.
Kendati ia orang Golkar komitmennya pada soal korupsi cukup baik, sehingga,
kendati Texmaco itu suka memberi uang banyak ke Golkar, ia tak peduli. Toh,
begitu Marzuki tampaknya harus menghadapi para koleganya di Golkar. Taruhlah
Ketua DPP Partai Golkar yang juga Ketua DPR, Akbar Tanjung. Orang ini
beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang nadanya membela Texmaco dan
menyalahkan Laksamana yang diserang dari kanan-kiri. Laksamana dituduh
melancarkan pembalasan politik, mengingat ia dari PDI-P dan Texmaco adalah
sumber dana Partai Golkar selama belasan tahun. Bahkan ekonom yang dikenal
galak pada para koruptor, Faisal Basri juga memberi pernyataan senada, ada
unsur politik dalam pembongkaran kasus Texmaco ini.

Beking Texmaco tidak hanya Partai Golkar, sejumlah ekonom dan wartawan yang
mau dibayar, namun juga sejumlah jendral. Sinivasan ini sangat dekat dengan
sejumlah jendral yang tentu saja setiap bulan memperoleh upeti dari Texmaco.
Salah satu jendral itu Jendral TNI Wiranto. Orang ini sering bertandang ke
kantor Sinivasan dan membuat banyak deal. Sebagai balas jasa, misalnya,
Wiranto yang ketika itu Panglima TNI memberi proyek  pada Texmaco berupa
order seribu truk angkut personil militer, yakni truk Perkasa. Karenanya, di
kalangan gerakan mahasiswa, Texmaco dianggap terlibat dalam penindasan
gerakan mahasiswa dengan truk-truk Perkasa yang diproduksi Texmaco.

Koneksi Texmaco memang berada di mana-mana. Termasuk di jajaran pejabat
tinggi perbankan. Kalau tidak, bank miliknya Bank Putera Multikarsa.
Seharusnya, bank ini sudah ditutup tahun lalu, bersamaan dengan program
rekapitalisasi perbankan, karena permodalannya tidak memenuhi syarat. Namun,
karena koneksinya di pemerintahan Habibie, juga karena Marimutu Manimaren,
Wakil Bendahara Golkar, adik Sinivasan, amat dekat dengan Habibie, maka Bank
Putera selamat dari likuidasi. Namun, setelah Habibie tidak lagi jadi
presiden, Bank Putera ketahuan jeleknya. Sumber Xpos di BPPN mengatakan,
Bank Putera mungkin akan dilikuidasi dalam waktu dekat. Toh begitu,
Sinivasan, amat yakin, ia akan lolos dari lubang jarum, karena ia punya
banyak koneksi. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Dec 1999 jam 07:22:55 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke