---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Pedemo kuasai Balai Kota DKI - Sedikitnya seribu massa Front Pembela Islam menguasai Balai Kota DKI (gubernuran) sejak pukul 06:00 WIB Senin ini hingga menyebabkan ratusan karyawan Pemda tidak dapat melakukan aktivitasnya. Sebagian massa menguasai gedung dalam Balai Kota, sedang lainnya berjaga-jaga di depan pintu gerbang dengan membawa pentungan. Massa sudah masuk di Balai Kota sejak subuh menguasainya. Aparat keamanan dalam tak kuasa menghalau mereka yang jumlahnya jauh lebih besar itu. Aksi FPI ini adalah untuk kesekian kalinya dalam rangka mendesak Gubernur Sutiyoso melarang semua tempat hiburan beroperasi pada Ramadan, tak terkecuali. Menurut panglima aksi, Habib Muhsin Alattas, Sutiyoso tidak tanggap dengan aspirasi yang berkembang di kalangan umat Islam karena ia masih mengizinkan tempat hiburan beroperasi pada malam hari. Muhsin menyatakan kekecewaannya dengan sikap gubernur yang tidak aspiratif ini. Apalagi, entah informasinya didapat dari mana, Sutiyoso pun diketahui telah meresmikan permainan bola tangkas di Milenium Gajah Mada Plaza. Padahal, permainan itu berbau judi. "Kalau tidak segera menutup tempat hiburan beroperasi selama Ramadan, Sutiyoso sebaiknya mundur saja," katanya. Dalam pandangan FPI, gubernur sangat angkuh. "Jangankan menerima tuntutan, menerima delegasi pun juga tidak mau. Bahkan dengan sombong dia menyatakan, semua ini hanya tuntutan segelintir orang," katanya. Sebuah SK Gubernur yang dikeluarkan Sutiyoso, menurutnya masih membenarkan dibukannya tempat hiburan asal malam hari. "Itu kan menimbulkan keresahan umat. Sutiyoso telah merobek-robek dan menginjak-injak kesucian bulan Ramadan," kata Muchsin. Menurutnya sebenarnya banyak pengusaha yang siap tutup pada Ramadan, tapi mereka menunggu adanya SK Gubernur sehingga semua merasakan hal yang sama, tidak ada kecemburuan dalam berbisnis. "Kalau kami terus melakukan operasi, kami butuh dana besar, pikiran besar, malah bisa terjadi bentrok fisik, emosional, sehingga tingkat kesuksesannya rendah. Jadi, masalah ini sumbernya gubernur yang sombong," katanya.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Dec 1999 jam 08:01:04 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
