---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 45/II/12-18 Desember 99 ------------------------------ MESTIKA YANG BELUM HILANG (POLITIK): "Diperlukan faktor 'lupa' untuk membentuk sebuah bangsa." (Joseph Ernest Renan) Tambahan: elit-elit berpikiran kenegarawanan dan bukan politisi judeg. Kasum Mayjen TNI Suadi Marassabessy ngotot bahwa konflik berdarah di Maluku berakar masalah agama. Marassabessy menolak sebab lain semisal suku, ras atau antar golongan. Apalagi tendensi politik akibat ketidakadilan yang dibuat negara. "Yang ada adalah pertikaian antar dua golongan umat beragama. Kristen dengan Islam," tegas lulusan Akmil 1971 di Jakarta, (7/12). Keberadaan para pasukan militer termasuk Batalyon 303 Kostrad sejauh ini diakui sebatas membantu tugas aparat kepolisian. Nyaris senada dengan Kasum soal konflik antar agama, mantan menteri transmigrasi Ir Siswono Yudohusodo mensinyalir telah terjadi fanatisme agama yang diekspresikan dalam tindakan yang justru bertentangan dengan ajaran agama. Banyak masyarakat jadi kehilangan rasa kemanusiaan, etika, norma dan pekerti. Kesemuanya terlihat pada perilaku sarkastis dan vulgar yang jadi ancaman bagi integrasi nasional. "Masyarakat kita ternyata tak mampu lagi mengelola konflik dengan menghargai pluralisme," tutur Siswono. Apa benar begitu Pak Mantan Menteri? Faktanya eskalasi konflik dan kerusuhan di beberapa daerah Indonesia memang kian memanas. Situasi Aceh pasca ulang tahun GAM, 4 Desember lalu tidak mendingin kendati memasuki bulan puasa. Keadaan yang bukan lagi keanehan sebenarnya. Pada puasa dua tahun lalu tepatnya 15 Januari, Nyak Maneh (35), penduduk Pos Sattis I, Tiro, diperkosa di depan anak-anaknya. Sementara Ambon seperti ditengarai di atas justru makin melegitimasi turun tangannya aparat militer. Tambahan lagi keinginan rakyat Banten untuk melepas diri dari propinsi Jawa Barat. Paling akhir adalah tuntutan Gubernur DKI Jakarta Mayjen (Purn) Sutiyoso terhadap Presiden Abdurrahman Wahid seputar pengembalian aset-aset "milik" Jakarta. Tak ketinggalan Riau dan Irian serta Manado dan Makassar masih menyimpan nyala dalam sekam. Apa tanggapan pasangan Presiden Gus Dur dan Wapres Megawati? Kegigihannya mencegah Indonesia jadi negara-negara kecil bukan main-main. Selepas perjalanan konsolidasi ke luar negeri Gus Dur meneruskan upaya sistematisnya. Ia telah meminta Panglima TNI Laksamana Widodo AS bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Menurut rencana sepanjang Desember ini Gus Dur dan Mega akan mengitari beberapa daerah bergolak di antaranya Ambon dan berakhir di Irian. "Gus Dur berniat melihat sunset tahun 2000 di tanah Cenderawasih," terang salah seorang sekretariat kepresidenan. Megawati sendiri telah membentuk sebuah tim beranggotakan 17 orang yang dinamai Tim Mambesak (bahasa Papua untuk Cenderawasih). Nama ini diambil dari bekas kelompok kesenian pimpinan Almarhum Arnold Ap. Sayangnya keberadaan tim ini nyaris tak diketahui siapapun termasuk aktivis HAM Irian sendiri. Anggota DPR pun sebatas mendengar desas-desus, kecuali beberapa anggota F-PDIP yang diangkat jadi komisi pendukung Mambesak. Gus Dur rupanya bukan saja emoh ada negara baru di Indonesia, ia pun berupaya mempertahankan bentuk negara. Kompromi presiden mencakup sistem pemerintahan. Artinya, Gus Dur bakal rela kalau masing-masing propinsi nantinya mendapat porsi lebih besar. Untuk Aceh saja ia mempersilahkan masyarakat Serambi Mekkah menggunakan syariat Islam sebagai aturan sosial dan hukum. Setelah F-PDIP dan Gus Dur yang tegas mempertahankan bentuk negara kesatuan, belakangan beberapa intelektual dan pengamat politik meragukan keampuhan federalisme sebagai jawaban. Peneliti CESDA Rahadi T Wiratama cenderung mendesakkan pembangkitan masyarakat sipil ketimbang adu mulut soal negara federal. Dengan pernyataan ini Rahadi tak memaksudkan dirinya alergi federalisme. Sebab, pangkal soal krisis dan pergolakan berkepanjangan di beberapa daerah bermula dari relasi kekuasaan yang timpang. Jakarta dinilai begitu kuat dan enggan memberi tempat bagi potensi sumber daya manusia di daerah guna mengembangkan kreativitas mereka. Jakarta mestinya dipahami bukan dalam lingkup kedaerahan seperti dimaklumkan Hasan Di Tiro sebagai Jawa. "Terus terang saya mengkritik propaganda nasionalisme etnis yang menciptakan Jawa sebagai musuh," papar Rahadi. Rocky Gerung bahkan tanpa tedeng aling-aling mengecam para tokoh yang mempromosikan federalisme. Hal itu menurutnya hanya memperlihatkan bagaimana majelis rakyat hanya diisi oleh politisi dan bukan negarawan. Inilah tuaian badai dari taburan angin rejim sebelumnya. Materialisme yang menguat sebagai buah dari praktek pembangunan mematok pikiran pada segala bau kebendaan. Sementara kekerasan selamanya inheren dengan bau kebendaan tadi. Bagaimana mengakhirinya, jawaban Rahadi adalah: "demokrasi sejati-jatinya demokrasi." Maksudnya berkeadilan, setara berlandas solidaritas kemanusiaan. Federalisme di tengah kancah eporistik melulu menguntungkan hegemoni kapitalisme. Lem perekat atau mestika kebangsaan dianggap belum hilang benar. Saat reformasi bergulir, aksi-aksi demokratisasi Indonesia "diturunkan" ke tingkat lokal melalui pendidikan politik nyata. Targetnya tentu saja menaikkan posisi tawar guna mempersempit kesenjangan dalam relasi kekuasaan. Kalau lantas dimanfaatkan oleh sekelompok politisi, apa lacur? Apa lagu "dari Sabang sampai Merauke" harus berganti syair? Jangan-jangan "sudah lupa tuh". (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 13 Dec 1999 jam 11:51:07 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
