----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 45/II/12-18 Desember 99
------------------------------

MAHASISWA TOLAK DWIFUNGSI

(POLITIK): Jaringan Mahasiswa Indonesia mengingatkan program tuntutan
pencabutan dwifungsi belum terpenuhi. Perlawanan harus terus dilanjutkan di
ranah sosial politik.

Siapa bilang dwifungsi TNI sudah lenyap? Represi sosial politik oleh TNI
ternyata tak hanya dalam struktur kekuasaan saja, melainkan sudah menjadi
perilaku lazim para prajurit yang sesungguhnya menyimpang. Mau bukti?
Seorang jurnalis Eko Sulistyanto menceritakan kisah nyata yang barangkali
remeh tapi menunjukkan perilaku "dwifungsi" yang menyebalkan. Saat ia dalam
perjalanan menuju Jakarta, seorang prajurit membentaknya agar ia melepas
kaos hitam yang dipakainya lantaran ada tulisan cukup besar: CNRT. Sebuah
singkatan yang kepanjangannya Conselho Nacional Resistencia de Timorense
atau Dewan Nasional Perlawanan Rakyat Timor.

Ketika Eko tetap menolak, karena ia tak bawa baju lain, sang prajurit marah,
"Kamu ini tidak menghargai jasa para pahlawan, ya?! Saya ini sudah limabelas
tahun di Timor Timur dan tahu persis bagaimana CNRT itu membunuhi tentara
Indonesia." Eko ngotot tak mau melepas kaos, debat mulut pun jadi memanas.
Tapi akhirnya Eko menang setelah membolak-balik logika berpikir si prajurit
yang bermarkas di Denpom Manggarai (Polisi Militer). Yang paling telak
hingga membuat si prajurit pergi adalah argumen Eko, "Lho, rekan-rekan
mahasiswa saya juga dibunuhi oleh TNI di Trisakti, di Semanggi. Mana ada
pertanggungjawaban TNI sampai sekarang? Tapi toh saya tidak menyuruh
teman-teman saya yang pakai kaos loreng untuk melepas pakaiannya dengan paksa."

Kasus Eko tentu hanyalah kasus ringan untuk menunjukkan betapa TNI masih
merasa berkuasa di ranah sipil. Mahasiswa, sebagai elemen masyarakat yang
jadi korban, tentu saja tidak bisa terima. Apa yang diungkap Eko berkaitan
dengan kasus Trisakti dan Semanggi juga memang tak jelas penyelesaiannya
sampai sekarang. Di kehidupan sehari-hari, intervensi militer di soal-soal
sipil nampak dengan adanya kodam (komando daerah militer), korem (komando
resort militer), koramil (komando rayon militer) di tingkat kecamatan dan
babinsa (bintara pembina desa) di tingkat desa. Belum lagi para elit TNI
yang dengan seenaknya bisa jadi komisaris di banyak perusahaan swasta demi
cantolan keamanan. Di level perwira dan bintara pun tak mau kalah mengeduk
rejeki, ada yang jadi becking hiburan malam hingga langsung jualan narkoba.

Tak heran bila dwifungsi masih menjadi ganjalan dalam proses reformasi dan
demokrasi di Indonesia saat ini. Pernyataan tersebut merupakan kesimpulan
pembahasan Komisi Rekomendasi Pertemuan Nasional Jaringan Mahasiswa
Indonesia yang berakhir Selasa, 7 Desember 1999 di Batu, Malang, Jawa Timur.
Pertemuan yang dihadiri 105 mahasiswa dari 43 perguruan tinggi negeri maupun
swasta se-Indonesia itu merekomendasikan agar sistem politik yang
direpresentasikan oleh Pemerintahan Gus Dur saat ini segera menghapuskan
fungsi politik dan kekaryaan TNI. Para aktivis ini mengusulkan penjabaran
tata perundang-undangannya dalam Ketetapan MPR soal penghapusan keberadaan
wakil TNI di lembaga legislatif semua tingkat, mulai dari DPR sampai DPRD
tingkat II.

Poin penghapusan fungsi politik jadi perdebatan panjang dalam pertemuan yang
berakhir sampai dini hari tersebut. Banyak yang tidak puas bila hanya
sebatas jargon cabut dwifungsi TNI. Akhirnya deskripsinya pun diperpanjang
sebagaimana tercantum dalam statemen, "Penghapusan fungsi politik TNI itu
juga harus dilakukan dengan penghapusan lembaga administrasi teritorial dari
Babinsa di desa-desa hingga Kodam. Melalui cara ini dapat dibentuk pembagian
peran profesional TNI sebagai alat pertahanan, dengan tugas kepolisian
sebagai perangkat keamanan masyarakat".

Statemen yang ditandatangani oleh Hardy Stefano (Tujuh Belas Agustus,
Surabaya), Berthy Frydani (Trisakti), dan Jose Manuel (UPN) itu rencananya
akan dibacakan di alun-alun kota Malang setelah didahului aksi massa. Sayang
cuaca tak mendukung acara tersebut dengan derasnya hujan yang turun.
Akhirnya statemen dibacakan di halaman Kantor DPRD II Kodya Malang.

Jaringan Mahasiswa Indonesia ini merupakan organisasi tanpa struktur
kepemimpinan yang ketat, tidak memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga. Masing-masing anggota dari suatu perguruan tinggi berhak
mengeluarkan pernyataan sendiri tanpa ikatan ideologi tertentu. Presidium
hanya memfasilitasi komunikasi sementara tiap propinsi membentuk
koordinatoriat wilayah masing-masing.

Hebat memang mahasiswa sekarang ini dalam melawan militerisme. Bukan hanya
pernyataan tuntutan saja, tetapi dalam bergerak bersama mereka juga menolak
sistem komando a la militer yang tidak demokratis. Perlawanan memang harus
terus dilanjutkan di ranah sosial politik. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 13 Dec 1999 jam 11:34:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke