----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 7 Desember 1999

AMIEN RAIS, MASINIS MPR YANG KELIRU
Oleh Asmorodono

Di era reformasi ini, hal yang paling membanggakan bagi warga
Indonesia adalah seandainya dirinya menjadi orang terhormat untuk
mewakili rakyat sebagai MPR/DPR. Apalagi dalam kondisi sekarang
anggota dewan yang terhormat tadi dimungkinkan dapat bersuara
keras dengan mengatasnamakan rakyat. Sehingga output yang ada pun
dianggap suatu kebenaran maupun pembenaran sebab sulit dideteksi,
apakah itu merupakan kepatutan untuk diikuti masyarakat atau
tidak? Apalagi mengingat MPR/DPR adalah perwujudan seluruh rakyat
Indonesia, maka logikanya setiap pernyataan yang keluar harus
bernalar sehingga diamini seluruh rakyat.

Kondisi demokratisasi juga telah melanda para anggota DPR/MPR yang
terhormat serta mengakibatkan terjadi perbedaan-perbedaan pendapat
dalam tubuh fraksi-fraksi. Bahkan kadangkala timbul situasi
uncontrol baik yang muncul secara alami maupun disengaja, padahal
tanpa  disadari sebetulnya mereka adalah wakil rakyat yang
terhormat. Bahkan merupakan pemandangan yang lumrah, jika dalam
sidang dikemukakan hal-hal yang sarat dengan nuansa kepentingan
kelompok/golongan dan pribadi serta jauh dari sifat-sifat
kenegarawanan. Menurut mereka, yang terpenting bisa dibilang
marketable untuk konsumsi publik, namun tidak pernah terpikirkan
pengaruh dari baik  buruknya pernyataan-pernyataan yang
dilontarkan.

Bagaimana dengan MPR yang diketuai Amien Rais? Semula lembaga
tertinggi itu begitu  mengesankan  akibat  kesuksesannya
menyelenggarakan SU MPR 1999, berikut hasil-hasilnya yang dapat
dibilang bagus. Tentu saja hasil kerja kolektif tersebut berkat
aspirasi seluruh peserta sidang demi tetap lancarnya
penyelenggaraan negara dan bukan hanya hasil dari masing-masing
individu. Masih hangat dalam ingatan kita bahwa amandemen UUD '45
yang awalnya ditabukan akhirnya dapat diamandemen juga.

MEMBINGUNGKAN

Kini pemerintah baru yang telah terbentuk harus menjalankan GBHN
sesuai dengan UUD'45 yang sudah diamandemen, serta
bertanggungjawab kepada MPR. Justru MPR yang dikomandoi Amien Rais
membingungkan rakyat dan  pemerintah, terutama seputar
pernyataannya tentang negara federal di hadapan masyarakat yang
wilayahnya sedang digoyang konflik. Ia mengumbar ide federal di
depan masyarakat Aceh dan Riau bahkan terdengar di belahan lain,
yaitu Kaltim, Ambon dan Irja. Rupanya ia lupa sebagai Ketua MPR
yang terhormat, tetap terikat pada sumpah jabatan dan tata tertib
menjadi anggota MPR. Isi sumpahnya antara lain masih dalam koridor
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan setiap keputusan
yang dikeluarkan merupakan keputusan kolektif.

Menyimak kebebasan yang menggejala di antara para anggota MPR/DPR
seperti disebutkan tadi, maka sang ketua juga tidak mau kalah.
Berlatar belakang Pegawai Negeri Sipil dan berstatus Guru Besar,
saat ditanya mengapa selaku Ketua MPR ia mengumbar federalisme?
Jawabannya enteng sekali: "Saya toh anggota DPR RI!" Dan mungkin
di kesempatan lain, bila ditanya hal yang serupa dapat pula
menjawab: "saya toh masih Ketua Umum PAN." Dengan kecerdikan dan
kecerdasannya, Amien Rais akan sangat mudah berkilah demi
menyesuaikan jawaban menurut status yang dimilikinya. Cukup lewat
statusnya sebagai tri fungsi akan sangat mudah mensosialisasikan
atau berkampanya tentang federasi.

Tri fungsi-nya Amien Rais pasti menggilas dwi fungsi-nya TNI yang
selama ini dituntut untuk dibubarkan oleh para mahasiswa dan
aktivis LSM. Mungkin hanya lewat cara seperti ini, maka hegemoni
militer yang sekarang masih bercokol dapat dibabat habis sehingga
harapan masyarakat madani bisa terwujud dan tercapai supremasi
sipil. Seperti pernah dikatakan oleh Amien Rais bahwa negara
federal adalah jalan terakhir untuk mencegah disintegrasi dan
bagian untuk menuju reformasi total. Terkait dengan pernyataannya
tersebut, maka apapun substansinya, secara eksplisit mengekor pada
kapasitasnya yang tri fungsi.

Permasalahannya, penggantian sistem NKRI ke negara federal
membutuhkan perubahan yang prinsip dan fundamental. Tidak lain dan
tidak bukan pasti menuntut amandemen UUD'45 yang baru saja diubah
pada batang tubuhnya sesuai komitmen mayoritas anggota MPR.

Setidaknya ada perubahan utama, pertama pembukaan UUD'45 harus
diubah bunyinya agar tidak lagi NKRI.

Kedua, propinsi-propinsi perlu memerdekakan diri atau
mendeklarasikan diri sebagai negara, selanjutnya diwadahi dengan
federasi Indonesia. Apakah cukup dengan kemampuan tri fungsinya
Amien Rais hal tersebut terealisir? Masih tetap dibutuhkan
kehendak seluruh rakyat di wilayah miskin maupun makmur untuk
berkata oke. Atau ide federal memang menunggu terjadi konflik dulu
disetiap propinsi tanpa segera disosialisasikan otonomi luas yang
sudah terkonsep, hanya Amien Rais yang tahu.

Di samping itu, tri fungsi yang disandang Amien Rais memang
memberikan peluang bergerak bebas ke sana ke mari guna
mengemukakan kepentingan politiknya, bahkan mengalahkan sepak
terjangnya dwi fungsi TNI. Jabatan sebagai Ketua Umum PAN paling
tak mempu-nyai kepentingan untuk dapat menggolkan ide federasinya.

Semestinya, sebagai anggota DPR Amien Rais dapat mengingatkan atau
menegur kelakuan pemerintah yang menyimpang, termasuk penanganan
terhadap wilayah-wilayah konflik itu yang belum diselesaikan. Dan
selaku Ketua MPR, seharusnya ia dapat berlaku bijak dengan
mengedepankan jiwa kenegarawanan dan bertindak sebagai wakil
rakyat. Kalau baju wakil rakyat yang dipakai memang sah-sah saja,
tapi rasa tanggung jawab sebagai Ketua MPR perlu dipertanyakan
tentang kapasitasnya menyuarakan negara federal.

GERBONG MPR MANDUL

Melihat gelagat Ketua MPR yang mengobarkan dan  memancarkan
semangat federal ke daerah-daerah, para wakil ketua MPR bereaksi
dingin dan hanya dari fraksi PDI-P yang berani menggeliat. Namun
secara umum, seluruh anggota MPR/DPR terdiam, termasuk fraksi TNI
tidak memberikan reaksi apapun untuk menyatakan konsistensinya
pada NKRI. Barangkali semua terkesima dan terpukau bahwa negara
federal yang diimpor Amien Rais adalah solusi paling benar bagi
ancaman disintegrasi bangsa. Bakhan Arbi Sanit selaku pengamat
politik pun ikut mengamini Amien bahwa bahwa negara federal
merupakan konsepsi ideal dan menjelekkan otonomi, karena masih
melekat sentralisasinya.

Jadi bisa disimpulkan, para anggota MPR belum mengerti sepenuhnya
fenomena yang terjadi, sebab tidak ada yang membenarkan dan tidak
ada pula yang menyatakan keliru terhadap tindakan Amien Rais. The
show must go on, seolah-olah berjalan saja seperti dulu di zaman
Orba yang takut kepada pimpinannya supaya tidak dipecat.
Seharusnya mereka menyadari tugas dan tanggungjawabnya sebagai
anggota MPR sehingga mengetahui apa yang akan diperbuat? Mengingat
apa yang disampaikan ketua adalah masalah fundamental bagi negeri
ini, yang seandainya terus mengemuka tanpa arah pasti dan
membahayakan bangsa. Layaknya reformasi yang berjalan tanpa
konsep, sebab dari awal kita memulai namun tidak mengerti
bagaimana mengakhirinya. Mudah-mudahan jangan sampai menimpa pada
ide federal tersebut.

Ibaratnya, MPR bagaikan sebuah gerbong yang tidak disambung dengan
lokomotif bermasiniskan Amien Rais. Sehingga jangan heran
gerbongnya diam saja tidak bergeming dan penumpangnya tidak ada
yang protes, meskipun lokomotif meninggalkannya. Sang masinis
pergi ke arah yang disukainya demi mengkampanyekan negeri federal
Indonesia yang dicita-citakannya ke seluruh negeri serta
diharapkan oleh AS.

Sementara penumpang yang ada di dalam gerbong pun tetap duduk
manis di gedung MPR yang nyaman ber-AC, sambil terkantuk-kantuk
keenakan. Begitu masinis pulang dari lawatannya dan berkata bahwa
rakyat di seluruh propinsi menyetujui negara federal, secara
spontan mereka menjawab koor: "setuju...." Itupun tanpa mencari
tahu, apakah benar-benar rakyat seluruh negeri mengiyakan? Atau
bertanya pada pemerintah Presiden Abdurrahman Wahid tentang
pemberlakukan otonomi daerah yang sudah dibuat.

Sungguh menyedihkan, apabila MPR yang begitu terhormat dan sukses
menyelenggarakan SU MPR 1999, tetapi dalam perjalanan selanjutnya
gerbong MPR tidak tahu akan dikemanakan republik ini akibat
ditinggal masinisnya. Belum lagi krisis moneter dan sistem otonomi
diselesaikan pemerintahan Gus Dur, timbul masalah baru lantaran
terhempas isu federal. Orang pun akan pesimis pada masa depan RI,
karena berdalih bahwa sampai memasuki milenium ketiga bangsa ini
masih berbenah mengurusi persoalan dalam negeri.

Sehingga tidaklah bijak, seandainya kita memulai pekerjaan apapun
jenisnya (reformasi, otonomi dan federal) namun kita sendiri juga
tidak pernah tahu bagaimana mengakhirinya. Akibatnya, persoalan
akan terus berlanjut, padahal jabatan Ketua MPR bukanlah jabatan
raja yang bertindak semau gue mengubah-ubah negeri ini. Jangan
sampai rakyat bilang: MPR punya masinis yang keliru!***(Penulis
adalah pemerhati masalah sosial politik)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Dec 1999 jam 09:04:53 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke