----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Merdeka, 9 Desember 1999

Empat Prioritas

SEKURANG-kurangnya ada empat prioritas yang bersifat krusial dan
urgen bagi pemerintah baru dalam menyelamatkan NKRI dari kehancuran.
Pertama di bidang politik berupa makin lantangnya ancaman
disintegrasi seperti tuntutan referendum oleh sebagian masyarakat
Aceh adalah kulminasi kekecewaan sekaligus akumulasi multi komplek
permasalahan, sehingga tidak dapat dilihat secara parsial.

Solusinya adalah pendekatan politis melalui dialog konstruktif dan
komprehensif dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat dengan
pemerintah pusat, agar semua tuntutan yang rasional dan realistis
dapat dipenuhi. Misalnya keadilan, HAM, hukum, kompensasi dan
otonomi khusus. Tapi masih dalam koridor NKRI.

Bila opsi merdeka diberikan, maka akan terjadi Timor Timur jilid II
yang berantai atau mengobsesi daerah lain, yang sebenarnya adalah
bagian integral Indonesia. Jadi logikanya referendum suatu daerah
adalah referendum seluruh rakyat Indonesia secara nasional.

Sedemikian penting karena menyangkut kehidupan negara, maka
keputusan harus atas persetujuan MPR dan DPR, sementara pemerintah
lebih tepat langsung check and action guna penyelesaian yang
persuasif dan persepktif.

Adapun negara federal dapat dilakukan dengan mengamandemen UUD 45,
tidak secara apriori menolak, tapi apakah pasti Indonesia lebih baik
atau hanya pergeseran tirani pusat ke daerah dalam konteks apakah
elit lokal tidak akan korup dan tidak pula menelantarkan rakyatnya?
Hakekat kekeliruan selam 54 tahun ini bukan pada bentuk kesatuan
melainkan karena faktor rezim pusat yang terlalu sentralistik, rakus
dan otoriter.

Kedua bidang hukum. Political will pemerintah harus segera
direalisasikan dalam menyelesaikan timbuan kasus-kasus KKN sampai
tragedi berdarah selama ada koruptor kakap yang dihukum. Di sini
peran Jaksa Agung menjadi sangat dominan dalam menegakkan supremasi
hukum.

Kepadanya harapan publik dipertaruhkan, apakah berani secara
eksplisit menuntaskan kasus-kasus kelas berat. Bila tidak, berarti
rakyat harus siap kecewa. Kredibilitas pemerintah akan merosot, jadi
jangan terkooptasi dilema antar masih banyak orang di pemerintahan
yang teraffiliasi dengan rezim lalu dengan praduga absolut
masyarakat lantas persoalan menjadi musykil.

Yang menjadi acuan adalah proses hukum yang proporsional, obyektif,
subtansial dan elegan sebagai aplikasi Pasal 27 ayat 1 UUD 1945
(semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan itu dengan tidak ada terkecualinya).

Ketiga di bidang ekonomi. Salah satu langkah penyelamatan adalah
membekukan rekening konglomerat di luar negeri yang terbukti hasi
KKN dan disita untuk negara yang jatuh miskin akibat merajalelanya
koruptor di masa orde baru bersama kroni. Mereka menjarah uang
rakyat lebih besar dari uang utang luar negeri yang hampir tidak
sanggup dibayar. Untuk ini diperlukan kemauan kuat dan keberanian
pemerintah.

Terakhir meningkatkan SDM, civil society. Selama 54 tahun tidak ada
upaya serius pemerintah untuk mencerdaskan masyarakat terbukti dari
rendahnya kualitas SDM, budaya tidak menghargai waktu, malas
membaca, apatis terhadap problema bangsa, kian berlarut degradasi
moral di masyarakat. Misalnya masyarakat lebih mengenal Cut Keke
dari pada Cut Nyak Dien, lebih mengangumi Ari Wibowo daripada
Pangeran Diponegoro, lebih mengidolakan Desi Ratnasary daripada RA
Kartini. Ini konsekuensi dari tiap disuguhi sinetron opera sabun
ketimbang sejarah perjuangan para pahlawan.

Bukankah lebih edukatif dipertontonkan cerita-cerita perlawan rakyat
terhadap penjajah setiap daerah, sehingga generasi sekarang
mengetahui betul bagaimana penderitaan selama 350 tahun ditambah 3,5
tahun dan tidak mudah terpengaruh ikut mencabik-cabik bangsa
sendiri, karena kehilangan nasionalisme dan patriotisme lalu
terbentuk karakter yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa
memperdulikan lingkungan. Yang lebih mengerikan mendengar Indonesia
terasa usang dan klise.

Maka tidak berlebihan bila rasa cinta tanah air ditanamkan sejak
dini dalam keluarga seperti pada ibu pertiwi, Sang Saka Merah
Putih, Garusda Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, peta Kepuluan
Indonesia yang kemudian tumbuh jiwa kebanggan berbangsa dan
bernegara serta mampu memberikan teladan bagi orang lain.

Indra Kusuma
Sungai Penuh, Kerinci 37113

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Dec 1999 jam 03:54:31 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke