----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Merdeka, 9 Desember 1999

Mitologi Amien Rais
Oleh: Irwan Hadisuwarno

PROFESOR Fisipol UGM ini selalu dikenal sebagi sosok yang tak tahan
untuk diam. Padahal, begitu terpilih secara dahsyat menjadi Ketua
MPR, ia sudah tampil simpatik dengan membatasi diri untuk tidak
banyak bicara. Sejak itu, ia memang bukan lagi Amien yang bisa
seenaknya bicara. Pemilik rambut plontos sekarang sudah mulai lebat
lagi kini, sudah menjadi orang yang berdiri di depan ratusan orang
penting di Senayan.

Tentu saja, ia tidak hanya mewakili sedikit golongan, sedikit
kepentingan, sedikit muatan politik. Pribadinya sudah terikat, ia
harus banyak menimbang langkah dan ucapannyya. Bukan semata karena
memang ada aturan main yang membatasinya, tapi juga ada
tanggungjawab etik, yang sekarang ini melekat erat di tubuhnya.
Namun, agaknya ia ttidak kuat untuk terus-terusan berdiam diri. Pada
banyak kesempatan, kegemarannya berbicara kambuh lagi. Kali ini,
mitos yang disebar-sebarkan adalah pentingnya Indonesia dikelola
secara federasi.

Tidak hanya sekali atau dua kali Amien kampanye begitu istilah yang
banyak dipakai orang untuk menyebut gebrakannya soal negara federal.
Sepertinya ia yakin, Indonesia yang sudah menyatu dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), akan lebih berkibar jika dibagi-
bagi dalam federasi. Amien rupanya sudah tidak peduli, banyak orang
yang terbakar dadanya mendengar Indonesia akan dipecah-pecah.
Inilah, yang dipercaya orang, akan menghasilkan disintegrasi. Tentu
disintegrasi gaya Amien Rais.

Maka, percayalah, tidak hanya Aceh yang telah menyiapkan teriakan
merdeka, karena Irian Jaya juga segera merapatkan barisan
mengibarkan bendera bintang Kejora. Kalau Habibie hanya menghasilkan
terpisahnya Timor Timur, maka Amien akan membuat Indonesia terpecah-
pecah menjadi negara-negara bagian.

RAJA-RAJA Kediri yang agung, telah menitahkan Empu Panuluh-Empu
Sedah untuk menggubah trilogi Hariwangsa, Bharatayudha, dan
Gattukacasraya. Dalam trilogi itu terlihat betapa ada kekuatan yang
meletu-letup di sana. Hariwangsa dan Bharatayudha yang
dipersembahkan untuk kemuliaan Wisnu yang menitis dalam diri Bharata
Aji Jayabhaya, terasa penuh, kedalamannya. Begitupun pada
Gatutkacarasa yang dipersembahkan untuk Sri Bhupala Jayakarta dan
Mapanji Madaharsa.

Lihatlah keindahan Bharatayudda. Ahli sastra Jawa, Zoetmulder dalam
Kalangan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, menuliskan betapa sang
Kawi menuturkan pengakuannya dengan penuh gusto, tentang keindahan
junjungannya.

"Pokoknya tidak seorang pun yang tidak tunduk kepada Sri Baginda
Jayabhaya yang memerintahkan Kediri. Dengan tidak diganggu oleh rasa
prihatin ia bersenang-senang, berkelana di gunung-gunung dan di
sepanjang pantai. Keindahan lagu-lagu gubahannya mempesona mereka
yang menikmatinya. Gubahan-gubahan itu menyebarkan keharuman namanya
di antara rakyat. Kemanisannya menawan hati dan didendangkan oleh
para penyanyi dari surga."

Mpu Kanwa yang kesohor itu, lewat Arjunawiwaha, juga dapat
menghadirkan kesahduan tak terelakkan, meski harus menghujani puja-
puji pada sang paramartha pandhita, Erlangga. Demikian pula lewat
kitab-kitabb seperti Smaradahana (Mpu Dharmaja), Suamanasantaka (Mpu
Managuna) dan Kresnayana (Mpu Tiguna) karya yang ditujukan untuk
raja-raja Kediri, paro abad terakhir tidak pernah kehilangan daya
pikatnya.

Dari masa Majapahit, dua karya besar yang ditulis oleh pujangga
ternama, Mpu Tantular (Arjunawijaya dan Sutasoma) masih terlihat
kualitas raja yang memerintahkan penulisan kitab itu. Malah pada era
ini lahir karya yang lebih dahsyat lagi, Negarakeratagama. Gubahan
yang ditujukkan untuk mencondro kemulian raja Agung Majapahit, Hayam
Wuruk (Rajasanagara) dan kerajaannya (Wilwatikta) itu ditulis secara
lebih indah, penuh detil serta elok bahasanya.

BEGITULAH Amien Rais, Gus Dur, Megawati, Soeharto, Soekarno, Prabu
Jayabaya, Prabu Airlangga, Prabu Hayam Wuruk, Panembahan Senapati,
Mahapatih Gajah Mada. Mereka selalu mempunyai cara meagungkan
dirinya lewat berbagai mitos yang dihembuskan. Barangkali ada
manfaatnya, tetapi seperti umumnya raja-raja Jawa, mitologi itu
terhenti sebagai dagangan politik kekuasaannya. Mereka sengaja
menciptkan cerita-cerita serba hebat, memupuknya hingga menjadi
kepercayaan, sampai pada akhirnya semua orang tidak meragukannya
lagi.

Setumpuk mitos, yang ditebarkan secara turun temurun, atau yang
disebarkan lewat buku-buku sejarah kontemporer, dapat dijumpai
dengan mudah. Soekarno bersama-sama pejuang bangsa di masanya, telah
melemparkan isu (yang sampai saat ini) dikenal sebagai NKRI.
Ideologi NKRI telah berhasil ditanamkan. Mereka yang tidak setia
adalah pengkhianat besar.

NKRI telah menjadi barang final yang tak boleh seorangpun
mengungkit-ungkit. Ia telah tampil sebagai mitologi agung negeri
ini. Ia telah berhasil meraih tahta Sakralisasi.

Kelompok-kelompok puritan (yang merasa di dadanya terpatri kesetiaan
pada NKRI) segera bereaksi ketika ada kelompok lain yang mencoba
menembus mitos itu. Maka digugatlah Amien Rais yang terang-terangan
mengkampanyekan negara federasi, menggantikan NKRI yang dipandang
tak mampu lagi mengakomodir berbagai perubahan bangsa. Namun amien
sendiri, langsung terjebak pada jorgan federasinya. Ia telah
membangun kesan seolah tengah membentuk mitologi baru. Negara
federal sudah menjadi mitos yang diagungkan.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 15 Dec 1999 jam 03:54:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke