----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

MABES TNI-AD BERSIKERAS MENDIRIKAN KOREM DI FLORES

        JAKARTA, (TNI Watch!, 15/12/99). Dengan dilikuidasinya Korem
164/Wira Darma di Dili, maka Mabes Angkatan Darat, berencana membentuk Korem
baru di Flores. Pembentukan Korem di Flores tersebut memiliki dua tujuan.
Pertama, untuk memperkuat Korem 161/Wira Sakti (Kupang), dalam memonitor
kawasan yang langsung berhadapan dengan Timor Timur. Kedua, untuk menampung
personel eks Korem 164/WD.

        Mantan Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Adam Damiri menegaskan, rencana
pembentukan Korem di Flores kini sedang disosialisasikan. Soal keberatan
masyarakat setempat tentang pembentukan Korem tersebut, tampaknya tidak
dihiraukan Adam Damiri. "Penentangan itu hanya hanya dilakukan segelintir
elit masyarakat yang berada di Jakarta," jelas Mayjen Damiri yang kini
menjabat Asops Mabes ABRI.

        Korem baru di Flores cikal bakalnya adalah Korem 164 yang telah
dilikuidasi. Namun tidak semua personel Korem 164, dipindahkan ke sana.
Personelnya dipilih, dan diutamakan putra daerah NTT dan Flores pada
umumnya. "Pembentukan Korem baru ini jalan terus," tegas Damiri.

        Sikap keras Mayjen TNI Adam Damiri ini memperlihatkan, bahwa TNI
tidak banyak berubah di era reformasi ini. TNI tetap saja otoriter, tetap
kurang aspiratif terhadap suara rakyat. Ketika isu pembentukan Korem "baru"
di Flores mulai santer, telah muncul serangkaian aksi unjuk rasa dari
berbagai delegasi masyarakat Flores, yang pada intinya menentang pembentukan
Korem di Flores. Jeritan rakyat Flores itu diangga angin lalu saja oleh
pimpinan TNI.

        Salah satunya adalah demo dari Forum Mahasiswa-Pemuda Flores Anti
Militerisme (Florete Flores), beberapa waktu yang lalu di gedung DPR-RI,
Jakarta. Mereka menuntut kepada DPR, agar menolak pembentukan Korem di
Flores. Menurut mereka, rakyat "Nusa Bunga" tidak bodoh, itulah sebabnya
warga Flores meolak pembentukan Korem.

        Dalam surat pernyataan yang disusun Florete Flores, antara lain
berbunyi: "Belum selesai kasus-kasus itu diusut, kini militer melakukan
manuver baru di NTT. Korem akan didirikan di Flores, dan Kodam di Kupang.
Menyusul rencana itu, kini NTT dibanjiri ribuan tentara, yang sebagian besar
bekas prajurit Timor Timur. Tragedi apa lagi yang akan menyusul."

        Pada bagian lain dari surat pernyataan tersebut, ditulis: "Semua
orang sadar bahwa untuk membangun Indonesia baru yang lebih beradab --
ditandai dengan demokrasi dan penghargaan HAM -- peran sospol TNI harus
dicabut, dan militer harus sungguh dikendalikan dan dikembalikan ke barak.
Militer juga terbukti tidak pernah menjadi penjamin keamanan ataupun
akselerator pembangunan daerah. Yang terjadi malah sebaliknya."

        Dari pernyataan itu, bisa dilihat kepercayaan rakyat Flores terhadap
TNI, berada pada titik terendah. Mungkin begitu pula yang terjadi dengan
masyarakat lain. Antipati masyarakat ini perlu menjadi bahan refleksi bagi
kalangan TNI: mengapa rakyat bersikap seperti itu ?

        Semangat pembaruan di kalangan TNI sendiri, bukannya tidak ada.
Pemikiran penghapusan Kodam, Korem, Kodim, Koramil, dan Babinsa, ada yang
sudah muncul dari kalangan TNI sendiri, seperti dari Mayjen TNI Purn Muchlis
Anwar (mantan Aspers KSAD dan Koordinator Staf Ahli Pangab). Dalam sebuah
tulisannya di Harian Suara Pembaruan (22/11/99), Mayjen Muclis berpendapat
tentang perlunya dikaji ulang kehadiran Kodim, Korem, dan Kodam, untuk
diganti dengan satuan-satuan pertahanan yang profesional, seperti bataliyon,
brigade dan divisi.

        Uniknya penghapusan komando teritorial di Angkatan Darat, juga
diusulkan oleh seorang Pangdam, yaitu Pangdam VII/Wirabuana Mayjen TNI Agus
Wirahadikusumah. Menurut Mayjen Agus, peran pembinaan teritorial TNI yang
dilakukan selama ini harus semakin dikurangi. "Di Jawa tidak perlu lagi ada
Kodam. Kodam hanya diperlukan di daerah-daerah yang jangkauan pemda masih
terbatas. Ini sesuai dengan paradigma baru TNI, tidak perlu menguasai secara
fisik dan tidak perlu mempengaruhi secara langsung, " kata Agus
Wirahadikusumah dalam rapat dengar pendapat umum Komisi I DPR di Jakarata,
Senin yang lalu (13/12).

        Kalau seorang Pangdam sampai berbicara "keras" seperti itu, kita
bisa menduga-duga, bahwa telah terjadi perdebatan yang keras soal
keberlangsungan komando teritorial di TNI. Dan usulan Mayjen Agus dan Mayjen
Muchlis layak didengar, karena senada dengan suara hati publik, yang
menghendaki TNI mengurangi peran sosial-politiknya. Yang menurut Jenderal
Agus pada kesempatan yang sama, peran sospol TNI, adalah peran salah kaprah
yang berkepanjangan. ***

_______________
TNI Watch! merupakan terbitan yang dimaksudkan untuk mengawasi perilaku TNI,
dari soal mutasi di lingkungan TNI, profil dan catatan perjalanan
ketentaraan para perwiranya pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang
dilakukan, politik TNI, senjata yang digunakan dan sebagainya. Tujuannya
agar khalayak bisa mengetahuinya dan ikut mengawasi bersama-sama.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Dec 1999 jam 04:15:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke