----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Sasis, mas agnostik keponakan Gus Dur itu bangga bener
pernah tinggal di jalan Danau Tiwuti, Pejompongan.
Dengan sesumbar dia bilang " Warteg sekitar perapatan
Lapangan Merah " betul betul enak,crunchy dan lezat.

Walaupun saya tahu dia punya pengalaman segudang,
walaupun dia secara proud bilang pernah menggelandang
dari negeri Paman Sam, sampai ke kompleks pelacuran
di PI sana, saya jelas tidak ngiri dan berniat mengikuti jejaknya.

Tapi terus terang ada satu yang membuat saya tersinggung.
Manusia anti theis ini secara sepihak ketika ngomong soal
warteg nadanya seperti mengajak duel " sense of wartegalisme"
mana yang terbaik. Hasan Basri atau Sasis?

Baiklah, akan saya jelaskan dulu, saya adalah anak Karet.
Dan dibandingkan dengan anak Pejompongan, anak karet
jelas lebih ketegal-tegalan. Kita ini mas, wong kampung
yang bau keteknya seperti rokok Gentong Gotri. Sebagian
teman saya besar di kuburan,manusia di sana banyak lugunya.
Sebagian besar anak kampung ini berhenti sekolah lantaran
ingin menekuni karir jadi tukang parkir, tukang palak, dan
supir bemo, cuma segelintir manusia yang sukses di sepanjang
Jalan Haji Jalil. Dan itu mungkin tidak termasuk saya..

Tapi  percayalah  banyak anak Karet yang berbakat
menjadi Columbus kecil,  Pejompongan itu bagi kami
kecil.. waktu SD itu kolam air mancur PAM di Penjernihan
selalu kami renangi dan kencingi, saya sendiri SD nya
di Al Abrar, Kepala sekolah saya yang namanya Halwiyah
aja pernah bilang, " anak Karet ganteng semua.." he he..

Ketika SMA, saya pacaran sama anak SMEA 14. Ampir
tiap hari nunggu si Henny pacar cantik berbadan penuh
tikungan maut kadang di depan sekolahan, kadang di
depan mesjid Al Abrar. Setelah sholat lohor biasanya
saya akan ngajak Henny mojok ke Taman Ria sampai magrib
buat shalawatan dan sedikit buka-bukaan.

Di sebelah gereja Anugrah, saya juga pernah coba
date itu cewe Arab yang seksinya bukan main.  Tapi
lantaran itu Arab maunya cuma sama manusia yang
punya gelar ke arab araban, saya nyerah dan sempat
cium bibirnya waktu dia meleng di depan gerbang.
Alhasil anak Karet ini sempat digampar itu cewek
pejompongan sampai rada keleyengan.

Warteg sekitar perapatan Pejompongan mah ngga
ada apa apanya, kawan.  Warung bubur kacang ijo
di depan SD saya juga kurang sip dan pas buat
nongkrong. Begitu juga warteg bang Dul di perapatan
Kalimalang. Apa ? Warteg deket jalan Mesjid? oke
tahu gorengnya memang cukup asik, tapi sambel
kecapnya kurang greget , selain itu warung ini ngga
jualan pete goreng setengah mateng, dan sambel
rawit campur kacang.

Biarkan saya perkenalkan yang maha mulia
raja di raja , pahlawan manusia berdompet cekak
dan sering kosong, King of all  King, the owner of
the best restaurant in the universe... Pepen !

Pepen yang bertampang  mirip Tantri Abeng,
tapi tidak cebol dan item ini adalah seorang
seniman makanan, restaurant entrepenouuuer err
( buset susah amat nulisnya ya ?) yang dahyat.
Tempe gorengnya yang gurih mampu menenggelami
semua ayam goreng Kentucky. Gule tahu dan ayamnya
sanggup menyingkiri menu Restaurant Natrabu .
Dan konon kesaktian dia terletak di gule jengkol dan
ikan tongkol goreng. Tapi bagi saya itu Pete goreng dan
tahu setengah mateng plus goreng rempela campur sop kol
adalah the greatest mukjizat.

Pepen adalah malaikat Ridwan, dia adalah penjaga Sorga
yang lebih ramah dari semua Paus Paulus. Ngutang ke dia
sama gampangnya dengan anda merayu mbak Jamu agar
lebih lama berlama-lama nongkrong , agar mata anda bisa
lebih lama kelayapan kepelosok kebaya dan kutang..

Pepen adalah philosopher.  " Di dalam perut yang kenyang,
terdapat manusia yang aman "

Tanpa Pepen, hidup saya serasa kurang komplit.
Dan gejala ini bukan cuma terjadi pada sang proletar saja.
Tanyakan pada semua langganannya..

Saya pernah 4 kali pulang ke tanah air dalam 7 tahun.
Dan perjalanan saya kembali ke Warteg Pepen sama
menggugahnya dengan emosi para calon Jemaah
Haji menjelang mereka melihat Kabbah pertama kali...

Saya menangis terharu, lalu Sa'i turun dari mobil
menuju warungnya si pepen.

Selama di Jakarta, kehidupan saya seperti terjerat
gravitasi ini warteg. Kerena kerinduan pada itu nasi
uduk atau nasi putih yang mixed dengan aroma jengkol,
saya ingat sempat tawaf berkali kali..
Pepen...God Saves The Emping

So, Sasis...

Hit The road, Jack..!

Hasan Basri
December 16,1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Dec 1999 jam 03:41:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke