---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ Please Visit Our Sponsor http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1 -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Tersangkanya Pelajar dan Pekerja Disesalkan, Peristiwa Pembakaran STT Doulos Jakarta, JP.- Jumat, 17/12/1999 Ini peristiwa yang benar-benar disesalkan semua pihak. Ketika kasus Aceh dan Ambon belum teratasi penuh, peristiwa yang bisa memancing konflik horiozntal pecah di Jakarta. Sekelompok orang tiba-tiba membakar gedung Sekolah Tinggi Teologia (STT) Doulos di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu malam. Uniknya, peristiwa ini terjadi hanya 1,5 kilometer dari Mabes TNI Cilangkap.Gedung di atas tanah dua hektare itu pun menjadi luluh lantak. Ratusan penghuni asrama dan pasien rehabilitasi korban narkoba di kawasan kampus itu pun kehilangan tempat tinggal. Dikabarkan, lima orang meninggal. Namun, sumber polisi mengatakan hanya satu orang tewas. Sedangkan puluhan orang luka, lima mobil terbakar, dan dua sepeda motor ludes. Di lokasi itu, memang juga berdiri asrama mahasiswa dan gedung rehabilitasi narkoba. Terang saja, peristiwa pembakaran di ibu kota Jakarta ini langsung menyentuh keprihatinan banyak pihak. Ada yang berpendapat, peristiwa ini merupakan rekayasa untuk mengadu domba antara umat Islam dan Kristen. Tak kurang, Mendagri Soerjadi Sudirja, Gubernur DKI Sutiyoso, dan Akbar Tandjung mengutuk peristiwa itu. ''Mudah-mudahan tidak ada motif politik di balik kasus ini. Kebangeten kalau ada elite politik yang berbuat demikian. Sebab, hanya binatang yang tega berbuat demikian,'' kata Soerjadi saat mengunjungi lokasi peristiwa bersama Sutiyoso. Para pejabat itu memang langsung menengok lokasi yang sudah luluh lantak itu. Benarkah ini upaya mengadu domba umat beragama? Bisa jadi demikian. Sebab, upaya seperti ini tidak hanya terjadi sekali ini saja. Belum ada setahun, umat Islam pernah dipancing emosinya lewat pengeboman Masjid Istiqlal Jakarta. Untung, rekayasa itu tidak berhasil. Konflik SARA di Ambon, kata sejumlah pengamat, juga merupakan rekayasa seperti ini. Peristiwa Doulos juga terjadi secara tiba-tiba. Menurut saksi mata, sekitar pukul 20.00 WIB -saat kaum Muslim melaksanakan salat tarawih-sekelompok orang datang menyerbu lokasi. Mereka datang ke lokasi itu dengan diangkut truk. Saksi itu juga mengakui, sehari sebelumnya, muncul selebaran di STT Doulos, yang osonya ancaman pengeboman terhadap kampus tersebut. Tetapi, selebaran itu tidak digubris. Karena itu, penghuni lokasi itu menjadi kaget setelah kedatangan sekolompok orang yang langsung melemparkan bom-bom molotov ke aras kampus. Kapolda Metro Jaya Mayjen Pol Noegroho Jayusman menyatakan bahwa hingga kini pihaknya belum tahu persis apa motivasi pembakaran tersebut. Yang jelas, para pelaku pembakaran sudah ada yang berhasil ditangkap. Ada enam orang yang sekarang ditahan. Keenam pelaku tersebut berinisial ANU, SR, HLD, HMD, SMD, dan UMD. Status mereka resmi sebagai tersangka. Para premankah mereka? Noegroho bilang bukan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, mereka ini justru dari kalangan pelajar dan pekerja. ''Mereka yang ditahan itu orang sekolahan dan pekerja. Mereka rata-rata berusia 23 tahun hingga 25 tahun,'' kata Noegroho kepada wartawan di tangga pintu masuk kantor Kapolda, di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Soedirman, Jakarta, kemarin. Masih menurut Kapolda, berdasarkan hasil penyelidikan sementara, sebelum kejadian itu para tersangka mengadakan pertemuan. Tempat pertemuan juga di daerah dekat lokasi kejadian. Polda menyimpulkan bahwa aksi pembakaran ini telah direncanakan sebelumnya. Namun, Kapolda mengimbau agar masyarakat tak saling curiga. Sebab, polisi kini tengah mengusut dan mencari para pelakunya. ''Kami mengimbau agar masyarakat bersikap tenang dan dingin. Jangan sampai menimbulkan masalah baru,'' kata Noegroho. Kadispen Polda Metro Jaya Letkol Pol Zainuri Lubis menambahkan, yayasan yang dibakar adalah tempat pengobatan pecandu narkoba. Tempat ini juga digunakan untuk rumah sakit jiwa (SRJ) dan pendidikkan teologi. Yayasan itu dihuni oleh 260 orang, terdiri atas 180 orang mahasiswa, 30 orang pasien sakit jiwa, dan 50 orang pasien narkoba. Namun, 20 pasien sudah kembali ke rumah masing-masing. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengaku tak habis pikir tentang peristiwa ini. Mengapa tempat yang begitu dekat dengan Mabes Cilangkap bisa terjadi kerusuhan. ''Sungguh mustahil hal-hal seperti ini terjadi. Mustahil mereka anggota TNI tak bisa menjaga keamanan. Apalagi kalau sampai ada saksi yang mengatakan bahwa saat kerusuhan tadi malam terlihat beberapa aparat namun tak berbuat apa-apa,'' katanya sambil geleng-geleng. Ketika para pejabat tiba di lokasi, di beberapa tempat masih terlihat api menyala. Sutiyoso berpesan agar kasus ini diusut secara tuntas. Pihaknya juga meminta agar masyarakat menyikapi peristiwa ini dengan arif. Jangan sampai menyebar ke tempat lain. Sementara itu, kemarin sekitar ratusan massa yang mengatasnamakan umat Kristen Jakarta dan sekitarnya mendatangi gedung DPR. Kedatangan mereka berkait dengan peristiwa tragis pembakaran Yayasan Doulos oleh sekelompok orang. Ada lima tuntutan yang disampaikan kepada pemimpin DPR. Intinya, mereka mendesak polda untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Di DPR, para pengunjuk rasa itu ditemui langsung Ketua DPR Akbar Tandjung. Ia mengatakan, DPR sangat menyesalkan pembakaran Yayasan Doulus yang diwarnai oleh isu pertentangan agama. ''Aparat harus segera mencari siapa pelakunya dan menindak tegas siapa pun dia,'' ujarnya. Akbar mengimbau kepada para demonstran agar dapat menahan diri dan tidak mudah diprovokasi. Sebab, kata Akbar, dalam ajaran agama apa pun, tidak mengajarkan permusuhan dengan pemeluk agama lain. ''Semua agama, baik itu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, ataupun yang lain telah sepakat untuk berikrar bersama dalam persatuan dan kesatuan,'' tuturnya. Selain itu, Akbar juga mengaskan bahwa apa pun alasannya, tindakan yang merusak sarana dan prasarana peribadatan tidak bisa ditoleransi. ''Agama Islam tidak pernah mengajarkan untuk memusuhi agama lain,'' kata Akbar. Ditegaskan Akbar bahwa dirinya juga memahami dan bisa merasakan atas musibah yang menimpa umat Kristen di Yayasan Doulas. ''Saya sangat prihatin dan bisa merasakan apa yang Saudara-Saudara rasakan,'' ujarnya.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 17 Dec 1999 jam 10:22:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
