----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Rakyat Merdeka, 18 Januari 2000

 Titik Terang Penyelesaian Maluku

 Betapapun masalah Maluku mencemaskan, ada sesuatu yang boleh
 dibilang titik terang dan tanda-tanda bahwa pemerintah sudah
 menemukan pola penyelesaiannya. Titik terang itu misalnya terlihat
 dari pernyataan Gubernur Maluku Saleh Latuconsina bahwa sejak awal
 Januari lalu wilayahnya sudah boleh dibilang aman. Bentrokan yang
 terjadi hanyalah di Maluku Utara dan karena kawasan itu sudah
 menjadi propinsi tersendiri, maka bukan lagi menjadi wewenangnya.

 Gubernur juga menyatakan bahwa tidka perlu ada pergantian pejabat
 diwilayahnya. Pernyataan terakhir ini bisa ditafsirkan, keadaan
 dijamin aman walaupun pejabat atau pimpinan daerah tak diganti.
 Atau sebaliknya, kalau pejabat-pejabat (misalnya gubernur atau
 Pangdam) diganti justru mengundang konflik baru.

 Diduga konflik yang terjadi di Maluku Utara itu, meskipun masih
 bernuansa SARA, tapi lebih dipicu oleh persaingan dua bekas
 kerajaan, Ternate dan Tidore yang konon memang tak begitu rukun
 sejak zaman penjajahan. Kalau itu benar, maka ibarat benang kusut,
 pemerintah tentu sudah melihat pihak-pihak mana yang harus diajak
 berunding. Kalau konflik Maluku Utara ini berkaitan dengan
 terbentuknya propinsi baru di daerah itu maka hal itupun niscaya
 lebih mudah diselesaikan ketimbang jika nuansa konfliknya lebih
 berat kepada SARA.

 Titik terang yang lain adalah pernyataan sikap masyarakat Maluku
 se-Jabotabek yang secara bulat menentang kekerasan di daerah asal
 mereka dan desakan yang kuat agar konflik diselesaikan secara
 damai. Ini ditambah lagi dengan pernyataan pemuka-pemuka agama
 yang juga menghendaki penyelesaian damai. Ini sekaligus
 menggambarkan kepada kita bahwa tidak ada satu agamapun yang resmi
 diakui di Indonesia yang mentolerir kekerasan selagi jalan damai
 bisa ditempuh. Ini juga makin memperjelas gambaran kepada
 masyarakat luas bahwa konflik di Maluku bukanlah konflik agama
 walaupun telah menyebabkan pertarungan antar umat beragama.

 Kita juga bersyukur bahwa Presiden Abdurrahman Wahid tampaknya
 sudah kian jelas melihat persoalan apa sebenarnya yang memicu
 konflik di maluku dan semakin punya pengangan bagaimana
 menyelesaikannya. Demikian pula Komnas HAM yang telah
 memperhatikan keinginan yang sangat serius dengan berangkatnya KPP
 HAM Rabu besok pegi ke wilayah itu dan akan menandatangani,
 langsung wilayah-wilayah yang dilanda kerusuhan.

 Hal -hal tersebut di atas, sekaligus mendorong kita kepada
 kesimpulan bahwa konflik Maluku memang lebih dipicu oleh provokasi

 ketimbang persoalan yang mendasar. Ini diperkuat oleh pernyataan
 bekas Direktur Intelijen Bakin Dr. AC Manullang yang membenarkan
 pernyataan Gus Dur bahwa ada tangan-tangan jahat yang sengaja
 menciptakan konflik Maluku. Bahkan menurut Manullang, tangan-
 tangan jahat itu sebenarnya sudah menyebar ke 26 propinsi di
 seluruh Indonesia. "Seluruh daerah di Indonesia memang ingin
 diledakkan, dikacaukan, supaya pemerintah yang sekarang ambruk.
 Namun sejauh ini baru tiga daerah yang berhasil dikacaukan, yakni
 Aceh, Maluku dan Papua," katanya.

 Kalau pengamatan Manullang itu benar, maka tidak bisa lain,
 seluruh kekuatan rakyat harus bergabung dengan pemerintah dan
 aparat keamanan untuk bersama-sama mengakhiri konflik Maluku
 sekaligus mencegahnya meluas ke daerah-daerah lain. Berbagai cara
 bisa ditempuh. Yang penting adalah menyatukan barisan dan tekad
 untuk menghindari cara kekerasan seperti yang dilakukan masyarakat
 Maluku se-Jabotek, bukan saja oleh masyarakat Maluku tapi kita
 semua di seluruh Indonesia.

 Masyarakat juga hendaknya lebih memahami bahwa kasus Aceh dan
 Maluku tidak ada kaitan dasarnya dengan agama walaupun agama telah
 terbawa-bawa dan mempertajam konflik. Bahkan kalaupun masalahnya
 memang menyangkut umat beragama maka semua pihak hendaklah
 menyadari bahwa agama yang masing kita anut tidaklah menghendaki
 penyelesaian dengan kekerasan.

 Tapi, ketenangandan kesabaran masyarakat hanya bisa diciptakan
 jika pemerintah dan aparat kemanan terlebih dahulu mampu
 menghentikan kerusuhan fisik di Maluku dan menghabisi aktor
 intelektual dan para provokator baik yang ada di Jakarta maupun di
 daerah-daerah. Sekaligus menghimbau para aktor intelektual dan
 para provokator itu untuk menghentikan segala kegiatan jahat
 mereka. Janganlah bermimpi mencoba-coba untuk merobohkan
 pemerintah yang sekarang karena pemerintah ini mendapat dukungan
 resmi dari rakyat dan rakyat akan mempertahankan dukungan itu
 mati-matian.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 2000 jam 03:17:48 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke