----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Please Visit Our Sponsor
http://www.indo-news.com/cgi-bin/ads1
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk

Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 02/III/22 - 30 Januari 2000
------------------------------

TAK 'AMIEN' BUKAN ROIS

(POLITIK): Habis "membakar" massa Amien serukan larangan aksi massa. Ia tak
setuju aksi damai lintas agama. Maunya, proses tawar-menawar politik tetap
di tangan elit.

Paralel dengan peristiwa 20 Mei 1998, Amien mengulang larangan pengerahan
massa (19/1). Umat beragama manapun diminta menghentikan gelar apel akbar
atau bentuk-bentuk pengerahan massa lainnya. Diungkapkan, dirinya tidak
ingin peristiwa di Maluku dan Mataram menular kemana-mana. Mau menghentikan
demonstrasi? "Tidak juga. Karena kalau unjuk rasa dihentikan sama artinya
demokrasi pingsan kembali," timpal Amien kepada pers. Lantas apa maksudnya?

Sebab bagaimanapun media massa kadung mencatat, bersama Hamzah Haz dan Ahmad
Sumargono, Ketua MPR RI ini berorasi dalam apel siaga masyarakat Islam di
lapangan Monas, Jakarta awal tahun lalu. "Kesabaran umat Islam ada
batasnya," lantang Amien di hadapan ribuan massa yang umumnya bersorban
putih. "Gus Dur dan Megawati jangan memancing kesabaran itu habis karena
kelambanannya". Setelah 32 tahun mengalami depolitisasi, kini agenda
reformasi mesti menyertakan kekuatan Islam dalam relasi kekuasaan. Ujung
apel tersebut memang membuahkan 'Kesepakatan Monas' yang berisikan itikad
partai-partai Islam untuk beraliansi dalam pemilu mendatang.

Kesepakatan yang terbilang kepagian. Rentang waktu ke sana masih berjarak
empat tahun dari sekarang. Sebagian spekulasi lebih percaya, kalau mau
dikaitkan dengan pemilu, sasaran Amien hanyalah memenangkan kontes pada
pemilu lokal. Cuma rencana pemilu lokal juga masih dapat tentangan banyak
pihak --termasuk dari anggota KPU semisal Andi Malarangeng. Belum lagi
mengingat biaya yang diajukan mencapai angka 220 milyar rupiah. Skenario
mengepung Jakarta lewat penguasaan daerah pun terbantah. Orasi berapi-api
tidak lain sekadar show force.

Sementara itu beberapa pengurus PAN meminta masyarakat dan pers tidak
menilai berlebihan  pernyataan Amien. Semuanya dianggap masih dalam batas
kewajaran. Ketua PAN AM Fatwa berharap masyarakat dapat membedakan posisi
Amien masing-masing sebagai Ketua MPR, Ketua Umum PAN dan dalam kapasitas
pribadi sebagai muslim. "Permintaan Amien yang tidak menghendaki pengerahan
massa beragama adalah pernyataan seorang Ketua MPR". Entah apa maksudnya.
Lalu, yang meng-iya-kan teriakan jihad, apakah merupakan kepribadian Amien
yang lain? Itu namanya kepribadian ganda.

Belakangan diketahui, ada inisiatif dari bawah untuk menyelesaikan konflik
berlatar belakang SARA. Tanggal 15 Januari lalu semestinya masyarakat
Jakarta dapat menyaksikan pawai beruntai bunga yang dilangsungkan beberapa
umat beragama di bilangan Hotel Indonesia. Belum diketahui sebab musabab
pembatalan. Padahal aksi yang akan melibatkan banyak kalangan, tidak
terkecuali masyarakat Islam, dimaksudkan mengkonter sinyalemen mainstream
bahwa, "Solidaritas antar beragama masyarakat Indonesia sedang pecah," tukas
seorang penginjil dari Gereja Kristen Kemah Daud. Melalui aksi bersama mau
diperlihatkan, sejatinya terdapat beragam tangan 'gaib' yang menjadi akar
kekisruhan SARA di Maluku, dan beberapa wilayah lain semisal Doulos,
Mataram, bahkan Makassar.

Rupanya informasi tersebut tidak luput dari pendengaran Amien Rais. Dari
sanalah pernyataan penghentian pengerahan massa beragama bermula. Betapapun
Amien tidak ingin dituduh menjadi picu aksi-aksi dengan sentimen SARA
berlangsung terus. Ia pun dikabarkan tidak senang dengan penayangan acara
"Kembali Bersatu Membangun Maluku" oleh beberapa stasiun televisi waktu lalu.

Sedari awal banyak pengamat telah curiga, langkah manuver Amien semata-mata
menghentikan gelombang perubahan dari bawah. Caranya? Menjaga proses tawar
menawar politik tetap berlangsung di tingkat atas. Cara lama yang laku di
beberapa negara Eropa guna menghambat laju revolusi rakyat dari golongan
sosialis. Peristiwa mana pernah berlaku lebih dari satu tahun lampau. Rapat
akbar reformasi 20 Mei 1998 dikumandangkan banyak tokoh oposisi. Amien malah
dikenal paling kencang mensosialisasikan. Tak nyana di detik-detik terakhir,
televisi menayangkan pernyataan Amien yang meminta masyarakat mengurungkan
niatan berkumpul di Lapangan Monas di muka Istana Negara.

Ted Grant dan Allan Woods, pengamat politik Indonesia menulis mengenai
peristiwa tersebut. Andai demonstrasi massa tanggal 20 Mei 1998 silam
berhasil digelar, sejarah Indonesia bakal mencatat drama penggulingan
kekuasaan Soeharto secara damai oleh akar bawah. Cuma lantaran seorang Amien
Rais yang mengklaim dirinya rais (pemimpin) massa reformis 'melarang',
jadilah penurunan Soeharto seperti kita alami. Jadilah Soeharto turun tanpa
disertai perubahan pondasi sistem politik Indonesia.

Tapi tentu tidak sesederhana ditengarai Grant-Woods. Faktor Amien bukanlah
penentu tunggal. Ia hanya makin menegaskan gambaran kelangsungan pembaruan
di negeri ini. Yang diperebutkan berkisar pada "siapa memimpin proses itu"
bukan dalam konteks bagaimana merumuskan substansi. Maka, pantas saja
tayangan telenovela laris di televisi. Rupanya, cuma di sanalah karakter
hitam-putih dapat dijumpa. Di dunia nyata Indonesia, realitas melulu
berwarna abu-abu. Elit politik tak amien (sulit dipercaya) masih berlagak
rois (pemimpin). Tapi, masakan harus seorang Esmeralda (tokoh telenovela)
yang jadi Ketua MPR kita? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Jan 2000 jam 05:04:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke